
Malam sudah datang, pasangan pengantin itu baru keluar dari kamar mereka, senyum merekah di bibir Jingga juga Andra yang membuat iri seisi dunia termasuk Yudha, rasa getir terasa begitu pahit melihat kenyataan yang ada di depannya itu terlebih Jingga seolah ingin menunjukan pada Yudha tentang bagaimana ia saat ini dengan Andra dan secara halus memukul Yudha untuk mundur.
"kenapa kau belum kembali...?" tanya Andra yang masih melihat Yudha ada di depan matanya, sedang duduk di sofa sambil menikmati hidangan hasil buatannya sendiri, tinggal lama di luar negara sendirian membuat Yudha menjadi sesosok laki laki yang mandiri dalam segala hal.
"aku ingin menginap saja, rasanya tubuhku lelah sekali..." ucap Yudha, wajahnya memang menggambarkan betapa lelahnya ia saat itu.
Andra tak menggubris lagi adiknya itu, ia sedang tak ingin berdebat dengan adiknya itu, suasana hatinya sedang bagus sayang jika harus rusak hanya karena sikap menyebalkan Yudha yang menyulut emosinya dan lagi Jingga selalu menenangkannya supaya tak terpancing oleh Yudha yang terlihat sengaja ingin membuat Andra emosi.
Tak ada lagi pembicaraan dengan Yudha, pasangan suami istri itu seolah tak menganggap keberadaan Yudha meski Yudha berada di hadapannya, jelas dan nyata adanya.
Saat ini mereka tengah menyantap makan malam, sebelumnya datang seorang kurir yang membawa pesanan makanan yang di pesan lewat sebuah aplikasi karena hari ini nampaknya tak memungkinkan jika Jingga harus memasak rasa lelah sisa perjalanan masih mendera tubuhnya itu terlebih aktifitas sebelumnya sangat menguras tenaga dari tubuhnya yang kecil itu.
Ditengah suasana makan yang tenang namun tegang tiba tiba Yudha bertanya pada Andra.
"kak Andra, bolehkah aku bertanya...?" begitu kira kira kalimat tanya dari Yudha pada Andra yang sedang fokus melahap makanan yang terhidang di hadapannya.
"jika pertanyaan mu itu tak penting lebih baik tak usah bertanya..." jawab Andra, laki laki itu bersikap dingin pada adiknya sendiri.
"ku kira ini penting..." ucap Yudha lagi.
"kalau begitu katakanlah..." kata Andra.
"kenapa kak Andra mau menikah dengan Jingga, aku perhatikan Jingga jauh dari selera kak Andra..." ucap Yudha, nada bicaranya sungguh tenang seperti tak ada rasa bersalah padahal perkataanya itu menyudutkan Jingga yang jelas jelas ada di hadapannya.
__ADS_1
"lalu apa masalah mu, apa aku harus menjelaskan pada mu mengapa aku mau menikah dengan Jingga, jika bukan karena ibu mungkin aku tak akan bersama dengan Jingga sekarang..." begitu tanggapan Andra atas ucapan adiknya itu, di satu sisi ada hati yang bergemuruh jantungnya berdetak tak beraturan seolah menahan perasaan yang tengah ia jaga.
"kenapa tak kak Andra lepaskan saja Jingga, bukankah banyak wanita yang ingin bersama kakak, jika mungkin karena ibu kak Andra mau menikah dengan Jingga apa harus ibu juga yang menyuruh mu untuk meninggalkan Jingga..." ucapan Yudha terdengar sangat keterlaluan, selain waktunya yang tidak tepat nampaknya Yudha tak iklas jika Jingga menjadi kakak iparnya.
"keterlaluan kau Yudha, bukankah ibu datang terlebih dulu padamu sebelum menyuruhku menikah dengan Jingga, lalu mengapa kau menolaknya dan sekarang saat aku sudah senang bersama Jingga kenapa kau menginginkannya, sebenarnya ada apa di antara kalian, apa yang tak aku ketahui tentang kalian..." kata Andra yang sudah tak bisa lagi menahan emosinya, Yudha berhasil memancing emosi kakaknya itu hingga membuat Andra mengeluarkan kata kata yang Yudha inginkan.
"sudah Yudha cukup, sebenarnya apa yang kau inginkan dari kami hah, kau datang tiba tiba membuat kegaduhan apa kau tak malu hah..." Jingga berkata dengan kobaran emosi yang terlihat dari sorot matanya, gadis itu seolah tak mau membahas masa lalu dirinya dan Yudha di depan Andra, bukan takut hanya saja ia takut salah paham terjadi di rumah tangga yang baru saja ia mulai.
"kak Jingga tak usah marah, aku hanya bertanya pada kakak ku yang tampan ini..."ucap Yudha santai sambil kembali melahap makanannya yang masih tersisa.
"sebaiknya kau pulang malam ini sebelum ku usir, rasanya aku risih bila kau ada disini..." ketus Andra menjawab, memang benar Andra dan Yudha memanglah adik kakak yang tak pernah akur ada saja masalah diantara mereka.
"kenapa kalian berdua jadi emosi seperti ini, apa pertanyaan ku salah..." ucap Yudha tanpa merasa bersalah atas semua yang ia ucapkan, seketika laki laki itu berubah menjadi seseorang yang menakutkan, tak ada lagi keteduhan dari sorot matanya, justru yang terlihat hanya tatapan sinis pada orang yang ada di hadapannya itu.
"tentu salah, kau pikir aku ini permainan bisa seenaknya kau pilih bila kau suka dan kau tolak bila kau tak suka..." meledak emosi Jingga, ia sudah tak tahan melihat adik iparnya itu seolah sedang mempermainkannya, Jingga bisa menangkap dengan jelas jika Yudha sekarang telah membenci dirinya.
Jingga tak kuasa menahan emosi dan tangisnya lagi, ia beranjak dengan kasar meninggalkan meja makan untuk menjauh dari Yudha, ia merasa tercekik oleh keadaan hingga ia seakan tak mampu lagi untuk bernafas saat itu.
"kau keterlaluan Yudha..." berteriak Andra saat itu, ia tak habis pikir kenapa adiknya bisa berbicara selancang itu di hadapan Jingga yang jelas jelas menyakiti hatinya.
Sedang Yudha melanjutkan lagi acara makan malamnya sendiri tanpa merasa bersalah sedikit pun malah ia tersenyum senyum sendiri saat Andra pun meninggalkan dirinya di meja makan. Rasa dendam sudah bangun di hati Yudha, ia tak akan lagi memikirkan perasaan siapapun, yang akan ia pikirkan hanya bagaimana cara menggapai apa yang ia inginkan termasuk keinginan dirinya selama ini terhadap gadis yang sedari dulu ia perjuangkan.
*
__ADS_1
Andra menyusul Jingga yang masuk kedalam kamar, terdengar gadis itu sesegukan menangis, suaranya terdengar pilu, ada rasa sakit hati yang tercurah lewat tangisan itu.
Andra menghampiri dan ikut duduk bersama dengan Jingga di tepian ranjang, sedang Jingga tak lagi menghiraukan keberadaan Andra, rasanya sakit telah di jadikan bahan permainan oleh keluarga Rahardian.
"Jingga..." Andra ingin sekali memeluk tubuh perempuan itu membiarkan ia menangis sepuasnya didalam dekapannya.
"ternyata aku bodoh sekali Andra, seharusnya aku tak menerima permintaan ibu mu saat itu..." ucap Jingga di sela sela tangisnya ia sudah termakan oleh emosi yang di sulut oleh Yudha.
"apa maksud mu Jingga...?" tanya Andra, saat itu ia terkejut mendengar perkataan Jingga.
"Andra, tak akan ada wanita yang mau di jadikan permainan termasuk aku..." makin berkobar emosi Jingga, air matanya tak berhenti berurai dipipinya yang sedari tadi memang sudah basah.
"siapa yang mempermainkan mu Jingga...?" tanya Andra.
"kalian semua sudah mempermainkan ku, terutama ibu mu, seharusnya aku sadar diri siapa aku ini sebelum menerima tawaran ibu mu untuk menikah dengan anaknya sehingga aku tak mendapatkan penghinaan seperti ini..." ucap Jingga.
"aku tak habis pikir jika aku dijadikan bahan dagangan oleh ibu mu, yang menawarkan aku pada anaknya hanya karena aku yang saat itu tengah dalam kebingungan..." sambung Jingga.
"jadi kau menyesal menikah dengan ku...?" tanya Andra.
.
.
__ADS_1
.
♤♤♤♤♤♤