
"gadis itu hanya butuh kasih sayang lebih, itu saja Rama..." ucap Laila lagi.
Rama termenung mendengar cerita Laila tentang Cantika yang memang terdengar butuh kasih sayang lebih, ternyata caranya yang menginginkan Cantika selama ini salah, Cantika tak butuh semua yang ia berikan justru yang Cantika butuhkan adalah perhatian juga kasih sayang yang pasti akan membuatnya luluh.
"Lail, awalnya aku perpikir untuk berhenti mengejar cinta dari perempuan ini tapi setelah mendengar cerita mu aku jadi berubah pikiran..." ucap Rama, ia menatap Cantika yang sedang terbaring, lemah tak berdaya itu, tangannya menyentuh pipi gadis itu dengan lembut.
"setelah semua yang kau perjuangkan kau mau menyerah, yang benar saja Rama..." kata Lail, gadis itu tersenyum melihat Rama yang begitu gigih ingin mendapatkan cinta Cantika, Laila tau betul usaha Rama selama ini untuk membuat Cantika jatuh hati padanya.
"tidak Lail, sudah ku katakan aku tak akan menyerah, maafkan aku selama ini memandangmu sebelah mata, ku kira kaulah yang memanfaatkan Cantika untuk kepentingan mu..." ungkap Rama, selama ini ia kurang suka pada Laila karena kata orang Laila hanya anak seseorang yang tak mampu dan menumpang hidup pada keluarga Cantika yang merupakan orang berada.
"tak usah minta maaf Rama, aku paham jika kau menganggap ku begitu, aku terima..." sambil tersenyum Laila berkata, ia merasa sudah biasa di katai memanfaatkan Cantika karena dirinya hanyalah anak dari pegawai rumah tangga di rumah dan keluarga Cantika.
Tak lama seseorang datang, membawa tas bersama dengan orang yang tadi menolong Laila untuk berdiri, orang itu langsung memeriksa keadaan Cantika yang tak sadarkan diri. Dan kabar baik, Cantika baik baik saja pengaruh alkohol yang membuatnya seperti ini namun nampaknya tak banyak alkohol yang ia teguk karena ini adalah kali pertama Cantika meminum minuman haram itu.
"sekalian obati Laila..." perintah Rama pada orang itu, ia khawatir ada sesuatu terjadi pada Laila.
"tak usah Rama, aku baik baik saja..." ucap Laila menolak keinginan Rama, ia tak peduli dengan dirinya sendiri.
"Laila kau jangan keras kepala, apa kau mau jika Cantika sadar nanti melihat keadaan mu yang seperti ini, gadis itu pasti akan merasa bersalah..." ungkap Rama, sebenarnya kata kata itu hanya gertakan tapi berhasil membuat Laila menurut.
Laila akhirnya mau di obati, dokter itu memeriksa luka di kening dan pipi Laila khawatir ada sesuatu yang terjadi disana tapi Tuhan masih menyayanginya, tak terjadi luka serius pada diri Laila.
Setelah selesai dengan urusannya dokter itu kembali undur diri, meninggalkan kamar hotel itu. Menyisakan Cantika, Laila, Rama dan satu orang milik Rama.
"apa kita perlu menghubungi orang tua Cantika...?" tanya Laila yang tengah terduduk di kursi yang ditarik supaya dekat dengan kasur yang Cantika tiduri.
"ku pikir tak usah, mereka pasti akan marah besar, lebih baik dia tidur disini saja bersamamu, apa kau mau menjaganya..." ucap Rama.
"tentu saja aku mau Rama, aku akan menjaga Cantika dengan baik..." jawab Laila, soal menjaga Cantika pasti ia akan melakukan yang terbaik, jangankan menjaga Laila rela terluka untuk Cantika.
"baiklah kalau begitu, sekarang aku harus pulang, hubungi aku bila ada sesuatu..." ucap Rama yang mendapat anggukan dari Laila.
Rama berlalu meninggalkan kedua gadis itu didalam kamar hotel, sedangkan Laila masuk kembali kedalam dan menghampiri Cantika.
__ADS_1
"dasar gadis bodoh..." ucap Laila.
Ia kemudian membersihkan tubuh Cantika yang bau alkohol, dengan teliti ia melakukannya tanpa rasa jijik sedikitpun.
Manusia yang tau terima kasih pasti akan membalas sesuatu itu dengan hal yang lebih baik lagi, tak peduli seberapa kasar dan seberapa berat jalan yang harus ia lalui untuk mengungkapkan rasa itu.
*
Suara tangisan bayi terdengar dari ruangan itu, betapa bahagianya Cantika dan Rama saat itu, berterima kasih pada Tuhan karena telah melancarkan semua proses persalinan Laila.
Dua orang perawat keluar dari ruangan bersalin itu, membawa bayi milik Laila dan Damar, namun tiba tiba Damar keluar sambil menangis, tangisnya makin keras saat ia terduduk di lantai.
"ada apa Damar, kenapa kau menangis, bagaimana keadaan Laila...?" tanya Cantika yang langsung menghampiri suami sahabatnya itu.
Damar menggeleng, tangisnya pecah saat ia di cetar pertanyaan oleh Cantika.
Tiba tiba tim dokter keluar dari ruangan bersalin bersama dengan blangkar yang diatasnya ada tubuh yang sudah di tutupi oleh kain.
"Damar ada apa, siapa yang tadi di bawa oleh dokter itu, dimana Laila Damar..." meletuslah tangisan Cantika, sesuatu yang buruk tak ingin ia dengar.
Bagai petir di siang bolong, Cantika membelalakan matanya, tak percaya jika tadi yang tim dokter itu bawa adalah sahabatnya sejak kecil, detik kemudian Cantika memjerit histetis menangisi kepergian Laila disaat putri cantiknya bersama Damar lahir ke dunia.
Keesokan harinya semua orang yang mengenal Laila mengantarkan perempuan cantik itu keperistirahatan terakhirnya, termasuk keluarga Damar yang tak pernah menerima Laila sebagai menantu mereka namun nampaknya mereka masih memiliki hati nurani apalagi Laila meninggal setelah melahirkan keturunan dari Damar.
Cantika tak hentinya menangis, kehilangan sahabat rasa adik yang selalu bisa menerima segala kebodohan juga kecerobohan dirinya, ia merasa tak siap untuk itu semua untuk kehilangan Laila, terlebih mereka berdua telah berjanji akan menikahkan anak mereka, meski hanya girauan tapi Cantika menganggapnya serius.
Laila sudah tiada menyisakan Damar dan bayi perempuan nan cantik yang belum sempat Laila beri nama, bayi itu tertidur pulas tak tau jika bundanya telah meninggalkannya selama lamanya sebelum ia bisa mengenal wanita yang telah melahirkannya itu.
Hari berlalu setelah beberapa hari kematian Laila rasa rindu hinggap di hati Cantika, ia dan suaminya bermaksud mengunjungi Damar juga putri kecilnya itu. Sesampainya disana Cantika membuka pintu rumah yang tak terkunci, betapa terkejutnya Cantika saat mendapati Damar sudah tak bernyawa dengan urat nadi di tangan yang sudah teriris oleh sebuah pisau yang cukup tajam, bayi perempuan itu menangis entah karena kepergian ayahnya atau karena lapar.
Cantika langsung menggendong tubuh bayi perempuan itu, menjauhkannya dari jenazah ayahnya. Tak jauh dari box bayi itu ada sebuah surat bagi siapa saja yang pertama kali menemukan mereka nanti.
^^^"***untuk siapapun yang menemukan kami nanti, maafkan aku yang telah menyusahkan kalian, hidupku hancur tanpa Laila, tiap kali aku menatap wajah bayi kami ini aku selalu terbayang wajah Laila, aku tak sanggup hidup tanpa Laila, untuk itu aku akan ikut bersama Laila. Terima kasih telah menemukan kami, jika kalian orang baik tolong selamatkan bayi kami, beri nama bayi kami ini Jingga karena Laila suka dengan warna itu, warna langit saat matahari akan tenggelam...^^^
__ADS_1
Selamat tinggal, Damar***..."
Cantika langsung memeluk bayi perempuan itu, membawanya keluar rumah itu karena ada pihak yang akan mengurus jenazah Damar, laki laki bila sudah jatuh cinta pada perempuan pasti akan bersikap gila bila ditinggalkan untuk selamanya, contohnya Damar.
Keluarga besar Damar seketika mengetahui tentang kematian Damar, semua menyalahkan bayi mungkin itu atas kejadian yang menimpa Damar.
Semua keluarga Damar memang tak pernah menyukai Laila karena Laila bukan dari keluarga terpandang, pernikahan Laila dan Damar terjadi setelah mereka menikah siri dan Laila mengandung bayi mungil itu yang akhirnya mau tak mau keluarga Damar harus merestui pernikahan anaknya itu.
Kini sasaran keluarga itu adalah Jingga, mereka telah gelap mata hingga ingin melenyapkan bayi kecil itu bagaimana pun caranya. Tapi Cantika tidak tinggal diam, ia tak mau kenangan terakhir dari sahabatnya itu hilang begitu saja.
"Cantika kita tak bisa mengurus anak ini, mereka lebih hak atas Jingga..." begitu ucap Rama pada Cantika yang begitu kekeh ingin merawat Jingga, tak mau terjadi sesuatu pada anak sahabatnya itu.
"tidak Rama, aku tak mau memberikan Jingga pada mereka, aku takut mereka menyakiti Jingga..." jawab Cantika sambil menggendong Jingga yang tengah tertidur, ia telah merasa sudah punya anak kembar saat membawa Jingga ke rumah dan mengurusnya bersama Yudha.
"tapi Cantika kita tak bisa berbuat apa apa, pengacara kita bilang kita akan kalah karena Jingga tak punya hubungan apa pun dengan kita..." ucap Rama lagu mengingatkan istrinya akan hal yang menang benar adanya, hanya tali persahabatan yang mengikat Cantika dan Laila selebihnya mereka bukan saudara sama sekali.
"kita titipkan Jingga di panti asuhan di luar kota, kita katakan pada mereka jika Jingga telah dibawa pergi orang yang menemukan jenazah Damar pertama kali..." otak Cantika mengeluarkan ide yang cukup tak masuk akal, namun bukan Cantika namanya jika tak bisa meyakinkan Rama atas keinginannya.
"tapi Cantika, resikonya terlalu besar..." ucap Rama tak mau jika istrinya itu akan tersandung masalah atas keinginan terhadap anak dari sahabatnya itu.
"aku tak takut, aku punya kau yang selalu melindungi ku, dulu aku yang selalu Laila lindungi kini biarkan aku yang melindungi Laila kecil, Rama aku mohon..." Cantika tak mau jika harus kehilangan Jingga, malaikat kecil itu tak pantas berada di tangan keluarga Damar terlebih Cantika rasa bisa menjaga Jingga meski harus berjauhan dengan Jingga, tapi semua itu tak masalah.
Setelah berpikir akhirnya Rama mengalah dan mengikuti keinginan wanita pujaannya itu, dengan segala rencana yang tersusun rapi Jingga telah berada di tempat aman yang jauh dari jangkauan keluarga Damar.
Sejak saat itulah Jingga tinggal di panti asuhan di luar kota dan sebab Cantika pula lah banyak orang tua yang ingin mengadopsi Jingga mengurungkan niatnya karena di cegah oleh Cantika dengan memberikan pengganti bagi mereka, Cantika merawat Jingga melalui tangan ibu panti itu, hingga Jingga tumbuh dewasa bertemu dengan Yudha dan kini telah menjadi menantunya dengan menikah bersama Andra.
"Lail, aku telah memenuhi janjiku, aku sudah menjodohkan salah satu anak lelaki ku dengan anak mu, Jingga..."
.
.
.
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡