Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
Malam


__ADS_3

Jam di tangan Jingga sudah menunjukan pukul 7 malam tapi ia masih bingung untuk melakukan apa, apa ia harus mendatangi ibu ibu tadi atau melepaskan kesempatan ini dan memilih untuk menjadi wanita murahan yang menjajakan harga dirinya demi uang untuk pengobatan Akbar. Ia berpikir keras bahkan terlihat frustasi memikirkan apa yang harus ia lakukan, hingga akhirnya ia bangun dan berlari sekuat tenaga ke arah dimana tempat yang di maksud berada.


Nafasnya naik turun saat anak tangga terakhir telah ia lewati, restoran yang ia tuju adalah restoran yang sangat mewah terlihat dengan orang orang yang datang mengunjungi tempat itu terlihat sangat menawan dengan pakaian pakaian formal yang biasa ia lihat di tayangan tivi tivi lalu ia menghampiri resepsionis dan menanyakan nama ibu Cantika padanya.


"maaf nona, nyonya Cantika sudah pergi beberapa menit yang lalu..." ucap resepsionis yang saat itu tengah melayani Jingga.


"oh begitu, baiklah terima kasih..." Jingga melangkah meninggalkan meja resepsionis, rasanya harapannya untuk bisa mengoprasi jantung Akbar terbias bersama dengan udara yang menjadi dingin, bayangan hidup menjadi menjadi wanita murahan pun kini hingga di pikirannya.


Jingga duduk di kursi panjang yang tak jauh dari pintu masuk restoran mahal itu, ia memejamkan mata yang sedikit berair itu, mengutuki dirinya sendiri yang lama dan lelet dalam mengambil keputusan hingga untuk urusan segenting ini pun Jingga harus ragu. Ia melirik jam tangannya, sudah menunjukan pukul 7 lebih 30 menit, pikirannya semakin terbang, ia tau yakin jika ibu Cantika itu tak akan mau menungguinya siapa dirinya hingga orang seperti ibu Cantika harus menunggunya datang.


"kau datang..." ucap seseorang yang saat ini berdiri di hadapannya.


Jingga mendongak dan kejut jika yang datang adalah nyonya Cantika.


"nyonya..."


Akhirnya Jingga bangkit dari duduknya mengikuti nyonya Cantika yang melangkah masuk kedalam restoran mewah itu. Mereka berdua duduk berhadapan yang di halangi oleh di sebuah meja bundar besar.


"langsung saja, apa kau tertarik dengan tawaran yang saya ucapkan tadi siang...?" tanya nyonya Cantika to the point pada Jingga.


"tapi sebelumnya apa saya boleh bertanya...?" Jingga belum menjawab pertanyaan nonya Cantika, justru ia malah bertanya balik padanya.


"kau berhak bertanya, silahkan tanyakan apa yang ingin kau tanyakan..." ucap nyonya Cantika, jujur saja nyonya Cantika terlihat sangat anggun meski usianya bisa di bilang sangat jauh dengan Jingga tapi mungkin karena perawatan yang sering nyonya Cantika jalani membuat kulitnya terawat dan menjaga kekenyangannya.


"kenapa nyonya mau menolong saya...?" tanya Jingga.


Nyonya Cantika tersenyum, senyumnya sangat manis di bibirnya yang di hiasi dengan gincu berwarna yang cocok untuk usianya "karena kamu anak baik..." begitu jawab nyonya Cantika kepada Jingga.

__ADS_1


Jingga tak begitu saja percaya pada ucapan nyonya Cantika, bagaimana mungkin hanya karena alasan ia anak baik orang seperti nyonya Cantika mau menolongnya, karena jika dipikir banyak orang baik yang mungkin lebih pantas untuk nyonya Cantika tolong di luaran sana.


"baiklah anak baik, aku akan menolong mu untuk biaya operasi adikmu dan kau hanya perlu menikah dengan anakku.. " ucap nyonya Cantika.


"maaf nyonya tapi aku sama sekali tak mengenal anak nyonya bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya..."


"nanti pun kau akan mengenal putraku, dia anak yang baik hanya saja sedikit susah di atur tapi bisa aku pastikan kau akan bahagia dengannya..." ucap nyonya Cantika lagi.


"tapi...."


"sudah sudah, pertanyaan sudah terlalu banyak jadi apakah kau mau atau tidak dengan tawaran yang aku ajukan...?" tanya nyonya Cantika.


Jingga menarik nafas panjang, giginya menggigit kecil bibirnya sendiri tanda ia benar benar bingung atas keputusan apa yang harus ia saat itu.


"baiklah nyonya saya setuju..." ucap Jingga, suaranya sedikit bergetar akibat suasana hatinya yang bimbang.


"baik nyonya, terima kasih..." ucap Jingga.


Hatinya benar benar tak karuan, bahkan ia bingung harus merasakan apa, satu sisi ia bahagia karena akhirnya Akbar akan bisa sehat tanpa harus cuci darah tiap minggu tapi di sisi lain ia sangat susah hati, bagaimana pun ia akan menikah dengan seseorang yang tak ia kenal bahkan menatap wajahnya pun ia belum pernah.


Namun ia akhirnya mengalah untuk Akbar, ia mengorbankan hidupnya sendiri demi adik yang sebenarnya orang lain itu, begitulah jika sudah ada rasa sayang di hati untuk seseorang, maka apapun akan dilakukan termasuk mengorbankan hidup sendiri.


Hingga saat ini Jingga ada di ruangan itu, ia membiarkan dirinya di hujani oleh air yang keluar dari shower itu, disana ia menangisi dirinya sendiri yang begitu merana karena nasib baik rasanya tak pernah berpihak padanya.


Tubuh Jingga sudah menggigil, gadis itu membuka gaun yang ia kenakan seharian, menggunakan handuk kimono untuk menutupi tubuhnya yang nyaris pucat akibat terlalu lama terkena suhu dingin.


Jingga keluar, melirik sana sini mencari sesuatu.

__ADS_1


"kau berusaha menggodaku...?" tiba tiba suara serak nan berat itu muncul. Jingga berbalik dan kaget bukan kepalang saat mendapati Andra sudah berada tepat di belakangnya.


"bukan, aku hanya mencari baju baju ku..." ucap Jingga, ia sebenarnya takut kepada Andra, ia khawatir Andra akan melakukan hal kasar lagi padanya.


"pakai ini, baju baju lusuh seperti itu sudah tak layak pakai..." ucap Andra sambil melemparkan pakaian ke wajah Jingga. Satu potong kaos hitam dan celana pendek.


"kemana baju baju...?" tanya Jingga.


"sudah aku buang semua..." enteng sekali Andra menjawab, laki laki itu melongos keluar dari kamarnya sendiri itu, tak mungkin ia akan melihat Jingga berganti pakaian.


Mendengar kopernya sudah di buang membuat Jingga sedih lagi, di dalam sana terdapat buku catatan yang selalu ia isi setiap hari, buku itu yang menjadi teman curhatnya saat ini.


Semua kesedihan yang Jingga rasakan saat ini memang harus ia kesampingkan, itu semua demi kesehatan Akbar. Ia seolah tak peduli dengan sumpah serapah yang di ucapkan oleh Andra padanya. Seperti saat ini ia harus menggunakan pakaian yang Andra berikan padanya, dengan berat hati akhirnya Jingga menggunakannya.


Jingga menggunakan pakaian yang tadi di berikan oleh Andra, baju itu nampak kebesaran di tubuhnya hingga menutupi celana yang ia gunakan.


"siapkan aku makanan..." perintah Andra saat Jingga keluar dari kamar.


"baik..." Jingga melangkah menuju dapur. Dapur itu bisa di bilang kecil namun semua peralatannya sangat lengkap, Jingga membuka lemari pendingin mencari bahan masakan untuk ia hidangkan pada Andra. Namun belum selesai Jingga memasang ia melihat Andra sudah berpakaian rapi seperti hendak pergi.


"bukankah kau ingin makan..." ucap Jingga.


"kau pikir aku mau menunggumu memasak..." ucap Andra. Akhirnya ia keluar dari rumah itu di iringi suara bandingkan pintu yang cukup membuat Jingga memejamkan mata karena takut.


Lagi lagi Jingga menangis, hatinya begitu teriris mendapati perlakuan yang didapatkan dari Andra padahal tadi pagi Andra begitu tulus berjanji di hadapan Tuhan untuk senantiasa menyayanginya, namun ternyata janji hanyalah janji pada kenyataannya Andra memperlakukan Jingga tak seperti istri yang seharusnya.


.

__ADS_1



__ADS_2