Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
tamu 2


__ADS_3

'gadis itu memanggilku kakak ipar...? sebenarnya siapa dia...?' batin Jingga.


"kakak ipar tolong aku, aku datang ke sini hanya karena merindukan kakakku, tapi nampaknya dia tak suka aku ada disini..." rengek Freeya seakan mencari pertolongan pada Jingga yang masih diam untuk mencerna sendiri atas apa yang terjadi di hadapannya kini.


"maaf nona, se- sebenarnya siapa nona sebenarnya...?" tanya Jingga, masih bingung Jingga saat ini.


"aku Freeya, aku adik kak Andra, aku yang mengirimkan bunga beberapa hari yang lalu..." jawab Freeya jujur.


Jingga terbelalak, kaget atas jawaban gadis cantik yang tengah berderai air mata itu.


"adik...?" tanya Jingga tak percaya.


"ya..."


"tolong aku kak, aku tau aku salah tapi aku menyadari kesalahan ku..."


Jingga diam, apalagi saat ini Freeya merengek di hadapannya, seolah meminta pertolongan.


"suruh dia pergi..." ucap Andra, menyadarkan Jingga yang masih belum bisa sadar dengan apa yang terjadi, rata rata perempuan cantik sedikit lambat memahami kondisi yang terjadi, kenapa begitu..? entahlah.


"Andra, bisakah kau duduk, dia sudah menyadari kesalahannya..." ungkap Jingga.


"aku tak peduli, biarkan dia pergi..."


"Andra, bisakah kau untuk tidak emosi dulu, adik mu ini sudah menyesalinya..."


"Jingga kau tak akan paham atas apa yang telah ia lakukan..."


"untuk itu duduklah, kita dengarkan penjelasannya bagaimana..."


Ucapan Jingga membuat Andra diam, ia tak bisa lagi menjawab atau mencari alasan untuk bisa keluar dari ruangan yang ada Freeya disana, marahnya Andra pada Freeya seakan sudah berkarat, akan sulit untuk membuatnya kembali ke bentuk semula.


Saat ini mereka duduk di satu tempat yang sama dan Jingga yang menjadi penengah, satu sisi sedang menangis dan satu sisi bersandar dengan bersilang kaki dan wajah yang masih menggambarkan ketidak sukanya ia di sana.

__ADS_1


Lama mereka beradu argumen, sang kakak yang tak mau kalah dan sang adik yang terus saja di pojokkan oleh kakaknya sendiri, Jingga sendiri tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Andra, rindu yang bertahun tahun Freeya tujukan untuk dirinya ditolak mentah mentah oleh Andra.


"sudahlah, aku sibuk pulanglah..." Andra berdiri dan kali ini ia pergi begitu saja meninggalkan istri dan adiknya itu yang masih duduk di ruang tamu apartemen itu.


Freeya menatap nanar perginya kakak sulung yang ia rindukan itu, ia belum berhasil untuk memenuhi keinginan hatinya untuk memeluk laki laki yang dulu sangat menyayanginya itu.


"apa aku sejahat itu...?" tanya Freeya.


Jingga tersenyum, lalu meraih tangan gadis yang tengah bersedih itu untuk menyalurkan kekuatan padanya untuk bisa menghadapi kejamnya Andra saat keras kepala.


"kau sangat merindukannya...?" tanya Jingga.


"tentu..."


Jingga tersenyum, meski sebenarnya terlihat mengejek saat itu karena Freeya sedang menangis sedih.


"nona, kau harus berusaha dengan sabar, aku tau seberapa sulitnya meluluhkan hati kakak mu itu, ia sangat keras kepala..." ungkap Jingga.


"aku dan Andra di jodohkan, sangat sulit bagiku menjalani awal pernikahan dengan Andra sampai saat ini..." cerita Jingga.


"kak Andra menyakiti kakak...?"


Jingga diam, tersenyum dan berpikir, ia tau tak mungkin untuk menceritakan semua yang Andra lakukan padanya saat awal pernikahan, itu semua bukan konsumsi publik meskipun Freeya adalah adik dari suaminya. Belum tentu Freeya tidak akan diam dan tak berbicara kepada siapapun.


"tidak, tak mungkin kakak mu itu menyakiti ku, dia orang baik hanya saja emosinya sering meledak..." Jingga membela Andra, padahal bila diingat bagaimana sikap Andra pada Jingga dulu, di serang secara fisik dan mental nyaris membuat Jingga menyerah.


"betul seperti itu...?" tanya Freeya.


"apa kau ragu...? aku dengar Andra sangat menyayangimu.." ucap Jingga berbohong padahal Jingga tak tau bagaimana masa kecil keluarga yang saat ini pun sudah menjadi keluarganya juga.


"aku tidak ragu, kakakku itu penyayang yang begitu baik. Dulu ia menyayangi ku, sangat menyayangi ku..." jawab Freeya.


Jingga menghelas nafas lega, ternyata tebakannya benar tentang masa kecil Andra dan Freeya. Meski tak tau seperti apa yang sebenarnya terjadi tapi Jingga cukup bisa membayangkan bagaimana bahagianya Freeya kala Andra begitu menjaganya dengan baik.

__ADS_1


Freeya bercerita banyak pada Jingga, masa kecilnya bersama Andra juga bersama Yudha, mereka terdengar seperti adik kakak yang sangat bahagia, saling menjaga dan menyayangi, sangat membuat orang lain menjadi iri melihatnya.


Hingga tiba di bagian yang terdengar sedih kala ayah mereka harus pergi, semua terpuruk termasuk Andra dan kebahagian yang awalnya memayungi mereka akhirnya berakhir seiring dengan sikap saling menyalahkan satu sama lainnya.


"aku tau kau pasti sedih, tapi teruslah berusaha..." ucap Jingga.


Freeya tersenyum, ia lagi lagi terpesona pada kakak iparnya itu, tak banyak bicara saat ia bercerita hanya berucap saat diperlukan saja, bisa dibilang sifat dan sikap Jingga sangat elegan.


"terima kasih kak..."


Jingga mengangguk.


Kemudian mereka bercerita lagi, namun bedanya saat ini ada gelak tawa meski setelahnya mereka bersedih lagi namun semua itu cukup membuat mereka terlihat akrab.


*


Di ruangan tempat Andra bekerja laki laki itu masih terdiam, tak melakukan apapun selain menatap kosong ke arah komputer yang baru saja ia hidupkan. Sebenarnya ia pun begitu merindukan adik perempuan satu satunya itu, bertahun tak bertemu membuat rindu tumbuh subur di hatinya.


Namun ego besar yang ia miliki mengalahkan semuanya, dulu saat Freeya pergi ia begitu marah, bukan marah karena tak setuju dengan impian adiknya itu hanya alasannya saja, sebagai kakak yang merangkap peran menjadi ayah Andra merasa khawatir pada kehidupan adiknya di luar negara, tempat yang jauh dari pandangannya.


Apalagi saat Freeya hendak pergi gadis itu tak beritikad baik untuk meminta restu Andra, gadis itu pergi begitu saja tanpa memperdulikan emosi yang masih menyelimuti Andra. Freeya pergi dan Andra semakin marah.


Hingga akhirnya Andra seolah tak peduli lagi pada adik perempuannya itu, ia tak mencari informasi apapun tentang adiknya tapi Raga tetap menyampaikan semua yang terjadi pada Freeya yang jauh dari kakaknya itu, mulai dari aktivitas hingga prestasi yang Freeya dapat.


"kau datang dan pergi sesuka hati mu Freey, sekarang kau mendekati Jingga ku untuk bisa mendapatkan maaf dari ku, tidak semudah itu..."


.


.


.


¤¤¤¤¤

__ADS_1


__ADS_2