Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
karena mandi


__ADS_3

Selesai mandi itu, Andra kembali keluar kamarnya untuk melihat apa yang Jingga lakukan, ternyata gadis itu tengah merapihkan hasil belanjaan mereka tadi. Biasanya saat belum asa Jingga ia hanya berbelanja makan cepat saji saja lalu menarunya sembarang tak peduli berantakan nanti akan datang seseorang yang di sewa untuk membersihkan itu semua juga papiliun itu.


"ini sudah larut malam, kenapa kau masih beraktifitas...?" ucap Andra sambil memperhatikan gadis itu yang masih saja sibuk.


"kopi tadi membuat aku merasa segar..." jawab Jingga ketus. Rasa kesal masih Jingga rasakan.


Andra mengangguk, memang benar kopi tadi cukup memberikan efek pun pada dirinya, meski telah mandi supaya memberikan efek rilek nyatanya rasa kantuk tak kunjung datang.


"kau belum mandi...?" tanya Andra, ia sadar saat melihat Jingga masih menggunakan pakaian yang tadi ia gunakan keluar rumah.


"belum, ini masih ada yang harus di bereskan..." ucap Jingga. Gadis itu asik saja sendiri meski Andra sedang mengajaknya berbincang.


"mandilah dulu sebelum malam semakin larut, ini biar aku yang lanjutkan..." ucap Andra inisiatif meski ia tak tau bisa melakukannya atau tidak.


"tak usah.."


"cepat sana, atau kau mau aku yang memandikan mu...?" perkataan Andra itu cukup membuat Jingga kaget.


"waw, sangat menyeramkan sekali..." ucap Jingga.


"kalau begitu cepatlah..."


Jingga meninggalkan Andra, membiarkan laki laki itu mengambil alih tugasnya yang padahal tinggal sedikit tapi karena ancaman Andra cukup terdengar horor membuat Jingga akhirnya beranjak menuju kamar mandi.


Memang benar badan Jingga terasa sangat lengket padahal ia keluar papiliun bukan di siang hari tapi tetap saja ia berkeringat.


Jingga menyalakan shower air, diam tapi pasti air itu membasahi setiap bagian dan setiap lekuk tubuh Jingga, mulai dari pucuk rambut mengalir hingga ujung kaki gadis itu. Air yang mengalir bersinar bak kristal di tubuh Jingga di tambah dengan pencahayaan yang cukup intim di ruangan itu membuat pemandangan indah itu semakin mempesona.


Lekuk tubuh yang benar benar mulus tanpa cela, yang setiap incinya dapat membuat terlena yang nanti akan dengan status suami akan menikmati itu semua, sungguh karya Tuhan memang tak bisa di ragukan lagi, bahkan dalam sebuah tubuh gadis yang masih perawan ini.


Suara gemericik air semakin membuat intim suasana, sebuah tangan kekar memeluk Jingga dari belakang, memberi sentuhan diatas pusar yang membuat Jingga menggeliat. Bibir laki laki itu menjelajah di telinga Jingga, mengecup mencium bahkan sampai menggigit kecil sebagai upaya agar gelora Jingga semakin terbakar.


Dua gunungan yang sudah tak berbalut apa pun itu semakin menantang, ditambah dengan pucuknya yang masih berwarna indah itu semakin menegang. Laki laki itu tak puas sampai disana, di sentuhnya lembut daging empuk itu, membuat Jingga semakin meregang bahkan sampai mendesah, tangan kanannya menjambak manja rambut laki laki itu dan tangan kirinya mencoba mengehentikan permainan tapi itu semua hanya caranya untuk meminta permainan lebih.

__ADS_1


"Andra..." akhirnya lolos juga ucapan itu. Laki laki semakin bersemangat saat Jingga dengan penuh godaan menyebut namanya, gesekan antara tubuh mereka membuat panas tercipta meski air masih mengalir untuk membasahi. Gelora semakin memuncak, tangan nakal itu semakin jauh mengekplor tempat yang indahnya melebihi taman surga.


"ahh, jangan..." ucap Jingga saat sesuatu menyentuh kelopak bunga mawarnya di bawah sana, bagian yang selama ini ia jaga dengan hidupnya. "nikmatilah..." ucap laki laki yang telah menguasai dirinya itu. Jingga mengangguk sekaligus menggeleng, ia bahkan tak paham atas apa yang ia rasakan sendiri, semua rasa yang muncul saat ini terasa baru pertama kali ia rasakan, banyak kupu kupu di dalam perutnya yang membuat sensasi menggelitik dan sengatan listrik yang luar biasa kuat menjalar ke seluruh tubuhnya saat tangan itu seolah menyentuh lagi bagian ujung gunung cantik miliknya itu.


"kau suka...?" tanya laki laki itu, tangannya masih bergerilia, menyentuh apa yang ingin di sentuh, meremas apa yang pantas di remas.


"tentu..." Jingga sudah tak bisa lagi mengontrol dirinya lagi, sisi lain Jingga mulai terungkap caranya menikmati sentuhan laki laki itu sungguh sangat menggoda, bibirnya yang ia gigit kecil, mata yang seolah mengajak perang dengan kedipan dan tatapan sendu penuh gairah serta suara ******* yang sengaja ia buat nyaring supaya lawan mainnya semakin memperdalam permainan itu.


"kau ingin lebih...?" tanya Andra yang sudah pasti mendapat anggukan setuju dari Jingga, dengan lembut Andra membalikan tubuh polos Jingga, terlihat sangat sempurna terlebih rambut panjang Jingga yang sedang basah semakin membuat pemandangan itu lebih indah. Andra mencium lembut bibir Pink menggoda milik Jingga, awalnya hanya kecupan namun karena gelora yang semakin membuncah membuat keadaan semakin tak terkendali.


Meski ini semua adalah awal bagi keduanya tapi mereka terlihat lihai melakukannya. Kecupan panas telah terjadi, di selingi oleh ******* menggoda dari Jingga yang lagi lagi bagian sensitipnya di permainan oleh Andra.


"Andra..." ucap Jingga. Tubuhnya sudah sangat menegang, sudah sangat ingin melakukan permainan yang menawarkan kesenangan yang lebih jauh lagi, kenikmatan yang lebih sempurna lagi.


"apa sayang..." jawab Andra, laki laki itu seakan belum puas melihat Jingga yang nampak sudah sangat merah merona, menerima semua yang tindakannya yang membuat gadis itu terbang melayang.


"aku sudah tidak tahan lagi..." ucap Jingga, gadis itu seakan ingin menyerah tak sanggup lagi menahan gejolak yang begitu besar dalam dirinya, gejolak yang harus ia saluran supaya bisa tidur nyenyak.


"kau ingin aku bagaimana..?" tanya Andra, laki laki itu semakin mempermainkan Jingga, seolah gadis itu yang menginginkan itu semua.


Melihat Jingga yang sudah sangat terbakar akhirnya nurani Andra terpanggil rasanya sudah cukup membuat gadis itu memerah akibat nafsunya sendiri padahal ia yang memancing.


"kita pindah ke kamar saja..." ucap Andra yang di jawab dengan anggukan dari Jingga. Andra menggendong tubuh Jingga yang memang sudah polos dari tadi di tambah sudah menegang karena sudah habis habisan di stimulasi oleh Andram Dengan lembut Andra merebahkan tubuh Jingga di dalam kasur, kemudian menindih tubuh itu.


"bagaimana caranya..." tanya Jingga tak sabaran, dari sorotan mata gadis itu memang nyata terlihat sebuah tatapan penuh keinginan, keinginan yang harus segera terpenuhi.


"sabar sayang.." ucap Andra. Laki laki itu kembali mempermainkan gadis itu, bibirnya kembali menyambar bibir stawberi milik Jingga, menghisap bahkan menggigitnya membuat Jingga semakin gelagapan karena semakin tak sabar.


Kedua tangan Jingga kini ikut bertamasya seolah ingin ikut andil membuat Andra ikut bergelira bersamanya. Ia memberikan sentuhan yang menawarkan kesensualan di punggung Andra yang membuat Andra menggeliat namun tak memperbolehkan untuk menghentikan itu semua. Semakin lama semakin panas, semakin tak tahan pula keduanya menahan gejolak yang hampir saat ini, permainan inti memang harus segera dilakukan.


"kau siap...?" tanya Andra, nafasnya memburu seperti orang yang baru saja lari lapangan.


"tentu..."

__ADS_1


Andra memulai permainannya, dengan hati hati laki laki mengarahkan senjatanya ke tempat yang akan membuatnya merasakan surga dunia untuk pertama kali bersama dengan perempuan yang telah halal baginya, tak akan ada murka Tuhan bila mereka melakukannya.


"sempit sekali..." ucap Andra. Ia tak menyangka butuh perjuangan kuat untuk mendapatkan yang di mauinya seperti haknya terhadap Jingga ini.


"terus Andra, lakukan..." racau Jingga. Gadis itu semakin tak terkendali lagi, nafsu sudah menggulungnya membuat dirinya lupa diri bahkan lupa jika kemarin Andra dengan sadar terus melukainua.


"baiklah..." Andra terus berusaha memasuki itu semua, mencari cara agar bisa sampai di tempat tujuan dan jeritan Jingga terdengar sendu saat sesuatu terasa ada yang robek di dalam sana.


"Andra sakit..." ucap Jingga, setitik air matanya mengalir di pipi. Rasa sedikit panas, sakit dan ngilu bercampur di bawah sana, di tempat bersarangnya senjata perang Andra.


"kita sudahi saja..." ucap Andra, ia merasa iba dengan keadaan Jingga yang kesakitan akibat ulahnya, ulahnya yang ingin berperang.


"tidak Andra, lakukalah..." ucap Jingga.


Mendapatkan persetujuan yang indah dari Jingga membuat Andra tersenyum menang, ia mulai melakukan permainan amatir yang ia bisa, memberikan gerakan gerakan kecil yang membawa efek yang luar biasa bagi keduanya. Awalnya gerakan itu lembut, lama dan semakin lama gerakan itu semakin penuh api.


"Andra..." ucap Jingga, tubuhnya semakin tak bisa menahan lagi, gerakan yang Andra beri memberikan sensasi luar biasa pada Jingga, ia semakin tak terkendali.


"terus sebut nama ku sayang..." Andra mulai terbakar oleh permainan, terlihat dari gerakanya yang semakin penuh semangat.


"Andra, aku sudah tidak kuat..." jerit Jingga.


"tunggu sayang..." ucap Andra.


Kini Andra memposisikan Jingga di atas tubuhnya, membiarkan gadis itu mengambil alih permainan, membiarkan nya melakukan apa yang gadis itu mau. Dan benar saja, terjadi sensasi yang berbeda, Jingga semakin terbakar dan dirinya semakin menikmati permainan yang baru pertama kali ia lakukan.


Hingga akhirnya Jingga sudah tak kuasa lagi, tubuhnya ambruk menimpa tubuh Andra dan kemudian di susul Andra yang juga merasakan puncak dari permainan panjang yang ia mulai tadi.


"terima kasih..." ucap Andra sambil mengecup pucuk rambut gadis yang kini telah menjadi istrinya secara utuh yang cepat atau lambat akan menjadi ibu dari anak anaknya kelak.


.


.

__ADS_1


.


♡♡♡♡♡♡♡


__ADS_2