Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
tentang Raga dan Andra


__ADS_3

Andra terus membelai rambut panjang milik wanitanya itu, memberi sentuhan agar perempuan yang kini dalam pelukannya itu tak lagi merasa takut dengan situasi yang telah menimpanya. Sedang Jingga terlelap meninggalkan Andra, tangisan yang tadi terdengar berubah menjadi dengkuran halus khas wanita.


Sejenak Andra berpikir apa yang menyebabkan Yudha melakukan hal itu pada Jingga, ia belum mengetahui jika Yudha dan Jingga pernah saling mengenal di masa lalu. Tapi sebenarnya meski pun benar mereka telah saling mengenal Andra tidak akan mempermasalahkan itu semua toh Jingga kini sudah menjadi miliknya, sekeras apapun Yudha mencoba untuk mendekati Jingga kembali tidak akan mudah untuk melakukannya.


Pikiran Andra langsung tertuju pada Raga, ia orang yang paling pintar soal mencari tau tentang dan asal usul.


*Suara dering ponsel* tiba tiba ponsel Andra berbunyi dan muncul nama seseorang yang tengah ia pikirkan saat itu, Raga.


"maaf tuan mengganggu waktu anda, saya sudah mengirimkan berkas yang anda minta tadi siang..." ucap Raga di sebrang tempat disana berbicara.


"bagus, terima kasih..." jawab Andra, meski ia adalah bos perusahaan besar tapi Andra tak sungkan untuk mengatakan ucapan terima kasih pada karyawannya, itulah mengapa banyak orang yang kagum padanya meski berkuasa namun tak melupakan tatakrama.


"sama sama tuan..." ucap Raga, ia begitu menghormati Andra meski sebenarnya umur Raga lebih tua beberapa tahun dari Andra.


"Raga tunggu..."


"ya tuan..."


"bisakah kau cari tau tentang kehidupan masa sekolah Jingga, aku ingin tau apa Jingga pernah bertemu Yudha sebelumnya, aku baru ingat jika Jingga berasal dari kota dimana pernah Yudha tinggal bersama bibi juga pamanku..." perintah Andra pada Raga.


"baik tuan, saya akan mencari informasi yang anda inginkan dan segera memberitahu anda..." ucap Raga.


"terima kasih sebelumnya Raga, tapi untuk malam ini istirahatlah dan segeralah menikah..." kata Andra sambil tersenyum saat mengingat wajah Raga yang selalu saja serius saat bersamanya.


"baik tuan terima kasih..." jawab Raga sambil memutuskan sambungan telpon itu.


Andra kembali pada aktivitas semula, membelai lembut rambut Jingga dan membuatkan perempuan itu semakin terbang ke alam mimpinya, meski tangannya kesemutan tapi itu terbayar karena ia bisa dengan puas memandang wajah perempuan yang sudah tak gadis lagi itu, perempuan yang sudah sangat buas saat bersamanya malam itu.


*

__ADS_1


Di tempat lain, saat laki laki itu menutup sambungan telpon dibibirnya tertarik sebuah senyum.


"bagaimana aku akan menikah, tuan ku sedang jatuh cinta semua pekerjaan aku yang lakukan, cinta cinta seperti apa dahsyatnya engkau sampai membuat orang yang gila kerja seperti Andra bisa bertekuk lutut di hadapan mu..." ungkap Raga bicara sendiri sambil tersenyum.


Sebenarnya laki laki itu bisa di bilang tampan, tubuhnya bisa dibilang proporsional meski tak pernah dilihat oleh siapapun kecuali seorang wanita yang pernah dengan tidak sengaja masuk kedalam kamarnya dalam keadaan mabuk waktu itu.


Raga, wajahnya terlihat tampan meski jarang terukir senyum namun bila tersenyum sungguh sangat manis. Sikapnya sangat dingin, bahkan misterius. Menjadi orang kepercayaan seorang Andra Rahardian membuat ia menjadi orang yang sangat serius, tak ada waktu untuk bermain main.


Dulu ia adalah anak yang manis, tubuh bersama dengan kerasnya dunia yang terus menggusur siapapun yang tak mau beranjak, menabrak siapapun yang tak mau bergerak termasuk Raga. Tubuhnya masih kecil tapi beban hidup membuatnya harus terus berlari, bersama dengan kenyataan yang menyakitkan.


Ayah dan ibunya telah meninggalkan dirinya seorang diri bersama dengan harta warisan yang sangat banyak dan malah saat itu menjadi bahan rebutan keluarga yang dulu saling menyayangi. Adik perempuannya menjadi korban pelecehan oleh pegawai ayahnya sendiri hingga akhirnya adiknya itu mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri karena tak kuat menghadapi kenyataan hidup yang menyakitkan bagi dirinya.


Sejak saat itu Raga lebih memilih hidup sendiri, membiarkan harta warisan orang tuanya menjadi rebutan paman dan bibinya, ia sudah tak mau lagi peduli dengan itu semua. Jalan hidup yang terjal membuat Raga menjadi seseorang yang keras, tak ada lagi senyum darinya, tak ada lagi tawa ceria dari dirinya. Sekejam itu jalan hidup Raga hingga membuat ia menjadi lelaki dingin tapi berwajah tampan.


Awal kisah ia bertemu dengan Andra adalah saat itu Raga tak tau lagi harus kemana, pulang ke rumah bukan lagi hal yang menyenangkan baginya, rumah yang awalnya selalu ia rindukan berubah menjadi neraka yang tak ia inginkan. Paman juga bibinya terus saja membujuk Raga untuk memberikan harta warisan itu agar jatuh di tangan mereka tapi Raga yang saat itu sedikit banyak sudah mulai paham masih saja enggan ketika dipaksa.


Raga berjalan tanpa tujuan, saat di persimpangan bertemu dengan Andra yang saat itu masih berpenampilan anak sekolah menengah atas yang culun tengah di ganggu oleh beberapa orang yang mungkin dengan temannya juga, namun saat itu Andra yang belum bisa bela diri hanya bisa pasrah saat dirinya tengah di buly. Dan saat itu Raga datang membantu Andra bak pahlawan kesiangan, membela Andra yang saat itu terlihat butuh pertolongan.


"hey, siapa kau kenapa kau membantuku hah..." bentak Andra saat itu.


"hey bocah aku hanya membantumu, bukannya berterima kasih..." tak ingin kalah membentak Andra, ia tak habis pikir dengan anak bocah yang sudah di tolongnya itu.


"kau tau aku tak punya teman, aku ingin berteman dengan mereka..." teriak Andra saat itu.


"dasar bocah ingusan, kau pikir mereka akan menerima mu sebagai teman hah, tadi mereka sedang membuly mu..." bentak Raga yang tak habis pikir dengan jalan pemikiran bocah itu.


"aku tak peduli, aku hanya ingin punya teman, apa aku salah hah..." saling membentak mereka saat itu, malah saat itu Andra menarik kerah baju milik Raga seperti orang yang mengajak berkelahi.


"kau pikir kau akan punya teman saat kau mau ditindak seperti tadi, berpikir realistis bocah..." ucap Raga sambil menepis tangan Andra lalu pergi meninggalkan anak ingusan itu.

__ADS_1


Raga berlalu tak memperdulikan lagi Andra yang sangat tak menarik itu, sikapnya yang kekanakan membuat Raga muak saat itu.


Entah bagaimana ceritanya, satu sore Raga diajak oleh seorang bapak yang begitu baik padanya, yang telah memberikan pekerjaan padanya saat ia begitu buntu mencari uang untuk makan padahal bisa saja Raga menggunakan harta orang tuanya. Saat bapak itu mengenalkan dirinya pada istrinya betapa kagetnya Raga saat bertemu dengan Andra di rumah itu, mereka saling tatap.


"ayah kenapa ayah membawa orang itu kesini..." ketus Andra saat itu, ia mendekati ayahnya yang baru saja datang bersama Raga itu.


"kau mengenalnya.." tanya ayah Andra pada anaknya itu.


"tentu saja aku mengenalnya, dia yang membuat aku tak punya teman di sekolah..." ucap Andra kesal.


Raga merengutkan dahinya, bagaimana mungkin Andra bisa berkata demikian pada ayahnya padahal ia baru sekali bertemu dengan Andra dan saat itu pun ia bermaksud untuk membantu tapi Andra malah salah tangkap.


Ayahnya tertawa melihat anaknya yang terlihat kesal saat melihat Raga tapi Raga tak melakukan pembelaan apapun selain diam seolah tau bagaimana sikap dan sifat Andra bila ditentang.


"benar begitu Raga...?" tanya ayah Andra pada Raga yang masih saja berdiri saat ayah Andra sudah duduk bersama nyonya Cantika.


"saya pernah bertemu sekali tuan, saat itu anak tuan sedang di rundung oleh teman temannya. Saya datang dengan maksud membantu..." bela diri Raga.


"tidak ayah, tidak begitu justru dia yang mengangguku dan teman teman ku.." ucap Andra yang lagi lagi tak mendapat respon apapun dari Raga.


Ayahnya tertawa mendengar anaknya yang mengatakan pembelaan itu, meski dirinya dan Raga belum lama berkenalan dan pasti belum lama juga ayahnya tau bagaimana peringai Raga tapi dilihat dari sikap Raga saat ini pun ayahnya sudah bisa menebak bagaimana tabiat Raga.


"sudah Andra, jangan seperti itu nak, justru ayah mau kalian berdua bisa berteman baik, Raga yang akan menjaga anak ayah ini setelah ayah tiada..." ucap ayah Andra yang terdengar bagai guyonan tapi terasa ngilu bagi hati yang mendengar.


Saat itu orang orang yang ada di ruangan itu sedikit heran dengan sikap ayah Andra, apalagi Andra yang dengan terang terangan menolak keberadaan Raga saat itu namun setelah dibujuk dengan untaian kata kata halus akhirnya Andra mau menerima Raga meski setiap hari Raga harus menerima sikap tak baik dari Andra.


Satu dua bulan berjalan Andra masih bersikap seenaknya pada Raga tapi Raga tak begitu mengubrinya karena selain menemani Andra ia pun bekerja pada ayah anak itu di perusahaan besar yang ia pimpin.


Hingga satu hari tiba tiba ayah Andra itu jatuh pingsan, lama ia tak sadarkan diri meski sudah di bawa ke rumah sakit dengan peralatan hebat, semua anggota keluarga begitu mengkhawatirkan keadaan orang yang dicintainya itu tak ingin sesuatu terjadi padanya, hingga semuanya harus bisa menerima kenyataan jika ayah mereka lebih disayangi oleh Tuhan, semua menjerit dan menangis pilu, tak ada yang siap atas kehilangan ini.

__ADS_1


Sejak saat itu Raga menjadi saksi bagaimana terpuruknya Andra, kehilangan membuatnya hampir gila hingga ibunya pun tak tau lagi harus berbuat apa untuk menghadapi sikap Andra yang begitu miris itu. Tapi Raga dengan senang hati menemani Andra saat itu, menemani seseorang yang telah dititipkan padanya di masa masa buruknya.


Hingga kini Andra dan Raga bak lem prangko, yang tak bisa di jauhkan satu sama lain. Semua ini kembali pada rasa tanggung jawab, semua akan tau bagaimana bentuk dan rasa terima kasih saat ia pernah mengalaminya.


__ADS_2