
Jingga terbangun, saat itu tubuhnya masih terbalut selimut tebal, menutupi seluruh tubuhnya yang mungkin masih tak memakai sehelai pun benang. Semalam setelah kejadian romantis tanpa rencana itu Jingga dan Andra melakukan ritual saling memanjakan satu sama lain, berpeluh bersama mencapai puncak keinginan berdua, selain memanfaatkan suasana yang jarang terjadi juga karena memanfaatkan sesuatu yang mendesak.
Jingga menggeliat tatkala Andra sengaja memainkan anak rambut perempuan itu yang tak beraturan, rasanya lucu sekali melihat gadis yang sedang tertidur itu, masih terasa mimpi akhirnya Andra dengan mudah melunak terhadap Jingga padahal dulu Andra adalah orang yang sangat tak ingin pernikahan ini terjadi.
"mmm selamat pagi..." suara serak perempuan itu terdengar.
Andra tersenyum melihat Jingga yang masih menyesuaikan diri karena secara terpaksa harus bangun dari tidurnya.
Mau tak mau Jingga harus melangkahkan kakinya untuk membersihkan diri sisa semalam, rasanya lengket sekali tubuhnya kala itu, memang kegiatan itu mengeluarkan keringat yang cukup banyak seperti sedang berolahraga namun bila di lakukan dengan seseorang yang halal rasanya tak hanya lelah namun juga indah.
Andra bersiap menggenakan pakaian yang biasa ia gunakan untuk bekerja sedang Jingga yang beberapa saat yang lalu baru keluar dari kamar mandi terlihat menggunakan baju yang dia dapat dari tumpukan kemeja yang belum sempat di rapikan yang pasti itu milik Andra.
Seperti sudah terbiasa Andra hanya tersenyum tipis saat dengan tanpa dosanya perempuan kecilnya itu berlalu meninggalkan kamar mereka dengan kondisi yang mungkin menggoda bagi Andra.
"gadis itu, andai saja hari ini aku tak ada janji dengan klien sudah ku habisi dia tanpa ampun..." Andra berucap sendiri sambil memandang pantulan dirinya sendiri lalu tersenyum sedikit sadis.
Tak bisa di pungkiri memang saat ini Andra memiliki rasa yang mungkin sedikit lebih gampang terpancing oleh Jingga sekali pun Jingga tak melakukan hal hal yang mungkin bisa di katakan untuk memancing Andra, seperti saat ini saja sederhana memang Jingga hanya menggunakan pakaian miliknya yang membuat gadis itu terlihat lucu dengan rambut panjang yang masih basah serta kemeja hitam yang ia kenakan terlihat kebesaran juga mempertontonkan kakinya yang indah tapi bagi Andra yang memang laki laki normal dan rasanya baru merasakan indahnya awal pernikahan itu sangat memancing rasanya untuk menari bersama Jingga.
Waktu berjalan mau tak mau Andra harus mengalahkan egonya, meredam rasanya dan membuat waktu tunggu untuk menyalurkan keinginannya terhadap Jingga, ia harus pergi untuk melakukan kewajibannya mencari nafkah meski memang mencari nafkah yang di maksud adalah memimpin sebuah perusahaan tapi ia harus konsisten juga karena tak mau berleha leha hanya karena memiliki jabatan. Andra sudah duduk di kursi yang menghadap meja makan, bersebrangan dengan Jingga yang terhalang oleh meja bundar berukuran sedang, sesekali pandangan Andra mencuri curi pada Jingga yang jelas terlihat lebih seperti anak kecil yang begitu manis.
"hey tuan kenapa pandangan mu begitu pada ku, apa ada masalah...?" tanya Jingga. Gadis itu mendapati suaminya seperti sedang melamun sambil memandang dirinya serta mulut yang sepertinya sedang mengunyak makanan yang tadi ia siapkan.
Andra terperanjat, ia tak menyangka akan tertangkap basah oleh Jingga karena hal yang sepele itu.
"ah tidak, aku tidak memandangimu, kau terlalu percaya diri..." jawab Andra berbohong.
"ohh, baiklah cepat habiskan makanannya nanti terlambat..." tanpa curiga sedikit pun Jingga akhirnya mengiyakan jawaban suaminya itu.
Sedang Andra sekali lagi memandang Jingga, saat ini bukan karena Jingga yang sedang menggunakan pakaian miliknya nampaknya rela rela saja jika Jingga menggunakan semua pakaian milik Andra tapi pikiran Andra sedikit menyentuh masa lalu dengan Jingga, saat penolakan terang terangan ia lakukan bahkan tak segan Andra melakukan kekerasan, namun Jingga tetap berada di sampingnya sampai akhirnya Jingga mendapat buah dari kesabarannya, ke-bucin-nan yang saat ini mempenjarakan diri Andra.
"sudah selesai aku berangkat..." ucap Andra saat ia melihat jam di tangannya, sudah waktunya ia berangkat agar tidak terlalu terjebak macet jalanan yang sangat membuat gila.
"baiklah, hati hati di jalan..." Jingga menghampiri Andra hendak melakukan ritual yang biasa ia lakukan, mencium punggung tangan laki laki yang sudah menjadi suaminya itu.
Jingga melakukannya dan Andra mencium pucuk rambut Jingga.
__ADS_1
"rasanya aku ingin dirumah saja..." begitu ucap Andra saat rasanya ia tak rela meninggalkan istrinya itu di rumah padahal setiap hari ia mengurung Jingga di unit itu, tapi entah apa yang terjadi pagi itu rasanya ada yang berbeda pada Andra.
"pergilah, nanti sore juga kembali lagi, aku tidak akan kabur..." canda Jingga.
Semenjak Jingga mendengarkan cerita Freeya tentang suaminya itu rasanya sikap manja yang Andra tunjukkan saat ini hanyalah sedikit dari semua hal yang ia dapatkan sebelum harus bisa menanggung semua yang awalnya di bebankan pada ayahnya namun secara mendadak di pindahkan ke pundaknya hingga ia harus kehilangan rasanya bermanja manja bahkan ia merasa tak memiliki tempat untuk melakukan itu.
"ahhh aku di rumah saja..." ucap Andra lagi sambil menarik tubuh Jingga hingga kini Jingga berada di dalam pelukannya.
Seolah membiarkan, Jingga malah tersenyum mendapati Andra yang ternyata bisa juga bersikap manja pada dirinya, di balik sikapnya yang dingin juga arogan.
Lama pelukan itu terjadi, seperti sedang melepas rindu Andra mengarahkan tubuhnya juga Jingga supaya bergoyang ke kanan dan ke kiri seolah melakukan irama, sungguh suasana pagi itu begitu manis semanis susu coklat yang biasa Andra minum setelah menikah dengan Jingga.
"hey tuan pergilah, ini sudah siang nanti terlambat bagaimana..." Jingga mengingatkan, sebagai istri seorang pimpinan perusahaan besar rasanya wajar jika Jingga mengingatkan meski memang perusahaan tempat suaminya bekerja itu milik ayahnya sendiri tapi suaminya juga harus mematuhi peraturan perusahaan yang melarang karyawannya datang terlambat kecuali dalam keadaan mendesak.
"ahh nona, rasanya aku tak rela untuk pergi, lihatlah dirimu sangat menggodaku, rasanya aku tak ingin melepaskan dirimu..." jawab Andra yang membuat Jingga heran.
"aku tak menggoda mu..."
"kau menggodaku nona, lihat kau menggunakan kemeja kebesaran seperti itu, memperlihatkan kaki mu yang indah, di perintah untuk menciuminya rasanya aku rela melakukannya..."
"tidak Andra, jangan seperti itu. Aku memang istri mu tapi perlakukanlah aku selayaknya saja jangan berlebihan, kau suamiku yang harus aku hormati meski aku milik mu tapi aku tak sampai hati menitahmu untuk melakukannya..."
"tapi Jingga aku serius..."
"aku juga, aku menyayangimu bukan berarti aku akan berani memerintahmu melakukan hal seperti itu..."
Sejenak Andra dan Jingga diam, saling mencerna omongan dan pembicaraan yang awalnya manis berubah sedikit serius karena sedikit hal yang mungkin remeh tapi ternyata berarti dalam.
"baiklah kalau begitu, maafkan aku telah mengucapkan kalimat yang mungkin tak kau sukai tapi ketahuilah Jingga aku tak bermaksud menghina atau menjelek jelekan dirimu, sungguh..."
Jinga tersenyum, terlihat memang tak ada raut kebohongan dari wajah Andra menandakan jika laki laki itu tidak sedang berkata yang tak sesuai dengan hatinya.
"ya, aku maafkan tapi jangan mengulanginya lagi..."
Andra tersenyum saat mendengar istrinya itu tak marah bahkan lagi lagi dengan kelapangan dada Jingga memaafkan Andra meski sebenarnya hal yang Andra lakukan sepele tapi bagi Jingga tidak, ada unsur menjatuhkan harga diri saat Andra berkata hal tadi membuat dirinya tak nyaman meski yang Andra ucapkan tadi mungkin hanya gurauan atau sekedar kalimat penambah saja.
__ADS_1
"apa buktinya kau memaafkan aku...?"
"maksudmu...?"
"ya aku perlu bukti bahwa kau memaafkan aku, aku tak mau tiba tiba kau hilang dari sisi ku hanya karena kau yang ternyata masih marah karena hal ini..."
Jingga berpikir sejenak, otaknya terbagi bagi ternyata menghadapi anak sulung yang di paksa dewasa itu seperti sedang mengasuh anak yang sedang tumbuh dan ingin banyak tau, ini itu harus ada yang menyakinkan bahkan hal sepele seperti ini saja di permasalahan.
"baiklah apa yang kau mau...?"
"tidak tau..."
Alis Jingga bertemu.
"kalau begitu cepat pergi, kau harus yakin aku memaafkan mu begitu saja cukup oke..."
"baiklah..." Andra menghelas nafas panjang dan kasar, seperti tidak mendapat yang ia inginkan tapi mau bagaimana lagi, dengan Jingga memaafkan saja harusnya Andra bahagia.
Melihat suaminya yang berjalan gontay tak bersemangat akhirnya pikiran Jingga terlabuh pada satu tindakan yang mungkin bisa membuat Andra senang.
"tunggu tuan..." ucap Jingga saat Andra sudah berada di dekat pintu bahkan tangan laki laki itu sudah siap membuka gagang itu.
Andra berbalik.
Satu ciuman berhasil mendarat di bibir Andra, membuat laki laki itu mematung dengan mata yang terbelalak, terkejut bahkan tak percaya jika Tuhan akan mendengar doanya yang ingin di beri ciuman pagi oleh sang istri.
"pergilah, aku benar benar sudah memaafkan mu, hati hati di jalan sayang..." ucap Jingga.
.
.
.
.
__ADS_1
♡♡♡♡♡