Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
mengunjungi 1


__ADS_3

Hari sudah pagi, Jingga sedang membuat sarapan di dapur meski hari ini weekend,.


"selamat pagi..." ucap Andra, laki laki itu sudah nampak segar.


"pagi, wah pagi pagi begini sudah rapi..." kata Jingga, gadis itu memperhatikan penampilan Andra yang sepertinya sudah sehat, rambutnya sudah klimis di tambah dengan kaos berkerah berwarna hitam membentuk tubuh Andra yang atletis.


"kau lupa, hari ini kita akan mengunjungi Akbar dan Karin..." ucap Andra, laki laki itu mengambil gelas berisi susu coklat lalu menenggaknya hingga habis tak bersisa.


"kau yakin sudah benar benar sehat, jika belum tunda saja aku yakin mereka akan paham..." ungkap Jingga, ia tak mau jika laki laki itu kembali sakit.


"aku sudah sehat, sungguh. Lagi pula mana mungkin aku ingkar janji pada Akbar dan Karin, aku merindukan mereka..." ucap Andra. Setelah pertemuan pertama saat itu membuat Andra tersentuh, ternyata ia bisa dan mampu untuk bisa dekat dengan anak kecil, terbukti betapa Karin begitu nyaman dengannya.


"ya sudah kalau begitu..." ucap Jingga.


"cepat mandi dan bersiap..." titah Andra.


"baiklah" Jingga tersenyum pada Andra, hendak beranjak meninggalkan Andra namun tangan laki laki menahannya.


"apa..?" tanya Jingga bingung.


Tanpa berkata Andra menarik tangan Jingga hingga gadis itu jatuh tepat di pangkuannya. Jarak mereka cukup dekat bahkan sangat dekat hingga deru nafas masing bisa terasa.


"mumpung masih pagi..." Andra mendekatkan diri pada Jingga hingga membuat gadis itu tak bisa berbuat banyak karena tubuh gadis itu telah di apit oleh Andra dan meja makan.


"Andra apa yang kau lakukan..." merasa terhimpit Jingga panik, terlebih Andra semakin mendekat.


Tatapan Andra begitu menakutkan, matanya sayu penuh misteri tatapannya sendu seolah meminta mangsa.


"jangan lupa keramas, aku suka rambut panjang mu yang basah..." ucap Andra tepat di telinga Jingga, nafasnya yang terasa membuat Jingga merinding.


Jingga melotot, lagi lagi Andra berhasil membuatnya deg degan. Jingga nyaris loncat tak mau lama lama di godaan oleh Andra, dengan jurus seribu bayangan Jingga meninggalkan Andra yang masih dengan senyum kebanggaannya melihat Jingga yang kalangkabut.


Beberapa lama kemudian Jingga sudah siap, sesuai pesanan Andra rambut Jingga basah habis di keramas sekalian ia harus menuntaskan kewajibannya setelah masa periodnya berakhir.

__ADS_1


"hayu kita berangkat..." ucap Jingga. Gadis itu nampak segar dengan menggunakan dress selutut dan berlengan panjang juga motif bunga yang membuat Jingga terlihat cantik.


Sudahlah, Andra pasti terperangah melihat Jingga yang berdandan sederhana namun begitu mempesona. Tapi Andra tak mau memperlihatkan jika ia terpesona, ia menarik nafas panjang dan menetralkan kembali dirinya supaya tidak berbuntut panjang lagi.


Dan mereka berangkat, menuju rumah yang di tempati oleh Akbar dan Karin, sepanjang jalan Jingga tak hentinya bernyanyi bak burung yang sedang senang hati. Andra hanya bisa ikut bernyanyi bersama Jingga, ia merasa senang karena gadisnya itu sudah bisa cair bersama dirinya.


Setelah beberapa waktu perjalanan sampalah mereka di rumah sederhana, rumah yang terlihat asri dengan banyaknya tumbuhan dan satu pohon mangga yang begitu rindang meski belum waktunya berbuah, pot pot tumbuhan yang terawat terletak dimana mana membuat rumah itu semakin terlihat segar.


"kita sudah sampai..." ucap Jingga begitu antusias saat mobil yang Andra kendarai sudah sampai di depan rumahnya.


"kau yakin ini rumahnya...?" tanya Andra, ia sedikit tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"ya, aku sangat yakin ini rumah yang aku beli untuk Akbar dan Karin, memang kenapa, kecil memang kau tak akan nyaman..." ucap Jingga.


"bukan begitu..."


"ya sudah, kau pulang saja aku turun saja sendiri nanti aku pulang bisa menggunakan kendaraan umum.." ucap Jingga, lagi lagi Jingga mengambil penilaian sendiri atas Andra padahal Andra belum menjelaskan apapun. atas pertanyaannya tadi.


"Jingga bisakah kau untuk tidak menilaiku dari satu sisi, aku hanya bertanya apakah benar ini rumahnya bukan berarti aku tak mau masuk atau aku tak nyaman justru aku kagum padamu yang sudah bisa memberikan adik adik mu rumah yang sederhana namun nyaman itu, sudahlah kalau kau memang tak berniat untuk mengajakku kesini aku akan pulang saja..." ucap Andra, rasanya sesak yang ada di hati Andra terlebih Jingga lagi lagi tak bisa memandangnya dari sisi yang lain.


"Jingga, dengarkan aku, aku mungkin tak marah tapi aku hanya tersinggung atas ucapan mu padaku, kau bilang aku terganggu apa yang terganggu Jingga justru aku begitu senang bisa bertemu dengan Akbar dan Karin tapi jika kau tak mengizinkannya aku akan pergi saja.." ucap Andra dengan nada bicara yang lembut namun menusuk, sungguh menusuk sembilu Jingga yang ternyata memang belum bisa mengerti suaminya itu.


Jingga menunduk, ia menyesal karena telah membuat suasana yang awalnya jernih kini menjadi keruh karena perbuatannya yang selalu saja memandang Andra dari sisi yang membuat laki laki itu tersinggung, wajah Andra yang tadinya sumringah kini berubah.


"sudah, turun cepat aku akan membantu mu menurunkan barang barang untuk adik adikmu, lalu akan pergi dan nanti sore aku akan menjemput mu lagi..." ucap Andra, laki laki itu sudah kepalang kesal pada Jingga, ia sudah tak mau lagi berdebat dengan perempuan itu.


"Andra maafkan aku..." Jingga menyesal.


Perkataan Jingga seakan tak di dengar, Andra setengah membanting pintu sebagai peluapan emosinya pada Jingga.


Jingga tak bisa berbuat apa apa lagi selain menuruti apa yang Andra ucapkan, turun dari mobil dan menurunkan beberapa barang yang mereka beli untuk Akbar dan Karin sebagai oleh oleh.


Namun, tiba tiba Karin keluar dari pintu pagar.

__ADS_1


"kak Andra..." sumringah Karin menghampiri kakaknya itu sambil sedikit berlari, gadis kecil itu menghambur memeluk Andra yang sudah sedikit membungkukan badannya supaya gadis itu mudah memeluknya.


"Karin..." erat Andra memeluk gadis kecil itu, seolah melepas rindu pada Karin.


"kak Andra kenapa tidak masuk kerumah..." tanya gadis kecil itu.


"belum sayang, kakak sedang mengambil beberapa barang untuk Karin dan Akbar..." jawab Andra sambil membenarkan beberapa anak rambut Karin yang tertiup angin.


"benarkah..? wah aku senang sekali, terima kasih kak Andra.." ucap gadis kecil itu sambil kembali memeluk tubuh Andra, gadis itu sudah benar benar jatuh cinta pada Andra sampai lupa untuk menyapa Jingga.


"mentang mentang sudah punya kak Andra jadi lupa sama kak Jingga..." goda Jingga saat menyaksikan adiknya begitu manja pada Andra.


"ehh aku sampai lupa ada kak Jingga, maaf ya kak..." ucap Karin.


Setelah selesai dengan itu akhirnya mereka semua membawa semua barang bawaan kedalam rumah, setelah selesai Andra mohon diri bahkan belum sempat bertemu dengan Akbar yang masih istirahat.


"kak Andra mau kemana...?" tanya Karin saat tau jika kakaknya itu hanya sebentar dan hanya mengantar Jingga saja.


"kakak harus pergi lagi sayang.." jawab Andra, meski berat namun ia merasa harus pergi, sikap Jingga membuatnya sakit padahal ia begitu ingin menemani adik adiknya yang begitu dekat dengannya itu.


"tak boleh kak..." ucap Karin, ia kembali memeluk Andra seolah tak rela jika Andra akan kembali pergi.


Melihat pemandangan itu hati Jingga jadi merasa sangat tersayat, karena sikapnya Andra kembali dingin padahal sebelumnya begitu hangat.


"tinggallah beberapa saat untuk Karin..." bujuk Jingga pada Andra, berharap jika Andra akan menurutinya meski menjadikan Karin sebagai alasan.


Andra nampak menatap wajah Jingga, rasa kesal yang awalnya ada untuk Jingga kini memudar karena Karin


.


.


.

__ADS_1


■■■○●○■■■((


__ADS_2