
Andra menelan saliva, jangankan mengharapkan, membayangkan hal itu saja rasanya Andra tak berani untuk sekarang tapi saat ini dengan jelas Jingga mengucapkan kalimat yang membuatnya menganga.
Andra membalikan badan, ia melihat Jingga yang sudah berada di dekat pintu kamar mandi itu, bersikap menunduk penuh pengharapan pada Andra yang membuat Jingga semakin menggairahkan untuk Andra.
"kau serius..." tanya Andra, harap harap cemas Andra menunggu jawaban Jingga apalagi kini Jingga tengah menggigit sedikit bibir pinknya yang menggoda itu seolah menimbang nimbang jawaban yang sebenarnya sudah ada di ujung lidah.
"tentu saja tidak, dasar otak mesum..." gadis itu membuat hati Andra terbelah, ia hanya membuat Andra berharap hal yang tak mungkin terjadi. Jingga menutup dan mengunci pintu itu dengan baik takut takut jika Andra akan mengintip bahkan masuk saat ia sedang mandi.
Diluar Andra menghelas nafas, ia menertawakan dirinya sendiri atas harapan yang tak kesampaian itu, ia membuka baju yang ia kenakan, rupanya meski hanya tawaran angin lali tapi karena Jingga yang melakukannya membuat tubuh Andra memanas hingga kini ia hanya menggunakan kaos dalam dan memperlihatkan tubuhnya yang putih mulus nan atletis.
"Andra..." tiba tiba Jingga berteriak dari dalam kamar mandi.
"ada apa Jingga, buka pintunya cepat..." panik Andra mendengar teriakan suaminya, ia terus menggedor pintu kamar mandi yang ternyata di kunci oleh Jingga.
Suara kunci yang dibuka oleh Jingga terbuka, mimik wajah gadis itu terlihat murung entah karena apa.
"ada apa...?" pertanyaan yang tadi di ulangi oleh Andra sambil beberapa langkah masuk kedalam.
"lihatlah semua peralatan kamar mandi, satu pun tak ada yang bisa aku gunakan, cara guna shower di hotel ini berbeda dengan yang ia gunakan di rumah mu..." ucap Jingga.
"kau ini bodoh atau apa, kata Raga pendidikan mu lumayan tinggi tapi kenapa cara pakai alat mandi di hotel saja kau tak tau..." ejek Andra, laki laki itu ingat saat Raga memberitahukan semua tentang Jingga padanya termasuk tentang pendidikan Jingga.
"kau ini suka sekali mengejekku..."
"aku tidak mengejekmu hanya membicarakan hal yang sebenarnya..."
"yang benar saja, dan kau kenapa tak menggunakan baju...?" tanya Jingga saat sadar ternyata Andra hanya menggunakan kaos dalam saja, kulitnya yang bersih membuat Jingga terkesima melihatnya.
"ini, aku hanya gerah saja, nampaknya pendingin ruangan disini tak berfungsi dengan baik..." alasan Andra padahal ia terpancing oleh Jingga lagi lagi gadis itu membuat sesuatu dibawah sana terasa sesak.
__ADS_1
"oh baiklah, bagaimana cara menggunakannya..?" setelah berbagai topik di bahas akhirnya sampai juga pada topik tentang shower yang tak bisa Jingga gunakan.
"tinggal tekan saja tak ada yang susah..." Andra mempraktekannya dan Jingga memperhatikan apa yang di buat oleh Andra.
Tapi kuasa Tuhan memang tak ada tandingannya, Andra dan Jingga memang harus bersama meski diawal Andra menolak Jingga dan Jingga hampir menyerah dengan sikap Andra yang kasar padanya.
Shower itu menyala, mengeluarkan air yang cukup dingin membuat Jingga yang tengah memperhatikan dan Andra yang mempraktekan jadi basah karena air itu.
"ahh Andra basah..." suara Jingga yang juga membuat Andra kaget bersama dengan air yang keluar dari shower itu.
"maaf maaf biar aku matikan..." kata Andra yang kemudian berusaha mematikan shower itu namun bukannya mati justru air yang keluar makin deras.
"Andra malah makin deras, hahaha..." ucap Jingga sambil tertawa karena ia merasa sedang mandi hujan kala itu.
"kenapa tertawa...?" tanya Andra yang melihat Jingga malah tertawa.
"aku merasa sedang mandi hujan, hahaha..." Jingga kembali tertawa, menertawai dirinya juga Andra yang jadi basah kuyup.
Kemudian tatapan mereka bertemu, dibawah guyuran shower yang turun dari alat itu, tak ada lagi tawa yang ada saat ini malah rasa canggung antara mereka berdua. Air yang turun membuat baju yang Jingga gunakan basah bahkan memperjelas pakaian dalam yang ia gunakan, Andra yang melihat itu membayangkan sesuatu yang mungkin kenyal dan bila di sentuh akan membuat Jingga menggila dan mendesah menyebut namanya.
Andra sudah tak tahan lagi, tak bisa lagi ia menunggu waktu yang tak tentu untuk membuat tuntutan diri yang selama ini belum terpenuhi atas Jingga. Andra menarik tubuh Jingga yang membuat tubuh Jingga berada dalam pelukannya.
"Andra..." ucap Jingga.
"aku janji tak akan menyakitimu, tolong percaya padaku..." ucap Andra terdengar tulus, ia berbicara bahkan nampak memohon pada Jingga.
Dan bagaimana pun Jingga adalah istri atas Andra sudah kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan Andra termasuk kebutuhan ranjang. Jingga nampak berpikir keras, ia memutar kembali ingatan saat Andra begitu tega melukainya tapi bila ia ingat saat Andra bersama dengan adik adiknya bukankah sudah cukup bukti jika Andra bisa dan sudah siap jadi ayah. Jingga kembali ke alam sadar sudah bukan saatnya lagi ia menimbang nimbang antara ia dan tidak saat ini karena keadaan sudah sangat tidak memungkinkan.
"Andra..." ucap Jingga, gadis memejamkan mata dan kedua tangannya memegang pipi Andra seolah memberi izin pada Andra untuk memulai semuanya.
__ADS_1
Merasa Jingga telah memberikan jalan untuk itu akhirnya Andra memulai semuanya, ia mulai mencium lembut bibir mungil Jingga yang setiap hari menggodanya itu, bibir yang terasa manis saat pertama kali Andra cium bahkan saat ini pun masi terasa sama, bibir itu memberikan kehangatan di tengah guyuran air dingin yang keluar dari shower itu. Makin lama ciuman itu makin menuntun, hembusan nafas Jingga mulai naik turun ia belum terlatih untuk berciuman yang menuntut seperti ini.
Tautan itu terlepas, Andra tak mau egois atas Jingga, ia harus bermain sehalus mungkin agar semua berjalan lancar dan tak terhenti di tengah jalan hanya karena dirinya yang tak sabaran. Dan lagi Andra melahap bibir Jingga, semakin lama semakin menuntut bahkan kini terjadi permainan disana, meski masih awam tapi dengan hati hati Andra mengajak Jingga untuk ikut bergabung disana.
Tangan Jingga sudah mengalung di leher Andra, seolah tak ingin permainan itu terhenti, kehangatan yang tercipta membuat percikan air dingi yang mengalir dari shower itu tak terasa tapi tubuh mereka mulai meronta kedinginan karena terlalu lama berada dibawah guyuran air.
"kau kedinginan...?" tanya Andra saat sadar jika gadis itu sudah menggigil dan tubuhnya pun sama mulai menolak berada di bawah air itu.
"ya..." ucap Jingga singkat ia sudah dimakan 'hawa panas' membuat dirinya tak ingin menyudahi permainan yang Andra buat.
"kita pindah ke luar..." ajak Andra, meski ia pun sudah termakan keinginan pada Jingga tapi ia masih bisa berpikir jernih untuk tidak dulu melakukannya di dalam kamar mandi.
"tidak Andra baju ku basah..." Jingga menunduk, melihat bajunya yang sudah basah kuyup.
"buka saja..." jawab Andra mudah, benar saja baju yang Jingga kenakan justru menyulitkan dirinya untuk bergerilia, terhalang.
"aku malu..."
"tak usah malu, berbaliklah..." perintah Andra dan di turuti oleh Jingga.
Jingga berbalik membelakangi Andra yang juga sudah basah kuyup dari atas hingga bawah, Andra menyibakan rambut panjang Jingga tangannya mencari resleting baju yang Jingga gunakan. Tapi gerakan tangan Andra justru membuat sensasi lain untuk Jingga apalagi saat dengan Andra dengan sengaja membuka resletingnya dengan pelan, bahkan Jingga sampai mengepal tangan untuk menahan gejolak yang muncul.
Dan slurrrr...
.
.
.
__ADS_1
♤♤♡♡♤♤