Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
kedatangan ibu


__ADS_3

Hari hampir mendekati senja, warna orange telah menghiasi langit, daun yang berayun karena tergoyang oleh angin yang berhembus.


Suara gerungan mesin mobil halus terdengar memasuki halaman papiliun, Andra yang tengah terduduk langsung terperanjat sadar jika apa yang tadi Raga infokan padanya benar adanya, ibunya mencarinya sampai ke papiliun yang jauh dari kota.


"tok tok tok..." suara pintu di ketuk dari luar.


sebelum membuka Andra menarik nafas panjang supaya terlihat lebih natural, "ibu..." ucap Andra menyapa seseorang yang sudah berdiri di ambang pintu.


"dimana Jingga..." tanpa basa basi nyonya Cantika menanyakan keberadaan menantunya itu.


"ada bu..." ucap Andra dengan senyum sumringah. Sebenarnya Andra tak perlu takut bertemu dengan ibunya namun ia merasa punya dosa karena telah menyakiti Jingga, jiwanya ia cabik raganya ia siksa.


"ibu..." ucap Jingga dari dalam, gadis itu setengah berlari menghampiri ibu mertuanya yang baru saja datang.


"Jingga..." nyonya Cantika merentangkan tangan memberi isyarat pada Jingga untuk memeluknya, tanpa sungkan Jingga.


"ibu datang menjenguk ku, aku senang sekali ibu, tapi kenapa tak bilang padaku jika ibu akan datang..." ucap Jingga, gadis itu seumpama anak gadis yang sudah lama tak bertemu dengan ibunya, terlihat sangat natural kedekatan menantu dan ibu mertua itu.


Andra yang melihat pemandangan itu sedikit tersenyum, ia tak menyangka jika ibunya begitu menyayangi Jingga hingga sejauh ini padahal dari informasi yang ia dapat dari Raga bahwa ibunya hanya mendatangi Jingga beberapa hari sebelum mereka menikah tapi keakraban mereka terasa memiliki kemistri bagai orang orang yang telah lama berkenalan.


"ibu sengaja datang mendadak, supaya ibu tau apa yang Andra lakukan padamu..." nyonya Cantika menatap wajah Andra dengan tatapan bak elang, tajam dan menusuk.


"ibu tak usah khawatir, mas Andra menjagaku dengan baik, aku senang tinggal bersamanya..." ucap Jingga dengan nada manja, seolah ia ingin meyakinkan ibu mertuanya itu jika ia memang bahagia bersama dengan Andra.


"benarkah...?" tanya nyonya Cantika.


"benar ibu, mas Andra menjagaku dengan baik..." lagi ucap Jingga.


Entah disadari atau Tak disadari tangan Andra mengelus lembut rambut panjang Jingga yang nyaris sepinggang itu, ia memberi senyuman manis pada gadis yang tadi pagi telah ia ancam itu.


"mari masuk ibu, aku akan membuatkan makanan da minuman segar untuk ibu, ibu pasti lelah telah melewati perjalanan jauh untuk datang kesini..." benar benar natural, Jingga bergelayut di tangan kanan ibu mertuanya, sosok ibu yang selama ini tak pernah ia rasakan keberadaannya terganti oleh kehadiran nyonya Cantika yang sangat menyayanginya.


"baiklah tapi tunggu sebentar..." ucap nyonya Cantika.


"pak Muh, bawa mereka kemari..." perintah nyonya Cantika pada pak Muh yang berdiri di dekat mobil yang tadi nyonya Cantika tumpang.

__ADS_1


Pak Muh mengangguk, ia membuka pintu mobil itu dan terlihat dua anak menuruti perintah pak Muh untuk turun dari mobil.


Kedua anak itu berjalan menuju nyonya Cantika, Jingga yang sadar siapa yang datang tak kuasa menahan haru.


"Akbar, Karin..." ucap Jingga.


Anak anak itu berlari menhambur ke pelukan Jingga.


"kak Jingga..." ucap kedua anak itu kompak.


"Akbar, Karin kali apa kabar sayang..." Jingga tak bisa menahan air matanya, ia tak percaya jika kedua adiknya ada disini.


"kami baik kak, kakak bagaimana kenapa kakak tidak kunjung pulang, apa kakak sudah lupa pada kami..." tanya Karin polos, anak perempuan begitu manis dengan rambut sebahu dan di beri poni.


"tidak sayang, kakak tidak lupa pada kalian hanya saja kakak belum punya waktu untuk pulang..." jelas Jingga dengan derai air mata yang membasahi pipinya, haru ia rasakan.


"apa kakak sibuk...?" tanya Akbar, anak laki laki itu terlihat gemuk dengan wajah hampir mirip dengan Karin karena mereka anak kembar beda beberapa menit.


"iya sayang, kakak sibuk, maaf kakak belum bisa mengunjungi kalian, maafkan kakak..." Jingga menangis, ia tak kuasa menahan air matanya saat adik adiknya menanyakan keberadaanya selama ini yang tak kunjung datang pulang.


"mari masuk, Akbar dan Karin ngombolnya lebih baik di dalam saja yah, kita melepas rindu dengan kak Jingga..." ucap nyonya Cantika yang sudah bisa membaca bila kondisi akan semakin terasa sendu apalagi rindu Jingga pada kedua adiknya itu sangat besar.


Nyonyq Cantika mempersilahkan masuk kedua anak itu, dan Andra dari tadi dibuat tak berkutik dengan kehadiran Akbar dan Karin, Andra tak tau apa apa dengan kehadiran anak itu.


"Bunda, om ini siapa...?" tanya Akbar pada nyonya Cantika, begitu polos bocah itu bertanya tentang sosok laki laki tinggi yang tampan itu.


"om ini suaminya kak Jingga, namanya kak Andra, beri salam dulu..." perintah nyonya Cantika pada kedua anak itu. Mendengar perintah itu Akbar dan Karin langsung menyalami Andra dan di sambut senyum oleh Andra.


"om tampan sekali, nanti jika aku sudah besar aku mau punya suami seperti om..." ucap Karin polos.


"benarkah, mari duduk di samping om anak cantik..." ajak Andra, entah sejak kapan Andra jadi orang yang bisa berbaur dengan orang baru, rasanya Akbar dan Karin berbeda dengan anak anak lain.


"kak Jingga buat minuman dulu yah, kalian disini saja oke..." ucap Jingga lalu meninggalkan mereka.


Pemergian Jingga diikuti oleh nyonya Cantika.

__ADS_1


"Jingga, biar ibu bantu..." ucap nyonya Cantika.


"tak usah bu, hanya membuat minuman dan memotong buah, aku bisa melakukannya ibu lebih baik tunggu saja..."


"Jingga, apa kau baik baik saja.?" tanya nyonya Cantika.


"tentu ibu aku baik baik saja..." jawab Jingga, tangannya aktif membuat minuman dan mengupas buah.


"syukurlah, ibu harap kau tidak berbohong pada ibu..."


"ibu, bagaimana keadaan Akbar...?" tanya Jingga.


"kesehatan Akbar semakin membaik, kemarin pak Muh mengantar Akbar untuk kontrol ke rumah sakit dan hasilnya menunjukan kearah yang cukup membuat kita lega..." jelas nyonya Cantika.


"syukurlah bu, aku bahagia mendengarnya..."


"ya..."


"ibu, terima kasih. semua ini berkat ibu..."


"Jingga, ibu memang belum mengenal mu lama tapi ibu bisa membaca raut wajahmu, ibu harap kau bercerita pada ibu apa yang Andra lakukan padamu..."


"ibu, Andra memperlakukan aku dengan baik, ia tak pernah melakukan hal yang ibu khawatirkan padaku, ibu tak usah khawatir..."


"tapi Jingga, Andra belum tau tentang Akbar dan Karin, ibu takut ia akan salah paham padamu..."


"tidak ibu, meski Andra belum tau tentang kedua adikku tapi dia tak salah paham tentang apapun..."


"baiklah kalau begitu, ibu percaya padamu jika Andra memperlakukan mu baik tapi sekali lagi ibu berharap kau tidak berbohong..."


Tanpa berkata Jingga berhambur memeluk nyonya Cantika, lalu air matanya meleleh, ia tak kuasa menahan tangis, tapi ia pun tak sampai hati menceritakan bagaimana perlakuan Andra padanya selama ini, Andra adalah anak kesayangan nyonya Cantika maka tak mungkin bila Jingga akan menjelaskan bagaimana bobroknya sifat dan sikap anak itu.


.


___●●●□□□●●●___

__ADS_1


__ADS_2