
Jingga membulatkan matanya, manik manik hidup itu cenderung membesar saat itu.
"apa...?" tanya Jingga terkejut.
Sebelumnya Andra menyebutkan syarat syarat untuk Jingga sebagai balasan untuk Andra setelah mau memberi maaf pada Freeya.
"yang pertama, kau harus menjadi istri ku selamanya, tak peduli siapapun yang akan mencoba memisahkan kita..." ucap Andra.
Jingga tersenyum, itu bukan syarat tapi itu keharusan, ia tak akan menikah lagi meski Andra menceraikannya, lihatlah nyonya Cantika yang tak menikah lagi setelah tuan Rama meninggal dunia, wanita itu tangguh dengan caranya sendiri, berdiri diatas kaki yang kuat dengan prinsip bahwa ratu tak pernah memperlihatkan sedihnya di depan rakyat.
"yang kedua, kau harus mengurusiku seperti apa pun keadaan ku, sekarang atau nanti aku sudah menua..." ucap Andra lagi.
"ahhh aku tau itu, tanpa di perintah pun aku akan melakukannya..." Jingga menjawab dengan tersenyum garing.
Andra tersenyum, bukan tulus tapi cenderung licik.
"ke tiga..."
"wah masih banyak...? ku kira satu..."
Andra menatap gadis yang ada di hadapannya itu dengan tatapan menelisik seperti hendak bilang jangan berisik.
"ahhh maaf maaf silahkan lanjutkan lanjutkan..." begitu ucap Jingga sambil menggaruk kepalanya yang lagi lagi tidak gatal.
Jingga menerka dan menebak apa yang akan Andra ucapkan karena saat melanjutkan syarat selanjutnya Andra memberi jeda cukup panjang yang memberikan rasa penasaran dari Jingga tumbuh dan bersemi.
"yang ke tiga..."
"aku ingin memiliki dua anak dari mu..." ucap Andra.
Kedua mata Jingga membulat sempurna, kaget cenderung tak percaya dengan apa yang Andra ucapkan apalagi saat ini berbicara soal anak. Jingga menutup mulutnya dengan tangannya sendiri karena sedari tadi tak sadar menganga.
"apa...?"
__ADS_1
"kenapa, ada masalah...?"
Sebenarnya bukan ada masalah hanya saja Jingga terkejut dengan permintaan Andra, ini masalah anak. Mungkin bagi Andra mudah untuk bisa membuat Jingga hamil, ah itu perkara mudah meski ia tak tau jika Jingga sudi atau tidak menerima benih yang ia tanam untuk hidup dan berkembang di rahim dalam perutnya tapi bagi Jingga lain.
"bukan ada masalah, tapi..."
"tapi apa, kau tak mau...?" tanya Andra.
Jingga kembali diam, batinnya berperang atas permintaan suaminya itu, memang sudah kewajiban dirinya untuk melayani suami, mengikuti semua keinginannya bahkan tentang ranjang dan anak tapi apa ini semua tidak terlalu cepat, meski begitu memiliki anak dari Andra bukan lagi hal yang mustahil untuk Jingga, semua itu tinggal menunggu waktu karena cepat atau lambat semua akan terjadi, selain karena usia mereka yang sedang produktif mungkin aktivitas yang halal bagi suami istri itu sering mereka lakukan di belakang layar.
"apa kau yakin ingin memiliki anak dariku...?" tanya Jingga.
"kenapa, aku tak pernah ragu atas apa yang aku inginkan...? apa kau keberatan...?" jawab dan tanya Andra balik pada Jingga.
Seolah tak percaya pada apa yang di katakan oleh Andra, Jingga diam bukannya menjawab, di bukannya enggan tapi ia masih belum yakin terlebih apa yang Andra lakukan dulu padanya, menolaknya habis habisan bahkan seakan ingin membuat Jingga pergi dari hidupnya dan kini dengan entengnya Andra bilang ingin memiliki dua anak dari Jingga, memang bukan hal yang sulit di percaya karena tangan Tuhan memang paling bisa membolak balikan hati manusia.
"baiklah jika kau tak mau tak apa, aku tak memaksa..." ucap Andra seolah pasrah karena Jingga tak kunjung menyetujui keinginan dan syaratnya yang terakhir itu.
Jingga menangkap sinyal yang tak biasa dari Andra, lelaki yang ada di hadapannya itu seolah kecewa atas sikap Jingga yang diam tapi bagaimana pun juga memang semua itu harus terjadi.
"baik, aku setuju..." jawab Jingga saat Andra sudah mengambil langkah untuk pergi.
"kau yakin...?" saat ini malah Andra yang bertanya balik seolah tak yakin pada Jingga.
Jingga ikut berdiri dan menatap Andra lekat, kedua tangan Jingga meraih pipi lelaki yang dingin seperti kulkas itu.
"aku ini istrimu, sudah kewajibanku untuk memenuhi semua keinginan mu termasuk soal anak, maaf jika barusan aku bersikap seolah berpikir atau bahkan menolak untuk mewujudkannya tapi untuk memiliki anak kita harus mempersiapkan semuanya dengan baik dan juga butuh waktu, untuk itu hilangkan semua rasa ragu mu itu, aku mau jadi ibu untuk anak anak mu asalkan kau berjanji akan jadi ayah yang baik untuk anak anakku..." ungkap Jingga.
Sesaat keadaan disana menjadi melow, entah hembusan angin dari mana yang membuat suasananya menjadi begitu terasa manis. Jingga tersenyum dan Andra menatapnya bahkan tak ada yang menghalangi tatapan Andra saat itu untuk melihat raut wajah perempuan yang telah mampu bertahan bersamanya di tengah gempuran usahanya berpisah saat awal pernikahan.
"jadi kau setuju...?" tanya Andra seolah enggan jika Jingga tau bahwa dirinya tengah terbawa suasana, sikap manis Jingga memang tergambar dari wajahnya yang meneduhkan bahkan bisa menaklukkan siapapun yang menatapnya.
"ya, aku setuju, jangankan dua, empat enam delapan aku siap, tapi..."
__ADS_1
"tapi apa...?" tanya Andra.
Jingga kembali termenung, pikirannya melayang memikirkan hal yang mungkin akan terjadi dimasa depan.
"aku takut kau akan berpaling, mungkin saat aku melahirkan anak pertama dan kedua keadaan tubuhku akan masih biasa saja tapi setelah selanjutnya aku tak tau..." jawab Jingga polos.
Andra tertawa, menertawai sikap Jingga yang seolah tengah merasakan hal yang belum waktunya ia rasakan, bukankah saat ini banyak perawatan tubuh yang bisa membuat wanita gemuk menjadi langsing lagi lalu apa yang Jingga khawatirkan. Tapi itu kekhawatiran yang manusiawi, karena pernikahan tak akan selamanya berjalan mulus, akan ada kerikil bahkan hujan dan badai yang akan menyertai namun itu semua kembali pada yang menjalani.
"kau tertawa...?"
"kau ini bodoh, kenapa kau harus mengkhawatirkan itu, hamil dan melahirkan satu anak saja kau belum lakukan apalagi tiga dan seterusnya..." jawab Andra.
"aku ini hanya berpikir tentang kenyataan yang akan terjadi, toh cepat atau lambat bukan tidak mungkin aku akan mengandung dan melahirkan anak mu..." ucap Jingga yang tak mau kalah.
Entah kenapa Jingga menjadi kesal, sikap Andra yang menertawakan kekhawatiran dirinya memang benar, belum hamil sudah khawatir tapi bukankah para perempuan memang harus berpikir realistis, bukan cuman perkara cinta saja karena cinta tak akan bisa membuat selamanya suasana rumah tangga harmonis, harus ada rasa saling percaya dan yakin terhadap pasangan bahwa selama masih bisa dihadapi bersama maka semuanya akan terasa mudah.
"jadilah istriku yang baik, mungkin tubuh mu akan berubah bentuk, wajah mu juga akan menua tapi berubahnya bentuk tubuh mu itu semua karena aku, karena melahirkan anak anakku, maka nikmatilah hidup dengan ku Jingga, aku akan selalu bersamamu..." ucap Andra seraya menatap mata gadis yang sudah tak perawan itu.
Jingga diam, kata kata manis meluncur dari bibir Andra. Manis...? ya manis, manis sekali bak gula nira yang baru di tuang dari pohonnya. Awalnya Jingga ingin tak percaya tapi apa daya Andra adalah suaminya, sikap manis Andra yang tak setiap hari muncul mungkin membuat Jingga rindu hingga saat ini ia terpesona oleh ungkapan suaminya sendiri itu.
Jingga memanyunkan bibirnya, seolah menyindir suaminya yang sedang romantis.
"ahh manis sekali..."
"peluk aku..." manja Jingga.
Andra tersenyum, seolah setuju dengan permintaan istrinya itu akhirnya Andra membawa Jingga dalam pelukannya, pelukan hangat yang selama beberapa hari terakhir tak Jingga rasakan. Pelukan yang tak boleh ada siapapun lagi yang meraskannya.
Ahhh cinta, begitulah ia bekerja, melawan menghantam bahkan menggerus siapa saja tanpa tau dia siapa, tanpa bisa menolak dan menghindar.
.
.
__ADS_1
.
₩₩₩₩₩