Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
awal pengaruh


__ADS_3

Jingga diam, menutup matanya dengan nafas yang masih ia cari cari, rasa sesak masih terasa di dadanya setelah apa yang ia alami barusan. Saat ini suasana hatinya tak lagi baik setelah semua perkataan Yudha seolah menghinanya dengan terang terangan.


"Jingga, apa kau menyesal menikah dengan ku...?" ulang lagi Andra bertanya pada Jingga, ia menanti jawaban dari perempuan yang kini masih terlihat terisak itu.


"Andra haruskah aku menyesal setelah semua ini terjadi, haruskah...?" jawab Jingga, perempuan itu masih berderai air mata.


"jika kau tak menyesal mengapa kau seolah menyalahkan ibu ku atas ini semua, bukankah ini semua jalan yang memang harus kita lewati..." ucap Andra, laki laki itu berupaya sekali meredam emosinya sendiri di depan Jingga, ia paham betul jika ia meledak semua hanya akan memperkeruh suasana, Jingga bukan tipikal perempuan yang mau di beri sikap keras.


"Andra apa kau tidak merasa, adik mu itu membuat ku terpojok, semua perkataannya seolah mengolok olok diriku seolah aku ini adalah barang dagangan..." ucap Jingga, emosinya masih memuncak membuat Jingga masih saja menangis, maklum saja perempuan sangat sulit berhenti menangis.


"aku tau untuk itu tadi aku membentaknya, aku tau kau terluka akibat perkataanya tapi ku mohon jangan salahkan ibu ku, karena ia adalah wanita yang paling aku sayangi..." ucap Andra berusaha memberi pembelaan pada Jingga ditengah keadaan Jingga yang kalut dan terbalut emosi. Andra tak mau membuat keadaan makin keruh, akan fatal akibatnya bila keadaan semakin buruk.


Jingga termenung dan pundaknya masih naik turun tanda jika ia masih menangis, belum bisa ia mengontrol perasaannya sendiri setelah semua yang ia dapatkan dari Yudha.


"kau tau Jingga justru aku begitu berterima kasih pada ibu ku karena telah memberikan mu padaku bukan pada Yudha, Jingga aku bahagia bersama mu..." sambung Andra, laki laki itu tak bisa lagi menahan diri untuk tidak mengatakan itu semua pada Jingga, terlalu berat melebihi beban pekerjaan.


Jingga menatap Andra setelah perkataan itu lolos dari mulut laki laki itu, perkataan yang terdengar manis namun karena situasinya sedikit tak tepat membuat Jingga berpikir jika itu semua hanya kalimat penghibur saja.


"aku tau aku begitu menolak mu diawal dan kini aku menyesalinya, kau terus saja bersikap baik pada ku meski aku begitu jahat padamu..." sambung Andra lagi, laki laki terus berkata jujur pada Jingga yang membuat perempuan itu terharu dalam tangisnya.

__ADS_1


"aku marah pada Yudha, bahkan sangat marah rasanya hatiku sakit melihatmu menangis seperti ini..." lanjut Andra.


Laki laki itu merubah posisi yang awalnya duduk di samping Jingga kini ia seakan memohon merendahkan diri dihadapan perempuan yang kini tengah menangis itu. Tangan Andra dengan hati hati meraih tangan Jingga dan menggenggamnya penuh kasih, sentuhan yang ia harapkan bisa membawa satu rasa terhadap Jingga yang pasti perasaan dan batinnya tengah tergoyang.


Jingga kaget.


"Jingga ku mohon jangan salahkan siapapun atas kita ini, aku mohon..." Andra memohon pada Jingga dengan persimpuh di hadapannya, di atas lutut yang bergetar karena menangis dan terkejut karena sikap Andra yang seakan meninggalkan semua ego dan rasa kuasanya selama ini.


"Andra bangunlah jangan seperti ini..." Jingga jadi serba salah ia tak menyangka jika Andra akan melakukan itu semua, ia tak pernah menyangka bahkan membayangkannya saja ia tak mau apalagi kini itu semua terjadi di hadapannya.


"tidak Jingga, biarkan aku seperti ini..." ucap Andra, laki laki itu seolah ingin membalas pada dirinya sendiri atas apa yang telah ia lakukan pada Jingga di awal pernikahannya, penyiksaan dan penghinaan yang ia lakukan pada Jingga saat itu sungguh sangat ia sesali saat ini.


"Andra jangan seperti ini, kau membuat aku menjadi lebih sedih..." ucap Jingga yang kini telah berhadapan dengan Andra.


"Jingga, mungkin aku terlalu banyak berbuat salah pada mu tapi sungguh maafkan aku, jangan salahkan ibu atas semua ini..." Andra larut dalam sedih rupanya wajahnya saja yang garang ternyata hatinya begitu mudah tersentuh dan tergetar.


"aku sudah memaafkan mu dan aku tak menyalahkan ibu atas aku dan kau, mungkin ini sudah jalan takdir kita berdua..." ucap Jingga, ia begitu pandai membuat seseorang kuat atas suatu kondisi tapi ia sebaliknya dulu ia sering menangis sendiri jika sudah tak kuat lagi menanggung semua tanggung jawab sendiri, tanggung jawab hidup yang berat.


Tangan Jingga membelai pipi Andra, ia tau jika laki laki itu hendak menangis namun di tahan sekuat tenaga, ibu jadinya mengelus lembut kulit pipinya, seolah memberi sentuhan untuk tenang dan kuat.

__ADS_1


Sesaat situasi dikamar itu begitu sendu, masing masing larut dalam sendu yang menggulung mereka, baik Andra maupun Jingga seolah tak mau saling menyakiti lagi dan tak mau salah satu dari mereka membenci siapapun atas menyatukan mereka kini, yang mereka inginkan hidup bersama dengan bahagia meski mereka di awali dengan keterpaksaan yang akhirnya membuat mereka saling membutuhkan.


*


Diluar Yudha sedang duduk di bangku panjang halaman belakang rumah itu, menatap langit yang gelap tanpa bintang dan angin yang bertiup cukup kencang.Cuaca malam itu seolah menggambarkan bagaimana suasana hati Yudha kala itu, penuh kebencian juga iri serta dengki yang tertuju pada orang orang yang tak semestinya ia benci.


Melihat sikap Andra dan Jingga yang begitu marah saat makan malam tadi sebenarnya cukup menggambarkan jika mereka sudah saling menerima atas pernikahan yang diawali oleh keinginan ibu mereka itu, Yudha menyesali semua karena telah melepaskan Jingga hingga membuat Jingga kini berada dalam posisi yang tak pernah bisa ia gapai untuk selamanya.


"Jingga, sampai kapan pun aku tak akan melepaskan mu..." begitu ucap Yudha pada angin, kemudian lenyap bersama dengan tiupannya yang berbaur dan terbentur tembok.


Rasa benci dan iri memang begitu mengerikan, membuat seseorang yang awalnya semanis madu dan selembar sutra kini berubah menjadi seseorang yang begitu menakutkan, begitu pula dengan Yudha. Rahang laki laki itu menguat seolah menggambarkan betapa ia begitu berambisi atas semua kehendaknya saat itu.


.


.


.


●●●●

__ADS_1


__ADS_2