Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
permintaan


__ADS_3

Hari sudah beranjak malam, kini menyisakan Jingga dan Andra lagi di unit itu, mereka masih tak bersuara satu sama lain, masih diam diam dan belum ada yang mau membuka suara.


Sejak hari menjelang sore Freeya undur diri untuk pulang, gadis itu berharap Andra akan keluar dari ruangan kerjanya lalu menawarkan diri untuk mengantarnya namun harapan tinggal harapan jangankan mengantar keluar dari ruangannya saja tak Andra lakukan.


"sampai kapan kau akan bersikap marah pada Freeya...?" tanya Jingga yang sambil duduk di dekat Andra yang sedang membaca buka di sofa panjang.


Akhirnya Jingga mengalah, ia memilih untuk mengakhiri masa diam diamnya dengan Andra agar semua masalah ini cepat teratasi, di diamkan bertahun tahun sudah cukup untuk ini semua.


Andra hanya menatap Jingga sekilas lalu matanya kembali fokus pada bacaan yang tengah ia pegang, seolah tak memperdulikan apa yang istrinya itu tanyakan.


"Freeya anak yang baik juga manis, aku menyukainya..." sambung Jingga.


Tak mendapat respon apapun dari suaminya itu sejenak Jingga diam, memperhatikan suaminya yang memang sedang fokus fokusnya membaca.


"apa harus kau semarah itu pada adikmu sendiri...?" lagi Jingga bertanya.


Andra menutup bukunya dan meletakkannya di meja dekat lampu duduk yang berada di samping sofa, kemudian matanya menatap Jingga dengan sorot mata yang tajam.


"bercerita banyak gadis itu padamu, diamlah tak semua yang Freeya ceritakan itu benar..." jawab Andra dengan ketus.


Sebenarnya memang tak perlu Andra bersikap demikian pada Jingga, istrinya itu memang hanya mendengar cerita versi Freeya saja belum mendengar versi Andra tapi sedikit banyak Jingga mulai paham perselisihan antara adik dan kakak itu karena sebuah diskomunikasi saja, antara tak mau mengalah dan ego yang ketinggian.


Jingga tersenyum kecut, respon yang Andra berikan sungguh diluar dugaan, alih alih berpikir Andra masih keras kepala dengan semua anggapan yang ia anggap benar tanpa melihat kearah lainnya.


"aku memang tak tau banyak tentang semua ini, dan aku hanya tau cerita dari Freeya tapi sebagai seorang kakak yang juga menjadi ayah, pantaskah kau memperlakukan Freeya begini..? memberi maaf tak akan menurunkan sedikit pun harga dirimu..." ucap Jingga, ada harap di wajahnya semoga Andra bisa paham maksud dan arti dari ucapannya.


"kau tak akan mengerti tentang semua ini Jingga, kemarin saja kau menuduhku selingkuh karena kiriman bunga dari anak itu..." jawab Andra seenaknya.


Seolah mengingatkan Jingga atas sikap perempuan itu kemarin, Jingga marah atas dasar kiriman bunga dari Freeya.


"ya, wajar saja aku marah, mana ada istri yang tak akan marah bila ada nama wanita lain di paket kiriman bunga.." jawab Jingga tak mau kalah, meski setelahnya bibir perempuan itu terlihat manyun.


"kau cemburu...?" tanya Andra, terdengar menggoda istrinya itu.


"ish, sudah lupakan itu, bukan saatnya kau membahas permasalahan itu..." Jingga menggaruk kepalanya sendiri yang tak gatal, acaranya yang seharusnya serius kini terasa mencair karena sikap Jingga.

__ADS_1


Diam sejenak setelah tadi Andra hanya manggut manggut mendengar jawaban istrinya, meski belum puas karena Jingga belum mengakui jika dirinya cemburu tapi setidaknya Andra tau jika gadisnya itu merasakan rasa yang lain jika seseorang mencoba mendekati dirinya, cemburu begitulah orang orang menyebutnya.


"Andra..."


Andra menoleh.


"seharusnya kau bahagia dengan keluarga mu yang lengkap, meski ayah mu telah tiada tapi setidaknya kau merasakan bagaimana rasanya punya ayah..." ungkap Jingga.


Andra melihat istrinya yang sedang berbicara, meski ada senyum percayalah gurat sedih tak bisa Jingga sembunyikan.


"kau punya ayah, ibu dan dua adik yang begitu mencintai mu, pasti rasanya sangat bahagia berada di tengah tengah mereka..." sambung Jingga mengungkapkan isi hatinya.


"saat ini pasti ayah mu begitu bangga padamu karena telah mampu menggantikan perannya menjaga ibu dan adik mu..."


"tapi bila ayah mu tau kau bersikap seperti ini pada Freeya, apa beliau akan tetap bangga padamu...?"


Perkataan Jingga sukses membuat Andra yang sedari tadi membanggakan dirinya dalam hati kini berubah haluan, ada sedikit rasa tersinggung diantara deretan kata yang Jingga rangkai untuk diucapkan pada Andra.


"aku tak pernah tau bagaimana rasanya di peluk seorang ibu, juga seorang ayah tapi aku memiliki dua adik sama seperti mu dan aku tak mau kehilangan mereka karena mereka adalah keluarga ku satu satunya..."


"dan setelah menikah dengan mu kebahagian bertambah karena aku akhirnya memiliki ibu meski bukan ibu kandungku..." kembali Jingga bercerita.


"Andra, hargai apa yang ada di depan mu saat ini, maafkan Freeya, gadis itu bukan pergi meninggalkan mu tapi ia hanya pergi untuk mengejar mimpinya dan kini kau lihat sendiri dia datang lagi..." ungkap Jingga.


Saat Jingga menyebut nama Freeya suasana hati Andra berubah lagi, laki laki seolah tengah merasakan suasana hati yang galau, sesaat senang sesaat sedih lalu marah, seolah di acak acak oleh Jingga tapi jika bukan karena Jingga juga mungkin Andra tidak akan pernah berpikir untuk sedikit melihat keberadaan Freeya yang seakan meronta bahkan merangkak meminta dan memohon maaf darinya.


"tidak semudah itu Jingga, kau tak-"


Jingga memotong perkataan Andra yang membuat laki laki itu kembali diam dan mendengarkannya lagi


"kau mau bilang aku tak paham rasanya di tinggalkan...? Andra aku adalah suhu dari perasaan itu, kedua orang tua ku pergi tanpa pernah aku melihat wajahnya, kau lupa...?" ucap Jingga seakan bangga dengan keadaan yang menimpa dirinya


Perkara di tinggalkan tidak ada yang mau dan tak akan ada manusia bahkan makhluk ciptaan Tuhan yang siap kehilangan, namun semua itu hanya perkara waktu saja entah itu ditinggalkan atau meninggalkan, semua ketidaksiapan membuat semuanya berpikir buruk dan curiga, mungkinkah aku ini tidak pantas..? bukan perkara itu, melainkan tangan Tuhan lebih tau mana yang harus diambilnya, untuk kembali padanya karena tiada kasih yang lebih besar melebihi kasih Tuhan yang sangat luas.


Andra diam lagi.

__ADS_1


"jadi apa mau mu..?" tanya Andra.


Jingga tersenyum.


"maafkan Freeya, peluklah dia, aku yakin dia pasti bahagia bisa di peluk oleh orang yang saat ia rindukan, dan aku juga yakin kau pun merindukannya kan...?" jawab Jingga yang ujungnya terdapat pertanyaan yang membuat Andra diam.


Memang benar ada rindu di hati Andra untuk Freeya namun letaknya jauh di ujung hati, tertimbun oleh ego dan rasa tak mau kalah milik Andra.


Andra menatap istrinya yang tengah tersenyum mengembang karena akhirnya merasa menang karena bisa membujuk Andra, senyum di bibir Jingga itu cukup merekah dengan rasa bahagia yang ada, tapi satu yang Jingga lupakan, sorot mata Andra yang menjadi sedikit seram setelah otaknya berputar tak mau kalah.


"aku akan menuruti inginmu, tapi dengan syarat..."


Senyum Jingga luntur, kedua matanya menyipit dan tiba tiba jantungnya berdebar cepat.


"syarat...? apa maksud mu dengan syarat, apa memaafkan orang harus bersyarat...?" tanya Jingga.


Tak habis pikir Jingga saat itu, selain tampan suaminya itu juga cerdas dan cerdik, bisa membidik semua kesempatan yang ada di depan mata bahkan sekecil lubang kancing sekalipun.


"kau yang memintaku untuk memaafkan Freeya, kau bahkan memintaku untuk memeluknya padahal kemarin kau nyaris saja meninggalkan aku karenanya..."


Jingga diam mendengar ucapan Andra yang memang benar adanya.


"aku tak memaksa, hanya saja aku tak berjanji akan memaafkan Freeya jika kau tak mau mengikuti syarat yang aku inginkan..." ucap Andra lagi, yang sekarang terdengar sangat menyeramkan untuk telinga Jingga.


Jingga terpojok oleh kelakuannya sendiri, seolah masuk kandang singa dan mempersilahkannya untuk menerkam dirinya saat itu juga.


Berpikir secepat kilat membuat Jingga tak bisa memilih jalan lain.


"baiklah, apa syaratnya...?"


.


.


.

__ADS_1


.


♡♡♡♡♡♡♡♡


__ADS_2