Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
kedai kopi


__ADS_3

"kita langsung pulang...? tanya Jingga.


"tentu..."


Jingga menghelas nafas, ia menyesal tak menikmati lebih lama lagi momen belanja tadi supaya bisa lebih lama berada di luar, tapi kini Andra akan membawanya kembali ke papiliun itu kembali mengurungnya.


Melihat mimik muka Jingga yang terlihat bersedih membuat Andra salah tingkah, berat sekali baginya kini melihat Jingga bersedih.


"baiklah temani aku minum kopi, kau mau...?" ucap Andra.


"minum kopi, aku suka itu, tentu aku mau..." permintaan Andra membuat Jingga kembali bahagia, akhirnya ia lebih bisa berlama lama menikmati dunia luar.


Mobil mereka melaju ke tempat tujuan, sebuah kedai kopi yang cukup terkenal dengan logo yang sudah sangat mendunia.


"kau mau pesan apa...?"


"mmmm caramel macchiato dingin ukurannya yang grande saja, tolong beri es agak banyak..."


"dengan mbak...?"


"Jingga..."


"baik..."


"aku ekspreso saja, jangan terlalu panas, hangat saja. ukurannya samakan saja..." ucap Andra saat pelayan itu dengan ramah menanyakan apa yang akan mereka pesan di meja kasir.


"dengan siapa...?" tanya pelayan itu.


"Andra..."


"baiklah, silahkan lakukan pembayaran..."


"sudah..."


"terima kasih, silahkan tunggu pesanannya..."


Mereka berdua mundur, mencari kursi yang tak jauh dari kasir itu supaya terdengar saat nanti pesanan mereka sudah siap. Mereka duduk berhadapan dan beberapa kali pandangan mereka bertemu, Jingga yang merasa diintimidasi oleh pandangan Andra hanya menunduk malu seperti ABG yang baru pertama kali kencan.

__ADS_1


Nama mereka di panggil, berarti pesanannya sudah siap, keduanya bergerak mengambil minumannya masing masing kemudian mencari kursi kosong sebagai tempat mereka menikmati minuman yang telah di beli.


"kenapa kau suka kopi...?" tanya Andra membuka pembicaraan. Ia mulai ingin menikmati waktu bersama dengan Jingga, meski masih canggung dam bingung harus membahas apa.


"entahlah, yang jelas dengan meminum kopi dingin seperti ini bisa membuat tubuh aku terasa lebih segar..." jelas Jingga, ia menyeruput kopi itu. Terlihat Jingga terlihat sudah pamiliar dengan kopi yang sedang ia nikmati itu.


Nampaknya sudah ada rasa kagum dari Andra untuk Jingga setelah mendengar semua perjalanan hidup gadis yang penuh liku bahkan mungkin bisa di katakan sengsara itu. Dalam hati Andra ingin sekali meminta maaf pada Jingga atas semua kesalahan yang ia lakukan kemarin kemarin.


"kenapa kau menatap ku begitu, ada yang salah..." ucap Jingga. Gadis itu menangkap basah Andra yang melamun sambil memandang dirinya.


"ah tidak, tidak ada masalah..." cakap Andra. Sedikit malu sebenarnya dirasakan Andra ia bak kucing yang ketahuan mencuri ikan.


"kau sering datang ke tempat ini...?" tanya Jingga.


"ya, aku sering datang ke tempat ini..." jawab Andra. Kopi yang ia pesan ternyata terlalu panas jadi ia harus lebih sabar untuk bisa menikmati minuman itu.


"pantas saja..."


"kenapa..."


"lihat banyak perempuan yang memandang ke arah mu..." ucap Jingga. Rupanya gadis itu dari tadi menelisik sekitar karena banyak mata yang menatapnya, rupanya Andra yang menjadi pusat perhatiannya.


"jaga ucapan mu, aku tidak cemburu padamu..." ketus Jingga. "itu minuman ku kembalikan..." gadis itu terkejut saat Andra tanpa izin mengambil minumannya.


"minuman ku masih panas tapi aku haus jadi aku minta punya mu.." begitu renyah sekali ucapan Andra. Tanpa rasa bersalah ia meminumnya sampai habis.


"kau bisa pesan lagi, kenapa kau meminum punya ku, apa kau tak risih..."


"untuk apa risih, bekas minuman mu apa lagi bibir mu..."


"jaga ucapan mu..."


"jadi diam lah, jika kau mau lagi silahkan pesan lagi..."


"jaga ucapan mu Andra..."


"aku tidak berbohong, bibir mu manis..." ungkap Andra. Sebenarnya sedikit terdengar prontal bila Andra berkata demikian apalagi sekarang mereka tengah berada di tempat umum.

__ADS_1


"Andra..." emosi Jingga saat itu, ia tak habis pikir laki laki itu bisa berkata seperti itu, padahal Jingga rasa ingin lupa adegan itu, ciuman pertamanya sungguh tak spesial.


Jingga meninggalkan Andra yang masih duduk, ia benar benar di kuasa emosi, ia tak berharap jika Andra akan membahas itu di tempat umum, masih ada rumah jika Andra ingin membalas dendam karena tadi Jingga terus saja menghindari ciuman itu.


Andra mengejar Jingga, sadar apa yang ia katakan ternyata salah, tak seharusnya ia berkata demikian bukankah Andra ingin menjalin hubungan baik dengan Jingga, jika begini mungkin terlihat sulit karena Andra belum terbiasa untuk tak mengeluarkan kalimat tajam seperti itu.


"Jingga tunggu..." tangan Andra meraih Jingga saat gadis itu sudah menuruni anak tangga.


"tunggu, kenapa kau marah...?" ucapan Andra lagi lagi salah, tak seharusnya ia berkata demikian, ia menyinggung perasaan Jingga jadi wajar bila Jingga marah.


"lepaskan aku Andra..." tangan Andra di tepis oleh Jingga.


"Jingga tunggu dulu. ."


"Andra kau membuat ku malu, tak ada tempat lain kah untuk membahas itu..." marah Jingga. Suara gadis itu bergetar.


"baiklah maafkan aku..." ucap Andra. Akhirnya laki laki itu mengalah, menurunkan egonya agar tidak terjadi pertengkaran, apa lagi mereka tengah berada di luar rumah takut jika Jingga akan pergi.


Jingga hanya menggeleng kecil tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya itu, hal seperti itu di jadikan guyonan di muka umum membuat dirinya malu.


"mari pulang..." ucap Andra. Laki laki itu berusaha untuk meluluhkan Jingga, diraihnya tangan gadis itu lalu membawanya pergi dari tempat itu, memasuki mobil dan lalu pergi.


Lagi lagi tak ada suara di antara mereka, padahal sebenarnya jika mereka mau banyak sekali yang bisa mereka bahas namun apa daya mereka memilih bungkam. Terutama Jingga yang masih belum bisa paham dengan apa yang dilakukan oleh Andra barusan.


Mereka sudah sampai di papiliun, awalnya Jingga tak mau membantu Andra untuk membawa barang hasil belanjaan mereka tadi tapi ia tak sampai hati melakukan itu, meski sedang kesal akhirnya ia menolong laki laki itu, membawa barang yang mampu ia bawa.


Andra tersenyum melihat itu, rupanya terlihat lucu juga saat istrinya masih mau membantunya meski ia sedang kesal padanya.


"ahh, lelahnya..." ucap Andra. Ia langsung duduk sembarang di kursi sofa panjang itu, sambil memegang punuknya yang mungkin pegel karena habis berkendara lumayan jauh.


"minumlah, lalu mandi..." Jingga membawakan Andra satu gelas minuman berwarna merah, mungkin sejenis jus yang menyegarkan.


Melihat itu Andra di buat bingung, dalam keadaan merajuk saja Jingga bisa seperhatian ini padanya padahal ia sudah tak terhitung lagi melukai perasaan gadis itu. Rasanya kagum itu semakin bertambah jumlahnya di hati Andra, gadis itu ternyata tidak seburuk apa yang ia kira.


.


.

__ADS_1


.


●●●■■■●●●


__ADS_2