Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 21 - Pernikahan


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Hafidzah Nurani binti Ahmad Junaedi dengan maskawin tersebut dibayar tunai"


"Sah?"


"SAH...!" semua tamu undangan mengatakan Sah.


Ijab qabul baru saja di laksanakan, senyum di bibirnya Hafidzah tidak berhenti sejak Yusuf mengucapkan janji suci di depan penghulu, wali, para saksi dan tamu undangan yang hadir.


Raut kebahagiaan juga terpancar diwajah Hafidzah yang baru saja dinikahi oleh Yusuf laki-laki yang sudah lama ia cintai.


Yusuf mengenakan setelan jas berwarna hitam dan memakai dasi kupu-kupu, sedangkan Hafidzah mengenakan kebaya berwarna putih lengkap bersama kimarnya yang menutupi seluruh tubuhnya di tambah dengan tangannya yang berbalut hiasan hena yang menunjang penampilannya.


Yusuf bingung harus sedih atau bahagia menjalani pernikahan ini, memang benar Hafidzah sangat mencintainya, namun apakah Hafidzah bahagia menikah dengan laki-laki yang tidak mencintainya.


Ijab kabul dan serah terima kedua mempelai sudah selesai. Hafidzah menyodorkan tangannya menyalami Yusuf sembari tersenyum, begitupun Yusuf menerima salam Hafidzah dan membalas senyumannya. Kini Yusuf dan Hafidzah menuju ke pelaminan untuk menyalami seluruh tamu undangan.


"Cie... Nikah!" kata sahabat Hafidzah yang pertama menyalami Hafidzah.


"Hehehe..." Hafidzah membalas dengan senyuman.


"Kamu gak pegel apa itu bibir? Senyum-senyum mulu dari tadi hahahaha..." sambung sahabat Hafidzah yang lainnya.


"Aku bahagia karena bisa menikah dengan Yusuf," Jawab Hafizah sambil membisikan ke telinga sahabatnya.


"Ingat! Jangan sampai rasa cintamu melebihi cintamu kepada Allah," kata sahabat Hafidzah menasehati Hafidzah.


"Iya Asyah, aku tahu," balas Hafidzah.


Tak lama kemudian ketika Yusuf dan Hafidzah sedang bersalam-salaman memerima tamu undangan ponsel Yusuf pun berketar tanda ada panggilan masuk. Yusuf meminta Izin pada Hafidzah untuk menerima panggilan teleponnya.


Ketika Yusuf mengeluarkan ponsel dari sakunya, ternyata panggilan masuk itu dariku.


"Kenapa Raisa meneleponku?" gumam Yusuf.


Panggilan masuk itu Yusuf matikan dan tak lama kemudian ponsel Yusuf bergetar lagi lalu Yusuf mengangkatnya.


Yusuf : "Halo Assalamuallaikum?"


Raisa : "Waalaikumsalam."


Yusuf : "ada apa Raisa?"


Raisa : "Yusuf apa kamu masih mencintaiku?"


Yusuf : "kenapa kamu nanya seperti itu? Bukannya kamu sudah menikah?"


Raisa : "Jawab aku Yusuf!"


Yusuf : "Iya aku masih mencintaimu dan sampai saat ini pun aku masih mencintaimu. Tapi apa daya kamu sudah menikah dengan orang lain dan meninggalkan ku di saat lagi sayang-sayangnya.

__ADS_1


Raisa : "Maafkan aku Yusuf!"


Yusuf : "Sudah gapapa aku sudah memaafkanmu, dan sekarang aku sudah menikah dengan orang lain."


Raisa : "Apa!"


Tak lama kemudian Hafidzah menghampiri Yusuf yang sedang berteleponan denganku. Lalu Yusuf menutup sambungan teleponnya.


"Panggilan telepon dari siapa, A?" tanya Hafidzah.


"Enggak, tadi biasa penerbit menanyakan kapan aku bikin buku lagi." balas Yusuf sambil memggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh, ya sudah. Yuk kita masuk lagi! Kasihan tamu pada nunggu." Ajak Hafidzah.


Hafidzah curiga dengan sikaf Yusuf yang terlihat salah tingkah ketika di tanya telepon itu dari siapa. Tapi Hafidzah berusaha mempercayai Yusuf yang kini telah jadi suaminya.


"Yusuf malam ini kamu nginap di sinikan?" tanya bu sofi selaku Ibu dari Hafidzah.


"Iya Bu, tapi besok Yusuf akan membawa Hafizah tinggal di rumahku." balas Yusuf dengan mengusapi punggung Hafidzah.


"Oh iya gapapa, tapi setelah kalian pindah nanti kalian jangan lupa sering-sering datang ke pesantren!" balas bu sofi.


"Iya Bu," Angguk Yusuf.


Semua tamu sudah pulang Yusuf masuk kekamar Hafidzah, sedangkan Hafidzah mempersiapka makanan untuk makan malam.


"Ya Allah, jagalaha rumah tangga kami. Dan berilah kami keturunan yang solih dan solihah." batin Hafidzah.


Kembali ke cerita Raisa!


Setelah Yusuf mengakhiri sambungan teleponnya, Tubuhku langsung kehilangan keseimbangan karena terlalu kaget mendengar kabar Yusuf sudah menikah dengan orang lain, tubuhku langsung kembali ngedrop. Mataku terpejam tak tahan menahan rasa sakit hati yang mendesak.


Setelah selesai Shalat Dzuhur Ayah dan Ibu kembali ke ruanganku. Ketika Ayah Ibu memasuki ruang perawatanku Ayah dan Ibu melihat aku terbaring di atas ranjang dalam keadaan kejang-kejang.


"Caca...!" kata Ibu berteriak karena melihatku kejang-kejang.


Ayah dan Ibu melihat keadaanku seperti ini tentu saja kaget dan Ayah pun langsung memencet tombol yang ada di atas sofa untuk memanggil Dokter.


Tak lama kemudia Dokter dan perawat datang untuk memeriksaku.


"Tolong Bapak dan Ibu keluar sebentar! Karena kami akan memeriksa keadaan Raisa." kata Suster yang masuk keruanganku.


***


Waktu telah menunjukan pukul 20.00 WIB. tetapi aku belum sadar diri juga. Ayah dan Ibu semakin Khawatir dengan keadaan aku seperti ini.


Tak lama kemudian sahabatku Delia datang menjengukku di rumah sakit bersama Astuti. Mereka membawa buah-buahan dan sayur sop. Delia dan Astuti menuju bagian Informasi untuk menanyakan ruanganku.


Setelah Delia dan Astuti bertanya di bagian informasi, Delia dan Astuti menuju kamar dimana aku dirawat. Ketika Delia akan mengetuk pintu ruanganku, tiba-tiba Ayah keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Assalamuallaikum...?" Delia dan Astuti menghampiri Ayah sambil mencium punggung tangan Ayah.


"Waalaikumsalam... Eh Delia sama siapa lupa yang satu lagi?" kata Ayah menunjuk ke Astuti.


"Astuti, Om." balas Astuti.


"Oh iya Astuti," kata Ayah sambil memegang dahinya.


Ayah menjelaskan keadaanku pada Delia dan Astuti, Ia mengatakan aku di aniaya saat menjelang pernikahanku dengan Satria. Dan ketika dokter memeriksaku, dokter mengatakan bahwa aku kehilangan banyak darah.


"Em... Aku boleh masuk menjenguk Raisa?" kata Astuti meminta izin pada Ayah.


"Boleh, silahkan!" kata Ayah.


"Makasih, Om!"


Ketika Delia dan Astuti masuk ruang perawatan, mereka melihat aku dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Astuti dan Delia menangis meliah keadaanku seperti ini.


"Caca..." sapa Delia.


"Bangun, Ca!" kata Astuti sambil terisak-isak.


"Aku kangen dengerin curhat kamu lagi!"


Setelah mereka menjenguk aku, lalu mereka pamit pulang karena hari sudah semakin malam.


Tak lama kemudian aku terbangun dari ketidak sadaranku. Saat aku membukakan mata aku melihat Ayah dan Ibu sedang menemaniku selama aku sakit.


"Ayah? Ibu?"


"Caca, kamu sudah sadar?" kata Ibu sambil memegang punggung tanganku.


Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya menangis teringat tentang Yusuf yang sudah menjadi milik orang lain.


"Kamu kenapa?" tanya Ibu.


"Yusuf Bu, Yusuf..." sambil memeluk Ibu lalu menangis.


"Yusuf, kenapa?" tanya Ibu lagi.


"Yusuf sudah menikah dengan orang lain."


"Sudah! Mungkin Yusuf bukan jodoh kamu, kamu itu anak baik, kamu pasti menemukan jodoh yang baik juga,"


"Ta... Tapi, Bu!" katuku dengan terbata-bata.


"Sudah jangan di pikirkan lagi!" kata Ibu.


Aku pun mengangguk tidak bisa berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


__ADS_2