Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
Freeya dan Yudha


__ADS_3

Di tempat lain dua orang berlawanan jenis tengah duduk berhadapan di sebuah meja bundar di sebuah kedai kopi, dihadapannya terhidang dua buah cangkir yang berisi minuman yang masing masing pesan.


"kau sudah bertemu Andra...?" tanya lelaki itu yang tak lain adalah Yudha.


Setelah tadi ia nyaris berkelahi dengan Andra ia akhirnya pergi menemui perempuan yang kini ada dihadapannya yang tak lain adalah Freeya.


"belum, tapi aku sudah dua kali mengirimi dia paket bunga mawar..." jawab Freeya.


Gadis cantik itu begitu anggun, bila dilihat ada kemiripan antara Freeya dan Andra juga dengan Yudha, seolah Freeya adalah campuran dari dua manusia yang tampak indah ciptaan Tuhan.


"kenapa tak kau datang saja ke tempatnya...?" tanya Yudha.


"aku belum siap, aku takut dia masih marah..." jawab Freeya.


"justru ia akan tambah marah bila kau belum menemuinya..." ucap Yudha.

__ADS_1


Freeya diam, mencerna perkataan kakaknya itu yang ternyata ada benarnya juga, dulu ia pergi begitu saja saat Andra sedang dalam keadaan sangat marah padanya tanpa berusaha untuk memberi kejelasan tentang keinginan dan impiannya tersebut tapi saat ini nasi sudah menjadi bubur dan waktu tak akan pernah bisa untuk di ulang kembali, bertahun tahun berlalu Freeya membiarkan marahnya berkarat hingga rasanya akan rumit untuk dirinya mendapatkan maaf dari Andra.


Dulu, Andra begitu hangat pada Freeya meski tak hanya Andra karena Yudha pun bersikap sama padanya, selalu pengertian dan seolah tak ingin adik perempuan satu satunya itu terluka. Hangatnya sikap Andra dan Yudha seakan membuat Freeya tak memerlukan kasih sayang orang luar seperti pacar atau teman dekat lainnya karena menurutnya tak ada yang bisa menggantikan semuanya itu. Tapi entah apa salah keluarganya hingga Tuhan mengambil semuanya dengan cara tiba tiba dan lenyap seketika.


"apa kak Andra baik baik saja...?" tanya Freeya, gadis sangat terlihat merindukan kakak sulungnyq itu, memang rindu sekeras itu ia bekerja, membanting apapun yang menghalangi jalannya untuk bisa bertemu tapi setelah dekat hanya bisa melihat dari jauh tanpa mampu untuk menyentuh, bagai terhalang oleh kaca besar yang begitu tebal.


"tentu, kakak mu itu sudah dewasa, Andra bisa menjaga dirinya sendiri..." jawab Yudha, meski sebenarnya Yudha begitu kesal pada Andra tapi bagaimana pun juga mereka kakak beradik yang diajarkan untuk saling menyayangi dan melindungi, walaupun menurut Yudha alam selalu saja tak adil padanya, terus memberi kemenangan pada Andra termasuk urusan cinta.


Suasana kembali sunyi, dua orang yang sama sama baru kembali dari luar negara ini nampaknya tak berminat menceritakan kehidupan mereka masing masing terlihat karena saat ini mereka lebih memilih diam tanpa kata.


Sebenarnya hati Freeya bergemuruh, rasa bersalah terus saja bergentayangan di setiap harinya, ia selalu berharap Andra akan datang ketempatnya tinggal di luar negara dan memaafkan semua kesalahannya dan kembali bersikap hangat padanya, namun itu semua hanya mimpi, mimpi yang tak akan pernah jadi kenyataan.


"tentu, ia cantik..." jawab Yudha singkat.


"kakak pernah bertemu dengannya...?" tanya Freeya lagi.

__ADS_1


"tentu, beberapa kali aku bertemu dengannya..." jawab Yudha.


Freeya mengangguk mengerti, sebenarnya ia ingin sekali bertemu dengan kakak pertamanya itu, memeluknya melepas rindu karena sudah lama tak jumpa, apalagi saat ini sang kakak sudah memiliki istri pasti akan terasa mengasikkan karena Freeya memiliki teman bercerita selain ibunya meskipun Freeya belum tau seperti apa wajah kakak iparnya itu.


"kau harus bertemu dengan Andra segera, jangan menunggu lama lagi..." ucap Yudha memberi peringatan.


"kenapa...?" tanya Freeya.


"aku yakin Andra masih marah padamu, tapi jika kau datang padanya, bersikap baik padanya, mengalah dan menyadari semua hal yang telah Andra anggap salah waktu, aku yakin dia tau semua hal yang telah kau torehkan selama ini, prestasi yang kau dapat sangat luar biasa, aku yakin dia akan bangga padamu..." jelas Yudha.


Lagi lagi Freeya diam.


"Andra orang yang keras kepala, tak mudah meluluhkan hatinya, butuh waktu dan proses, jika kau terus bersembunyi tanpa timbul di permukaan itu hanya akan membuat Andra muak, apalagi kau hanya mengirimkan paket bunga ke apartemen Andra, bagaimana jika istri kakak mu itu salah paham, aku yakin Andra belum pernah menceritakan apa apa tentang mu pada Jingga..." panjang lebar Yudha berbicara.


Kali ini Yudha yang diam, ia mencerna omongannya sendiri, apa yang ia katakan tak sengaja memiliki kesamaan dengan apa yang Jingga ceritakan, paket bunga dari seorang perempuan begitu kata Jingga tapi Jingga tak menyebut nama perempuan yang dimaksud. Memang tak menutup kemungkinan jika Jingga salah paham tentang kiriman bunga yang datang yang mungkin dari Freeya namun tak menutup kemungkinan juga jika itu bukan Freeya, berbagai kemungkinan masih bisa terjadi sebelum salah satu dari Andra atau Freeya saling bertemu dan menjelaskan semuanya pada Jingga.

__ADS_1


Freeya pun bersikap sama, apa yang dikatakan Yudha ada benarnya juga, tak mungkin Andra akan menceritakan tentang dirinya pada kakak iparnya itu, akan terjadi salah paham bila Freeya tak kunjung datang dan mengunjungi mereka, menurunkan egolah yang saat ini harus ia lakukan.


Lama mereka duduk disana, Freeya yang bertanya dan Yudha yang menjawab sepentingnya saja, Freeya tak usah tau tentang dirinya yang pernah menyukai Jingga kini itu semua bukan hal yang penting lagi meski sebenarnya bangkit lagi rasa Yudha pada Jingga setelah melihat gadis itu menangis karena disakiti oleh Andra.


__ADS_2