Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
Di cari


__ADS_3

Deg....!!


Permainan Andra tiba tiba langsung terhenti, laki laki itu menarik tangannya yang sedang berada di dalam baju yang di kenakan oleh Jingga, sedang Jingga yang merasa kaget permainan Andra tiba tiba berhenti hanya bisa bernafas berat, ada rasa sesak didadanya mengapa permainan yang baru pertama kali ia rasakan itu berhenti.


Andra langsung pergi meninggalkan Jingga yang masih mengatur nafas akibat permainan yang di ciptakan oleh dirinya, terdengar bantingan pintu yang cukup keras sampai terdengar ke dalam kamar.


Lagi lagi Jingga menangis, kembali hanya bisa meratapi nasib yang harus ia terima setelah menikah, terlebih ia merasa hina setelah apa yang di lakukan oleh Andra padanya. Setelah lelah menangis Jingga membuka talian dasi yang dipasangkan oleh Andra sebenarnya sangat mudah terbuka namun karena tadi situasi sangat mencekam membuat Jingga tak bisa berpikir jernih bahkan untuk sekedar membuka ikatan.


Kembali air shower itu menghujani tubuh Jingga, rasa panas yang tadi ia rasakan kini sudah tiada seiring dengan suhu dingin yang mengalir di tubuhnya. Jingga mengambil sabun sebanyak mungkin, membalurkannya keseluruh tubuhnya, ia merasa tubuhnya sangat kotor padahal yang menyentuhnya barusan adalah suaminya sendiri.


 


Di tempat lain sudah berdiri seorang laki laki berpakaian formal dan tak jauh dari laki laki itu adalah nyonya Cantika, suasana di dalam ruangan itu cukup mencekam saat laki laki itu tak mau menjawab apa yang menjadi pertanyaan nyonya Cantika.


"jadi kau akan terus bungkam seperti ini...?" tanya nyonya Cantika, ke anggunannya tak luntur tapi hawa menakutkan menyeruak dari dalam dirinya.


"maaf nyonya, saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda..." jawab laki laki itu.


Laki laki yang saat itu berhadapan dengan nyonya Cantika adalah Raga, ia adalah orang kepercayaan Andra. Semua rahasia Andra tersimpan rapi di Raga, seperti saat ini nyonya Cantika mendesak Raga untuk berbicara kemana Andra membawa Jingga pergi namun Raga bungkam seribu bahasa, hanya maaf yang berulang kali bujang itu katakan.


"kau benar benar setia pada anakku rupanya, luar biasa..." puji nyonya Cantika.


Raga hanya tersenyum mendengar pujian nyonya Cantika, ia sudah paham betul bagaimana sikap dan sifat ibu dari tuannya itu, nyonya Cantika bukanlah orang yang akan menyerah begitu saja terlebih kini ia 'kehilangan' menantunya .


"baiklah jika kau tak mau berbicara, aku hanya ingin tau seberapa setia kau pada putra ku..." ucap nyonya Cantika sambil mengumbar senyum lirik di bibirnya.

__ADS_1


"tapi kau lupa Raga, aku adalah ibu Andra aku tau hal yang tak kau ketahui tentang anak itu, jadi sekali pun kau bungkam aku akan tau dimana anak itu menyembunyikan menantu ku itu..." mimik wajah nyonya Cantika berubah menjadi menakutkan tapi Raga tak sedikit pun goyah dengan ucapan nyonya Cantika, laki laki itu tetap berdiri tegak dengan pandangan lurus juga mimik wajah yang datar.


"pak Mus...." sedikit berteriak nyonya Cantika memanggil laki laki paruh baya yang tak lama muncul dari balik pintu yang tertutup.


"saya nyonya..." ucap laki laki yang bernama pak Mustakim itu.


"pak Mus, antarkan saya ke papiliun yang pernah kita kunjungi bersama Andra waktu itu, rasanya sudah lama saya tak berkunjung ke tempat itu..." ucap nyonya Cantika sambil memandang sinis Raga yang masih saja diam tak bergerak.


"baik nyonya..." ucap pak Mus.


"dan satu lagi pak Mus, bawa Akbar dan Karin, saya yakin Jingga pasti merindukan adik adiknya itu..." ucap nyonya Cantika lagi.


"baik nyonya..." pak Mus mengulang jawabannya yang tadi.


"dan kau, pergilah aku sudah tak membutuhkan mu lagi, pergilah..." ucap nyonya Cantika pada Raga yang tak bergeming sama sekali padahal ia cukup lama berdiri di tempat itu.


Raga melangkah pergi meninggalkan ruangan yang cukup luas itu menyisakan kesal di hati nyonya Cantika karena ia tak mau memberi jawaban yang nyonya Cantika inginkan. Raga sudah berada di luar ruangan lalu tangannya merogoh saku celana dan meraih ponsel lalu melakukan panggilan singkat dan ponsel itu kembali pada tempatnya.


.......................


Di papiliun Jingga tengah duduk di kursi mini bar yang ada disana, melahap makanan yang ia buat seadanya, ia lupa perutnya belum ia isi apapun.


Tiba tiba Andra datang, menatap Jingga yang tak menghiraukan kedatangannya. Ia berjalan dan membawa minuman dari lemari pendingin.


"sebentar lagi ibuku datang, ku harap kau tak berkata yang tidak tidak padanya..." ucap Andra dengan nada datar.

__ADS_1


Jingga tak menggubrisnya, gadis itu terus menyuapkan makanan yang sedang ia nikmati kedalam mulut.


"kau dengar aku...?" Andra terlihat kesal karena Jingga tak merespon ucapannya.


Lagi lagi Jingga tak berkata sepatah kata pun, gadis itu hanya memberikan tatapan nanar pada Andra yang membuat laki laki itu tiba tiba emosi.


"mulai banyak tingkah kau hah..." Andra terlihat marah.


"kenapa kau memperlakukan aku seperti ini hah, kenapa kau mau menikah dengan ku jika hanya ingin membuat aku menderita..." entah kekuatan dari mana Jingga berani berkata dengan nada tinggi di hadapan Andra.


"waw kau sudah berani kepadaku hah, kau pikir siapa yang mau menikah dengan perempuan murahan seperti mu hah, bukankah kau yang menginginkan pernikahan ini, bukankah kau senang menerima banyak uang dari ibu ku..." nada bicara Andra halus namun sungguh menakutkan.


"kau pikir aku mau menikah denganmu, aku menikah dengan mu hanya..."


"hanya demi uang, aku sudah tau semuanya kau melakukan ini demi uang, kau benar benar gila harta, aku benar benar tak percaya aku menikahi perempuan macam kau..."


"silahkan kau menghina ku sesuka hati mu, aku tak peduli..."


"ya kau tak akan peduli dengan perkataan ku, perempuan gila uang seperti mu pasti akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang..."


Jingga tak menjawab lagi, ia hendak pergi dari tempat itu namun tiba tiba Andra menarik tangannya hingga ia tak bisa menjaga keseimbangannya, Jingga jatuh ke lantai yang membuat Andra tersenyum menang. Dengan satu tangan Andra meraih rahang Jingga, terlihat keras karena wajah Jingga memerah.


"dengarkan aku baik baik, saat ini aku masih berbaik hati pada mu, apa kau mau aku menguliti kulit halus mu ini hingga kau memohon untuk pada ku untuk menghentikannya, jaga sikap mu sebelum habis kesabaran ku..." ucap Andra seolah mengancam.


Jingga tak berkata apa apa lain selain menangis, pipinya kembali basah dengan air mata. Andra benar benar memberikan siksaan lahir batin pada Jingga yang sudah pasti memberikan trauma mental yang sangat dalam bagi wanita itu.

__ADS_1


.


____●●●○○○●●●____


__ADS_2