Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
pergi


__ADS_3

Kini Jingga dan Andra sedang berhadapan, ekspresi mereka terlihat tidak bersahabat satu sama lain. Jingga yang tengah menahan tangis dengan menggigit bibirnya, dadanya naik turun menahan sesak sedang Andra diam mematung tanpa bicara, rahangnya menguat seolah menahan emosi yang sangat kuat.


"ini apa lagi Andra..." bentak Jingga.


Beberapa saat yang lalu seseorang yang pernah mengantar paket bunga mawar merah yang kemarin datang lagi dan kini membawa paket bunga mawar berwarna kuning terang dan Pink cerah, wanginya begitu nyaman di hidung tapi menyakitkan untuk Jingga.


"ayolah Andra bicara padaku, apa ini..." lagi Jingga membentak.


Tapi bentakan Jingga tak membuat Andra goyah, ia masih diam seribu bahasa, justru Andra melangkah pergi meninggalkan Jingga berada tak jauh darinya.


"baiklah, jika kau tak mau bicara, biarkan aku pergi saja, aku muak dengan semua ini..." ancam Jingga.


Jingga menjatuhkan paket bunga indah itu kelantai, lantas pergi mendahului Andra yang tadi sudah lebih dulu melangkah beberapa langkah darinya. Tapi saat Jingga melewati Andra, lelaki itu menahan tangan Jingga yang membuat Jingga menoleh.


Tanpa berkata Jingga berusaha melepaskan genggaman tangan Andra yang semakin lama semakin keras memegang tangan Jingga.


"lepaskan Andra sakit..." rengek Jingga.


Tapi Andra tak bergeming, ia semakin keras menggengam hingga akhirnya menarik tangan itu dan membuat Jingga tak bisa menahan keseimbangan yang akhirnya jatuh di pelukan Andra.


"jangan pergi..." ucap Andra sambil memeluk tubuh Jingga yang begitu berontak tak ingin dipeluk.


"lepaskan aku Andra..." ronta Jingga.


"Jingga..."


Jingga berhasil melepaskan pelukan Andra, dengan kasar ia mendorong tubuh Andra hingga membentur dinding.

__ADS_1


"kau meminta padaku untuk tidak pergi tapi kau bertindak seolah kau ingin berpisah dengan ku, sebenarnya kau anggap aku ini apa Andra, kau sudah memiliki aku seutuhnya lalu kau mau apa lagi dariku..." ungkap Jingga dengan berderai air mata.


Lalu tanpa panjang kata Jingga membawa apa yang bisa ia bawa saat itu, meninggalkan Andra yang masih mematung atas apa yang telah terjadi kini.


Seorang perempuan bila sudah cemburu tak peduli apa pun yang terjadi akan bila belum di jelaskan akan terus salah paham, cemburu seorang perempuan sangat menakutkan.


Jingga berjalan tak tau harus kemana, meski ia pernah tinggal di kota ini tapi ia tak mengenal banyak tempat, maklum saja dulu yang ia lakukan hanya mencari pekerjaan untuk pengobatan Akbar tak ada waktu untuk bermain atau berlibur bahkan mengunjungi tempat tempat yang banyak orang lain bicarakan di kota ini.


Akhirnya Jingga duduk di sebuah bangku taman yang entah seberapa jauh dari apartemen tempat ia dan Andra tinggal yang jelas kini rasanya ia ingin jauh dari Andra, mengingat laki laki itu tak sedikitpun memiliki itikad baik untuk menjernihkan suasana yang saat ini sedang keruh.


Lama Jingga duduk disana, menangis seorang diri diantara hilir mudik orang orang yang datang dan pergi, di temani oleh suasana yang lumayan dingin seakan menggambarkan suasana hati Jingga yang memerlukan kehangatan.


"Tuhan, jika cintanya begitu menyakitkan seperti ini mengapa kau membangun mahligai yang begitu megah dalam hatiku, aku terlalu berharap pada Andra..." ucap Jingga di sela tangisannya, susah payah Jingga menahan tangisanya, ia tak mau orang orang tau jika dirinya tengah menangis, menangisi nasib diri yang merundung dirinya.


Saat Jingga tengah tenggelam dalam tangisnya tiba tiba sebuah tangan menyentuh bahunya, ia terkejut sesaat menghentikan tangisnya, ia tak langsung melihat kearah orang yang datang namun lebih dulu ia berperang dalam hati menebak siapa yang datang dan yang ia inginkan tak lain adalah Andra.


"sedang apa sendirian disini..."


"Yudha..." jawab Jingga.


Ya, bukan Andra yang datang tapi Yudha. Laki laki itu berdiri di samping Jingga.


"kenapa kau disini sendiri, mana Andra dan kenapa kau menangis...?" berubi tubi Yudha bertanya pada Jingga, ia melihat Jingga yang tengah terisak ditambah dengan mata Jingga yang membengkak membuat Jingga tak bisa lagi mengelak jika dirinya memang tengah menangis.


Jingga diam, tak menjawab pertanyaan Yudha.


"lebih baik kau pergi Yud..." perintah Jingga.

__ADS_1


Yudha malah duduk di bangku taman yang juga di duduki oleh Jingga.


"kau pikir aku akan meninggalkan mu yang sedang menangis seperti ini, ada apa Jingga, apa Andra menyakiti mu..." lagi Yudha bertanya yang bukan satu pertanyaan.


"bisa kau diam, tak usah bertanya, aku dan Andra baik baik saja..."


"tak mungkin kau menangis bila baik baik saja..."


Jingga kembali menangis, kali ini ia menangis semakin kencang dan bersuara, membuat Yudha yang ada di dekatnya sedikit kikuk karena meski suasana taman yang sudah mulai sepi tapi setiap orang yang lewat di hadapannya melihat dirinya juga Jingga yang sedang menikah dengan tatapan yang sedikit aneh.


Yudha bingung apa yang harus ia lakukan, sebelumnya ia belum pernah menenangkan seorang perempuan yang sedang menangis.


"Jingga tenanglah..." ucap Yudha, meski bingung ia akhirnya menepuk nepuk pundak perempuan itu meskipun rasanya sedikit kikuk.


Tapi apa yang di lakukan Jingga sungguh diluar dugaan, gadis itu menangis semakin keras dan berhambur memeluk Yudha yang duduk di sampingnya.


"Jingga tenanglah..." ucap Yudha menenangkan, sebenarnya ia senang karena Jingga memeluknya namun ada kabar buruknya, ini di luar ruangan dan takut ada orang suruhan Andra yang melihat akan jadi berabe urusannya.


Jingga semakin dalam memeluk Yudha dan semakin dalam juga menangis, melihat perempuan yang selama ini sangat diinginkannya menangis seperti ini nampaknya hati Yudha ikut bersedih, tak sampai hati ia melihatnya yang membuat tangannya berani untuk mengusap ucap pundak Jingga meski itu berhati hati.


Lama Jingga berada di dalam pelukan Yudha, meski tangisnya masih terdengar tapi hatinya sedikit tenang setelah tadi ia bercerita dalam tangis pada Yudha. Ternyata Jingga begini karena Andra yang menyembunyikan seorang perempuan didalam pernikahannya dengan Jingga, semua itu membuat hati Yudha sakit, ia yang setelah kejadian di papiliun itu sudah bertekad untuk merelakan Jingga dengan Andra akhirnya goyah setelah tau jika Andra bermain api dengan yang lain.


Meski hubungan Yudha dan Andra tidak baik tapi sedikit sedikit Yudha tau bagaimana cara Andra mencintai sesuatu termasuk perempuan, bukan tabiat Andra jika harus mendua terlebih Jingga telah bisa membuat hati yang selama ini beku dan dingin akhirnya meleleh dan hangat tapi setelah mendengar cerita Jingga membuat Yudha yakin jika Andra telah menyembunyikan bunga lain di balik kelambu pernikahannya.


.


.

__ADS_1


.


♧♧♧♧♧


__ADS_2