
Jingga tengah duduk di kursi itu dan Andra membawakan segelas air dari dapur, Jingga masih terlihat gemetar dengan air mata yang sedikit sedikit masih membasahi pipinya.
"minumlah..." perintah Andra, disodorkannya gelas itu supaya Jingga meminum isinya.
Jingga menurut, ia meminum air itu dan sedikit merasa tenang setelahnya. Ia masih terlihat sesegukan dan trauma setelah apa yang terjadi menimpa dirinya barusan.
"apa kau terluka...?" tanya Andra. Ia mengkhawatirkan keadaan wanita itu.
Jingga tak menjawab, ia malah berhambur memeluk Andra yang saat itu tengah berada di sampingnya, di sana Jingga kembali menangis tapi kali ini ia menangis bukan hanya karena takut juga karena khawatir, khawatir bila doa Yudha akan menang saat bertarung di langit dan Jingga akan kehilangan Andra.
Andra cukup terkejut dengan sikap Jingga, ia membiarkan perempuan itu menangis di pelukannya menumpahkan semua perasaannya saat itu. Andra cukup bisa menahan ego untuk tidak bertanya terlebih dulu tentang apa yang sebenarnya terjadi antara Jingga dan Yudha yang membuat situasi sekacau ini, terlebih yang dilihat Andra adalah bagaimana Yudha sedang berusaha mendekati Jingga.
*
Di rumah yang tentu pas untuk dikatakan mewah, dengan penjagaan yang cukup, seorang ibu tengah berdiri menyambut kedatangan anaknya yang baru saja sampai, tatapan ibu dan anak itu bertemu satu sama lain, memperlihatkan bola mata yang sama sama teduh namun begitu menikam.
"bagaimana, kau sudah bertemu dengan kakak mu...?" tanya sang ibu yang tak lain adalah nyonya Cantika. Wanita itu menatap anak lelakinya itu dengan senyum yang mengembang dibibirnya yang diberi gincu berwarna manis.
"ya, aku sudah bertemu dengannya..." jawab Yudha, ia berjalan meninggalkan ibunya yang masih saja berdiri di dekat kursi besar itu.
"baguslah kalau begitu, ibu harap kau melepas rindu dengan baik bersama kakak mu dan istrinya..." ucap nyonya Cantika yang sontak membuat langkah kaki Yudha berhenti saat ia sudah berada di belakang ibunya beberapa langkah.
__ADS_1
Yudha kembali berbalik dan kembali menatap ibunya yang sudah terduduk di kursi yang terlihat mahal itu.
"apa ini semua rencana ibu...?" tanya Yudha yang langsung to the point bertanya tentang hal yang membuatnya nyaris gila karena kenyataan yang kini ia hadapi.
Nyonya Cantika diam, diamnya begitu anggun. Ia meneguk secangkir teh yang tersaji di hadapannya tanpa menghiraukan pertanyaan Yudha.
"ibu jawab aku..." tanya Yudha lagi.
"untuk apa ibu menjelaskannya padamu..." nyonya Cantika malah melempar lagi pertanyaan pada Yudha yang membuat Yudha mengerutkan dahinya karena ibunya itu.
"bu, aku kira ibu tak akan melakukan semua ini padaku bu..." ucap Yudha.
"lalu apa yang harus ibu lakukan, apa ibu harus menuruti semua keinginan mu...? bukankah semua mimpi mu sudah kau gapai, apa lagi yang kau mau...?" cecar nyonya Cantika pada Yudha, meski saat itu sedang tak memungkinkan untuk bersikap cantik tapi keanggunan nyonya Cantika tak begitu saja luntur karena hal itu.
"apa yang salah dari yang ibu perbuat, bukankah keinginan mu untuk menjadi dokter dan apa kau tak ingat saat ibu datang ketempatmu di negara itu, kau malah menolak tawaran ibu sebelum ibu menjelaskannya..." jelas nyonya Cantika mengingatkan anaknya itu supaya tak salah paham lagi dengan keadaan yang terjadi sekarang.
Yudha diam, memang benar saat itu sebelum Andra dinikahkan dengan Jingga jauh jauh ibunya itu datang untuk mengunjunginya dan memberikan dirinya tawaran untuk menikah dengan seorang perempuan, namun belum sempat ibunya menjelaskan Yudha sudah menolaknya mentah mentah karena yang ia inginkan hanya Jingga.
"tapi bu, ibu tak bilang jika gadis yang ibu maksud adalah Jingga, ibu tau bagaimana perasaanku dari dulu pada gadis itu bu..." ucap Yudha seolah tak terima jika dirinya telah bersikap bodoh saat itu, menolak tanpa mendengarkan penjelasan.
"apa kau pikir ibu menjelaskan panjang lebar pada Andra tentang wanita yang akan ibu nikahkan dengannya, asal kau tau Yudha, Andra menerima permintaan ibu sebelum ibu selesai mengutarakan maksud ibu saat itu..." jelas nyonya Cantika yang seolah tak mau kalah dengan anaknya itu, ia bermaksud agar anaknya itu sadar jika semua yang terjadi kini bukan hanya kehendak dirinya namun ada campur tangan Tuhan juga yang menginginkan Jingga dengan Andra bukan dengan Yudha.
__ADS_1
"terus saja ibu membela Andra, apa bagusnya dia bu, dari kecil aku terus saja mengalah darinya, ibu dan mendiang ayah lebih menyayangi Andra daripada aku. Tapi bu maaf, untuk kali ini aku tak akan mengalah lagi dari Andra..." suasana semakin tegang, Yudha semakin terlihat tak mau kalah dari ibunya itu.
"apa maksud mu, kau mau merusak rumah tangga Andra dan ingin merebut Jingga...? kau pikir Jingga akan merasa bahagia saat bersama mu...?" cecar lagi pertanyaan dari nyonya Cantika yang menyudutkan Yudha kala itu.
"ya, aku akan merusak rumah tangga mereka dan merebut Jingga, ibu puas..." jawab Yudha menantang.
"kau pikir Andra akan melepas Jingga begitu saja, apa kau tak melihat bagaimana sikap Andra saat ia melihat kau menyakiti Jingga tadi, dan apa kau tak berpikir bagaimana perasaan Jingga pada Andra saat ini, Yudha jangan hanya mengandalkan cinta masa lalu hingga kau bisa percaya diri untuk merebut hati Jingga, bukankah ia sudah menjelaskan bahwa ia hanya menganggap mu teman saja..." jelas nyonya Cantika yang terdengar begitu menyakitkan telinga Yudha. Sedari dulu wanita itu memang selalu tegas pada anak anaknya tak peduli sesakit apapun perkataannya tapi jika itu adalah kebenaran pasti akan di ucapkan.
Seketika Yudha diam, memikirkan ucapan ibunya yang memang ada benarnya, cintanya pada Jingga hanya berlandaskan cinta monyet zaman sekolah yang biasa dirasakan oleh pelaku remaja yang saat itu tengah mencari sesuatu yang baru termasuk dirinya dulu, namun kini semua sudah berbeda termasuk situasi yang ia hadapi kini juga keadaan yang membuat Yudha harus bisa iklas.
"jika kau pikir akan mudah Andra melepaskan Jingga itu salah Yudha, ibu tau bagaimana tabiat Andra ketika sudah mencintai sesuatu begitu pun dengan Jingga saat ini. Ibu harap kau tak membuat keributan lain setelah ini..." ucap nyonya Cantika dengan nada suara yang kembali lembut, seolah tak mau jika anaknya itu merasa diintimidasi oleh keadaan yang belum bisa ia terima dengan baik.
"tidak ibu, aku akan terus berusaha membuat mereka berpisah..." ucap Yudha yang kekeuh tak mau mengalah lagi, sikapnya yang selama ini menurut kini telah berganti menjadi seorang pembangkang.
"baiklah, seharusnya ibu tak mencegah mu Yudha, lakukan apa yang kau mau, ibu tak akan menghalanginya tapi jangan salahkan ibu jika nantinya kau akan semakin tersakiti..." ucap nyonya Cantika, ia bangun dari duduknya dan meninggalkan Yudha yang masih berdiri tak jauh dari kursi yang tadi ia duduki.
Yudha hanya menatap kepergian ibunya yang meninggalkan dirinya yang masih mematung dengan perasaan yang campur aduk, bukankah tadi ia sudah melihat Jingga yang seolah nyaman dengan Andra dan kini ia harus kembali menelan rasa kecewa setelah sang ibu yang dengan terang terangan lebih memilih untuk membela Andra bukan dirinya.
.
.
__ADS_1
.
♤♤♤♤♡♤♤♤♤