Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
Freeya


__ADS_3

Seminggu sudah setelah datangnya sebuah paket bunga mawar merah itu ada Andra kembali menjadi bersikap dingin kepada Jingga, saat dirumah Andra memilih tak banyak bicara dengan Jingga perihal siapa Freeya, gadis yang mengirim bunga itu.


Jingga sendiri hanya bisa kesal sendiri melihat sikap Andra yang demikian, pernikahan yang baru saja ia rasa indah kini tenggelam kembali dengan adanya seseorang yang kini telah mengganggu dirinya. Bukan tak berusaha tapi sudah beberapa kali Jingga berupaya agar Andra buka suara dan menjelaskan tentang kekalutan yang terjadi saat ini tapi yang Andra lakukan adalah menghindar seolah ia begitu menikmati semua kesalahpahaman yang terjadi saat ini.


Seperti pagi ini, mereka duduk satu meja namun seperti orang asing yang tak saling mengenal. Andra sudah siap dengan pakaian dinasnya sedangkan Jingga masih nyaman dengan pakaian rumahan meskipun tadi ia sudah mandi pagi.


"sampai kapan kau akan diam seperti ini..." ucap Jingga yang akhirnya sudah tak bisa lagi menahan semua yang terjadi, sikap diam dan dingin Andra sangat membuatnya tak nyaman.


Andra menatap Jingga tajam, kedua bola matanya seolah berbicara berani sekali berkata demikian tapi mulut Andra tak mengeluarkan sedikit pun ucapan apapun untuk Jingga.


"Andra bicara padaku apa yang sebenarnya terjadi, jangan diam seperti ini..." ucap Jingga lagi.


Andra menghentikan aktivitas sarapan paginya dengan hati hati meletakkan garpu juga pisau roti yang ia gunakan lalu lekat lekat ia menatap Jingga yang sudah terlihat tak bisa lagi menahan air mata.


"apa yang kau inginkan, aku harus menjelaskan apa..." pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Andra.


"siapa Freeya, apa dia kekasih mu, kalian saling mencintai, katakan Andra, apa jangan jangan kau meninggalkan dia sepihak saat kau menikah dengan ku dan kini ia kembali karena tak terima kau telah bersama aku, katakan Andra katakan biar aku tau dan aku sadar diri apa yang harus aku lakukan Andra..." ungkap Jingga, perempuan itu sudah termakan emosi, seminggu sudah ia menahan semuanya, semua yang ia ingin tau dan semua yang ia ingin katakan tapi selama itu pula ia menahan berharap Andra akan mencair dari beku dan bisunya lalu mengatakan dan menjelaskan semua dengan baik.


"cukup kau menuduhku yang tidak tidak Jingga..."


"lalu apa yang harus aku lakukan sekarang Andra, aku harus menerima semua sikap dinginmu padaku, menerima atas apa yang kau lakukan padaku...? tidak Andra aku tidak mau..." sambung Jingga menggebu-gebu mengeluarkan semua emosi yang tertahan meski air mata di pipinya tapi justru semua itu menambah kesan emosional yang luar biasa.

__ADS_1


"lalu apa yang kau mau Jingga.." ucap Andra, ia menaikkan suaranya yang menandakan bahwa lelaki itu pun tersulut emosi juga.


"aku tanya padamu baik baik siapa Freeya, apa dia kekasih mu...?" Jingga mengulang pertanyaannya.


Andra diam, bibirnya seolah beku dan terkunci untuk menjelaskan sesosok perempuan yang telah membuat Jingga mengganas seperti sekarang ini.


"kenapa kau diam, apa tebakan ku benar, jawab aku Andra..." Jingga semakin mendesak Andra untuk berbicara.


Namun alih alih menjawab Andra malah meninggalkan Jingga di meja makan itu, menyambar jas kerjanya lalu keluar dengan membanting pintu cukup keras.


Sedangkan Jingga hanya bisa menangis, pikirannya kabur kemana mana memikirkan nasib dirinya juga rumah tangannya bersama dengan Andra yang baru seumur jagung muda itu.


**


"maafkan aku Jingga, aku belum bisa memberi tau mu siapa Freeya, biar ku perbaiki dulu hubungan ku dengannya, maafkan aku Jingga..." Andra berbicara sendiri, kemudian tak lama Andra mengendarai mobilnya meninggalkan unit hunian yang menjulang kelangit itu.


*


Ditempat lain seorang gadis cantik tengah menatap foto anak kecil yang terdiri dari dua anak laki laki dan dua anak perempuan, di foto itu semuanya tertawa lepas seperti sangat bahagia, dua anak laki laki itu duduk diantara gadis kecil yang begitu manis di gambar itu.


"aku merindukan kalian..." ucap gadis itu.

__ADS_1


"kak Andra, apa kau masih marah padaku...?" tanya gadis itu sendiri, ibu jarinya mengelus lembut gambar foto anak laki laki yang berada di sebelah kirinya.


Tak terasa air mata jatuh, gadis cantik itu nampak begitu memikul beban rindu yang sangat besar, gambar foto itu adalah dirinya dengan ke dua kakaknya yang tak lain adalah Andra juga Yudha, sedang gadis manis yang duduk di tengah itu adalah dirinya, Freeya Malia Rahardian.


Dulu hubungan kakak beradik mereka sangat erat, ketiganya saling menjaga terutama Andra yang menjadi anak sulung begitu memperhatikan adik adiknya terutama Freeya, meski terlihat berlebihan untuk standar anak anak waktu itu namun Freeya begitu bangga pada Andra yang seolah rela berkorban untuk dirinya.


Hingga semua kebahagian itu perlahan sirna karena sikap Yudha yang berasa di beda bedakan oleh ayah ibunya hingga Yudha memilih untuk tinggal bersama paman dan bibinya di luar kota sedangkan Andra bersikap keras kepala yang tak memberikan klarifikasi apapun pada Yudha tentang salah sangka adiknya itu, semua seolah menjadi penyakit yang terus menjalar hingga akhirnya ayah mereka meninggal dunia, Yudha masih kekeuh dengan sikapnya yang selalu memandang jika Andra adalah anak kesayangan ayah dan ibunya sedangkan dirinya adalah anak yang tak diinginkan.


Hubungan Andra dan Freeya pun demikian, saat Andra berusaha bangkit dengan sebisa mungkin membantu ibunya yang harus memimpin perusahaan yang ayah mereka tinggalkan, Freeya malah dengan seenak hatinya memilih sekolah di luar negara dengan jurusan yang sama sekali tak Andra setujui. Freeya marah pada Andra saat itu, tak terima dengan sikap Andra yang melarangnya untuk menggapai impiannya selama ini padahal ibunya mendukung semua itu, hingga akhirnya Freeya pergi tak pemperdulikan sikap Andra yang acuh saat dirinya pergi untuk belajar di negara orang.


Kini Freeya kembali, kembali dengan semua pencapaian yang luar biasa untuk gadis seumurannya, semua itu ia capai sebagai pembuktian pada Andra bahwa dirinya mampu dan bisa mempertanggung jawabkan semua impiannya selama ini.


Tapi satu hal yang Freeya lupakan, sikap keras hati Andra yang sulit untuk di luluhkan begitu saja. Satu minggu setelah Freeya mengirim paket bunga mawar merah sebagai ucapan selamat atas pernikahan Andra dengan Jingga pun tak mendapatkan respon apapun dari kakaknya yang dulu tak pernah mau melihat dirinya menangis.


Tapi bukan Freeya namanya jika tak bisa meluluhkan hati Andra, cara apapun akan dilakukannya agar kakaknya itu mau menerimanya kembali dan hubungan mereka kembali membaik.


.


.


.

__ADS_1


◇◇◇◇◇◇◇


__ADS_2