
Air mata Freya pecah, ia tak bisa lagi menahan emosinya saat itu, sedang Andra ia terlihat mengerutkan alisnya setelah beberapa saat yang lalu mendengar semua penjelasan yang Freeya ucapkan.
Jingga segera menghampiri gadis itu, memeluk gadis yang kini tengah menangis sesegukan setelah akhirnya melepaskan semua beban yang selama ini ia tanggung sendiri.
Saat ini yang menjadi pusat perhatian Andra selain adiknya yang sedang menangis dan di peluk Jingga adalah Raga, barusan setelah dirinya berusaha mati matian membela diri dan Raga entah kenapa ada satu bagian dimana Andra tak bisa membantah dan menyangkal yang membuat dirinya akhirnya diam seribu bahasa.
"yang kak Andra tau aku pergi atas kemauan ku sendiri padahal tidak kak, aku pergi dipaksa oleh ibu..." ucap Freeya. "berulang kali aku membujuk ibu untuk tidak mengirimkan aku ke negara itu tapi kakak tau sendiri bagaimana ibu bila sudah berkehendak..." Freeya berupaya menjelaskan sejernih mungkin tak mau situasi yang memang sudah keruh semakin keruh.
"berhenti berbicara omong kosong Freeya..." setengah berteriak Andra saat itu, ia kini sedang berada di posisi yang harus percaya atau tidak pada adiknya sendiri terlebih apa yang dikatakan oleh Freeya tak pernah ia dengar dari siapapun termasuk ibu dan Raga.
"aku tak berbicara omong kosong kak, saat hari keberangkatan ku aku hendak berpamitan pada kakak yang saat itu tengah berada di kantor tapi Raga bilang jika kakak tak bisa di ganggu karena sedang bersama rekan bisnis penting, saat itu meski aku tau kak Andra tak mengizinkan aku pergi tapi tetap ingin berpamitan pada kak Andra..." sambung Freeya menjelaskan.
"kau bisa saja langsung masuk kedalam ruangan ku saat itu..."
"tidak bisa kak, Raga seolah menghalangiku untuk tidak bertemu dengan kakak..."
Suasana semakin pecah, semua yang Freeya ceritakan benar benar tak di ketahui oleh Andra, sikap Raga yang terlihat menghalang halangi pun tak pernah Andra pikirkan sedikit pun.
"saat di bandara pun pesawat yang akan aku tumpangi mengalami keterlambatan, aku mencari cara untuk bisa kabur dari ibu karena aku tak ingin pergi, aku tak ingin meninggalkan kakakku yang selalu menyayangi ku, yang selalu ada untukku, tapi saat aku bersembunyi kakak tau siapa yang menemukan aku, yang menemukan aku adalah Raga, Raga yang membawaku pada ibu hingga akhirnya aku pergi ke negara itu meski aku tak mau sama sekali...."
Di lema.
Itu yang Andra rasakan, ia tak pernah berpikir hingga sejauh itu terhadap Raga, lelaki yang selama ini ia percaya ternyata menyembunyikan rahasia yang selama ini membuat hubungan antara dirinya dan Freeya tak baik.
__ADS_1
"apa maksud Raga berbuat seperti itu..." ucap Andra.
Saat itu ia kembali menatap Freeya yang masih menangis di pelukan Jingga, terlihat sebisa mungkin Jingga membuat nyaman Freeya yang sedang menangis, tak memintanya untuk berhenti menangis tapi Jingga hanya memberikan tempat nyaman untuk gadis itu karena mungkin terasa berat namun lega saat semua beban akhirnya bisa lepas juga.
Pikiran Andra masih di bagi bagi antara Freeya dan Raga, sebelum Andra mendengar penjelasan dari Raga omongan Freeya tak bisa Andra percaya seratus persen terlebih selama ini sikap dingin telah Andra berikan kepada Freeya tanpa tau jika sebenarnya ada sebuah rahasia yang tak ia ketahui selama ini.
Yang Andra lakukan saat ini adalah sedikit demi sedikit meluluh dan menerima keadaan yang selama ini ia buta, meski ia belum percaya seutuhnya. Melihat adik perempuan yang selama ini ia sayangi menangis karena dirinya sedikit membuat Andra ingin menyentuh gadis yang sudah sangat dewasa menerima sikap dirinya yang ternyata sangat mementingkan egonya saja.
Melangkah, Andra mendekati dua perempuan yang sedang berpelukan itu, dan perlahan tangan kanannya mendarat tepat di punggung milik Freeya. Andra mencoba mengusap punggung gadis yang tengah terisak itu seolah memberikan gerakan agar gadis cantik itu bisa kuat.
"Freey..." ucap Andra.
Freeya pelan pelan melepas pelukannya dari Jingga, perhatiannya beralih pada lelaki yang sudah lama tak memanggil namanya itu. Dengan mata yang masih berkaca kaca, Freeya menatap laki laki itu nanar seolah tak percaya jika ia akan mendengar lagi suara Andra.
Freeya semakin terisak menangis di pelukan Andra, rindu yang selama ini terpendam akhirnya bisa tersalurkan, maklum saja bertahun tahun memendam rindu sungguh membuat hati Freeya sakit hingga akhirnya Tuhan membuat mereka bisa bersama lagi meski belum sepenuhnya hati Andra percaya pada Freeya sebelum Raga menjelaskan semuanya.
"terima kasih kak Andra telah memaafkan aku..." ucap setelah beberapa lama memeluk Andra sambil menangis.
Andra mengangguk, tak menjawab Freeya karena hatinya belum sepenuhnya yakin tapi ia pun tak mau menyakiti lagi hati adiknya rasanya cukup menyakiti hatinya selama ini.
Saat ini pikiran Andra terbang pada Raga, pikirnya Raga harus menjelaskan semua ini secara detail apa maksud dan tujuan lelaki itu tentang semua ini hingga membuat dirinya nyaris membenci adik kandungnya sendiri. Bertahun tahun Andra percaya jika Freeya pergi karena keinginannya, bertahun tahun pula Andra bersikap dingin pada Freeya padahal dulu dirinya sangar menyayangi gadis berambut panjang itu.
*
__ADS_1
Situasi sudah lebih kondusif, Freeya sudah mulai tenang setelah tadi berada dalam pelukan Andra cukup lama sedangkan Jingga hanya bisa menjadi penonton yang membiarkan bahu suaminya itu basah oleh air mata Freeya namun selama Andra memeluk Freeya tangan kanan Andra tak lepas menggenggam tangan Jingga seolah tak mau perempuannya itu cemburu meski yang ada di pelukkannya itu adalah iparnya sendiri.
Hari sudah semakin siang tapi matahari masih malu malu untuk bersinar dengan lepas, terhalang oleh awan kelabu juga oleh kabut yang mungkin belum turun kala itu.
Setelah dirasa nyaman mereka bertiga memilih untuk mengisi perut mereka dengan makanan, ternyata lapar tak memilih orang untuk datang, situasi sedih mengharu biru saja rasa lapar datang menghadang.
"terima kasih kak, aku senang sekali hari ini..." ucap Freeya. Gadis itu tersenyum lebar meski matanya sembab karena menangis.
"sama sama Freey, seringlah datang kemari..." jawab Jingga ramah.
Andra hanya tersenyum, rupanya begini indahnya kebersamaan yang sempat hilang itu dan kini datang lagi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♡