
"Caca tolong belikan Ibu stok makanan bulan ini!" ucap Ibu sambil memasak ikan.
"Iya Bu siap!" balasku sambil menyimpan ponsel di atas meja.
Aku pun bergegas mengambil kunci motor di dalam kamar lalu mengendarai motor menuju ke mini market yang tidak jauh dari rumah.
Sepuluh menit kemudian aku sampai di mini market, aku hendak memarkirkan motornya di parkiran. Tak lama kemudian ketika aku sedang memilih-milih makanan aku tak sengaja bertemu dengan Satria yang sama-sama sedang belanja makanan.
"Eh, kamu Raisa..." Satria menyapaku sambil memasukan minuman botol ke keranjang.
"Ya..." jawabku singkat.
"Aku dengar kamu udah jadi janda, ya?" ucap Satria seperti mengejek.
"Udah janda tapi masih cantik..." gumam Satria dalam hati.
"Emang kenapa kalau janda?" tanyaku sambil mengalihkan pandanganku dari melihat belanjaan ke arah Satria.
"Ya itu artinya aku masih ada kesempatan untuk jadi masa depan kamu!" ujar Satria seraya tersenyum dan menatapku, aku pun memalingkan pandanganku ke arah lain.
Aku tidak menghiraukan lagi perkataan Satria, aku hanya terus melangkah sampai menemukan stand ice cream sebelum melanjutkan belanja namun Satria terus membuntutiku sampai ia ikut mengantri di stand ice cream.
Baru saja aku melangkah dari stand ice cream ada seorang laki-laki yang tak sengaja aku tabrak hingga ice cream yang aku bawa tumpah ke pakaian yang di pakai laki-laki itu. Aku sangat kaget sehingga aku sepontan mengelap pakaian dengan tisu basah yang di keluarkan dari tasku.
"Maaf maaf, Mas..." aku sangat panik sambil terus mengelapi pakaiannya.
"Iya gapapa..." Ketika aku mendengar suara laki-laki itu tampak tidak asing di dengar. Aku langsung menatap wajah laki-laki itu ternyata yang aku lihat adalah Morgan.
"Morgan..."
"Iya aku Morgan..." balas Morgan, ia menatapku lalu mengalihkan tatapannya ke arah wajah Satria.
"Kok kamu jalan sama Kak Satria?" tanya Morgan heran seraya menatap wajah Satria secara tajam.
"Emangnya kenapa?" tanya Satria.
"Eh, nggak nggak! Aku nggak jalan sama Kak Satria, tadi aku tak sengaja ketemu dia!" aku mulai panik takut Morgan salah paham.
"Oh, aku nggak peduli kok kamu mau jalan sama siapa! Toh kamu udah nolak aku dan aku mengerti kalau aku dan kamu nggak bakalan bisa bersatu!" ucap Morgan lalu pergi.
"Emang kita nggak mungkin bersatu!" ucapku.
__ADS_1
Baru saja Morgan melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia berhenti dan membalikan badannya ke arahku.
"Aku bersamamu tak mungin bersatu! Dan asal kamu tahu ya, aku dan Kak Satria nggak jalan, disini aku kebetulan bertemu Kak Satria ngerti?!" sambungku seraya meninggikan suara lalu pergi.
Morgan menunduk. Ia sangat menyesali perkataan yang telah di lontarkannya kepadaku. Satria yang melihat pertengkaranku dengan Morgan merasa bahagia karena masih ada kesempatan untuk Satria mendapatiku.
***
Hafidzah menatap langit di depan rumahnya. Tatapannya lurus ke arah matahari dan tatapannya pun kosong, banyak sekali pikiran yang melintasinya saat ini.
"Hafidzah..." sapa Yusuf sambil menyeruput kopi di kursi depan rumahnya.
"Iya A," Hafidzah terkejut terbangun dari lamunannya.
"Kamu kenapa?" tanya Yusuf seraya menghampiri Hafidzah.
"Gapapa A, aku hanya melihat dunia aja sekarang cerah," balas Hafidzah seraya tersenyum.
"Ayo kamu sekarang siap-siap, sebentar lagi kita berangkat!" perintah Yusuf.
"Hafidzah udah packing kok tinggal berangkat aja,"
Bibir Hafidzah bergetar menahan isak tangis, air matanya terkumpul di pelupuk matanya, ia berusaha menahannya agar tidak jatuh.
"Hafidzah..."
Usap lembut bahu Hafidzah membuatnya menghapus air matanya beberapa kali untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Kamu nangis?" tanya Yusuf sambil memegangi bahu Hafidzah.
"..." Hafidzah hanya diam saja.
"Istriku, kamu pasti mikirin Caca ya? Tenang saja! Aa nggak akan kembali lagi sama Caca meskipun kita tinggal di Bandung..." ujar Yusuf sambil mengusapi air mata Hafidzah yang mulai jatuh.
"Nggak A, bukan itu yang Hafidzah takutkan. Hafidzah hanya takut Aa masih memendam perasaan terhadap Mbak Caca, namun Mbak Caca sudah melupakan Aa. Hafidzah berharap Aa dan Mbak Caca bisa kembali..." sambil terisak-isak tangis.
"Aku memeng masih memikirkan Caca. Ya Allah kenapa hamba sejahat ini pada istriku yang begitu solihah..." batin Yusuf dalam pelukan Hafidzah.
"Ya udah kita berangkat sekarang!" ajak Yusuf sambil melepaskan pelukan Hafidzah.
"Ayo!"
__ADS_1
sore hari Yusuf bersama Hafidzah tiba di Bandung. Mereka memilih apartemen mewah yang telah di pesan Yusuf sebelumnya. Hafidzah kagum dengan ke mewahan apartemen itu.
"A, apa apartemen ini nggak terlalu mewah buat kita berdua?" tanya Hafidzah sambil memegangi barang-barang mahal satu persatu.
"Berdua? Bertiga kali!" balas Yusuf seraya tersenyum.
"Bertiga sama siapa?" tanya Hafidzah kaget.
"Kan sama si buah hati..."
"Oh iya, Hafidzah lupa hehe..." sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal lalu mengusapi perut buncitnya.
"Maafkan Umi ya sayang!" ucap Yusuf sambil mengusapi perut Hafidzah.
Malam hari setelah selesai shalat Hafidzah bersama Yusuf saat ini sedang duduk di sopa, Hafidzah sedang membaca Al-Qur'an dan Yusuf sedang memainkan ponselnya. Setelah mengaji Hafidzah menghampiri Yusuf yang masih memainkan ponselnya, Hafidzah duduk bersandar di punggung Yusuf sambil terus mengusapi perutnya.
"A kalau aku sudah meninggal apa Aa mau mengurus anak kita sendirian?" tanya Hafidzah.
"Kamu ngomong apa sih?" tanya Yusuf balik.
"Nanya aja A, Hafidzah berharap kalau Hafidzah pergi duluan Aa bisa menyayangi anak kita!"
"Sayang, apa pun keadaannya, Aa akan selalu menyayangi anak kita!" balas Yusuf mulai meninggikan suaranya.
"Alhamdulillah kalau gitu."
***
"Bu aku mau minta do'a dan restu pada Ibu dan Caca kalau minggu ini Rangga mau melamar perempuan yang Rangga cintai. Sekalian Rangga mau Ibu dan Caca yang melamarnya!" ucap Kak Rangga sambil memasuki makanan kedalam mulutnya.
"Melamar?" tanya ibu kaget karena tiba-tiba.
"Iya, Bu" balas Kak Rangga.
"Kok tiba-tiba sih, Kak?" tanyaku sambil menuangkan nasi kedalam piring.
"Iya, karena kemarin-kemarin aku belum siap bicara sama Ibu dan Caca,"
"Ya sudah, Ibu berdoa yang terbaik untuk kamu anak cikal Ibu. Semoga pilihan kamu tepat dan bisa membuat kamu bahagia dunia dan akhirat. Aamiin." do'a Ibu untuk Kak Rangga.
Aku yang mendengar utaraan dari Kak Rangga tentu saja bahagia dan Semoga pilihan Kak Rangga yang terbaik untuk Kak Rangga.
__ADS_1
Tak lama kemudian aku jadi teringat kepada Morgan sang pujaan hati yang hanya angan-angan saja tak mungkin bersatu.