
Jingga membuka pintu apartemen, ia bisa membukanya karena selain menggunakan kunci pintar pintu itu juga bisa menggunakan kunci manual seperti pintu pada umumnya. Di dapatinya Andra sedang duduk di sofa panjang yang bisa mereka duduki, dengan minuman berwarna hitam bersoda tengah ia pegang dan mimik wajah yang seolah sedang meredam amarah.
"aku pulang..." ucap Jingga.
Sebenarnya tak perlu Jingga berucap pun Andra sudah tau jika istrinya yang masuk, namun sebagai bentuk penghargaan pada suaminya Jingga melakukannya agar Andra yang memang sudah berada di dalam rumah terlebih dulu itu merasa di anggap keberadaanya.
Andra menoleh, saat Jingga tengah meletakkan tas yang tadi ia bawa, wajah Andra masih tak bersahabat kepada Jingga.
"di antar siapa...?" tanya Andra, meski kesal sebenarnya Andra khawatir juga dengan keadaan Jingga, sebenarnya ia tak mau meninggalkan Jingga terlebih Jingga pasti tak tau daerah tempat butik Freeya.
"di antar Freeya..." jawab Jingga.
"oh..." singkat Andra menjawab.
Sebenarnya Jingga lebih kesal pada Andra, sikap kekanakan yang tadi Andra tunjukkan sudah di luar batas, namun setelah tadi mendengar semua cerita Freeya tentang bagaimana Andra berubah dari seorang anak manja menjadi sesosok laki laki yang di butuhkan keluarga itu sungguh luar biasa dan harus diapresiasi.
Jingga menghampiri Andra yang masih duduk, lalu Jingga mengulurkan tangannya tepat di depan Andra.
"apa...?" tanya Andra.
Sikap Jingga yang tiba tiba membuat Andra mengerutkan dahi, perempuan itu harusnya marah atau kesal tapi kini Jingga malah mengulurkan tangannya.
"berdirilah, aku ingin memelukmu..." jawab Jingga.
Andra bingung, ia tak tau apa yang sudah terjadi pada Jingga hingga membuat perempuan itu bersikap demikian, wajah Jingga tak ada gurat marah atau kesal yang ada hanya wajah memelas ingin di peluk.
"kenapa tak berdiri, apa salah aku ingin memeluk suamiku...?" ucap Jingga lagi.
Andra belum beranjak, ia tak tau harus berbuat apa, harus tetap duduk atau menghampiri Jingga untuk menyerahkan tubuhnya untuk di peluk perempuan cantik itu.
"hmmm baiklah, mungkin aku sudah tak berhak untuk memeluk suamiku sendiri..." Jingga mengalah, ia kesal juga karena Andra tak mengubris keinginannya untuk sekedar berdiri lalu memeluknya, laki laki itu malah diam dan matanya yang kelam itu malah memandang intens Jingga.
Jingga berbalik, rasanya ia habis di jauhkan dari ketinggian, merasa sakit di Ulu hati karena mendapat penolakan dari suaminya sendiri, sekedar memeluk pun tak ia dapatkan.
Lima langkah Jingga berjalan, lalu di buat terkejut karena dengan tiba tiba Andra memeluk Jingga dari belakang.
__ADS_1
"Andra..."
"ssttt, bukankah kau ingin memelukku, diamlah biar aku yang memelukmu..."
Hangat dan nyaman Jingga rasakan, pelukan Andra memang selalu membuat Jingga begitu, terlena dan tenang begitu mungkin yang Jingga rasakan. Lama Jingga di peluk Andra dari belakang, bila melihat pantulan gambar mereka di kaca adegan itu mirip seperti adegan adegan romantis drama tivi.
Hingga dengan satu gerakan Jingga membalikan tubuhnya yang membuat dirinya berhadapan langsung dengan Andra, meski sebenarnya sedikit memberanikan diri Jingga menatap bola mata suaminya itu, tetap hitam kelam. Jingga kemudian teringat dengan apa yang di ceritakan Freeya tadi, tentang bagaimana Andra bersikap atas semua yang terjadi, menjadi kuat tanpa ada yang menguatkan, menjadi tangguh tanpa lawan meski sebenarnya sangat rapuh.
Senyum terukir di bibir Jingga, seolah memberi penegasan pada Andra bahwa sikapnya tadi di tempat Freeya tak membuat hati Jingga kesal padahal ingin sekali rasanya Jingga menghukum Andra karena telah melakukan hal yang sangat tak baik itu.
"Kau marah...?" tanya Andra.
Sikap Jingga yang cenderung manis membuat Andra was was, takut jika perempuan itu diam diam pergi meninggalkannya karena sudah terlalu banyak rasa sakit hati, kesal dan marah yang Andra berikan untuk Jingga, mungkin Andra sadar diri saat itu.
"tidak..." Jingga menjawab sembari menggelengkan kepalanya sebagai penegasan.
Senyum kembali terukir di bibir Jingga dan dengan satu tarikan di kerah baju Andra membuat jarak Andra dan dirinya sirna hingga akhirnya Jingga berhasil mencium bibir Andra. Hanya kecupan, benar benar hanya kecupan karena itu semua terjadi hanya beberapa detik saja namun karena Jingga yang memulai membuat adegan itu jadi beda rasanya.
Andra terkejut, meski bukan kali pertama mereka melakukan itu tapi biasanya semua Andra yang memulai tapi kini Jingga yang memulai hingga rasanya sangat beda dengan biasanya. Ciuman itu singkat, membuat Andra tak rela bila semua berakhir begitu saja hingga saat Jingga hendak menyudahi ciuman itu dengan satu kali dorongan yang kebetulan kedua tangan Andra sedang berada di pinggang Jingga.
Ciuman itu kembali terjadi, tangan Jingga sudah merangkul leher Andra, memudahkan Andra bahkan memberikan tekanan pada Andra agar ciuman itu tak terlepas. Pelan tapi pasti, itu semua menjadi intens karena keduanya sedang saling menikmati satu sama lain.
"ada apa.. ?" tanya Andra. Saat itu ciuman buas mereka sudah berakhir, di akhiri oleh pelukan Jingga yang begitu hangat merangkul tubuh Andra meski posisi keduanya sudah terduduk diatas sofa dengan Andra yang memangku tubuh Jingga.
"tidak ada apa apa, kenapa...?" jawaban dan pertanyaan serempak diucapkan oleh Jingga.
"aku hanya bertanya, ku kita kau akan marah atas sikap ku tadi..."
"aku tak marah tapi aku sedikit kesal saja..."
Jingga begitu manja, terlihat dari sikapnya yang begitu seperti putri kecil yang sedang bersenda gurau dengan ayahnya yang baru pulang kerja.
"lalu kenapa kau mencium ku...?"
"kau keberatan...?"
__ADS_1
"tidak..."
"ya sudah diam saja. Jangan berkomentar..."
Lagi lagi Jingga tersenyum dan kembali memeluk Andra.
Sedang Andra sedikit merasa aneh dengan sikap Jingga saat itu namun ia pun menikmati bagaimana perempuan itu begitu manisnya bergelayut manja di pangkuannya, momen langka bahkan sangat langka.
"Andra.. "
"ya, ada apa nona manis..."
"berjanjilah padaku..."
"tentang apa...?"
"tentang semua..."
"maksud mu...?"
Jingga membetulkan posisinya kini posisinya berhadapan dengan Andra dan masih di pangkuan sang suami. Kedua tangannya meraih pipi Andra seolah memberi isyarat bahwa penglihatan laki laki itu hanya boleh tertuju padanya.
"berjanjilah untuk selalu menjadi kuat, aku tau kau begitu hebat..."
Ucapan Jingga membuat Andra bingung.
"saat nanti kau membutuhkan tempat untuk bersandar, aku siap menjadi orang yang ada untuk mu..."
Awalnya Andra tak paham dengan arah cerita dan pembicaraan istrinya itu namun lama kelamaan Andra tak terlalu ambil pusing tentangnya. Cinta, semua itu karena cinta begitu saja anggapan Andra tentang sikap Jingga saat itu.
Kembali memeluk Andra, padahal sekuat tenaga Jingga menahan hati untuk tidak menangis, rasa haru yang menyeruak dihatinya harus ia tahan karena tak mungkin ia menangis saat itu. Percayalah saat cinta dapat merubah benci jadi sayang, maka cinta pula yang bisa merubah hati yang beku menjadi cair juga tentang kagum yang bila terendap lama maka akan menjadi sebuah rasa untuk tak ingin kehilangan.
.
.
__ADS_1
.
€€€€€