
Dengan lahan Andra memakan makanan yang telah di siapkan oleh Jingga, meski hanya makanan sederhana saja namun rasanya cukup nikmat karena Jingga yang membuatnya.
"enak...?" tanya Jingga, ia merasa senang karena Andra menghabiskan makanan yang ia buat, meski hanya sayur sop dan bubur putih.
"tentu..." jawab Andra, laki laki itu kembali membuka mulut dan memasukan makanan kesana lalu mengunyah dan menelannya.
"setelah itu minum obat lalu istirahat..." titah Jingga sambil memberikan segelas air berwarna bening pada Andra.
"wah wah kau sudah berani memerintahku rupanya..." ucap Andra, ia yang merasa sedikit menggelitik karena Jingga sudah berani memerintahnya meski perintah yang Jingga ucapkan adalah sesuatu yang baik untuk Andra.
"yang aku perintahkan itu yang terbaik buat dirimu, supaya lekas sembuh..." ucap Jingga.
"aku baik baik saja, siapa bilang aku sakit..." ucap Andra.
"hey tuan, tadi suhu badan mu panas sekali hingga kau menggigil, kata dokter kau harus mengurangi bahkan menghentikan untuk mengkonsumsi kafein di tambah lagi kemarin kau dini hari malam mandi, aneh sekali..." cerocos Jingga, gadis itu seolah mengingatkan apa apa saja yang membuat Andra seperti saat ini.
"aku mengkonsumsi kafein karena kau dan aku mandi larut malam pun karena kau, kau tak mengakui kesalahan mu sendiri nona..." Andra tak mau kalah, ia memutar balikan keadaan hingga menyalahkan Jingga.
"karena aku, kenapa aku, kau yang mengajakku pergi ke kedai kopi itu lalu tentang mandi malam malam kenapa menyalahkan aku, apa salahku..." tak terima dengan tuduhan Andra, Jingga naik darah, bicaranya sedikit tinggi.
"karena kau tak..." Andra menggantung ucapannya, ia keburu sadar dan menguasai diri, tak mungkin bila mengucapkannya pada Jingga.
"karena apa..."
"ahh sudah sudah, baiklah aku akan istirahat..." kata Andra tersungut sungut, untung saja ia masih bisa menahan diri, jika tidak apa jadinya bila Jingga tau semalam dirinya menderita menahan nasrat yang begitu besar, menahan gejolak dari sesuatu yang sangat mendesak.
"nah begitu kan lebih baik..." ucap Jingga, gadis itu memberikan obat yang harus Andra konsumsi, ada beberapa jenis obat dan Andra langsung menelannya habis.
Andra memandang Jingga, gadis di depannya itu terlihat begitu manis meski belum mandi, terlebih rambut panjangnya yang di gulung ke atas membuat leher mulus gadis itu terlihat jenjang. Namun sebuah noda biru di bawah rahang gadis itu menarik perhatian Andra, rasanya miris sekali melihat lebam biru. Bayangan Andra terbang waktu ia dengan sadar menyakiti Jingga, sering kali ia menggengam rahang itu hingga lebam warna biru itu kini terlukis di sana.
__ADS_1
"apa ini sakit..." tanya Andra, tangannya menyentuh rahang Jingga yang membiru itu.
"awalnya sangat sakit, tapi sekarang tidak..." jawab Jingga.
"ternyata kejam aku pada mu, maafkan aku..." lirik Andra menjawab, laki laki itu terlihat menyesal.
"sudah, aku tak apa apa..." jawab Jingga dengan mengumbar senyum. Sebenarnya masih di rasa sakit bila luka itu di sentuh apalagi bila mengingat bagaimana ia mendapatkannya, di malam pengantin.
Melihat Jingga yang malah mengumbar senyum membuat Andra semakin terenyuh, bagaimana bisa gadis itu terus tersenyum pada dirinya padahal dengan sadar ia melukai bahkan menyiksanya, bahkan saat ini gadis itu dengan telaten mengurusinya dengan baik, apa yang di perlukan disiapkan hingga detail.
Rasa sesal hinggap di hati Andra, awal pernikahannya diawali dengan sumpah serapahnya pada gadis itu, menghina bahkan sampai menyumpahi ia lakukan terhadap Jingga, tapi bukannya membalasnya dengan hal yang sama Jingga malah membalasnya dengan kasih sayang, ya kasih sayang yang bisa membuat lulus.
"kenapa melamun, cepat istirahat.." ucap Jingga.
"sebentar lagi..." jawab Andra.
"sekarang tuan.."
"wah tuan kepala batu rupanya punya rasa takut juga..." ejek Jingga, gadis itu sampai tertawa.
"ya sudah kalau tak mau menemani, tak usah menghina ku..." Andra merajuk tak terima di ejek oleh gadis itu. Dengan malas Andra beranjak ke kamarnya, sebagai pembuktian pada gadis itu jika ia bi sendiri padahal sebenarnya ia ingin di temani, ingin di elus elus kepalanya hingga tertidur, tapi Jingga malah menghina.
Akhirnya Andra berbaring di kasur, meski ia kesal dengan sikap Jingga. Lalu tak lama Jingga membuka pintu, masuk kedalam dan menghampiri Andra.
"kau sudah tidur..?" tanya Jingga, gadis itu duduk di tepian ranjang.
Andra tak menjawab, meski sebenarnya ia tak tidur.
"ya sudah kalau kau tidur, aku keluar saja.." ucap Jingga lagi, gadis itu hendak bangun dari duduknya namun tangan Andra berhasil meraih tangan kanannya.
__ADS_1
"kau mau kemana lagi...?" tanya Andra.
"tadi kau tidur jadi aku tak mau mengganggu mu..." jawab Jingga.
"kau masuk saja aku sudah terganggu..." gerutu Andra.
"benarkah, perasaan tadi aku masuk tak bersuara..." ucap Jingga.
Sebenarnya itu hanya alasan Andra saja, memang benar Jingga masuk tanpa suara kecuali sedikit suara dari kenop pintu saja yang sudah bisa di pastikan tak akan terdengar oleh orang yang sedang tertidur.
"ahh, pokoknya aku tak mau tau, kau harus tanggung jawab..." ucap Andra. Laki laki itu sedang berupaya agar Jingga tetap tinggal disana.
"tanggung jawab, apa yang aku lakukan...?" bingung Jingga saat itu, karena ia merasa tidak melakukan apapun tapi Andra menuntutnya untuk bertanggung jawab.
"kau sudah membangunkan aku..." jawab Andra.
"ya sudah, aku harus melakukan apa untuk bertanggung jawab atas perbuatan ku...?" tanya Jingga, gadis itu paham ia tak akan menang bila berdebat dengan Andra.
"duduk disini, aku mau tidur lagi..." ucap Andra, laki laki itu merasa kesenangan sekali karena akhirnya Jingga menurut padanya.
Jingga sudah terduduk dan memangku kepala Andra yang tertidur di pangkuannya, awalnya ia terkaget dengan sikap Andra padanya, bagai anak kecil yang sedang bermanja dengan ibunya namun lama kemudian Jingga mulai bisa terbiasa dengan sikap Andra yang ternyata juga memiliki sifat manja di luar sikapnya yang angkuh dan dingin.
Jingga tersenyum, tangannya mengelus lembut kepala dan rambut Andra yang membuat laki laki itu nyaman hingga akhirnya tertidur, terlihat dari deru nafasnya yang teratur. Tak ia sangka rupanya Andra juga bisa semanja ini, awaknya yang begitu gagah juga rupanya yang begitu tampan tak menjamin bila ia bisa tetap tegak berdiri. Namun bila Jingga ingat bagaimana sikap Andra padanya saat pertama bertemu di malam pengantin itu membuat hati Jingga teriris, luka fisik dan luka batin sangat membekas di hati Jingga meski kini sikap Andra padanya sedikit demi sedikit berubah.
Mungkin itu yang namanya dendam, tapi apa hendak di kata hati perempuan memang mudah lunak tapi bila telah terluka akan begitu membekas dan itulah yang terjadi pada Jingga, ia bisa saja bersikap baik pada Andra, menerima semua kebaikan yang Andra berikan padanya, membuka tangan saat Andra berusaha untuk memperbaiki hubungan dengannya, tapi luka sudah tercipta yang membuat Jingga seolah menjaga jarak yang tak terlihat dengan Andra. Ya, begitulah wanita, begitu lembut dan rapuh tapi menyeramkan jika sudah di sakiti.
.
.
__ADS_1
.
●●●☆☆☆■■■