Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
kisah masa lalu Jingga


__ADS_3

Lama Jingga mengusap ngusap Andra, membuay lelaki itu hingga terbang menuju alam mimpinya yang indah meski di siang hari bolong. Ia menatap wajah Andra dalam, lama kelamaan menatap wajah itu membuat Jingga mengingat sosok lain yang pernah ada didalam hidupnya,didalam hari harinya dimasa lalu.


Waktu itu saat Jingga masih duduk di sekolah menengah atas, sedang gila gilanya dengan yang namanya cinta monyet, banyak gadis gadis seumuran Jingga yang menikmati momen itu, tapi tidak dengan Jingga, ia malah menyibukkan diri mengurus adik barunya yaitu Akbar dan Karin yang sedang dalam masa butuh perhatian lebih karena usia mereka baru dua tahun.


Jingga yang hanya tinggal di panti asuhan membuatnya tak begitu memperhatikan penampilan, seragam dan perlengkapan sekolah yang ia gunakan hanyalah sumbangan dari para donatur yang kebetulan masih layak untuk digunakan, tapi itu semua tidak membuat Jingga malu. Dibalik itu semua ada seseorang yang begitu mengagumi Jingga, padahal Jingga tidak menarik sama sekali.


Namun meski begitu ternyata ada sepasang mata yang selalu memperhatikannya, setiap gerak dan gerik Jingga selalu ia pantau meski ia selalu mendapatkan penolakan dari Jingga.


"boleh kita berkenalan...?" tanya anak laki laki itu sambil mengulurkan tangan kanannya di hadapan Jingga yang sedang duduk dan memegangi buku di bangku taman sekolah.


Jingga hanya menatap anak laki laki "tak usah berkenalan pun aku tau namamu..." ketus Jingga menjawab. Dan memang benar tak usah berkenalan pun Jingga sudah tau nama anak laki laki itu.


'Y Riza R' begitu yang tertulis di name tag anak laki laki itu.


"ohh ya aku lupa..." anak itu nyengir kuda, ia malu sendiri karena hal itu, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Melihat itu Jingga menggeleng kepala atas sikap konyol Riza. Jingga hendak beranjak namun Riza mencegahnya.


"sudah ku bilang aku ingin berkenalan..." ucap Riza.


"berkenalan, kau ini bagaimana aku sudah tau nama mu dan aku yakin kau bisa membaca name tag yang aku gunakan..." judes Jingga menjawab, perempuan itu nampak tak minat menanggapi Riza.


"iya iya aku tau nama mu Jingga kan, tapi aku ingin berteman dengan mu..." ucap Riza, laki laki nampak tak gentar meski Jingga bersikap tak pantas baginya, justru itu yang membuat Riza ingin berteman bahkan dekat dengan Jingga, sikap atuh Jingga membuat Riza tertarik.


"kau ingin berteman dengan ku...? lihat teman teman yang lain malah menjauhi ku, sudah pergilah..." ucap Jingga mematahkan semangat laki laki itu karena memang teman teman Jingga menjauhinya hanya karena dirinya anak panti asuhan bahkan ada juga dari mereka yang berani mengatai Jingga anak yang keluar dari batu karena Jingga tak punya orang tua.

__ADS_1


"aku tak peduli dengan mereka, aku pun tak sama dengan mereka, aku ingin berteman dengan mu..." Riza begitu bersemangat, meski sebenarnya ia rada ragu mendekati Jingga, sikap tak pantas Jingga dapatkan dari teman temannya yang menjauhinya.


"terserah kau saja..." ucap Jingga, ia tak ambil pusing dengan Riza, ia berpendapat jika Riza pun sama dengan yang lain, mendekatinya berteman dengannya lalu memanfaatkan dirinya.


"baguslah, mulai hari ini kita berteman..." sumringah Riza saat itu, laki laki berkepala plontos itu mengacungkan kelingkingnya di hadapan Jingga, tapi Jingga hanya memandangnya tanpa ekspresi.


"ayo, kita kan teman..." ucap lagi Riza tapi Jingga masih saja tidak bereaksi.


"ayo..."


"ih kau kaku sekali..." akhirnya Riza membawa tangan Jingga dan menautkan jari kelingkingnya dengan Jingga sebagai bukti bahwa mereka sudah berteman.


Sejak saat itu mereka menjalin hubungan pertemanan meski Jingga masih saja acuh tak acuh pada Riza tapi nampaknya Riza tak terlalu memusingkan itu semua, ia terus saja membuntuti Jingga selama di sekolah bahkan pindah kelas dan duduk bersama dengan Jingga. Teman teman yang lain yang menyaksikan pemandangan itu terlihat cemburu karena Riza termasuk daftar siswa tampan saat itu meski plontos.


Hati Jingga mulai nyaman dengan Riza, ia sudah bisa menerima Riza sebagai temannya namun bagaimana pun Jingga adalah gadis biasa yang sudah tertarik dengan lawan jenis terlebih Riza yang bisa menerima keadaan dirinya yang apa adanya.


Hingga akhirnya hari kelulusan tiba, semua bersuka cita atas keberhasilan yang mereka dapatkan setelah sekian tahun belajar di sekolah itu begitupun dengan Jingga dan Riza.


"kau bahagia..." tanya Riza pada Jingga usai mencorat coret baju seragam mereka.


"tentu aku bahagia, aku akan kuliah..." jawab Jingga, ia melompat lompat girang di hadapan Riza dan memeluk laki laki itu entah sadar atau tidak.


"aku juga akan kuliah..." ucap Riza.


"dimana...?" tanya Jingga, gadis itu melepaskannya pelukannya pada Riza.

__ADS_1


"di luar kota..." jawab Riza.


"jauh sekali..." ucap Jingga.


"tapi kau tenang saja aku akan sering datang menjenguk mu, mengunjungi Akbar dan Karin..." ucap Riza menenangkan Jingga yang terlihat termenung dihadapannya.


"janji...?"


"tentu saja aku berjanji padamu, kalau aku ingkar aku siap mendapatkan hukuman dari mu..."


Jingga mengangguk paham meski ia tak menerima jika Riza akan pergi darinya, satu rasa yang membuatnya sulit adalah rasa yang terpendam dan tak bisa terucap.


Sejak kepergian Riza memang laki laki itu memenuhi janjinya, mengunjungi dirinya Akbar juga Karin tapi setelah itu Riza menghilang, tak ada lagi kabar dan berita tentang Riza karena teknologi saat itu belum secanggih saat ini, dan saat itu pula Jingga membuat spekulasi sendiri tentang Riza, laki laki itu memang hanya ingin memancingnya saja untuk bisa bersama dengannya tapi rasa nyaman sudah hadir sedikit susah Jingga menerimanya namun seiring berjalannya waktu Jingga mulai terbiasa lagi tanpa Riza, tanpa kabar dan berita.


Hingga saat ini ada Andra di pangkuan Jingga, laki laki itu adalah suaminya yang mungkin akan menjadi ayah bagi anak anaknya kelak meski kegiatan itu belum terjadi. Jingga tak habis pikir tentang yang namanya cinta, dulu ketika ia acuh pada Riza namun dengan sabar Riza menenaninya hingga nyaman membuat Jingga tak mau jauh dari Riza dan saat ini dengan Andra pun begitu, sikap kejam Andra menyakiti dirinya namun ketika Andra berubah begitu mudah Jingga luluh sungguh mudah hati gadis itu terenyuh.


.


...


.


...


■■■☆☆☆■■■

__ADS_1


__ADS_2