
Malam itu rembulan bersinar terang, bintang berkelap kelip diatas langit, dari satu ruangan persalinan sebuah rumah sakit terdengar tengah menjerit mengeluarkan seluruh tenaga yang ada didalam dirinya, wanita itu tengah mempertaruhkan antara hidup dan matinya demi seorang bayi kecil yang sudah ia kandung hampir tiga puluh delapan minggu, bayi kecil itu rupanya begitu nyaman tinggal di perut ibunya hingga ingin berlama lama tinggal disana.
Disisi kiri sang ibu berdiri seorang laki laki yang terlihat pucat pasi menyaksikan wanita yang ia cintai itu tengah berjuang, berjuang demi dirinya dan buah hatinya. Laki laki itu terlihat menggenggam tangan wanita itu, seolah memberikan dukungan pada wanita itu untuk tetap kuat dan bisa menjalaninya dengan baik.
"kamu pasti kuat La..." begitu ucap laki laki itu yang ternyata bernama Damar, dan wanita yang tengah berjuang itu adalah Laila.
Tim dokter tengah berjuang melakukan tindakan yang memang harus mereka lakukan terhadap wanita yang akan melahirkan itu, semua tim bergerak dengan teliti untuk menyelamatkan ibu dan anak yang sebentar lagi akan bertemu ini.
*
Diluar ruangan tengah berdiri dengan gelisah seorang wanita cantik nan anggun yang beberapa hari yang lalu baru selesai melahirkan, beberapa kali ia duduk berdiri merasa gelisah dan mengkhawatirkan keadaan didalam ruangan sana.
"duduklah, semua akan baik baik saja..." ucap laki laki yang sedang duduk di kursi panjang khas rumah sakit kala itu menenangkan wanita yang ternyata istrinya itu.
"aku khawatir, takut terjadi apa apa pada Laila, kau lihat tadi begitu banyak darah yang keluar darinya tadi..." ucap wanita itu yang tak lain adalah Cantika, wanita itu begitu mengkhawatirkan sahabatnya itu, sahabat yang begitu tulus menyayanginya dan pernah hampir mati juga karenanya.
"iya aku tau, kita doakan saja yang terbaik untuk Laila, lagi pula didalam ada Damar, kehadiran Damar pasti akan membuat Laila kuat..." ucap laki laki itu yang tak lain adalah Rama, ia adalah suami dari Cantika. Rama membawa Cantika kedalam pelukannya, tak ingin istrinya khawatir berlebih pada situasi ini terlebih Cantika baru beberapa hari melahirkan anak kedua mereka yang di beri nama Yudha Riza Rahardian.
Rama memaklumi jika istrinya itu begitu mengkhawatirkan Laila yang ada didalam, Laila adalah orang yang telah begitu baik pada Cantika. Sahabat sejati nampaknya pantas di sematkan pada Laila karena ia rela berkorban demi Cantika.
Satu masa saat Cantika sudah tak bisa lagi terkontrol, ayah dan ibu Cantika susah angkat tangan oleh kelakuan putrinya itu bahkan mungkin sudah tak peduli lagi dengan keadaan Cantika saat itu namun Laila dengan sabar berupaya menolong Cantika, tak mau sesuatu yang lebih buruk terjadi pada Cantika.
Saat itu Cantika mabuk parah, ia tengah di bopong oleh lelaki yang dengan sengaja membuat Cantika seperti itu, Laila yang mengikuti mereka dari belakang terkejut saat laki laki itu membawa Cantika kedalam sebuah kamar hotel, sudah bisa dipastikan jika laki laki itu akan berbuat yang tidak baik untuk Cantika. Tanpa berpikir panjang saat itu adalah meminta bantuan penjaga keamanan yang ada di hotel itu.
"pak tolong saya, teman saya di bawa kedalam kamar itu oleh taman laki lakinya..." ucap Laila kala itu pada petugas keamanan yang sedang berjaga itu.
"maaf nona kami tidak bisa menolong anda..." begitu jawab pihak keamanan itu, dengan dalih privasi pengunjung orang itu tak bisa melakukan apa apa saat Cantika di bawa masuk kedalam kamar hotel.
__ADS_1
Saat itu Laila sangat bingung, ia kembali memutar otak bagaimana caranya menolong Cantika yang tengah dalam bahaya setelah tadi mendesak pihak keamanan yang ternyata tak ada gunanya itu. Lalu terbersit nama Rama saat itu, Laila tau jika Rama sudah lama menyukai Cantika namun Cantika berkali-kali pula menolaknya.
Dengan alat komunikasi yang ada saat itu Laila menghubungi Rama berkata jika Cantika dalam bahaya. Rama terdengar kaget mendengarnya, laki laki sontak langsung saja menuju tempat dimana Cantika dan Laila saat itu berada. Rama datang bersama beberapa orang yang tinggi besar mungkin itu adalah orang orang yang bekerja untuk ayahnya.
Di lobi hotel Rama mendapat penghadangan dari pihak hotel, mereka berdalih jika Rama mengganggu kenyamanan pengunjung hotel yang lain namun entah bagaimana ceritanya tiba tiba pihak hotel memperbolehkan Rama dan orang orangnya untuk menuju kamar yang dimana ada Cantika dan laki laki itu didalamnya.
"cepat Rama, Cantika ada didalam, aku takut ia terluka..." ucap Laila penuh khawatir.
Dengan Rama dan yang lainnya Laila menuju kamar itu, berlari sebelum semuanya terlambat dan Cantika akan menjadi korban. Mereka membuka pintu kamar menggunakan kunci pengganti yang diberikan oleh pihak hotel, dan terkejut saat laki laki bajingan itu tengah mencumbu Cantika yang sudah tak berdaya.
"ya...." begitu teriak Laila, melihat sahabatnya sendiri di lecehkan oleh pria hidung belang membuat darahnya mendidih, Laila terlihat begitu marah.
Laki laki itu terkejut dengan kehadiran Laila saat itu, ia merasa terganggu saat ia akan melakukan keinginannya terhadap Cantika yang mungkin sedang berada di sisa sisa kesadarannya.
"menjauh kau dari Cantika..." Laila berteriak lagi sambil berlari menuju ranjang yang dimana Cantika tengah berbaring disana.
"kau pikir aku akan membiarkan mu mencelakai Cantika, jangan pernah mimpi kau..." emosi benar benar emosi pada laki laki itu, tubuh kecilnya seakan tak takut berhadapan dengan laki laki yang berperawakan tinggi besar itu.
"lancang kau..." ucap laki laki itu tak kalah emosi hingga satu tamparan keras berhasil mendarat di pipi mulus milik Laila.
Gadis itu sampai terpental jatuh hingga kepalanya terbentur tembok yang tak jauh dari posisi Laila saat itu.
Dan rombongan Rama dan orang orangnya pun masuk, Rama melihat Laila dengan kondisi yang sangat menyakitkan, pipinya lebam dengan dahi yang berdarah. Laila di tolong oleh salah satu orang yang ikut dengan Rama sedangkan Rama menolong Cantika sedangkan yang lainnya membawa laki laki bajingan itu keluar dari kamar itu dan membawanya ke pihak berwajib.
Laila bangun dari jatuhnya di bantu oleh orang itu lalu menghampiri Rama yang sedang membantu Cantika di atas ranjang.
"apa dia baik baik saja...?" tanya Laila pada Rama yang sepertinya sedang memeriksa keadaan Cantika.
__ADS_1
"Cantika baik baik saja, syukurlah laki laki itu belum melakukan hal yang lebih jauh padanya, ahhh gadis ini sungguh membuat aku gila..." ucap Rama yang terlihat frustasi melihat keadaan Cantika saat itu.
"syukurlah, tapi kenapa dia nampak tak sadarkan diri...?" tanya Laila lagi, memang benar Cantika terlihat tak sadarkan diri, tubuhnya nampak lemah.
"ya, dia memang tak sadarkan diri pengaruh minuman alkohol membuatnya begini tapi aku yakin tak akan terjadi apapun padanya, sebentar lagi akan datang dokter yang biasa aku panggil untuk mengetahui keadaan gadis ceroboh ini..." panjang lebar Rama menjelaskan hal yang membuat Laila sedikit tenang.
"gadis ini memang ceroboh, tadi dia membentakku untuk tidak mengikutinya tapi aku diam diam berjalan di belakangnya..." cerita Laila, gadis itu nampak begitu tulus menyayangi Cantika meski mereka tak memiliki hubungan darah, rasa terima kasih Laila pada keluarga Cantika membuatnya seperti ini.
Rama tau betapa kerasnya Cantika, puluhan kali dirinya secara terang terangan ditolak oleh gadis itu dan puluhan kaki juga Rama mencoba mencoba untuk menyentuh hati gadis itu, awalnya Rama berpikir untuk berhenti untuk mengejar Cantika tapi saat Laila mengabarinya tentang keadaan Cantika saat itu membuat Rama tak berpikir dua kali untuk datang menyelamatkan gadis pujaan hatinya itu. Namun di balik sikap keras Cantika, gadis itu memiliki hati yang tulus banyak teman temannya yang justru memanfaatkan Cantika sebagai ATM berjalan bagi mereka, memang benar bodoh dan tulus memang beda tipis.
"Lail kau terluka..." ucap Rama saat melihat wajah Laila yang membiru di bagian pipi juga bercak darah di keningnya.
"tak apa ini hanya luka kecil, aku baik baik saja, yang penting saat ini adalah Cantika, kapan dokter mu itu datang lama sekali..." ucap Laila, gadis mungil itu tak memperdulikan lagi keadaan dirinya saat itu, luka tamparan dan terbentur tembok tak ada rasanya lagi
"Lail, kau sudah begitu baik pada Cantika sampai kau berkorban untuknya, tapi jangan kau abaikan keselamatan mu juga, bagaimana jika kau terluka lebih dari ini..." kata Rama, ia benar benar salut pada Laila yang memiliki sikap sungguh baik pada Cantika padahal Cantika selalu memperlakukannya seenak jidatnya.
"Rama, aku dan keluargaku berhutang budi pada Cantika, sewaktu ayah dan ibuku masih ada mereka memperkerjakan kami di rumah mereka, waktu itu aku masih kecil begitu pula dengan Cantika, gadis itu tak punya teman karena orang tuanya melarangnya main diluar jadi aku diperintahkan oleh ibunya Cantika untuk bermain bersamanya, kau tau mainan Cantika saat itu sangat banyak, aku sampai bingung harus main yang mana..." ungkap Laila bercerita pada Rama yang sebelumnya tak tau tentang Laila dan Cantika yang bisa sedekat itu.
"anak itu keras kepala sejak kecil namun bila kita mendekatinya dengan kasih sayang ia akan menerima dengan baik, sikap keras yang ia miliki saat ini karena ia berontak pada orang tuanya, ia tak mau keduanya berpisah jadi ia seolah mencari perhatian lebih pada mereka tapi ia tak tau bagaimana caranya..." lanjut lagi Laila bercerita tentang Cantika.
.
.
.
.
__ADS_1
♡♡♡♡