
"tunggu sebentar Jingga..."
Jingga tak menggubris keinginan Andra, ia terus melangkah kedalam rumah.
"ku bilang tunggu..." Andra mengulang perintahnya, tangan kanannya meraih pergelangan tangan Jingga yang masih terlihat membiru karena ulahnya kemarin.
"aw sakit, apa mau mu hah..." ucap Jingga, mau tak mau akhirnya ia harus melayani Andra.
"siapa mereka...?" tanya Andra.
"adikku..." jawab Jingga singkat.
"hah itu saja, lalu kenapa kau tak pernah bercerita tentang mereka padaku..."
"kau ini siapa sampai sampai aku harus bercerita tentang hidupku..." ucap Jingga.
"aku ini suami mu..."
"hah suami kau bilang, suami mana yang sampai hati menyakiti istrinya berulang kali, apa kau berhak di sebut suami..." ucap Jingga, emosinya menggebu gebu.
"tidak perlu kau berkata begitu, aku tau apa yang aku lakukan terhadap mu..."
"lalu kenapa sekarang tertarik tentang kehidupan, juga adik adikku...?" tanya Jingga.
"oh tidak, aku tidak tertarik tentang kehidupan mu, aku hanya bertanya siapa mereka itu saja, apa sulit bagimu menceritakannya...?"
"sudah ku bilang mereka adik adikku, apa kurang jelas aku berbicara..." ucap Jingga.
Jingga menepis tangan kanannya yang di genggam oleh Andra, ia meninggalkan Andra yang masih diam dengan jawaban yang Jingga berikan, sebenarnya laki laki itu masih ingin bertanya banyak hal tentang adik adik Jingga tapi Andra rasa tak mungkin, Jingga pasti tak mau menjelaskan lebih tentang adik adiknya itu padanya.
.
"temui aku sekarang..." ucap Andra saat sedang melakukan panggilan telpon, ia kini berada di dalam ruang kerja miliknya di gedung tinggi pencakar langit itu.
Hanya menunggu beberapa menit saja Raga sudah ada di hadapan Andra, pandangannya lurus dan begitu serius.
"apa yang kau sembunyikan dariku...?" tanya Andra.
__ADS_1
"maaf tuan..."
"perlu aku ulangi pertanyaanku, aku yakin kau paham apa yang aku ingin tau kebenarannya..." ucap Andra lagi, kata katanya sungguh sangat menyekik.
"maafkan saya tuan tapi bukankah anda tidak tertarik dengan kehidupan nona Jingga" ucap Raga, ia ingat beberapa waktu saat Andra memerintahkan dirinya untuk mencari tau semua tentang Jingga, namun saat Raga tengah menjabarkan apa yang telah ia dapat tentang Jingga begitu saja Andra menyuruhnya untuk berhenti menceritakan semua tentang Jingga padahal Raga baru menceritakan sedikit dari banyaknya informasi tentang Jingga yang ia temukan.
"aku tak bilang begitu..." ucap Andra tak mau kalah padahal sebenarnya ia ingat bahwa ia memang menghentikan saat Raga sedang menginfokan semua tentang Jingga.
"baik tuan maaf saya yang bersalah..." Raga sadar tak akan menang bila ia beradu argumen dengan Andra, Andra tuannya ia harus mengalah pada Andra.
"ini tuan..." Raga menyodorkan sebuah benda elektronik berbentuk papan persegi empat pada Andra, disana terdapat tulisan yang menerangkan semua tentang Jingga, juga beberapa video yang kemudian Andra putar.
Andra mengerutkan dahi, alisnya bertemu bahkan beberapa kali ia terlihat menghembuskan nafas kasar saat sedang menelaah apa yang sedang ia baca.
"jadi Akbar dan Karin bukan adik kandung Jingga..." cakap Andra.
"benar tuan, kedua anak itu adalah kakak beradik kembar yang nona Jingga asuh sejak tinggal di panti asuhan hingga saat nona Jingga harus meninggalkan panti karena usianya sudah dewasa nona Jingga membawa serta Akbar dan Karin untuk tinggal bersama..." jelas Raga.
"lalu apa yang terjadi sehingga Jingga harus kerja mati matian demi Akbar, kemarin aku dengar dari anak perempuan itu jika Akbar sakit parah..." tanya Andra.
Andra manggut manggut kepala.
"lalu apa lagi..."
"hingga akhirnya dokter mengatakan jika Akbar harus melakukan transplantasi jantung, cuci darah yang selama ini dilakukan tak bisa membuat Akbar bertahan lebih lama..." jelas Raga lagi.
"nona Jingga nampak begitu terpukul, ia tak tau lagi harus berbuat apa, pernah saat itu nona Jingga mendatangi sebuah tempat hiburan malam, lama ia menatap orang yang hiruk pikuk keluar masuk kala itu namun akhirnya nona Jingga pergi sambil berurai air mata..." jelas Raga panjang.
"tempat hiburan malam, dimana itu di kota ini banyak sekali tempat hiburan malam..." ucap Andra.
"tempat yang sering tuan datangi..." jawab Raga.
"kapan kau melihat Jingga datang ke tempat itu...?" tanya Andra.
"waktu itu kita baru saja sampai dari luar kota, dan tuan ingin langsung pergi ke bar itu..." jelas Raga.
Andra nampak memutar memori ingatannya, mencari cari ingatannya yang mungkin ia bisa menemukan sesuatu disana dan Deg ia mengingat sesuatu.
__ADS_1
Malam itu Andra baru sampai dari luar kota, ia harus memimpin rapat dengan para pimpinan anak cabang perusahaan yang ia jalankan yang tak bisa di lakukan secara daring yang membuatnya mau tak mau harus pergi. Rasa penat seharian berkecimpung bersama pekerjaan membuat mood Andra kacau saat itu yang membuat Andra memerintahkan Raga untuk pergi ke tempat hiburan malam itu meski pun sebenarnya tubuh itu sudah sangat lelah.
Saat sampai di parkiran dan menuruni mobil yang tumpangi penglihatan mata Andra terganggu oleh pemandangan yang tak biasa, tak jauh dari mobilnya sedang berdiri seorang perempuan sambil memperhatikan aktivitas yang terjadi saat itu, perempuan itu menggunakan celana jeans panjang berwarna biru tua, kemeja dengan tangan yang gulung, serta membawa tas selempang yang sudah terlihat lusuh, rambutnya yang panjang diikat ekor kuda, perempuan itu memperhatikan orang orang yang hilir mudik datang dan memasuki gedung itu pandangan gadis itu terlihat risih saat melihat perempuan seusaianya menggunakan baju super minim yang memperlihatkan lekuk tubuh mereka.
Saat ini Andra yakin jika yang dilihatnya waktu itu adalah Jingga.
"apa yang dia lakukan disana..." tanya Andra lagi.
"dari informasi yang saya dapat nona Jingga pernah akan untuk menjual diri di tempat itu untuk biaya pengobatan Akbar..." jelas Raga.
"lalu..."
"lalu nyonya Cantika datang menolong nona Jingga, beliau yang membiayai seluruh pengobatan Akbar hingga saat ini dengan syarat harus menikah dengan tuan..." jelas Raga lagi.
Sedikit sedikit Andra mulai paham dengan keadaan yang menimpa Jingga, hatinya sedikit terenyuh saat tau jika Jingga melakukan semua itu untuk Akbar yang ternyata bukan adik kandungnya, sebegitu sayangnya Jingga pada Akbar hingga ia rela untuk mengorbankan dirinya sendiri bahkan terpikir untuk menjual harga dirinya.
"sangat sayang Jingga pada Akbar..." ucap Andra.
"begitulah tuan, sepertinya nona Jingga menganggap Akbar dan Karin adalah satu satunya keluarga yang ia miliki karena selama ia hidup 17 tahun di panti tak ada orang yang mau mengadopsinya..." jelas Raga lagi.
"kenapa begitu...?"
"tidak jelas alasannya tuan, yang jelas sudah banyak ada orang tua yang ingin mengadopsinya nona Jingga tiba tiba mereka berubah pikiran dan tak jadi membawa nona Jingga hingga akhirnya usia nona Jingga menginjak usia 17 tahun dan ibu panti yang bertugas disana mempersilahkan nona Jingga untuk hidup mandiri di luar panti..."
"dimana panti asuhan itu...?"
"terletak di kota yang berada di pesisir pantai tuan..." jawab Raga.
Andra menarik nafas panjang, ternyata sungguh menyakitkan hidup Jingga tak ada bahagianya, hingga saat menikah dengan dirinya pun Jingga harus menderita karena harus menerima semua siksaan yang Andra berikan padanya, raut wajah sesal sedikit tergambar di wajah Andra.
.
.
.
●●●□□□●●●
__ADS_1