
"Andra..." ucap Jingga, perempuan itu sudah selesai mandi, kembali lagi menghampiri Andra yang katanya akan membantunya membereskan belanjaan yang ternyata masih sama saja seperti Jingga meninggalkan tempat itu, Andra malah terlihat melamun.
"Andra, kau bilang akan merapihkannya, tapi kenapa masih seperti tadi..." ucap Jingga, gadis itu langsung saja menghampiri Andra yang masih saja bersikap seperti patung sambil memegang buah jeruk.
"ehh maafkan aku..." ungkap Andra. Benar dia melamun, pikirannya terbang pada Jingga, membayangkan Jingga yang tengah mandi bahkan sampai kepada peperangan di atas ranjang.
"kau ini..." akhirnya Jingga mengambil alih lagi pekerjaannya, ia mulai menata buah yang tadinya harus Andra lakukan tapi karena Andra melamun jadi dirinya lagi yang harus melakukannya.
Satu per satu buah itu di masukan kedalam lemari pendingin, Jingga menatanya sedemikian rupa supaya nanti saat di butuhkan tidak akan kesulitan mencari.
Andra masih mematung, pikiran kotornya telah terlalu jauh menjamah Jingga yang ternyata hanya sebuah khayalan saja. Maklum saja Andra adalah laki laki normal, sudah layak nampaknya jika Andra memikirkan hal itu, terlebih saat ini statusnya sebagai laki laki yang sudah beristri tapi belum pernah merasakan indahnya surga dunia.
"kau melamun..?" tanya Jingga, lagi lagi ia mendapati suaminya itu menatap ke arahnya tapi seperti orang yang melamun.
"ah tidak, tidak aku tidak melamun..." ucap Andra mengelak, tak mungkin ia berkata jujur pada Jingga apa katanya nanti bila tau jika dirinya membayangkan sesuatu yang mungkin sangat nikmat itu.
"ya ya, sudahlah tak apa..." sentuhan terakhir Jingga mengambil jeruk yang dari tadi di pegang oleh Andra.
"ehh kenapa di ambil..."
"kenapa, kau mau...?" tanya Jingga.
"ya, ya aku mau..." kikuk menghinggapi Jingga, laki laki itu terlihat serba salah tingkah saat Jingga berada di dekatnya saat ini terlebih dirinya telah membayangkan hal yang sangat jauh atas diri Jingga.
"baiklah, tunggu sebentar.." ucap Jingga. Gadis itu mengupas buah yang di minta oleh Andra.
Andra menatap Jingga, rasa bersalah terbang di benaknya, kenapa ia harus membayangkan hal seperti itu terhadap Jingga kenapa tidak langsung mengeksekusi saja toh Jingga istrinya sudah jadi kewajiban gadis itu melayaninya bahkan di atas ranjang.
Saat ini Andra masih belum mau melepaskan pandangannya terhadap Jingga, rasanya ingin sekali ia menyerang Jingga membuat Jingga mendesah menyebut namanya seperti di bayangannya tadi. Namun ia kembali bisa menahan diri, mungkin belum saatnya ia mendapatkan itu semua terlebih saat ini ia baru memulai memperbaiki hubungannya dengan Jingga, membuat gadis itu nyaman mungkin itu yang harus ia lakukan pertama kali.
"apa kau belum mau tidur...?" tanya Andra saat Jingga memberikan buah jeruk yang sudah bersih dan siap Andra santap, sampai sejauh itu Jingga perhatian pada Andra meski Andra tau Jingga melakukan itu hanya karena buktinya pada suami bukan karena ada cinta.
"belum, rasanya setelah mandi badan ku malah tambah segar..." ucap Jingga.
Dan sontak jawaban Jingga membuat sesuatu dari dari Andra meronta minta keluar dan itu semua berusaha ia tahan lagi lagi karena waktu yang belum di rasa tepat.
"kalau begitu, bisa kau temani aku, tadi Raga mengirim ku beberapa file yang harus aku urus tapi karena aku tadi pergi dengan mu jadi aku belum memeriksanya..." ucap Andra.
"kenapa kau tak bilang bila ada pekerjaan..." nada bicara Jingga penuh sesal, ia tak menyangka jika Andra mau meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menemaninya belanja kebutuhan bulanan.
"lalu bila ku bilang ada pekerjaan aku akan mempersilahkan kau pergi sendirian, tidak semudah itu nona Jingga..." ucap Andra.
__ADS_1
"dasar tuan kepala batu.."
"sudahlah, lagi pula sekarang kau bisa menemani aku memeriksa itu semua sebagai pengganti waktu ku karena tadi menemani mu belanja..." ucap Andra, ia melangkah menuju ruangan kerja yang berada tak jauh dari sana.
Sebagai rasa untuk menebus kesalahan akhirnya Jingga mengikuti langkah Andra masuk kedalam ruangan itu, ruangan yang belum pernah ia masuki.
Begitu pintu di buka aroma yang halus langsung menusuk penciumannya, aroma yang begitu kalem dan membuat nyaman. Ruangan itu di tata sedemikian rupa hingga menghasilkan suasana yang tenang mungkin agar orang yang selalu ada di dalam sana bisa berkonsentrasi saat bekerja.
"duduk disini..." ucap Andra. Ia telah menyiapkan kursi tepat di sampingnya untuk Jingga duduk, sedangkan gadis itu masih terlihat takjub pada ruangan yang tak terlalu besar itu, selera Andra ternyata cukup sederhana namun terasa mewah.
"ruangannya nyaman..." ucap Jingga sambil duduk di kursi yang telah Andra siapkan untuknya, seulas senyum merekah di bibirnya.
"hanya ruangan sederhana..." ucap Andra merendah, padahal biaya cukup besar ia keluarkan untuk bisa mendapatkan suasana yang nyaman seperti ini.
Jingga mengangguk sebenarnya tak percaya dengan ucapan Andra, mana mungkin ruangan seperti ini di bilang sederhana begitu banyak forniture yang sangat antik di sana, salah satunya meja yang saat ini ada di hadapan Jingga, mungkin di buat dari kayu dengan kualitas tinggi.
"baiklah kita mulai saja..." ucap Andra, laki laki itu membuka laptop dan menyalakanya lalu melakukan aktifitas yang memang harus ia lakukan, mulai memeriksa apa apa yang memang harus ia periksa.
Jingga tak mau mengganggu Andra yang sedang sibuk dengan urusannya, ia melihat lihat sekitar lalu selembar kertas menarik perhatiannya. Ekspresi wajah Jingga berubah, sebuah tulisan yang menjadi judul membuatnya kaget terdapat nominal besar di bagian bawah kertas itu.
"kenapa...?" ucap Andra, ia sadar jika air muka Jingga berubah karena terkejut.
"ahh tidak, aku tidak apa apa..." ucap Jingga, padahal ia terlihat membelalakan matanya melihat nominal yang sangat besar itu.
"benarkah...?" tak percaya Jingga saat itu.
"tentu saja, aku tak akan mau memakan uang hasil jerih payah orang lain, aku masih mampu untuk bekerja..." ucap Andra.
Sebuah rasa tanggung jawab Andra membuat Jingga terkagum rupanya di balik sifatnya yang keras bahkan nyaris kasar Andra adalah laki laki yang bertanggung jawab.
"kau memimpin perusahaan besar...?" tanya Jingga.
"ya, tapi masih ada ibu yang selalu mengontrol semuanya, beliau tau aku belum semahir mendiang ayah..." ucap Andra, suasana sedikit berubah sendu.
"mendiang..?"
"ya, ayah ku sudah tiada..." ucap Andra.
"maafkan aku, aku tidak bermaksud..." ungkap Jingga, ia jadi serba salah terlebih ia malah meminta Andra untuk memperjelas apa maksud mendiang yang di katakan Andra.
"sudahlah, aku paham kau tak tau kan..." ucap Andra. Laki laki itu tersenyum, mengelus lembut rambut panjang Jingga yang masih basah.
__ADS_1
Jingga tersenyum padahal hatinya jadi merasa tidak enak pada Andra.
"setelah ayah pergi aku yang bertanggung jawab terhadap ibu dan kedua adikku..." cerita Andra.
"kau punya adik juga...?" tanya Jingga, ia tak tau jika suaminya ini memiliki adik.
"ya, aku memiliki dua adik, sama seperti mu..." ucap Andra.
Jingga mengangguk.
"aku harus melanjutkan perusahaan yang ayah tinggalkan untuk kami, meski awalnya ibu bimbang membiarkan aku untuk ikut bergabung karena ibu tau apa yang aku inginkan bukan berkecimpung di dunia bisnis seperti ayah, tapi setelah aku menjelaskan semua pada ibu akhirnya ibu mengizinkannya..."
"pernah aku merasa iri pada kedua adikku yang bisa meraih cita citanya tapi ibu selalu menjadi alasan ku untuk kuat menjalani ini semua..."
Entah sadar atau tidak tangan Jingga meraih tangan laki laki yang sedang bercerita itu, seolah menyalurkan tenaga untuk bisa kuat.
"Yudha bisa menjadi dokter dan Chika bisa meraih mimpinya yang ingin menjadi fesyen desainer sedangkan aku harus bisa menahan ego ku untuk meraih semua mimpiku ..." ucap Andra. Laki laki itu semakin dalam menunduk, menahan emosi agar tak terlalu berlebihan terlebih ia selalu ingin menangis bila mengingat hal itu semua.
"Andra, kau sudah berhasil menjadi sosok pengganti ayah mu yang telah lama pergi, beliau pasti bangga bila bisa melihat mu bisa menjaga orang orang yang sangat ia sayangi..." ucap Jingga, gadis itu memuji Andra tanpa tekanan seolah natural dan tak di paksakan.
"benarkah...?"
"Andra, percayalah tak mudah untuk menjadi ayah dan kakak bagi kedua adik mu secara bersamaan, hal itu hanya bisa di lakukan oleh orang orang kuat seperti mu..." ucap Jingga.
"kau sudah berhasil melakukan itu, jadi jangan pernah merasa gagal karena kau telah mampu melakukannya dengan baik..." ucap Jingga lagi, ia benar benar paham sekarang kenapa Andra bisa sekeras ini, perjalanan hidup yang membuatnya tak bisa melunak dengan mudah.
Andra tersenyum, membalas sentuhan tangan Jingga lalu menciumnya manis, kemudian ia mengelus pipinya sendiri dengan menggunakan tangan Jingga yang ia genggam.
Melihat itu semua Jingga menjadi terenyuh rupanya suaminya itu memiliki sisi lain yang sangat rapuh, laki laki itu sangat butuh dukungan dan kasih sayang lebih karena ia kehilangan itu bersama dengan ayahnya yang pergi untuk selamanya.
"jadilah semakin kuat, aku akan selalu di samping mu..." ucap Jingga dengan maksud hati ingin memberi kekuatan lebih pada Andra.
Mendengar itu membuat Andra tersentuh, ia tak menyangka jika gadis yang pernah ia siksa begitu terlihat tulus menyemangatinya, memberikan dukungan padanya diluar statusnya sebagai istri yang memang harusnya selalu mendukung suaminya.
Andra tak bisa menahan diri lagi, ia kembali mencuri ciuman pada Jingga yang membuat gadis itu hanya bisa diam, layaknya ia tak harus menghentikan ciuman itu, ia rasa Andra sedang merasa ingin di dukung dan ia selaku istrinya memberi kecupan sedikit mungkin tak akan berbuntut panjang.
Ciuman itu begitu manis, hanya beberapa kali kecupan di bibir Jingga, bibir yang begitu terlihat menggoda meski tak di beri polesan apapun. Andra merasa tak di tolak oleh Jingga membuatnya berani untuk berbuat lebih pada Jingga.
.
.
__ADS_1
.
●●●■■■●●●