
Jingga membuntuti langkah kaki Andra yang melangkah menuju baseman, dengan susah payah ia menyamai langkah kaki laki laki itu dengan kakinya yang mungil.
Sebuah mobil sudah di hadapan mereka, pintu sudah di bukakan oleh seseorang berpakaian formal dan Andra memasukinya diikuti oleh Jingga. Mobil itu terlihat mahal dengan desain yang bisa bilang mewah untuk sebuah mobil.
Meski ingin bertanya tapi Jingga mengurungkan niatnya itu mengingat suasana di dalam mobil itu cukup membuatnya tak bisa bernafas karena terasa tegang dan sangat canggung baginya.
Lama mereka mengendarai mobil itu entah akan kemana hingga membuat Jingga tertidur karena lelah menyergap tubuhnya.
"nona bangulah, sudah sampai..." seseorang membangunkan Jingga, orang yang tadi membukakan untuknya juga Andra.
"kita sudah sampai, maaf aku tertidur..." ucap Jingga sambil mengucek mata kanannya.
"tuan Andra sudah menunggu anda di dalam, silahkan..." orang itu mempersilahkan Jingga untuk turun dari mobil.
"baiklah, terima kasih..." ucap Jingga dengan senyum yang merekah.
Perempuan itu melangkah meninggalkan mobil, ia sedikit terkejut melihat pemandangan yang biasa ia lihat di buku dongeng, sebuah papiliun yang sangat indah meski hanya berlantai satu, bangunan berwarna putih tulang dengan arsitektur minumalis yang sangat menawan.
Saat memasuki ruangan pun mata Jingga semakin di buat mempesona dengan tatanan yang di buat indah sekali walau tak banyak barang yang tersimpan disana.
"kau hanya akan diam disana..." ucapan Andra membuyarkan keterkesimaan Jingga saat itu.
"eh, maaf..." Jingga salah tingkah ia melangkahkan kakinya lebih dalam lagi di rumah itu.
Tiba tiba Andra berdiri, menghampiri Jingga yang masih saja berjalan lambat, ia meraih tangan gadis mungil itu dan menariknya sekuat tenaga.
Jingga yang mendapat serangan mendadak saat itu terkejut, langkah kakinya mengimbangi langkah kaki Andra yang menariknya kuat.
Dihempaskannya tubuh ramping Jingga di ranjang yang besar itu bahkan tangannya membentur tepian ranjang yang terbuat dari kayu.
"aw..." pekik Jingga refleks saat sakit terasa di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"sakit...?" tanya Andra dengan seringai senyum penuh ejek di wajahnya.
"ya, ini sakit..." jawab Jingga berharap Andra akan menolongnya.
"ini belum seberapa, akan masih banyak lagi rasa sakit yang akan kau rasakan setelah ini..." ucap Andra sambil melipat tangannya di dada.
"apa maksud mu...?" tanya Jingga.
Tiba tiba bola mata yang hitam kelam bagai malam itu membesar, seolah ombak malam yang ganas sebentar lagi akan memporak porandakan tubuh Jingga yang kecil itu. Tangan kanan Andra mencengkram rahang Jingga hingga membuat wajah gadis itu memerah menahan sakit.
"kau pikir aku ini senang dengan pernikahan ini, aku bahkan tak menginginkan pernikahan ini terjadi, kau pikir kau siapa bisa menikah dengan aku, bagiku mudah untuk memilih perempuan murahan sepertimu..." ucap Andra yang membuat sakit di pergelangan tangan Jingga sudah tak terasa di gantikan dengan rasa sakit hati.
"dengar baik baik Jingga, aku memang suami mu tapi aku tak mencintaimu sedikit pun..." ucap Andra lagi.
"cepat bangun, aku akan membuat malam pertama kita indah..." lagi lagi perkataan Andra membuat suasana di dalam ruangan itu semakin mencengkam.
"apa yang kau mau...?" tanya Jingga dengan rasa takut yang semakin memuncak.
Andra membawa Jingga kedalam kamar mandi, lalu menyalakan shower dan menyiramkan muntahan airnya tepat kepada Jingga yang membuat gadis itu sontak terkejut, air yang dingin langsung menyiram tubuh Jingga tanpa aba aba yang membuat tubuh gadis itu langsung menggigil, sedang Andra tertawa bak iblis melakukan hal yang sebenarnya tak harus ia lakukan.
"dengar aku baik baik Jingga, pernikahan kita hanya ke pura puraan di depan ibu ku, aku pun tak habis pikir kenapa ibu ku bisa menikahkan aku dengan perempuan murahan seperti mu jadi kau jangan berharap aku akan memperlakukan dirimu seperti wanita pada umumnya, nikmatilah semua ini sebelum akhirnya kau menyerah dan memilih untuk meninggalkan semua ini atau bahkan kau memilih untuk mati..." ucap Andra sambil kembali mencengkram rahang yang tadi ia cengkram bahkan sudah ada luka lebam di sana saking kuatnya Andra mencengkramnya.
Sakit, sesak, dingin semua perasaannya hancur seketika, bayangan bahagia bersama suami ikut hanyut bersama dengan air yang membasahi dirinya. Semua perkataan Andra satu per satu terpahat di hati Jingga semakin membuat dada gadis itu semakin sakit.
Kemudian Andra melangkah keluar dari kamar mandi itu, meninggalkan Jingga yang masih terdiam di bawah guyuran shower yang mengeluarkan air dingin itu padahal malam sudah semakin larut.
Air mata Jingga tak terbendung lagi, malam pertamanya sebagai pengantin ia lewati dengan berbagai kata menyedihkan dari Andra untuk dirinya juga luka yang telah Andra buat semakin membuat Jingga yakin jika ia memang sangat tak di harapkan hadir ke dunia ini.
Air yang mengalir sudah tak lagi Jingga hiraukan, ia menangis sejadinya menangisi takdir hidupnya yang sangat menyedihkan, semenjak lahir hingga kini ia memiliki suami pun bahagia tak pernah jumpa padanya. Selama ini yang membuat ia bahagia adalah Akbar dan Karina, kakak beradik yang ia ajak hidup bersama saat ibu panti memberi tahunya untuk meninggalkan panti saat usianya sudah 17 tahun.
Akbar dan Karin adalah kakak beradik kembar yang di serahkan pada panti karena orang tua mereka tak mampu mengurus semua keperluan mereka sewaktu mereka lahir ke dunia hingga akhirnya dengan berat hati kedua orang tua Akbar dan Karin menyerahkan mereka dengan kondisi masih bayi merah dan sejak saat itu pula Jingga mengasuh mereka hingga mereka tumbuh menjadi anak yang sangat penurut, pintar juga cerdas.
__ADS_1
Namun sayangnya keberuntungan belum lagi memihak pada Jingga, karena Akbar mengikat penyakit yang mengharuskan anak laki laki itu melakukan cuci darah hingga puncaknya dokter memberitahukan Jingga jika Akbar harus melakukan operasi transplantasi jantung untuk membantu Akbar hidup lebih lama.
Saat itu Jingga sungguh bingung, ia tak tau lagi harus melakukan apa, untuk cuci darah Akbar pun Jingga banting tulang mencari uang untuk bisa melakukannya dan kini ia tak bisa melakukan apa apa lagi. Terbersit di pikirannya untuk menjual dirinya sendiri untuk bisa melakukan operasi untuk Akbar namun entah dewi fortuna datang dari mana tiba tiba ia bertemu dengan nyonya Cantika yang ternyata tau permasalahan yang sedang membelitnya.
Nyonya Cantika mendatangi Jingga yang saat itu sedang menangis dibawah pohon di rumah sakit tempat Akbar di rawat.
"kau Jingga...?" tanya nyonyq Cantika saat itu, wanita itu menggunakan kacamata hitam besar dan baju stelan khas nyonya sosialita.
"ya, aku Jingga..." jawab Jingga, tangannya dengan sikap menghapus air mata yang masih mengalir di pipinya.
"perkenalkan aku Cantika, aku tau semua permasalahan yang tengah membelitmu, untuk itu aku akan membantumu..." ucap nyonya Cantika saat itu saraya duduk di dekat Jingga.
"maksud ibu...?" tanya Jingga tak mengerti.
"aku akan membantu mu untuk biaya operasi adik mu..." jawab nyonya Cantika.
"benarkah..." Jingga tak percaya.
"tapi dengan syarat..."
"apa itu..?"
"kau harus menikah dengan anakku..." ucap nyonya Cantika yang sontak membuat Jingga membuatkan kedua matanya.
Galau, begitu yang Jingga rasakan saat itu, di satu sisi ia bahagia bisa menolong Akbar hingga anak itu bisa transplantasi jantung tapi di sisi lain ia tak mengerti dengan semua yang terjadi dengan tiba tiba, siapa ibu ibu sosialita yang ada di hadapannya kini dan kenapa ia harus menikah dengan anaknya, siap anaknya itu dan kenapa sampai harus ibunya yang mencari istri untuknya apa anak ibu yang terlibat kaya itu tak bisa mencarinya sendiri.
"aku tau kau pasti bingung siapa aku dan kenapa aku meminta mu demikian, jadi datanglah ke tempat ini dan aku akan menjelaskan semuanya..." ucap nyonya Cantika sambil menyodorkan sebuah kartu yang di dalamnya ada sebuah alamat yang harus Jingga datangi.
"aku tunggu jam 7 malam, ku harap kau datang, kesempatan ini tak datang dua kali..." ucap lagi nyonya Cantika lalu ia melangkah pergi meninggalkan Jingga yang masih belum berucap apa apa itu.
.
__ADS_1
❤