Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
Takut


__ADS_3

Diatas pusara itu tertulis nama LAILA MAHARANI yang hari ini wafatnya genap berusia dua puluh lima tahun itu berarti hari ini adalah hari ulang tahun Jingga. Saat ini nyonya Cantika sedang menatap nanar pusara sahabatnya itu, tersenyum tragis menatap tanah yang telah 'menelan' tubuh perempuan cantik dan ceria itu.


"Lail, apa kabar mu, apa kau baik baik saja disana...?" tanya nyonya Cantika yang tak dapat jawaban dari siapapun, tangannya menabur bunga wangi diatas pusara itu juga menyimpan beberapa kuntum bunga mawar merah disana karena nyonya Cantika tau jika Laila begitu menyukai bunga itu.


"Lail, aku merindukan mu, apa kau merindukan ku...?" air mata mulai berderai di pipi nyonya Cantika, rasa sesak tiba tiba terasa di dada mengenang kejadian malam itu, Laila pergi saat Jingga menangis minta disusui oleh bundanya.


"Lail, kau tau setelah kepergian Rama aku nyaris gila sama seperti Damar tapi aku melihat anak anakku yang masih membutuhkan aku.." sambung lagi nyonya Cantika bercerita, kali ini ia menyiramkan satu botol penuh air keatas pusara itu.


"aku kuat untuk mereka Lail, bukan kah itu hal yang luar biasa..." terus nyonya Cantika bercerita, tak peduli tak ada yang menjawabnya.


"terkadang aku kesepian Lail, ternyata berat hidup tanpa cinta seperti ini, aku takut aku menyerah Lail..." semakin dalam nyonya Cantika menangis, ia sudah tak bisa lagi berpura-pura menjadi wanita kuat seperti yang biasa ia lakukan dihadapan semua orang, anak anaknya bahkan di hadapan dunia.


"tapi Lail, kau harus tau jika sebentar lagi akan akan mendapatkan penyemangat baru dalam hidupku, mungkin aku akan segera mendapatkan cucu..." ucap nyonya Cantika, kali ini senyum miris tersemat di bibirnya.


"Lail, aku sudah memenuhi janji kita, aku sudah menikahkan salah satu anak laki laki ku dengan anak mu Jingga..." sambung nyonya Cantika lagi.


Angin bertiup lagi, daun daun bergoyang seolah membiaskan panasnya cahaya matahari siang itu, sesaat sendu terasa disana, rasa rindu nyonya Cantika pada sahabatnya yang telah pergi sungguh begitu besar, terlalu banyak kenangan antara dirinya dan Laila. Rindu yang tak akan pernah bisa lagi tersampaikan, rindu yang harus dipendam selamanya.


"Lail, jika kau asa disini pasti kau akan bahagia, melihat bayi kecil milik mu dan Damar tumbuh menjadi anak yang tangguh, sama seperti mu..." cerita nyonya Cantika berlanjut.


Menang sudah menjadi kebiasaan bila nyonya Cantika datang ketempat ini ia bisa menghabiskan waktu berjam jam lamanya, di tempat ini ia bisa menjadi dirinya sendiri, dirinya yang sebenarnya begitu rapuh dibalik tubuh yang terlihat angkuh.


"Lail, maaf jika hari ini aku banyak bercerita disini karena hanya disini aku bisa menjadi diriku sendiri..." tangis nyonya Cantika, wanita itu telah menanggalkan semua sifat angkuhnya dan yang tersisa hanya sisi rapuh yang butuh kasih sayang yang tersisa.

__ADS_1


"Lail, aku janji akan selalu menyayangi Jingga, apalagi kini ia telah menjadi anakku..."


"tapi Lail maafkan aku yang belum bisa menceritakan tentang dirimu dan Damar pada Jingga, aku masih mencari waktu baik agar gadis cantik itu bisa mengerti semuanya...." sambung menyambung nyonya Cantika bercerita banyak hal di sana.


Rasa rindu pada seseorang yang telah tiada memang terasa sangat menyakitkan, sekeras apapun mencoba sejauh apapun berlari namun itu semua hanya sia sia, ada satu tangan yang lebih menyayangi, yang lebih kekal abadi, yang lebih menguasai isi bumi.


*


Di rumah itu, Andra berangkat meninggalkan Jingga dengan kesal, bukan kesal karena Jingga tapi karena Yudha yang lagi lagi menyulut emosinya saat itu. Sudah puluhan kali Andra mengetuk pintu kamar yang Yudha tiduri berharap adiknya itu akan keluar dan pergi dari rumah itu, tapi nampaknya Yudha tak menggubris.


"sudahlah biarkan saja dia..." ucap Jingga, perempuan itu menenangkan suaminya yang terlihat begitu emosi saat itu.


"bukankah dia berjanji akan pergi hari ini, Jingga aku khawatir jika belum melihatnya pergi dengan mataku sendiri, aku takut dia menyakiti mu lagi..." kata Andra, tangannya meraih pipi Jingga yang selalu terlihat merona itu.


"aku akan baik baik saja, bukankah nanti ada Mbak Mirna yang datang jadi aku tak sendirian lagi..." upaya Jingga supaya suaminya tak sekhawatir itu, memang senang rasanya karena kini Andra seakan sudah bisa di taklukan tapi ia pun tak mau melihat suaminya jadi terlihat berlebihan.


"percaya pada ku, aku akan baik baik saja..." ucap Jingga. Ia berjinjit memberi satu kecupan manis di pipi Andra.


Spontan Andra terkejut, tak menyangka akan mendapat kejutan manis dari istrinya itu, sesaat Andra diam saat Jingga melakukannya.


"pergilah, aku akan baik baik saja..." bujuk Jingga, ia benar benar berusaha menenangkan suaminya itu dan berhasil.


"kau mulai nakal rupanya..." kini topik pembicaraan mereka mulai berubah arah, bukan lagi tentang Yudha yang tak kunjung keluar kamar untuk pulang tapi tentang ciuman manis Jingga yang mengejutkan.

__ADS_1


"maaf..." perempuan itu menunduk, nampak menyesal dengan tindakan yang ia lakukan barusan.


"kenapa minta maaf, aku suka, coba lakukan lagi..." ungkap Andra sambil mendekatkan wajahnya pada Jingga dan menunjuk pipinya yang tadi di cium oleh Jingga.


"ahh sudah cepat pergilah, Raga mu pasti sudah menunggu, kasian dia..." bujuk Jingga, ia bukanya tak mau melakukannya lagi tapi ia malu, barusan saja ia lakukan dengan mengumpulkan kekuatan dan keberanian di hati yang cukup besar.


"ayolah Jingga..." bujuk Andra. Rasanya lucu melihat sikap Andra yang seperti anak kecil, merengek minta dicium.


"sudah nanti saja, cepat pergi..." Jingga mendorong tubuh Andra supaya lelaki itu mau pergi ke kantor dan tak lagi merengek hal yang barusan ia lakukan.


"ya sudah akan ku tagih nanti, sekarang aku berangkat dulu dan kau hati hati di rumah jaga diri ok..." ucap Andra, laki laki itu membelai pipi wanitanya itu lalu beranjak pergi setelah mencium pucuk rambut perempuan itu.


Andra sudah berlalu tak lama Mbak Mirna datang untuk membantu Jingga membereskan papiliun itu, awalnya Mbak Mirna merasa sungkan karena Jingga ikut membantu pekerjaannya, ia takut tuannya tau jika Jingga ikut membantu dan ia akan di berhentikan.


Namun setelah Jingga memberi pengertian akhirnya Mbak Mirna mengerti dan paham, Mbak Mirna membiarkan Jingga melakukan hal yang diinginkannya selama itu tak membahayakan keselamatannya bekerja di rumah ini. Mbak Mirna mengerjakan urusan dapur, sementara Jingga asik membenahi bagian depan rumah.


Saat berkelas tiba tiba Yudha keluar dari kamarnya, Jingga kaget dan langsung meninggalkan pekerjaannya dan sedikit berlari kecil segera masuk kedalam kamar, ia takut Yudha melakukan hal yang bisa membuat semuanya salah paham terlebih saat ini tak ada Andra di rumah meski ada Mbak Mirna tapi Jingga tak bisa menjamin jika Mbak Mirna akan bisa membantunya.


Jingga sudah berada didalam kamar, dibalik pintu Jingga merasakan debaran jantungnya berlalu cepat "Tuhan apa yang harus aku lakukan..." ucap Jingga sendiri, ia merasa panik dan tak tau apa yang harus dilakukan, yang ada di otak Jingga saat ini adalah Andra, ia harus menghubungi Andra tapi menggunakan apa, ponsel miliknya diambil oleh Andra dan telpon rumah pun sudah Andra putus.


.


.

__ADS_1


.


♡♡♡♡


__ADS_2