Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
pergi belanja


__ADS_3

'Saatnya menikmati waktu keluar papiliun' begitu ucap Jingga saat ia tengah mematut diri di depan cermin.


Sesuai janjinya selesai makan Andra membawa Jingga untuk berbelanja kebutuhan rumah yang sudah habis. Jingga terlihat antusias dengan itu semua, meski hanya sebentar dan hanya ke departemen store.


Ini kali pertama Andra dan Jingga pergi bersama, meski terlihat antusias tapi sebenarnya Jingga degdegan, maklum saja ia tak pernah pergi belanja sebelumnya kebutuhan rumah selalu ia beli di warung kecil dekat rumah.


"lama sekali, cepat Jingga..." ucap Andra yang tak sabaran, laki laki itu belum tau jika banyak ritual yang perempuan lakukan sebelum bepergian.


"sabar..." jawab Jingga.


Andra sedikit terperangah melihat Jingga saat itu, celana jeans putih di padu dengan kaos hitam polos juga rambut panjang yang di biarkan terurai sukses membuat Jingga begitu memukau meski terlihat tomboy tapi tak mengurangi kecantikan dan aura yang ada didalam diri Jingga.


"malah melamun, jadi pergi kan...?" ucap Jingga.


"ehh, jadi cepat kita pergi sekarang..."


Andra tak sadar jika ia terpesona oleh penampilan Jingga yang sederhana, rasanya tak akan malu untuk Andra membawa Jingga pergi meski penampilan Jingga tidak glamor seperti kebanyakan perempuan saat ini.


"cepat masuk, kenapa diam saja..." ucap Andra, kenapa tidak Jingga malah diam saja ketika Andra sudah menaiki mobilnya.


"kau yakin akan pergi menggunakan mobil ini, kenapa tidak naik bis saja.." ucap Jingga.


"kau pikir aku rela berdesakan dengan banyak orang seperti itu.."


"tapi..."


"tapi apa, ayo cepat masuk, jika kau berubah pikiran aku pergi saja sendiri..."


"baik baik..." sebenarnya Jingga hanya tidak nyaman saja berada di dalam mobil berdua dengan Andra, terlebih ini pertama kalinya mereka pergi berdua.


Canggung, itu yang terjadi saat ini. Baik Andra maupun Jingga memperlihatkan mimik muka yang sangat kikuk.


"sudah..." ucap Jingga, ia menutup pintu dengan hati hati.

__ADS_1


"kau pikir aku akan melajukan mobilnya dengan kau yang tak menggunakan sabuk pengaman, oh Jingga meski uang ku banyak tapi aku tak rela jika harus menyuap polisi..." kata kata Andra sungguh berbelit membuat Jingga tak mengerti.


"apa maksud mu, aku tak paham..."


"pakai sabuk pengamannya..." ucap Andra, ia sedikit kesal karena Jingga sangat tak paham padahal memang sudah jadi kewajiban pengendara roda empat untuk selalu menggunakan sabuk pengaman saat berkendara.


"ohh, ya lupa lupa..."


"tapi mana tak ada..." ucap Jingga, ia terlihat seperti orang yang baru pertama kali naik mobil pribadi.


"kau ini, bodoh sekali..." mau tak mau Andra harus membantu Jingga, Andra mendekati Jingga mencari sabuk yang ternyata terhalang oleh tangan Jingga sendiri.


Saat membantu Jingga tak sengaja Andra menoleh dan pandangannya bertemu dengan Jingga, jarak mereka cukup dekat bahkan sangat dekat. Aroma harus dari Jingga sampai bisa Andra cium, bau yang tidak menyengat namun sangat memabukan. Dan bagaimana pun juga Andra adalah laki laki normal terlebih yang ada di hadapanya kini adalah istrinya, perempuan yang berhak dan halal untuk dirinya.


Jingga terlihat kaget dengan adegan itu, jarak dirinya begitu dekat bahkan sangat dekat dengan Andra.


Andra sudah tak mampu lagi menahan, sesuatu mendorong punggungnya yang membuat jarak dirinya dan Jingga semakin dekat dan semakin dekat hingga dengan mulus bibirnya telah mendarat sempurna di bibir Jingga.


Jingga membelalakan mata, serangan Andra yang tiba tiba membuatnya mati kutu, sejenak ia belum sadar apa yang terjadi hingga akhirnya tangan kanannya mendorong Andra supaya menjauh. Tapi Andra tak menggubris laki laki itu terlihat terlena di sana, bahkan ia terlihat menutup mata sambil menikmati ciuman itu.


Dilain sisi Jingga berusaha untuk menghentikan Andra, ini pertama kalinya bibir gadis itu di jamah oleh laki laki, di cium dan di kecup.


Akhirnya ciuman itu terlepas berkat tangan Jingga yang terus saja mendorong Andra supaya laki laki itu melepaskannya, setelah terlepas terlihat wajah sedih dari Jingga yang membuat Andra merasa bersalah.


"maaf..." ucap Andra, seseorang berkepala batu seperti Andra berkata maaf.


"ya, tak apa..." Jingga menutup matanya dalam, giginya menggigit kecil bibirnya sendiri dan justru adegan itu membuat Jingga semakin menggoda di mata Andra.


Namun nampaknya Andra lebih bisa menguasai diri, ia tak mungkin melakukan semuanya secara brutal di tempat ini, terlebih baru di cium saja Jingga sudah nampak seperti orang yang kehilangan sesuatu, wajahnya murung dan terlihat bersedih.


"maaf..." lagi lagi Andra berkata begitu.


"ya, cepat kita pergi..." jawab Jingga, sebenarnya hatinya merasa sedih lagi lagi ia harus diperlakukan demikian oleh Andra tapi ia berpikir kembali kenapa ia harus bersedih bukankah Andra suaminya, justru Andra berhak atas dirinya bahkan jika Andra mau mungkin Jingga harus melayaninya di atas ranjang, sungguh Jingga membuat kepalanya sendiri sakit untuk memahami itu.

__ADS_1


Sabuk yang menjadi tersangka utama itu sudah terpasang, mobil akhirnya melaju meninggalkan papiliun lalu membelah jalanan, sepanjang jalan tak ada kata yang terucap, Andra hanya fokus melihat jalanan yang akan dilewatinya sedangkan Jingga sedang sibuk menata hatinya sendiri, berpikir tentang banyak hal tentang dirinya juga Andra.


Sampailah mereka di tempat yang di tuju, departemen store yang begitu besar di kota ini.


"ambillah apa yang kau butuhkan..." ucap Andra.


"boleh begitu...?" tanya Jingga.


"tentu saja, kau pikir aku tak sanggup membayar..."


"hey tuan kenapa kau selalu begitu..."


"apa..."


"bersikaplah lunak, jangan terlalu keras bagaimana jika aku akhirnya kabur..." ucap Jingga.


Ucapan Jingga sukses membuat Andra diam, kata kata itu terngiang ngiang di telinganya.


Posisi Jingga sudah berada beberapa langkah jauh dari Andra sedang adik memilih apa yang hendak ia beli untuk kebutuhan dan keinginannya.


'akan ku habiskan uangnya, kapan lagi aku bisa berbelanja seperti ini....' ucap Jingga dalam hati. Ia memasukkan semua benda juga barang yang ia rasa itu menarik perhatian meski ia tak tau apakah butuh atau tidak untuk di gunakan sampai sampai troli yang ia dorong bahkan sudah penuh.


Melihat apa yang Jingga bawa berhasil membuat Andra bingung, sebanyak ini kah kebutuhan per bulan pasangan suami istri begitu cakapnya dalam hati tapi Andra tak mungkin menarik ucapannya pada Jingga untuk membawa apa saja yang ia butuhkan lagi pula bukan perkara sulit baginya membayar belanjaan sebanyak itu, bahkan jika Jingga membawa sertifikat toko itu mungkin Andra akan membayarnya.


Belanja memang hal yang sangat di sukai oleh kaum hawa terlebih tak menggunakan uang pribadinya, mereka akan mengambil apa pun yang mereka suka bahkan tak mempertimbangkan fungsi dan kegunaannya.


Hasil belanja Jingga menghasilkan tas tas besar yang di dalamnya sudah tersusun semua yang tadi ia ambil dengan sesuka hati, Jingga hanya bisa tersenyum lebar saat Andra sedang kepayahan menyusun semua itu di bagasi mobil.


Percayalah adegan sederhana seperti ini sebenarnya membuat Andra nampak bertanggung jawab hal ini yang membuat Jingga bisa melihatnya dari sisi lain. Laki laki yang bertanggung jawab sungguh terlihat lebih menarik daripada laki laki yang hanya terlihat tampan namun minum penghargaan terhadap wanita.


.


.

__ADS_1


.


●●●■■■●●●


__ADS_2