Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 20 - Khitbah


__ADS_3

Selesai makan malam Yusuf membantu Ibu nya membereskan piring kotor kemudian mencucinya. Ia tidak mau melihat Ibu nya yang membereskan semuanya sendirian, karena Mbak Inah pembantunya sedang pulang kampung.


Selesai mencuci piring Yusuf langsung masuk kedalam kamarnya untuk mengambil peci dan sejadah untuk melaksanakan Shalat Isya di masjid.


Sepulangnya dari masjid Yusuf langsung membantu Ibu nya membuat kue di dapur untuk di bawa pas acara lamaran besok.


"Aku tidak tahu apakah keputusan untuk menikah dengan Hafidzah ini sudah tepat, tapi aku tidak mau kecewa yang kedua kalinya," kata Yusuf bercerita pada Ibu nya sambil memasukan adonan kue kedalam loyang.


"Jika ini keputusan kamu, Ibu akan do'akan semoga kamu bahagia dengan Hafidzah." kata Bu Rita sambil membalikan tubuh Yusuf menghadap Bu Rita lalu memeluknya.


"Terimakasih," Yusuf membalas pelukan Bu Rita.


Setelah selesai membuat kue, Yusuf langsung masuk kedalam kamarnya kemudian naik keatas ranjang untuk membaringkan tubuhnya yang sangat lelah. Ketika Yusuf sedang membaringkan tibuh terlintas di ingatan Yusuf padaku yang telah menyakitinya. Tanpa sadar air mata Yusuf mengalir deras di pipinya.


Yusuf tahu, terkadang hidup tak selalu berjalan mulus. tergantung bagaimana kita pintar-pintar menyikapinya. Yusuf berharap setelah menikah nanti Hafidzah akan menjadi istri yang terbaik untuknya dan bisa melupakanku.


***


Hari ini lamaran pun tiba, Tak pernah terlintas di pikiran Yusuf hari ini akan terjadi. Yusuf hanya bisa berdo'a kalau ini adalah jalan yang terbaik yang diberikan Tuhan padanya.


Waktu sudah menunjukan pukul 09.00 pagi.

__ADS_1


Yusuf dan keluarganya sudah berada di kediaman Hafidzah dengan membawa sekeranjang buah segar dan membawa cincin emas sebagai tanda Yusuf mengkhitbah Hafidzah.


Hafidzah memasuki ruang tamu dan mendapati Abah, Yusuf dan keluarganya yang tengah berkumpul di sofa. Hafidzah tentu saja kaget melihat Yusuf dan keluarganya datang karena Abah tidak memberi tahu Hafidzah sebelumnya.


"Hafidzah tolong ambilkan minum untuk keluarga Yusuf!" kata Abah memerintah Hafidzah.


Hafidzah tersenyum kemudian masuk ke dapur untuk mengambilkan minum.


Tak lama kemudian Hafidzah memasuki ruangan tamu dengan membawa minuman yang akan di suguhkan kepada keluarga Yusuf.


"Hafidzah sekarang kamu duduk!." kata Abah menyuruh Hafidzah duduk di samping Abah.


"Iya Abah," balas Hafidzah dengan senyum manisnya.


Setelah semuanya berkumpul Pak Tono langsung mengutarakan niatnya pada keluarga Hafidzah.


"Assalamuallaikum Wr.Wb."


"Waalaikumsalam Wr.Wb."


"Dengan mengucap rasa sukur ke Hadirat Allah yang maha Kuasa. Yang telah memberikan kesehatan kepada kita semua sehingga kita bisa berkumpul di rumah Pak Ahamd dengan keadaan sehat wal'afiat. Saya selaku Ayah dari Yusuf ingin melamar Hafidzah untuk menjadi istri anak saya Yusuf. Saya berharap Hafidzah bisa menerimanya!" Pak Tono mulai megutarakan niatnya pada keluarga Hafidzah.

__ADS_1


Hafidzah mendengar pengutaraannya Pak Tono tentu saja kaget karena ini yang ia harapkan selama ini. Hafidzah tak menyangka Yusuf akan melamar Hafidzah, dan Hafidzah berpikir bahwa do'a-do'a yang ia panjatkan setiap malam kini di kabulkan.


"Assalamuallaikum Wr.Wb."


"Waalaikumsalam Wr.Wb."


"Terimakasih kepada Bapak Tono dan keluarga yang sudah menyempatkan waktunya untuk datang ke kediaman kami dengan maksud melamar putri saya Hafidzah. Saya tidak bisa menerima atau menolak lamarannya Yusuf, semua keputusan ada di tangan Hafidzah. Bagamana Hafidzah apa kamu menerima Yusuf?" Abah menanyakan langsung pada Hafidzah.


"Iya Abah, Hafidzah mau menjadi istrinya Aa Yusuf," Balas Hafidzah.


Setelah Yusuf mendengar jawaban dari Hafidzah, hati Yusuf menjadi lega dan Yusuf berharap Ia tidak di kecewakan lagi. Yusuf sebenarnya berharap yang ia lamar itu adalah aku Raisa bukan Hafidzah, tetapi takdir berkata lain dengan pasrah Yusuf harus menerina kenyataan ini dengan lapang dada lalu menerima Hafidzah dan menjaganya dengan baik.


"Jadi kapan kesiapa acara pernikahannya, Hafidzah?" tanya Pak Tono pada Hafidzah sambil menyeruput air putih.


"Terserah Aa yusuf aja, Om!" balas Hafidzah.


"Saya mau pernikahannya di laksanakan lusa! Biar saya yang mempersiapkan segala kebutuhannya," kata Yusuf ingin mempercepat acara pernikahannya.


Hafidzah yang mendengar pernyataan Yusuf tentu saja sangat bahagia. Ia terasa terbang ke awang-awang. Ia tak menyangka Yusuf akan melamar Hafidzah, karena yang Hafidzah tahu Yusuf tak pernah sedikit tahu isi hati Hafidzah.


Tidak pernah terpikir sedikitpun akan berada dalam situasi seperti ini, dan tak pernah tahu akan rencana Tuhan dengan segala kejuatan seperti ini.

__ADS_1


Setelah acara lamarannya selesai, Yusuf dan keluarganya pamit pulang karena banyak yang harus di siapkan untuk acara pernikahannya.


Setelah keluarga Yusuf pulang. Hafidzah langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci puntu kamarnya. Di dalam kamar Hafidzah langsung berguling-guling di atas ranjang sembari senyum-senyum sendiri. Ia merasa bahwa hari ini adalah hari yang sangat bersejarah baginya.


__ADS_2