
Diluar kamar pengantin itu ada seorang bujang yang tengah memegang satu gelas minuman berwarna kuning, laki laki itu menggoyang goyang gelas yang ia pegang sambil memandangnya dengan pandangan yang sedikit menakutkan, ada senyum iblis di bibir laki laki yang memiliki sorot mata yang meneguhkan itu, ia adalah Yudha Riza Rahardian, adik laki laki Andra.
Beberapa hari sebelum Andra menikah ibunya menghubungi yang sedang berada di luar negara, memberi sebuah tawaran yang sedikit tidak masuk akal tentang pernikahan, ditambah lagi ibunya tak memberi tau gadis macam apa yang akan bersanding dengannya nanti meski Yudha tau ibunya tak akan menjerumuskan dirinya bersama dengan perempuan yang salah.
Dulu saat masih sekolah menengah atas Yudha lebih memilih tinggal bersama dengan pamannya di luar kota, ia merasa iri pada Andra saat itu yang selalu di manja oleh mendiang ayah mereka padahal Yudha lah yang selalu menuruti keinginan ayah dan ibunya hingga akhirnya Yudha lebih memilih untuk pergi, memberikan kemenangan untuk Andra atas ayah dan ibunya.
Hingga akhirnya Yudha bertemu dengan Jingga, gadis lugu yang tinggal di panti asuhan dan memiliki dua adik angkat kembar yang sangat lucu saat itu. Dengan susah payah Yudha mendekati gadis itu, hati gadis yang ia inginkan itu terlanjur keras oleh tingkah teman temannya yang hanya memanfaatkan kecerdasan gadis itu hingga kini saat ia akan mendekati begitu banyak rintangan yang harus ia lewati.
Yudha mengenang awal perkenalannya dengan Jingga yang rumit bahkan sulit, butuh waktu bagi Yudha untuk bisa sekedar berteman dengan Jingga gadis itu memberikan sensasi lain saat itu pada Yudha tak seperti gadis gadis lain yang seolah dengan tangan terbuka menyambutnya.
Satu hari saat Yudha tengah berusaha mendekati Jingga yang hanya sekedar ingin berkenalan, sikap gadis itu sangat dingin bahkan lebih bisa di bilang sangat menakutkan, gadis itu tak sedikit pun menebar senyum atau sedikit rasa selamat datang saat Yudha secara terang terangan ingin berteman dengannya.
Tapi itulah yang membuat Yudha tertarik pada Jingga saat itu, sikap cuek dan jual mahalnya Jingga membuat Yudha semangat untuk mendekati gadis manis itu tanpa peduli seperti apa latar belakang hidup dan keluarganya, mungkin saat itu Yudha sudah termakan oleh cinta hingga tak bisa berpikir dengan akal.
Dan harus diketahui jika proses tak akan mengkhianati hasil, setelah semua cara dilakukan dari pindah kelas hingga setiap hari membuntuti Jingga akhirnya gadis itu luluh juga, sedikit demi sedikit Jingga bisa menerima kehadiran Yudha yang meski pun sedikit mengganggu tapi cukup membuat gadis itu terlihat senang karena akhirnya ia mempunyai teman berbicara di sekolah.
Hari hari setelah perkenalan itu semakin indah, kedekatan mereka cukup terasa saat Yudha seakan tak ingin jauh dari Jingga, hingga Yudha tau jika Jingga memiliki dua adik kembar yang sangat lucu di panti asuhan tempat Jingga tinggal meski Yudha tau jika itu bukan adik kandung Jingga.
Hingga suatu hari saat pulang sekolah, hari itu suasana sore di sebuah kota yang masih teras asri dengan rimbunnya pepohonan tertiup angin yang seakan menemani matahari untuk beristirahat di ufuk Barat, sebuah mobil yang Yudha kenal terparkir di halaman rumah sederhana milik pamannya.
"ibu..." ucap Yudha kala mendapati wanita yang sudah melahirkannya itu sedang berbincang bersama dengan paman dan bibirnya di ruang keluarga rumah itu.
Ibunya menoleh dan tersenyum saat anak yang sedang ia rindukan itu akhirnya pulang, kedatangannya sedang ia tunggu tunggu dari tadi.
"ibu kapan datang...?" tanya Yudha setelah menyalami dan memeluk wanita yang cantiknya tak termakan usia itu.
"belum lama sayang..." jawab nyonya Cantika.
"apa kabar mu sayang...?" sambung nyonya Cantika lagi, ia melihat sesuatu yang berubah dari anaknya.
"aku baik bu..." singkat Yudha menjawab.
Selalu begitu, Yudha merasa di buang oleh kedua orang tuanya terlebih ayahnya yang selalu terlihat lebih menyayangi Andra daripada dirinya padahal mereka sama sama anak lelaki ayah yang usianya tak terpaut jauh.
__ADS_1
"ibu lihat kau semakin bahagia disini..." ucap nyonya Cantika yang mendapat anggukan dari Yudha.
"baguslah kalau begitu..." sambung nyonya Cantika lagi.
"bu, bolehkah aku meminta...?" dengan segenap kekuatannya akhirnya Yudha bersua pada ibunya itu, penuh pengharapan disana sangat terasa.
"kau meminta pada ibu...?" tanya nyonya Cantika, wanita cantik itu terkejut dengan ucapan Yudha, sudah lama Yudha menjaga bicara dengannya terlebih setelah anak laki lakinya itu lebih memilih tinggal bersama paman dan bibinya, nyonya Cantika tau jika Yudha merasa di beda bedakan dengan Andra padahal ia dan suaminya tak pernah sedikit pun bermaksud demikian dan sekarang setelah ayahnya telah tiada Yudha masih saja bersikap demikian padanya.
"apa boleh...?" tanya balik Yudha, ia takut bila ibunya akan menolak keinginannya saat itu.
"katakanlah, apa keinginan mu sayang..." jawab nyonya Cantika saat itu, ia berjanji dalam hati apapun keinginan Yudha saat itu akan ia penuhi sebagai penebus rasa bersalah karena ia telah bersikap beda antara kedua anak laki lakinya itu.
"aku ingin menjadi dokter bu..." ucap Yudha yang sontak membuat nyonya Cantika terkejut.
Ternyata benar apa kata paman dan bibi Yudha bila anak laki lakinya itu tengah jatuh cinta pada gadis yang tinggal di panti asuhan itu, yang memiliki dua adik dan satu adiknya sedang sakit sakitan.
"kenapa tiba tiba ingin jadi dokter...?" tanya nyonya Cantika, padahal ibunya itu tau jika Yudha sangat tertarik pada dunia bisnis seperti mendiang ayahnya.
"aku ingin menolong orang bu..." jawab Yudha singkat, padat dan jelas.
"apa maksud ibu...?" tanya Yudha.
"ibu sudah tau semuanya, tentang gadis yang kau kejar kejar itu ibu sudah tau, ibu kira ia tak akan memberi dampak padamu tapi ibu salah..." ucap Nyonya Cantika dengan gaya bicara yang masih terdengar elegan.
"ibu semua ini bukan karena dia, sudah ku katakan aku ingin membantu banyak orang..." ucap Yudha.
"cukup Yudha, ibu datang kemari bukan ingin berdebat dengan mu, ibu datang ke sini karena ibu merindukan anak laki laki ibu, ibu kira ibu akan di sambut baik oleh mu tapi ternyata ini yang ibu dapatkan..." nyonya Cantika sedikit menaikkan suara yang membuat Yudha seketika ciut.
"ibu, bukan maksud ku menyambut ibu dengan yang tak ibu harapkan, tapi ibu aku ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain..." ungkap Yudha, ia sebenarnya agak tak enak karena tanggapan ibunya tak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
Nyonya Cantika diam sejenak, memberi jeda pada dirinya untuk berpikir cepat atas keinginan Yudha yang begitu tiba tiba, ia sebenarnya tau semuanya yang terjadi terhadap anak laki lakinya itu, semua yang Yudha lakukan terhadap Jingga dan semuanya, meski dirinya jauh dari Yudha itu tak membuatnya jatuh tanggung jawab terhadap Yudha, selalu ada seseorang yang memantau Yudha dan melapor padanya.
"baik, ibu akan turuti ingin mu..." ucap nyonya Cantika yang seketika membuat Yudha menoleh dengan ekspresi tak percaya.
__ADS_1
"tapi dengan satu syarat..." sambung nyonya Cantika lagi.
"syarat...? ibu yang benar saja, aku ini anak mu kenapa harus ada syarat syarat..." tanya Yudha yang sebenarnya kesal karena ibunya memberikan ia ujian dulu sebelum menunaikan keinginannya.
"ya sudah ibu tidak akan memaksa..." jawab nyonya Cantika enteng, wanita itu melipat tangan di atas dadanya memberikan kesan bahwa dirinya sangat tenang menghadapi anaknya yang sering berontak ini.
Yudha menarik nafas berat, ia tau bagaimana peringai ibunya itu, ibunya tak akan serta merta memberikan syarat yang biasa saja saat ini terlebih Yudha baru mengetahui jika ibunya itu sudah tau tentang Jingga.
"baiklah, apa syaratnya...?" tanya Yudha saat itu.
"kau harus mau di tempatkan dimana saja sesuai dengan kemauan ibu..." jawab nyonya Cantika, membuat Yudha membelalakan mata, benar dugaannya jika ibunya tak akan membiarkan dirinya menari setelah meminta sesuatu diluar kehendaknya.
"ibu kenapa ibu begitu, aku hanya ingin berguna bagi orang banyak bu itu saja..." protes Yudha, ia sudah mencium bau yang mencurigakan dari ibunya, ibunya pasti akan mengirimnya kesebuah tempat yang akan membuatnya jauh dari Jingga, gadis yang saat ini tengah ia perjuangkan.
"terserah padamu, ibu tak memaksa..." ucap nyonya Cantika, lagi lagi wajah cantik wanita itu tak pudar meski sedang memberikan tekanan pada anaknya itu, justru wajah cantik nyonya Cantika berubah bagai wajah nenek sihir di mata Yudha.
"baiklah aku akan menuruti ibu, tapi biarkan aku untuk terus bisa berhubungan dengan gadis itu..." ungkap Yudha, ia sudah tau jika selama ini ibunya mengirimkan orang untuk terus mengatasinya.
"urusan itu biar waktu yang buktikan, ibu mengabulkan mau mu dan kau mengikuti ingin ibu..." ucap nyonya Cantika.
Yudha mengambil nafas berat ia menyesal telah meminta sesuatu pada ibunya, semua gambaran masa depan bersama dengan Jingga kini hilang seketika saat ibunya sendiri dengan sadar memberikan respon negatif terhadap rasa sukanya pada Jingga hingga kini Yudha menyetujui ingin ibunya untuk jauh dari Jingga.
Hari kelulusan tiba, Jingga begitu antusias menyambutnya terlebih ia adalah siswi yang mendapatkan nilai terbaik satu sekolah, senyumnya mengembang begitu merekah sangat manis dan membuat wajahnya tambah cantik. Namun seketika senyuman itu berubah tak kala Yudha berkata akan berkuliah diluar kota itu, tapi saat itu Yudha berjanji untuk selalu mengabari dan sesekali mengunjungi Jingga dan adik adiknya.
Waktu terus berlalu satu dua kali Yudha menepati janjinya pada Jingga hingga akhirnya tak pernah terdengar lagi sua dan kabar dari Yudha untuk Jingga. Lama semakin lama hingga waktu tak lagi berpihak pada Yudha, apalagi kenyataannya kini Jingga yang dulu ia sayangi telah menjadi kakak iparnya, istri dari kakak kandungnya sendiri.
Yudha tersadar dengan keadaanya kini, gelas yang ia pegang kini telah sampai di ujung bibirnya untuk ia teguk isinya, rasanya sakit memang menghadapi kenyataan, entah Yudha harus menyalahkan ibu atau takdir yang jelas rasa asam dari minuman yang saat itu lebih asam lagi jalan cintanya yang sampai kapan pun tak akan pernah bersambut oleh Jingga.
.
.
.
__ADS_1
♡♡♡♡♡