
Sesuai janji, hari ini Andra akan mengunjungi tempat Freeya bersama dengan Jingga, ia akan melakukan hal yang diminta oleh Jingga karena Jingga telah setuju dengan syarat syarat yang Andra ajukan, meski setelah permintaan dua anak ternyata masih ada lagi kawan kawannya dari syarat yang Andra ajukan.
Mau tak mau tapi Jingga memang harus mau atas semua yang Andra minta, semua hanya kedok belaka saja agar Andra bisa mengikat Jingga selamanya meski harus menjual nama Freeya.
Mereka telah sampai di depan bangunan yang bisa di bilang dengan butik, bangunan itu dua lantai dengan lantai bawah di gunakan sebagai tempat sang pemilik untuk memasang hasil karya yang sangat indah dan lantai kedua mungkin digunakan sebagai kantor pribadi sang pemilik juga.
Jingga menentang sebuah paper bag berukuran lumayan besar berisikan kue kue yang Jingga beli di sebuah toko tadi dijalan.
"selamat siang, silahkan masuk, ada yang bisa kami bantu...?" sambut salah satu karyawan di butik itu dengan ramah.
"selamat siang, saya ingin bertemu dengan pemilik butik ini, nona Freeya..." jawab Jingga ramah, dengan senyum manis dari gadis berlesung pipi itu.
"apa nona sudah membuat janji...?" tanya karyawan itu.
"harus buat janji dulu...?" Jingga bertanya balik.
"iya nona, peraturan disini jika harus bertemu dengannya harus buat janji dulu..." jawab karyawan itu.
Jingga tersenyum kecut, hatinya sedikit kecewa karena gagal bertemu dengan Freeya. Tapi berbeda dengan Andra yang memasang wajah datar dan cenderung biasa saja, bahkan Andra hanya memandang Jingga dan memberikan isyarat dengan mata jika lebih baik pulang dan urungkan niat.
Jingga paham dan mengangguk.
"baiklah, terima kasih..." ucap Jingga seraya membungkuk memberikan salam sangat sopan meski jika dilihat usia karyawan itu pasti lebih muda dari Jingga.
Saat Jingga dan Andra hendak pergi.
"kakak ipar...?" ucap seseorang.
Jingga menoleh dan itu adalah Freeya.
"Freey..."
Sedikit berlari Freeya menghampiri Jingga dan Andra yang sudah berada di ambang pintu.
"kakak datang kemari...? ada apa...?" tanya Freeya.
"kami datang..." jawab Jingga.
__ADS_1
"kenapa, kau tak suka, baiklah kami akan pergi..."
namun Andra memotong.
Jingga menatap Andra galak, tatapannya seolah menusuk laki laki yang baru saja bersikap tak layak itu.
"aaahh tidak begitu Freeya, barusan kami ingin bertemu dengan mu tapi karyawan mu bilang harus buat janji dulu..." jelas Jingga dengan senyum kikuk.
Sikap judes Andra kepada Freeya barusan seketika membuat Jingga sadar jika Andra mau datang ketempat ini hanya karena Jingga yang mau memenuhi syarat sedangkan hatinya belum sepenuhnya memaafkan.
Kesal memang untuk Jingga, disaat ia sudah ingin bersungguh sungguh memaafkan tapi Andra seolah masih belum bisa bersikap selayaknya tapi untuk saat ini Jingga masih bisa memaklumi karena ini baru permulaan, marah yang telah lama tumbuh itu pasti sudah mengakar dan tak akan mudah untuk hilang.
"kenapa kakak tak bilang jika mau datang...?" ucap Freeya, gadis itu mencoba bersikap seperti senang dengan kedatangan Andra dan Jingga meski sebenarnya sikap ketus Andra barusan membuat hatinya sedikit terkejut bahkan nyaris sedih.
"maaf sebelumnya tapi kami tidak tau jika harus membuat janji dulu, tapi jika kau sibuk kami akan datang lain hari, maafkan kami mengganggu..." cakap Jingga, ia berusaha sekali untuk berkata dengan susunan yang manis, tak mau adik iparnya itu merasa tersinggung lagi setelah apa yang Andra ucapkan tadi sukses membuat Jingga merasa di hempaskan dari ketinggian, cukup sesak.
"tidak kak, aku tidak sibuk, kedatangan kalian membuat aku senang..." ucap Freeya.
Gadis itu lalu meraih tangan kanan Jingga dan bergelayut manja disana, seolah menyalurkan rindu yang sebenarnya untuk Andra.
Jingga tersenyum namun tatapan matanya kembali melihat ke arah Andra yang masih bersikap biasa saja, bahkan seolah acuh tak acuh pada keadaan saat itu.
"ruangannya nyaman sekali..." ucap Jingga basa basi.
Freeya tersenyum renyah mendengar pujian kakak iparnya itu.
"terima kasih kak..." jawab Freeya.
Mereka kembali diam.
"Freey, maaf jika aku dan Andra mengganggu waktu kerja mu..." ucap Jingga memecah kebuntuan yang tercipta, suasana canggung.
"tak apa kakak ipar, santai saja..." kata Freeya, padahal dalam hati gadis itu cukup berdebar karena kedatangan Jingga terlebih bersama Andra.
"ada yang ingin Andra katakan..." ucap Jingga.
Ucapan Jingga cukup membuat Andra terkejut, pasalnya sedari tadi Andra hanya diam menyimak pembicaraan antara dua wanita yang baru kenal namun sudah nampak akrab itu, hanya sekali Andra berucap itu pun langsung membuat perasaan Freeya jadi tak enak.
__ADS_1
"apa, aku...? tak ada yang ingin aku ucapkan..." ucap Andra masih dengan ketusnya.
"Andra..."
"tidak Jingga, tak ada yang ingin aku ucapkan disini, kau yang memintaku untuk menemani mu mendatangi tempat ini kan, aku sudah menemani mu dan jika semuanya sudah selesai lebih baik kita pulang..." ucap Jingga.
Sontak yang Andra ucapkan cukup membuat Jingga naik darah seketika, apalagi saat itu Andra malah beranjak dari duduknya dan berjalan menuju arah pintu.
Jingga menahan, tangannya meraih tangan Andra.
"apa yang kau lakukan...?" tanya Jingga heran dengan sikap suaminya yang berubah 180°, melupakan janji janji yang telah ia ucapkan dirumah saat akan berangkat ke tempat ini.
"apa yang ku lakukan, Jingga aku tak melakukan apapun..." jawab Andra.
"kenapa kau tak berbicara maksud kedatangan kita kesini, bukankah kau sudah berjanji padaku...?
"Jingga aku memang sudah berjanji padamu tapi bukan untuk berbicara padanya, aku hanya akan memaafkannya itu saja tak lebih Jingga..."
"tapi Andra..."
"Jingga, sudah hentikan. Baiklah jika kau memang keberatan dengan sikap ku ini kita batalkan saja perjanjian itu..."
Andra pergi meninggalkan ruangan Freeya.
Freeya yang dari tadi bingung dengan apa yang terjadi kemudian mendekati Jingga dan meminta kakak iparnya itu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Jingga yang awalnya merasa bingung akhirnya memilih untuk bercerita pada Freeya atas maksud kedatangannya daripada mengejar Andra, laki laki yang sudah bersikap seperti anak kecil yang mudah sekali ingkar dengan janjinya.
"maafkan sikap Andra yang berlebihan Freeya..." ucap Jingga, sebagai istri Andra Jingga merasa tak enak hati meski Freeya adalah adiknya, sikap Andra terlalu berlebihan.
"tidak kakak, bukan kak Andra yang berlebihan tapi aku yang harusnya berbicara terlebih dulu pada kak Andra..." jawab Freeya. "biarkan aku yang menyusulnya..."
.
.
.
__ADS_1
£££££