
Matahari sudah beranjak tinggi, kini sudah bukan pagi lagi tapi beranjak siang, Andra telah membasuh diri, tubuhnya yang semalam begitu lelah kini telah begitu segar dengan rambut yang sudah klimis. Saat ini Andra kembali ke tempat tidur, dengan menggunakan handuk kimono, melihat Jingga yang masih tertidur.
Jingga menggeliat, gadis itu menggerakkan tubuhnya yang sudah pasti masih lengket.
"selamat pagi gadis..." ucap Andra. Ia memandangi wajah istrinya itu yang pasti sangat tidak sedap di pandang tapi entah kenapa justru Andra menyukainya.
"mmm Andra..." suara serak Jingga terdengar, rambut panjangnya terikat meski ikatannya semerawut.
"bagaimana tidur mu, nyenyak...?" tanya Andra, saat itu ia asik memainkan rambut Jingga yang tak beraturan, senyumnya terbit begitu saja dan sangat iklas
"Andra, badan ku sakit semua..." ucap Jingga, gadis itu masih bersembunyi di balik selimut untuk menutupi tubuhnya itu.
Andra tertawa, wajar saja bila sekujur tubuh Jingga sakit semua semalam terjadi kegiatan yang luar biasa yang menguras tenaga lebih dari olah raga apa lagi mereka baru pertama kali melakukannya tapi bisa sejauh itu.
Tiba tiba ponsel Andra berdering tanda panggilan masuk ke ponselnya.
"halo..." ucap Andra seraya menyimpan ponselnya di telinga kanannya, sedangkan tangan kirinya masih menjadi bantalan untuk Jingga.
"Jingga, ini untuk mu dari Akbar.. " Andra memberikan ponselnya pada Jingga yang masih malas membuka matanya.
"Akbar...? berikan padaku..." Jingga hiteris, ia langsung mengambil ponsel milik Andra dan langsung berbicara dengan Akbar yang menghubunginya.
Mimik muka Jingga langsung berubah, senang sekali adiknya itu menghubungnya, ia mengobrol beberapa hal setelah itu panggilan itu tertutup.
"ada apa...?" tanya Andra saat Jingga memberikan lagi ponsel miliknya itu.
"Akbar menanyakan keadaan ku dan kenapa aku tak menghubunginya ketika sampai..." jawab Jingga jujur, ia kembali membenamkan diri bersama dengan selimut yang membalutnya.
"kau jawab apa...?" tanya Andra lagi.
__ADS_1
"kau dengar sendiri apa yang ku jawab kan..." jawab Jingga malas, rasa lelah dalam dirinya membuat perempuan itu enggan berdebat dengan Andra.
"bagaimana mungkin aku berkata jujur pada Akbar bahwa semalam aku di serang oleh mu..." ucap Jingga, ia masih malas untuk beranjak dari posisinya saat itu, kegiatan semalam benar benar membuatnya terkapar terlebih di beberapa bagian tubuhnya masih terasa ngilu dan nyeri.
"memang apa yang ku lakukan padamu...?" tanya Andra, laki laki itu menggoda istrinya lagi dengan mengelus pipi Jingga hingga membuat perempuan itu menggeliat geli.
"Andra, jangan menggodaku aku masih ingin tidur..." jawab Jingga, perempuan itu malah kembali membenankan dirinya lagi semakin dalam, kedua matanya masih ingin melipat untuk bermimpi.
"Jingga, mari kita lakukan lagi..." goda Jingga sambil mencium pipi perempuan itu, kegiatan semalam membuat diri Andra kecanduan atas Jingga, tubuh Jingga yang menantang begitu terkenang olehnya, di tambah lagi Jingga yang ternyata memiliki sisi brutal yang sungguh membuat Andra tak bisa lagi untuk tidak memuja Jingga.
"Andra..." timpal Jingga, perempuan itu nampak tak menggubris, hanya suaranya saja yang terdengar.
"ayolah Jingga..." ucap Andra, ia terus menggoda perempuan yang masih terkulai sisa permainan semalam tapi kini entah apa yang mendorong Andra untuk memintanya lagi, bahkan kini ia tengah menggoda Jingga padahal ia tau jika Jingga belum sedikit pun tersentuh air.
Jingga diam, hatinya berperang bahkan tak habis pikir dengan suaminya ini, apa yang membuat Andra begitu ingin terus memakai dirinya padahal semalam ia telah melakukannya tapi disisi lain bukankah itu adalah kewajibannya, bagaimana mungkin ia menolak ia tak ingin Tuhan marah.
"baiklah, tapi biarkan aku mandi dulu, badan ku terasa sangat lengket..." ucap Jingga, bukan karena badan lengket tapi juga karena ia ingin sedikit beristirahat selama mandi, sedikit melonggarkan waktu untuk kembali melayani Andra.
"Andra, ini..." tanya Jingga, pikirannya melayang pada apa yang telah ia lakukan semalam bersama Andra, ternyata semalam adalah malam pengantin mereka yang tertunda beberapa lama hingga akhirnya itu semua terjadi dan Jingga telah seutuhnya jadi milik Andra.
"ya, kau milikku seutuhnya..." Andra menghampiri Jingga dan memeluk perempuan yang suatu saat akan menjadi ibu untuk anak anaknya itu.
Jingga membalas pelukan Andra sejenak melupakan rasa sakit dan ngilu di sekujur tubuhnya, yang kini hinggap di hatinya adalah masa depan bersama dengan Andra. Ia telah sejauh ini dengan Andra bahkan laki laki itu telah merenggut semuanya ia jaga dengan sepenuhnya.
"kenapa sayang...?" tanya Andra saat sadar jika Andra melamun dalam pelukannya.
"aku sudah sejauh ini dengan mu..." ucap Jingga, perempuan itu menunduk.
"memang kenapa, kau menyesal melakukan itu dengan ku.. ?" tanya Andra.
__ADS_1
"tidak Andra, aku tidak menyesal, aku hanya khawatir..." jawab Jingga yang masih saja menunduk, tak mau menunjukan wajahnya pada Andra.
"apa yang kau khawatirkan sayang...?"
"aku khawatir kau meninggalkan aku, itu saja..." jawab Jingga dengan jelas pada Andra.
Andra mematung dengan jawaban perempuan itu, sejenak ia menarik nafas atas apa yang telah menjadi ke khawatiran perempuan yang kini tengah bersamanya itu.
"Jingga, bukankah aku sudah berjanji pada mu untuk tidak menyakitimu...?" ucap Andra, ia berjongkok menghadap Jingga yang masih saja menunduk dan sepertinya menangis.
"ya aku tau..."
"lalu apa yang kau khawatirkan...?"
"Andra, ada banyak perempuan diluar sana yang begitu mengagumi mu yang jauh lebih cantik, lebih seksi bahkan mungkin bisa lebih membuat mu tertarik daripada aku..." ucap Jingga sambil berurai air mata, gadis itu tak bisa lagi menyembunyikan semuanya dari Andra yang sudah tau kelemahannya yang akan bercerita jika di pancing dengan lembut.
"Jingga dengarkan aku, aku mungkin bisa di kelilingi banyak wanita tapi aku sulit untuk bisa tertarik pada mereka, aku justru tertarik padamu yang pernah dengan sadar aku siksa lahir dan batinnya hingga kini aku sampai hati untuk merenggut mahkotanya karena aku menginginkan memiliki keturunan darimu.. " jelas Andra lagi dengan lembut, ia seolah tak ingin Jingga salah paham dengan dirinya yang mungkin telah di cap sebagai playboy.
Jingga menatap Andra, kala itu ia berani untuk memandang Andra bahkan untuk menatap matanya untuk mencari celah kebohongan pada Andra namun ternyata Jingga tak menemukannya. justru yang ia temukan adalah sorot tulus dari diri Andra.
Sejenak Andra membiarkan suasana sedikit sendu di kamar itu, kamar yang penuh kenangan atas semua yang terjadi antara dirinya dan Jingga.
"lekaslah mandi, lalu kita pulang..." titah Andra setelah mencium pucuk rambut Jingga.
.
.
.
__ADS_1
.
♡♡♡♡♡