
Suasana pagi ini sedikit mendung, tanah basah akibat gerimis yang turun bersama dengan kabut yang menutupi sinar matahari yang harusnya sudah menyala. Begitu pun dengan Andra, rasanya ia enggan sekali meninggalkan kasur terutama Jingga yang tak melakukan apapun selalu memberikan kehangatan baginya.
Beberapa saat yang lalu Jingga sedikit mengomel karena Andra tak kunjung mau melepaskan pelukannya padahal jam sudah menunjukan waktu untuk dirinya berbenah untuk pergi ke kantor hingga akhirnya Andra mengalah dan melepaskan Jingga serta beranjak menuju kamar mandi.
Waktu terus beranjak meski sudah agak terlambat tapi Jingga menyiapkan sarapan untuk suaminya itu dengan senang hati meski tadi ia sempat kesal karena sikap kekanakan yang Andra ulangi lagi.
"Jingga bisa kau tolong aku..." ucap Andra, laki laki itu nampak kesulitan membetulkan posisi kerah baju yang ia gunakan padahal itu adalah hal mudah yang mungkin anak kecil saja bisa melakukannya.
"tunggu sebentar..." jawab Jingga.
Perempuan itu meraih apa yang tadi Andra berusaha benarkan namun tak kunjung benar juga. Namun entah kesulitan apa yang Andra maksud padahal dengan beberapa detik saja pekerjaan yang tadi Andra bila sulit sangatlah mudah Jingga lakukan.
"selesai..."
"terima kasih..."
Ketika hendak memberikan ciuman pagi saat itu namun Jingga menghindar tak seperti biasanya.
"kenapa...?" tanya Andra.
"malu..."
"oleh siapa...?"
Jingga diam tak menjawab sebelum akhirnya kedua manik matanya memberi isyarat pada Andra untuk melihat sesosok wanita yang tengah duduk melihat kemesraan kakak dan iparnya tepat di depan mata.
"kau, sejak kapan kau disini...?" tanya Andra yang tentu saja untuk gadis manis yang tengah duduk itu.
"a-aku..."
"Freeya baru datang barusan..." Jingga mencoba menjawabnya pertanyaan Andra untuk Freeya yang terlihat gagap.
Tak ada senyum di bibir Andra, raut wajah datar bahkan cenderung masam Andra gambarkan di garis mukanya.
Jingga menuntun suaminya itu untuk duduk, meski sebenarnya Andra tak mau tapi apa daya Jingga sudah mengancamnya dengan sesuatu yang menakutkan hingga Andra tak mampu menolak.
Sejenak suasana canggung tercipta, terlihat Freeya yang menggigit bibir bawahnya seakan menetralkan perasaannya sendiri yang mungkin saat itu sangat dan sedang berkecambuk.
__ADS_1
"ku buatkan minuman hangat sepertinya enak diminum di suasana dingin begini..." ucap Jingga, nampaknya perempuan itu sedikit bingung harus memulai dengan cara apa agar kakak beradik yang tengah duduk berhadapan itu bisa memulai pembicaraan yang arah dan tujuannya sudah bisa dengan jelas ia tebak.
Jingga meninggalkan Andra dan Freeya dan tak selang lama datang dengan tiga gelas susu coklat hangat dengan roti bakar yang tadi sudah Jingga siapkan untuk sarapan pagi Andra.
"cicipilah Freey selagi hangat..." ucap Jingga setelah selesai menyimpan semua yang ia bawa di atas meja.
"terima kasih kak..." Freeya tersenyum.
Kembali hening.
"aku lihat kak Andra begitu bahagia dengan kak Jingga..." ucapan pembukaan dari Freeya yang menohok untuk Jingga namun di tanggapi beda oleh Andra.
"tentu saja aku bahagia, kenapa kau tak suka..." ketus Andra menjawab yang membuat Freeya sontak menatap Andra dengan tatapan nanar seolah tak percaya dengan apa yang kakaknya itu ucapkan.
"Andra..." ucap Jingga.
"tidak kak, aku suka bahkan aku bahagia karena kak Andra mendapatkan orang yang tepat untuk mendampingi kak Andra..." ungkap Freeya.
"tentu saja Jingga orang yang tepat bagiku, setidaknya ia tak pergi disaat aku membutuhkannya..." jawab Andra dengan ketusnya pada Freeya.
Jingga yang menyadari situasi semakin tidak kondusif menjadi bingung terlebih nada bicara Andra yang terdengar menusuk meski tak bernada tinggi.
"menurut mu..." Senyum penuh kebencian tergurat di bibir Andra.
"ya, aku tak seharusnya berkata begitu, kak Andra pasti masih marah padaku..." jawab Freeya menanggapi ucapan Andra.
Andra tak bergeming atas ucapan adiknya itu, sorot matanya masih menggambarkan kebencian tak ada sedikit gurat lain yang tergambar disana.
"jika urusan mu sudah selesai pergilah aku harus pergi bekerja..." ucap Andra sambil melihat arlogi yang sudah terpasang di tangan kanannya.
Jingga terperanjat ia paham bahwa yang di katakan suaminya barusan adalah mengusir adiknya sendiri dengan halus.
"Andra apa yang kau katakan, Freeya baru saja datang..." ucap Jingga tak mau semuanya jadi semakin keruh. Perasaan Andra yang menggebu gebu dan Freeya yang terus saja diam membuat situasi semakin runyam.
"aku ada miting hari ini..." jawab Andra.
Dalam hati Jingga mengutuki perbuatan suaminya itu kenapa sikap kerasnya kembali hadir di saat yang seperti ini, dalam kondisi dimana seharusnya Andra bisa bersikap dewasa, Jingga masih belum lupa beberapa menit yang dulu saat Andra
__ADS_1
"maaf jika aku mengganggu waktu kak Andra tapi sebelum pergi bisakah kak Andra mendengar apa yang mau aku katakan..."
Andra menilik Freeya enggan, raut wajah yang terus saja datar di tampilkan oleh laki laki beralis tebal itu.
"baiklah, sepuluh menit aku memberikan mu waktu bicara...."
Jingga terkejut, ia tak habis pikir jika kerasnya hati suaminya itu sungguh menakutkan bahkan pada adiknya sendiri yang dulu sangat ia sayangi.
"mungkin aku lancang berbicara seperti ini tapi dari hati yang paling dalam sungguh aku ingin meminta maaf dari kak Andra..." ucap gadis itu tanpa membuang waktu mengutarakan apa yang ia ingin katakan selama ini. "maaf jika aku malah pergi meninggalkan kak Andra saat kakak sedang butuh teman untuk saling menguatkan..." sambung Freeya.
Andra masih tak bergeming, tatapan tajam sungguh menakutkan.
kemudian suasana kembali hening.
"itu saja yang ingin kau katakan...? sudahlah kau lebih baik pergi..." ucap Andra
Laki laki seolah meruntuhkan sebongkah semangat yang telah susah payah Freeya bangun untuk berani berkata demikian.
"tak adakah rasa iba dari kak Andra untukku, bertahun tahun kakak bersikap dingin seperti ini padaku, belum cukup kak Andra membuat aku tersiksa hidup seperti ini..." Freeya meledak, akhirnya ia mengungkapkan hal yang selama ini menjadi gunung di hatinya yang setiap hari mengumpulkan magma hingga saat ini meledak dengan sendirinya.
"haruskah aku memberi jawaban atas semua itu, Freeya berhentilah bersikap kekanakan kau bukan lagi anak kecil yang harus dilindungi..." timpal Andra.
"justru kak Andra yang harusnya berhenti bersikap seperti ini, sampai kapan kakak akan menyalahkan aku atas keadaan yang telah berlalu, aku tau aku memang salah karena telah pergi di saat yang tidak tepat tapi bisakah kak Andra membuka sedikit telinga kak Andra untuk mendengar apa yang sebenarnya terjadi saat itu..." Freeya tak mau kalah.
"kau pikir aku bodoh, aku sudah tau semua, saat kau pergi karena tak ingin bersama keluarga mu sendiri disaat saat paling sedih karena telah di tinggalkan ayah..." menggebu gebu amarah Andra saat itu.
"hah, hanya itu yang kak Andra tau, hanya sebatas itu saja, apa sekretaris kepercayaan kakak itu tak memberi tau hal yang sebenarnya, apa yang terjadi pada ibu juga aku saat itu..." semakin bersemangat Freeya berkata, tangannya mengepal memegang bantal yang sedari tadi telah berada di pangkuannya.
"maksud mu Raga, cukup Freeya tak usah membawa bawa orang lain untuk menutupi semua kesalahanmu, kau harus bersikap dewasa..."
"dewasa...? kakak bilang dewasa, harusnya kak Andra yang harus bisa lebih dewasa, coba lihat aku dari sisi lainnya kak, aku tak mau terus begini...."
.
.
.
__ADS_1
♡♡♡♡