
Tak pernah sedikit pun terlintas di pikiranku akan berada di situasi seperti ini. Belum hatiku sembuh dengan apa yang Satria lakukan terhadapku di tambah dengan kesakitanku mendengar Yusuf sang pujaan hati menikah dengan orang lain.
Aku duduk di tepi ranjang sambil memandangi ponsel di tanganku, aku membuka kontak dan mencari nama Yusuf. Ku buka kotak pesan dan mengetik kata "Hay" dan rasanya ingin mengirimnya pada Yusuf. tapi aku tak kuasa karena Yusuf sudah menjadi milik orang lain.
" Ya Allah! mengapa semua ini terjadi padaku....." jeritan batinku.
Tak lama kemudian suara ponselku bergetar tanda ada panggilan masuk, aku berharap pesan itu dari Yusuf.
Delia : "Ca kamu baik-baik saja kan?"
Raisa : "Ia,Del aku baik-baik saja,"
Delia : "Syukur kalau begitu..."
Raisa : "Del Yusuf udah menikah dengan orang lain," sambil terisak tangis.
Delia : "A...apa?"
Raisa : "..."
Delia : "Udah jangan di pikirkan, mungkin Yusuf bukan jodoh yang di takdirkan untukmu,"
Raisa : "Tapi Del... aku sangat mencintai Yusuf!"
Delia : "Ih apaan sih kamu Ca, sekarang mending kamu ambil wudlu baca Al-Qur'an, agar hati kamu jadi tenang!"
Raisa : "Ia Del... makasih Del..."
Setelah aku mengakhiri panggilan telepon dari Delia aku langsung bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu membaca Al-Qur'an.
Setelah membaca Al-Qur'an aku langsung kembali ke atas ranjang untuk merebahkan tubuhku.
"Yusuf aku sangat merindukanmu..." gumamku sambil meneteskan air mata.
Di kediaman Yusuf.
Waktu sudah menunjukan pukul 02.00 pagi. Seperti biasanya Hafidzah membukakan matanya dan bergegas melaksanakan Shalat Tahazud karena sudah di biasakan sejak kecil. Ketika Hafidzah bangkit dari tidurnya, Hafidzah melihat Yusuf sedang tertidur lelap, Hafidzah tersenyum melihat Yusuf sedang tidur.
Tak lama kemudian ketika Hafidzah sedang asyik memandangi wajah tampan Yusuf ketika tidur, Yusuf mengigau... memanggil nama perempuan, dan yang di panggilnya itu bukan Hafidzah.
"Caca..."
"Caca..."
"Caca..." sambil melambaikan tangan kanannya ke atas dalam tidur Yusuf.
Hafidzah melihat tingkah ngigau Yusuf dengan memanggil-manggil nama perempuan lain tentu saja Hafidzah kaget, Hafidzah dengan reflex menutup mulutnya dengan meneteskan air matanya. Hafidzah langsung bergegas kekamar mandi lalu menangis di sana.
***
Keesokan harinya ketika Hafidzah sedang mempersiapkan sarapan di atas meja Yusuf menghampiri Hafidzah dengan memeluknya dari belakang.
"Assalamuallaikum, Istriku..."
"Waalaikumsalam," Hafidzah tidak menoleh kehadapan Yusuf. Hafidzah hanya pokus pada pekerjaannya.
"Langit terlihat mendung, dari raut wajah cantik istriku..." Yusuf merasa aneh dengan sikaf Hafidzah hari ini.
"..." Hafidzah tidak membalas perkataan Yusuf.
__ADS_1
Melihat sikaf Hafidzah yang aneh Yusuf membalikan badan Hafidzah kehadapannya lalu meletakan kedua tangannya di pipi Hafidzah.
"Kenapa...?" tanya Yusuf sambil tersenyum.
"..." Hafidzah melemparkan pandangannya ke arah yang lain.
"Hey!" Yusuf semakin penasaran.
Ketika Yusuf dan Hafizah sedang sarapan di meja makan, tak biasanya suasana di meja makan itu berbeda, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut Hafidzah.
"Kamu kenapa sih dari tadi diam aja?" tanya Yusuf sedikit kesal.
"..."
"Kalau ada masalah itu ngomong!"
Tak lama kemudian Hafidzah mulai berbicara.
"Sekarang Aa jujur sama aku!"
"Iya,"
"Siapa Caca?"
"..."
"Aa gak bisa jawab kan? aku ini istri Aa... apapun yang terjadi aku harus tau... aku tidak mau lagi ada kebohongan di antara rumah tangga kita..."
Hafidzah benar tak seharusnya Yusuf membohongi Hafidzah lagi. Akhirnya Yusuf menceritakan semuanya tentangku. Yusuf tak mau lagi ada kebohongan di dalam rumah tangganya.
Hafizah sebenarnya sangat sakit hati mendengarkan kejujuran Yusuf tentang masa lalunya. Tetapi Hafidzah mencoba mengerti tidak mau mempermasalahkannya lagi.
Hafidzah mengangguk tanda mengerti.
Tak lama kemudian ponsel Yusuf bergetar tanda ada panggilan masuk. Yusuf melihat ponselnya dan ternyata itu adalah telepon dariku. Yusuf tidak menghiraukan panggilanku, Yusuf hanya melanjutkan makannya.
"Angkat donk!" ujar Hafidzah pada Yusuf.
"..." Yusuf tidak berkata apa-apa.
Karena terlalu lama Yusuf tidak mengangkat panggilan teleponnya maka suara ponsel itu mati. Tak lama kemudian suara ponsel itu bergetar lagi dan Yusuf lihat panggilannya itu masih dariku.
"Telepon dari siapa, A?" tanya Hafidzah.
"Da... da.. dari, Caca..." Yusuf berusaha jujur pada Hafidzah, karena Yusuf tak mau ada kebohongan lagi dalam rumah tangganya.
"Udah angkat aja! siapa tahu penting," ujar Hafidzah mengizinkan Yusuf mengangkat telepon dariku.
"Ta... ta... tapi, kamu?" kata Yusuf berusaha mengerti pada Hafidzah agar tidak cemburu.
"Udah angkat aja!" kata Hafidzah sambil memegang punggung tangan Yusuf.
"Ya udah aku angkat dulu ya..."
Hafidzah mengangguk tanda mengerti.
Yusuf bangkit dari meja makan lalu pergi ke luar untuk mengangkat telepon dariku.
Raisa : "Assalamuallaikum,"
__ADS_1
Yusuf : "Waalaikunsalam, ada apa?"
Raisa : "Yusuf kamu lagi apa?"
Yusuf : "Baru selesai makan bersama istriku,"
Ketika aku mendengar Yusuf mengatakan baru selesai makan bersama istrinya, sebenarnya hatiku menjerit sakit tanpa darah dan menangis tanpa air mata.
Raisa : "Yusuf apakah kamu masih mencintaiku?"
Yusuf : "Kenapa kamu selalu bertanya seperti itu? aku masih mencintaimu atau tidak, tidak akan bisa merubah apa-apa di antara kita, aku udah menikah dengan orang lain. Seandanya kamu kemarin tidak menerima lamarannya laki-laki itu, kamu pasti udah jadi istriku, bukan Hafidzah. Tapi apalah daya, takdir telah berkata lain." balas Yusuf.
Raisa : "Hikz... hikz... hikz..." aku menangis terisak-isak.
Yusuf : "Ek... ka... kamu nangis?"
Raisa : "..."
Di tengah Yusuf sedang berbicara denganku dalam telepon Hafidzah menguping pembicaraan Yusuf denganku dari kejauhan. Hafidzah melihat dan mendengar pembicaraan aku dengan Yusuf.
Yusuf : "Ja... ja.. jangan nangis! aku paling gak tega melihat perempaun nangis.
Raisa : "Apakah tidak ada lagi ruang di hatimu?"
Yusuf : "..."
Raisa : "Apa kamu mencintai istrimu?"
Yusuf : "Jujur yang masih aku cintai adalah kamu,"
Hafidzah mendengar perkataan "Jujur yang masih aku cintau adalah kamu" hatinya sangat hancur sehancur hancurnya. Hafidzah menutupi mulutnya dan air matanta sepontan mengalir deras di pipinya. Hafidzah tak menyangka Yusuf menikahinya tanpa cinta. Hafidzah tidak mendengarkan pembicaraan aku dan Yusuf selanjutnya, Hafidzah hanya langsung pergi dari tempat itu dan masuk ke dalam kamar lalu menagis.
Raisa : "Kalau kamu tidak mencintai istrimu, aku mohon kamu tinggalkan Hafidzah dan menikah denganku!" aku tak mau kehilangan Yusuf.
Yusuf : "Tidak Raisa! aku tidak akan meninggalkan istriku dan aku tidak akan menjadikan Hafidzah korban. Aku akan selalu menjadi suami untuk Hafidzah. Raisa aku sangat mencintai kamu, aku mohon kamu jangan seperti ini! aku yakin kamu akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku,"
Raisa : "Ta...ta..tapi..."
Yusuf : "Assalamuallaikum," Yusuf langsung mengakhiri sambungan telepon dariku.
***Assalamuaallaikum teman-tema yang setia membaca cerita "Wanita Silihah Pujaan Hati"
Gimnana? udah mulai baperkan ceritanya...
Oh ya...
Agar Author semangat lanjutin cerktanya dukung Author dengan cara :
Like
Comen
Vote
Reting 5
dan jangan lupa Favoritkan agar teman-teman gak ketinggalan dengan UP Efisode-efisode selanjutnya...
Terimakasih***.
__ADS_1