Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 55 - Perkenalan dengan Bu Angel


__ADS_3

“Aku sayang padamu Raisa…” ucap Yusuf padaku sambil memegangi tangan kananku.


“Iya sayang…” balasku lalu memeluk Yusuf.


“Sayang kamu jangan pernah tinggalkan aku!” ucap Yusuf dalam pelukanku.


“Nggak akan kok sayang, kan aku istri kamu,” balasku.


Ketika aku dalam pelukan Yusuf tiba-tiba aku merasakan sakit yang begitu menyakitkan sehingga aku tak sadarkan diri lalu tergeletak di lantai dengan keluar busa yang amat banyak. Yusuf yang melihat aku kesakitan tentu saja sangat kaget dan sepontan berusaha menyadarkanku.


“Raisa!”


“Raisa!”


“RAISA!!!” lalu Yusuf terbangun dari tidurnya.


“Huh… huh… huh…”Yusuf ngosngosan.


“Kamu kenapa sih, A?” tanya Hafidzah yang ikut terbangun karena mendengar teriakan Yusuf memanggil-manggil namaku.


“Astagfirullahaladzim…” ucap Yusuf seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


“Kenapa Aa?”


“Aku mimpi Raisa dalam bahaya, aku harus bertemu dengan Raisa sekarang!” ucap Yusuf seraya bangkit dari tempat tidurnya.


“Aa, itu hanya mimpi sudahlah Aa jangan memikirkan Mbak Caca lagi! Mbak Caca itu sudah melupakan Aa. Hafidzah mohon A! Mbak Caca sudah mempunyai pilihan hatinya yang baru. Aku sayang sama Aa, Aa jangan seperti ini terus!” ucap Hafidzah sambil berderai air mata.


“Maafkan Aa, sayang!” Yusuf sepontan memeluk Hafidzah.


Hafidzah sudah biasa dengan apa yang di dengarnya tentang Yusuf sering memanggil-manggil namaku, namun dengan keteguhan hati Hafidzah ia selalu berusaha berjuang untuk meyakinkan Yusuf agar Yusuf mengerti ada Hafidzah yang selalu menyayanginya lebih dari apapun.


Setelah itu tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari bibir Hafidzah dan Yusuf, yang ada hanyalah keheningan di malam itu. Di dalam itu hati Yusuf masih memikirkanku meskipun dalam pelukanku dan Hafidzah hanya menangis dengan nasib yang di alaminya saat ini.


***


Pagi hari seperti biasa aku berangkat kesekolah untuk mengajar. Pagi ini aku ke sekolah di antar oleh Morgan karena sangat pagi sekali Morgan telah berada di depan rumahku dengan mengendarai mobilnya dengan niat mengantarkanku. Bukan hanya mengantarkanku tetapi aku juga mengajak Delia untuk berangkat bareng karena saat ini Delia sementara tinggal di rumahku ikut suaminya Kak Rangga.


Sepuluh menit kemudian kami tiba di sekolah. Aku bersama Delia turun dari mibil sementara Morgan akan melanjutkan perjalanannya menuju perusahaannya.


“Nanti pulangnya aku jemput lagi ya! Ada yang harus aku bicarakaan sama kamu!” ucap Morgan seraya tersenyum.


“Iya,” balasku singkat.


“Assalamuallaikum…” ucap Morgan. Aku yang mendengar ucapan salam dari Morgan tentu saja sangat bahagia, karena itu kali pertamanya Morgan mengucapkan salam padaku terlebih dahulu.


“Masya Allah Morgan kok bisa mengucapkan salam sekarang?” tanya Delia seraya menyenggol tubuhku.


“Kan aku yang ngajarin…” balasku sambil mencolek hidung Delia lalu lari.


“Caca tunggu!” Delia berteriak memanggilku sambil mengejarku.

__ADS_1


Sesampainya di kelas semua murid mengucapkan salam dengan duduk yang sangat rapi. Semua yang di sampaikan olehku pada murid-murid berjalan dengan lancar dan menyenangkan karena aku selalu menggunakan metode-metode pelajaran yang asyik sehingga anak-anak mengaerti dengan apa yang aku sampaikan.


“Baik anak-anak, mungkin pertemuan hari ini di cukupkan dulu sampai disini. Sampai bertemu minggu depan!” ucapku pada murid-murid lalu pergi membawa buku-buku pelajaran.


“Boleh saya bantu?” ucap salah satu murid yang menghampiriku.


“Eh, gapapa Santy! Ini ngga terlalu banyak,” balasku seraya tersenyum pada murid pintar dan menggemaskan itu.


“Gapapa ko, Bu…” balas Santy.


“Terimakasih ya, pintar…”


“Sama-sama ibu cantik…” balas Santy seraya tersenyum lalu melangkah menuju kantor.


Sesampainya di ruangan kantor. Aku di hampiri oleh kepala sekolah Pak Suprapto untuk membahas tentang kesiapan kompetisi tahfidz Al-Qur’an.


“Raisa…” sapa Pak Suprapto.


“Iya Pak…” balasku sopan.


“Bagaimana kesiapan kamu menghadapi kompetisi Tahfidz Al-Qur’annya?”


“Insya Allah saya sudah siap, Pak.” Ucapku penuh semangat.


“Baik, nanti hari sabtu acara kompetisi itu. Kamu persiapkan segala keperluannya semaksimal mungkin!” ucap Pak Suprapto sambil menyeruput kopi.


“Baik, kalau begitu saya permisi dulu…” balasku lalu pergi.


“Niat banget kamu nungguin Raisa, Gan?” sahut Delia pada Morgan.


“Iya lah, apa sih yang nggak buat Raisa!” seru Morgan sambil garuk kepala yang tidak gatal.


Aku bersama Delia naik ke dalam mobil Morgan untuk menuju pulang, namun Morgan mengajaku ke rumahnya karena ingin memperkenalkanku dengan Ibunya. Sebenarnya diriku belum siap untuk bertemu dengan Bu Angel namun apapun resikonya aku harus melakukannya.


“Raisa, apa kamu siap bertemu dengan Ibuku?” tanya Morgan.


“Siap, Gan!” Seru Delia membantu menjawab.


“Suts…! Diam deh!” ucapku pada Delia.


“Iya Maaf!” balas Delia lirih.


“Jujur aku belum siap Gan,” balasku dengan tubuh bergetar.


“Nggapapa Ibuku baik kok,”


Sesampainya di rumah Morgan, Bu Angel sudah berada di depan rumahnya. Bu Angel sedang membaca majalah sambil menyeruput jus jeruk kesukaannya. Tubuhku semakin bergetar hatiku terasa terpisah dengan tubuhku.


“Ayo turun!” perintah Morgan.


“Duh… Aku pulang aja deh!” balasku.

__ADS_1


“Ayo turun aja, Ca!” perintah Delia.


“Ayo Raisa!” kata Morgan.


“Yaudah Iya…”


Kami menghampiri Bu Angel.


“Selamat sore Ibuku cantik…” ucap Morgan pada Bu Angel.


“Selamat siang anak Ibu yang ganteng…” balas Bu Angel sepontan memeluk Morgan dan mencium pipi kiri dan kanan Morgan.


Bu Angel matanya melirik padaku dan Delia ia mulai keheranan teman yang di bawa Morgan memakai hijab syar’i.


"Siapa dia, Gan?” tanya Bu Angel dengan mata tajam.


“Ini Raisa Bu, orang yang sering Morgan ceritakan dan ini Delia Kakak ipar Raisa,” balas Morgan.


“Morgan, ikut ibu! Ibu mau bicara sama kamu,” ucap Bu Angel dengan ketus.


“Iya Bu! Raisa, Delia silahkan duduk! Aku mau bicara sama Ibu dulu,” ucap Morgan lalu pergi.


“Ada apa, Bu?” Morgan menghampiri Bu Angel.


“Raisa yang kamu ceritakan itu kenapa memakai jilbab?!” tanya Bu Angel meninggikan suranya.


“Ya karena Raisa muslim!” balas Morgan.


“Apa? Muslim?!” balas Bu Angel kaget.


“Kamu sudah gila?!”


“Aku nggak gila, aku sangat mencintai Raisa!”


“Ibu nggak setuju! Ibu nggak melarang kamu untuk memilih pasangan yang seperti apa pun asalkan harus seiman dengan kita! Kalau kamu masih mengakui Ibu sebagai Ibu kamu, tinggalkan dia!” ujar Bu Angel sambil menujuk ke arah luar dimana aku bersama Delia duduk.


“Tapi!” cegah Morgan.


“Nggak ada tapi-tapian!” Bu Angel menghentikan pembicaraannya lalu masuk kedalam rumah.


Morgan yang mendengar perintah Bu Angel, tentu saja sangat terpukul. Ia tak bisa apa-apa, baginya orang tua adalah mayoritas baginya. Morgan menangis, hatinya menjerit ingin sekali ia melepaskan nyawanya sendiri karena saking patah hatinya. Morgan kembali menghampiriku bersama Delia dengan wajah merah karena sehabis menangis.


“Kanpa?” tanyaku khawatir.


“Nggak kok, lebih baik kalian pulang saja! Aku lagi banyak masalah….”


“Tapi!” ucapku.


“PERGI!” Morgan mulai marah.


Aku bersama Delia pun pergi meninggalkan Morgan.

__ADS_1


__ADS_2