
Hari hari berlalu rasanya sudah hampir menginjak seminggu setelah kedatangan Jingga dan Andra ke butik milik Freeya hingga saat ini baik Jingga maupun Andra tidak ada yang berani memulai pembicaraan tentang kesalahan yang terjadi saat itu, bagi Andra mungkin itu sudah menjadi hal yang tak mau ia ungkap lagi tapi berbeda bagi Jingga yang semakin ini membuat kakak beradik itu kembali rukun bahkan bukan hanya antara Andra dan Freeya tapi juga antara Andra, Yudha juga Freeya.
Entah apa yang terjadi pagi itu, tiba tiba Andra mengeluh demam pada Jingga, laki laki itu tak ingin pergi ke kantor tapi juga tak ingin di periksa oleh dokter. Panik..? jelas Jingga panik ia merasa ada yang aneh pada diri suaminya itu, badannya tak panas atau menunjukkan tanda tanda demam saja tidak tapi Andra terlihat begitu lemah.
Saat ini Raga sudah berada di apartemen Andra, tadi Jingga menghubungi laki laki itu supaya datang dan membeli obat supaya di konsumsi oleh Andra juga memberi tau Raga tentang keadaan bossnya itu yang saat ini terlihat sangat kekanakan bahkan jelas seperti anak kecil.
"nona bagaimana jika kita membawa tuan ke rumah sakit saja..." ucap Raga.
"ku pikir juga begitu Raga..."
"tidak, aku tidak mau..." Andra malah memotong pembicaraan Jingga.
"bagaimana kalau memanggil dokter saja..." ucap Raga lagi, Raga nampak khawatir pada Andra terlebih mendengar apa yang Jingga jelaskan padanya jelas semakin membuat Raga tak bisa nyaman karena ia tak mau sesuatu terjadi pada Andra.
"tidak Raga tak usah, bukankah kau sudah membawakan aku obat...? aku akan baik baik saja setelah meminum obat, aku hanya perlu istirahat dan bersama Jingga..." jelas Andra.
Mendengar jawaban Andra mulut Raga yang semula bersiap untuk berkata akhirnya tertutup lagi bahkan terkunci. Otaknya langsung menangkap sinyal sinyal tentang keinginan tuannya itu saat ini meski tak di ucapkan secara langsung.
"baiklah kalau begitu tuan, aku pamit undur diri, segeralah sembuh jika tak mau pergi ke rumah sakit..." akhirnya Raga memilih untuk pergi setelah beberapa kali Andra memberikan kode pada dirinya untuk pergi, ternyata benar ini semua hanya rekayasa Andra saja.
"pergilah, jangan ganggu aku sebelum aku memberi tau keadaan ku padamu, jika ibu bertanya kemana aku jawab saja aku di rumah.. "
Raga mengerti, setelah berpamitan laki laki itu pun melangkah pergi meninggalkan tempat Andra. Sepanjang koridor menuju tempat parkir wajah Raga terlihat sangat dingin hingga akhirnya ia sampai di dalam mobil kemudian menarik nafas dan menghembuskannya pelan.
"cinta... seperti inikah cara mu bekerja, sungguh luar biasa..." Raga berucap sendiri.
Setelah puas dengan hanya diam entah memikirkan apa mobil yang biasa ia tumpangi mulai melaju meninggalkan apartemen itu, membelah jalanan aspal yang panas karena hari sudah mulai siang, menyatu dan berbaur dengan kendaraan lain yang juga tengah menuju ke tempat tujuan mereka masing masing.
__ADS_1
Beberapa waktu berlalu Raga sampai di tempat tujuan, sebuah gedung pencakar langit yang tinggi tempatnya mengadu nasib selama ini.
"dimana Andra...?" tanya nyonya Cantika yang tak sengaja berpapasan dengan Raga di lobi perusahaan besar itu.
Raga tersenyum lalu sedikit berbungkuk sebelum akhirnya menjawab pertanyaan ibu dari bosnya itu.
"tuan Andra di apartemennya nyonya, sedang tidak enak badan..." jawab Raga jujur.
"dia sakit...? kau sudah membawanya ke rumah sakit...?"
"sepertinya tuan Andra hanya butuh istirahat bersama nona Jingga..."
Jawaban dari Raga membuat nyonya Cantika tak lagi bertanya, jawaban itu cukup kuat menjadi alasan mengapa anak sulungnya itu sampai rela tak bekerja padahal yang nyonya Cantika tau Andra adalah pribadi yang gila kerja.
"saya permisi nyonya..." pamit Raga saat ia merasa sudah tak ada lagi hal yang ingin di bicarakan dan di tanyakan oleh nyonya Cantika.
Raga kembali membungkuk dan mulai melangkah meninggalkan nyonya Cantika.
Raga berbalik tanpa menjawab.
"kau mengunjungi keluarga mu...? baguslah aku yakin kau merindukan mereka, sisihkanlah waktumu dan kunjungi mereka rutin, siapa tau kau berjodoh dengan gadis itu..." ucap nyonya Cantika.
Raut wajah Raga yang semula berseri kini berubah lagi, ucapan dari nyonya Cantika yang membuatnya begitu.
"jangan terlalu banyak bekerja, Andra sudah sepertinya sudah bahagia dengan Jingga, sekarang giliran mu mencari yang bisa membuatmu bahagia..." sambung nyonya Cantika yang tanpa berkata lagi kemudian meninggalkan Raga yang masih mematung di tempat.
Raga, laki laki itu tak bisa berkata apa apa lagi bukan karena sebuah kesalahan atau kekacauan tapi yang nyonya Cantika ucapkan memang benar adanya, saat ini Andra yang dulu sangat ia tak sukai karena sikap manja terhadap ayahnya itu berlebihan kini sudah menggapai bahagia bersama dengan perempuan yang di bencinya pula saat awal pernikahan kini yang menjadi pikiran dalam benak Raga adalah darimana nyonya Cantika tau jika Raga bertemu dengan seorang gadis di pusara kedua orang tua dan adiknya.
__ADS_1
Menang bukan hal sulit bagi nyonya Cantika untuk mengetahui itu semua karena beliau seolah memiliki mata dimana mana.
*
Raga sudah duduk di kursi yang biasa di dudukinya di kantor, setelah tadi ia harus memimpin rapat bersama jajaran yang harusnya dipimpin oleh Andra namun apa daya tuannya itu tengah dimasukkan cinta.
Selama berjalannya rapat bisa di bilang pikiran Raga tak tenang, tak fokus dan bisa di bilang ia masih terpikir oleh kata kata nyonya Cantika tadi di lobi, bukan perkara nyonya Cantika yang berucap seperti itu tapi Raga berpikir apakah nyonya Cantika yang mengirim perempuan itu saat Raga mengunjungi pusara keluarganya kemarin. Raga belum bisa memastikan, pekerjaan yang banyak membuatnya tak bisa bergerak banyak, ia hanya bisa menunggu orang suruhannya memberi kabar meski dengan waktu yang lumayan lama.
Pikiran Raga kembali pada saat kemarin mengunjungi ayah, ibu serta adiknya, rindu sudah di ubun ubun membuat Raga tak bisa membendung lagi air mata yang seolah begitu saja mengalir saat dirinya memandangi ketiga orang yang ia sayang telah di timbun tanah. Sesaat Raga merasa jadi orang yang paling sial saat itu namun sedetik kemudian akalnya bisa mencerna yang membuatnya tak hanyut dalam sedih.
Lama Raga di pusara itu, menabur bunga dan menggugurkan air dari botol yang sengaja di bawanya, ia mencabuti rumput rumput liar yang tumbuh di atas tanah yang menimbun keluarganya itu, tapi pikirannya sedikit terganggu karena keadaan makam kedua orang tuanya itu. Raga tak pernah datang, tak pernah juga menitah tukang untuk mengurus ketiga makam itu namun entah kenapa keadaan makan itu sangat terawat juga bersih.
Dirasa sudah waktunya ia kembali akhirnya Raga memutuskan untuk pergi dari tempat itu, berpamitan pada keluarganya untuk kembali kedunia nyata untuk menjalani hidup sebatang kara.
Saat Raga sudah agak jauh dari pusara tiba tiba ia berpapasan dengan seorang gadis yang berjalan berlawanan dengannya, menggunakan penutup kepala gadis itu berjalan menunduk.
Awalnya Raga tak menghiraukan namun saat ia sampai di mobil sesuatu yang Raga cari tak ada dan ia ingat tadi mengeluarkan benda itu untuk mencari doa yang mungkin bisa ia panjatkan lewat mesin pencari online.
Saat kembali dan tinggal beberapa langkah lagi Raga menuju tempat semula, Raga berhenti dan melihat seseorang tengah berjongkok di tempat ia tadi berjongkok pula.
"siapa kau...."
.
.
.
__ADS_1
.
*****