
Jumhur ulama memutuskan tentang nikah beda agama adalah haram dan tidak sah," jelasnya.
Adapun dalil Al-Quran yang menjelaskan tentang hal tersebut, yaitu:
وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ
"Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka,"( QS: Al-Baqoroh 221)
لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ
"Mereka (wanita-wanita Muslimah) tiada halal bagi orang-orang non-Muslim itu dan orang-orang non Muslim itu tiada halal pula bagi mereka," (QS: Al-Mumtahanah 10).
----------------------------------------
Plak...
Belum sempat Morgan melanjutkan bicaranya, sebuah tamparan keras menghampiri pipi kanan Morgan. Morgan memegangi pipi kanannya dengan merengis kesakitan lalu ia maju kehadapanku dengan jarak 5 CM, dua mata itu memandang ke arahku dengan tajam.
"Kenapa kamu nggak ngasih tahu dari awal?!" Aku membentaknya sambil berderai air mata.
"Aku pikir kamu udah tahu!" Morgan mulai meninggikan suaranya.
"Aku kecewa sama kamu! Padahal aku sudah memimpikan masa depan aku sama kamu!" ucapku dengan lirih lalu duduk di kursi.
"Maafkan aku Raisa! Tapi aku sangat mencintai kamu..."
"Sekarang lupakan rasa cinta kamu, cinta kita tak akan mungkin bersatu, jangan pernah kamu menemuiku lagi dan sekarang kamu pergi dari rumahku!" Bibirku bergetar seraya menahan tangis.
"Ta... Tapi..."
"Pergi!" Sambil menunjuk ke arah pintu.
Emosiku tak bisa di bendung lagi. Morgan yang melihat diriku sangat marah ia tak mau berdebat lagi. Pikirnya ia lebih baik pergi dahulu sampai pikiranku lebih tenang.
"Aku sangat mencintai kamu Morgan, tapi kita tak mungkin bersatu..." kataku dalam hati sambil melihat punggung Morgan yang sedang munuju keluar rumahku.
***
Malam itu langit begitu penuh dengan butiran-butiran bintang yang begitu indah berkolaborasi dengan bulan purnama yang menerangi bumi dan sang waktu. Hafidzah sedang menatap cermin melihati dirinya yang menggunakan dress berwarna hijau toska lengkap dengan kimarnya. Lipstik merah jambu warna kesukaannya di padukan dengan bedak tabur tipis yang membuatnya terkesan cantik. Hafidzah bersolek sebaik mungkin karena malam ini adalah malam istimewa untuk suaminya Yusuf yang sedang berulang tahun ke 29.
Hafidzah berjalan menuruni anak tangga menggunakan sepatu keteplek sambil membawa kado istimewanya. Tiba di ruang tamu ia menemukan Yusuf sedang tertidur lelap di atas sopa. Hafidzah lalu duduk di samping kepala Yusuf lalu membangunkannya dengan lembut.
"Sayang..." Hafidzah membangunkan Yusuf pelan-pelan.
Hafidzah kembali di kagetkan dengan suara Yusuf yang mengigau memanggil namaku.
"Caca!"
"Caca!"
"Caca!"
__ADS_1
Hafidzah yang mendengarnya tentu saja kaget ia sepontan menutup mulutnya dengan tangan kanannya lalu mengusap dadanya berusaha tegar.
"Aa..." Hafidzah kembali membangunkan Yusuf.
Yusuf mulai mengerjap-ngerjapkan matanya lalu mengusap matanya dengan kedua tangannya, ia mulai membukakan matanya melihat kesekeliling penjuru rumah sampai menemukan sosok Hafidzah yang sedang duduk di sampingnya.
"Hafidzah..." sambil tersenyum.
"Barokallah sayang, Selamat ulang tahun!" seru Hafidzah sambil menyodorkan kado yang di bawanyan.
Yusuf yang melihat Hafidzah menyodorkan kado, ia langsung bangkit dari tidurnya lalu menerimanya dengan penuh senyuman.
"Terimakasih sayangku..." ucap Yusuf pada Hafidzah sambil membuka kado.
"Semoga Aa menjadi suami yang lebih baik lagi, semoga di semakin tambah usia Aa ini bisa lebih menyayangi aku lagi, dan bisa lebih dekat dengan Allah sang pencipta..." ucap Hafidzah sambil memegang tangan kanan Yusuf.
"Terimakasih sayangku, maafkan Aa selama ini belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu..."
"Iya Aa,"
Yusuf memeluk Hafidzah dengan erat, air matanya sepontan mengalir deras mengingat dirinya masih mencintai orang lain.
"Oya sayang, Aa ada proyek besar-besaran di Bandung. Semua buku-buku Aa akan di pamerkan di sana dan client Aa akan membuka sebuah perpustakaan khusus buku-buku yang di tulis Aa," ujar Yusuf sambil mengusapi helai demi helai rambut Hafidzah.
"Masya Allah Aa! Selamat sayang!" seru Hafidzah.
"Iya, ini semua berekat doa istri Aa, makasih ya?"
"Besok kita berangkat!"
***
Pagi hari suara ketukan pintu terdengar dari arah pintu depan membuatku terbangun dari tidurku, kulihat jam masih menunjukan pukul tiga pagi. Siapa dia pagi-pagi seperti ini sudah ada yang berkunjung? Lalu aku bangkit dari tidur untuk membukakan pintu.
"Surprise!!!" seru Kak Rangga ketika aku membukakan pintu.
"Kak Rangga?!" Aku terkejut.
"Iya ini Kakak!" ucap Kak Rangga sambil membukakan kedua tangannya akan memelukku.
"Kak Rangga..." Aku pun sepontan memeluk Kak Rangga.
"Emm, Adik Kakak kasihan udah jadi janda..." ledek Kak Rangga dalam pelukanku.
"Apaan sih Kak..." balasku sambil cemberut.
"Ibu ada?"
"Ibu masih tidur,"
"Ya udah, Kakak juga mau mandi capek banget,"
__ADS_1
"Ya udah Kak, aku juga mau shalat tahazud dulu..."
Setelah aku berpelukan dengan Kak Rangga aku langsung bergegas memasuki kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Di kamar mandi aku melihat cermin besar dan tanpa sengaja aku teringat pada Yuauf bahwa hari ini ia sedang berulang tahun.
FLASHBACK
Malam itu tepat pada pukul 00.00 hanya terdengar suara jangkrik yang bersuara bersahut-sahutan dengan suara kodok liar. Aku pun membawakan kue ulang tahun lengkap dengan hadiah. Aku mengagetkan Yusuf yang hanya memandang langit dengan tatapan yang kosong sehingga memecahkan lamunnanya yang sedang duduk di kursi teras rumahnya.
"Selamat ulang tahun!" ucapku.
"Astagfirullahaladzim..."
"Yah, Maaf!"
"Emm, terimakasih Caca kamu selalu memberikan kejutan-kejutan yang indah di setiap hari ulang tahunku..." ujar Yusuf sambil memotong kue.
"Asstagfirullahaladzim," aku terbangun dari lamunanku.
"Ngapain sih aku masih mikirin si Yusuf? Aku harus segersa shalat tahazud agar hatiku tenang..."
Setelah aku mengambil wudhu aku langsung melaksanakan shalat tahazud, setelah shalat tahazud aku langsung membaca al-qur'an untuk memantapkan hafalan.
"Ya Allah hilangkanlah bayang-bayang Yusuf dalam pikiranku, Ya Allah hilangkanlah rasa cintaku pada Morgan, berikan aku jodoh yang baik yang Engkau ridhoi. Aamiin..."
Kring... Kring... Kring...
Suara nada dring ponsel tanda ada panghilan telepon masuk. Aku langsung bergegas mengambil ponselku lalu mengangkatnya.
Raisa : "Assalamuallaikum,"
Hafidzah : "Waalaikumsalam,"
Raisa : "Maaf dengan siapa ya?"
Hafidzah : "Mbak Caca ini aku Hafidzah, Mbak Caca hapus nomer ponselku ya?"
Raisa : "Iya maaf Dzah, aku sengaja hapus nomer kamu sama Yusuf karena aku memang ingin lupain semuanya udah sakit hati banget,"
Hafidzah : "Oh gapapa Mbak,"
Raisa : "Ada apa ya?"
Hafidzah : "Mbak aku kangen sama Mbak!"
Raisa : "Kangen?"
Ketika aku dengan Hafidzah sedang berbincang-bincang tak lama kemudian Ibu memanggilku dari kamarnya.
Raisa : "Maaf Dzah aku tutup dulu, Ibuku manggil, Assalamuallaikum..."
Hafidzah : "Waalaikumsalam."
__ADS_1