
"baiklah, kakak akan disini untuk anak manis ini..." ucap Andra sambil membalas pelukan Karin yang tak mau lepas dari Andra.
"asik..." kata Karin, anak itu benar benar bahagia.
Jingga yang melihat kebahagiaan dari diri Karin hanya bisa tersenyum terlebih Andra yang bisa melunakkan hatinya meski demi Karin.
Jingga meninggalkan Andra dan Karin, ia segera menuju dapur untuk membereskan apa yang ia bawa untuk kedua adiknya, ia cukup terkaget dengan keadaan rumah yang rapih dan lebih tertata bahkan ada beberapa barang yang asing baginya.
Jingga membawa nampan berisikan buah potong dan minuman segar yang tadi ia beli di jalan bersama dengan Andra sebagai buah tangan untuk mereka.
"Karin, nampaknya rumah rapih sekali..." tanya Jingga.
"tentu saja kak, sekarang sering ada bibi bibi yang datang setiap hari ke rumah ini, beliau yang membersihkan rumah sekaligus menemani aku dan Akbar..." jawab Karin dengan polosnya.
"bibi siapa...?" tanya Jingga.
"kami memanggilnya bi Nah, beliau baik sekali..." jawab Karin.
"bi Nah siapa...?"
"ih kak Jingga kok tanya terus sih, waktu itu bi Nah datang bersama bunda..." jawab Karin yang mulai bosan menimpali pertanyaan pertanyaan dari Jingga.
"Bunda siapa...?" lagi lagi Jingga bertanya.
"kak Jingga belum tau, bunda yang kami maksud adalah nyonya Cantika, awalnya kami memanggil beliau nyonya tapi beliau marah dan menyuruh kami memanggilnya bunda.." jelas Akbar yang sudah duduk bergabung sedari tadi, anak laki laki itu sudah terlihat segar tidak seperti biasanya berwajah pucat.
Jingga menggangguk, ia mengurungkan keinginannya untuk bertanya lagi pada adik adiknya karena melihat mereka yang sudah terlena bersama dengan Andra. Andra menelisik wajah dan mimik muka Jingga yang terlihat bingung atas jawaban kedua adiknya, ada sebuah pertanyaan yang ingin Andra tanya namun waktunya belum pas.
Dan mereka melepas rasa rindu satu sama lainnya, Akbar dan Karin begitu menempel pada Andra, sedangkan Jingga yang menyaksikan itu begitu bahagia Andra sudah bisa berbaur dengan adik adiknya.
"seandainya nanti punya anak Andra pasti akan seperti ini..." batin Jingga, namun tiba tiba gadis itu tersadar menggeleng gelengkan kepalanya "bagaimana mungkin punya anak melakukan itu saja belum..." batin Jingga lagi.
"kak Jingga kenapa...?" tanya Akbar yang menyadari jika kakaknya itu dari tadi bersikap aneh.
"ah, tidak tidak kakak tidak apa apa sayang..." jawab Jingga, ia salah tingkah saat adiknya ternyata menyadari sikapnya.
__ADS_1
"dari tadi ku lihat kakak menggeleng geleng kepala, apa kakak pusing...?" tanya Akbar lagi, nampaknya anak laki laki mengkhawatirkan keadaan kakaknya itu.
"tidak sayang kakak tidak apa apa..." Jingga terlihat kikuk, apalagi mata Andra,Karin juga Akbar memandang padanya.
"tidurlah kalau kau pusing, aku akan disini bersama dengan mereka..." ucap Andra, sambil membelai rambut Jingga.
"tidak aku tidak pusing, lebih baik aku memasak saja untuk kita makan siang..." Jingga beranjak dari duduknya.
"tak usah aku sudah memesan makanan, sebentar lagi sampai..." ucap Andra yang membuat Jingga diam di tempat.
"asik kak Andra pesan makanan... makasih ya kak..." ucap Karin bahagia, anak itu sumringah sekali saat itu, makin jatuh cinta saja dia pada Andra.
Jingga kembali duduk di tempatnya semula, rasanya ia mulai rada rada aneh dengan sikap Andra, bagaimana mungkin Andra yang beberapa waktu lalu begitu jahat padanya kini berubah menjadi suami berhati malaikat yang begitu penyayang ditambah lagu ia begitu bisa menerima Akbar dan Karin yang notabene adik adiknya meski bisa Jingga tebak bahwa Andra sudah tau jika Akbar dan Karin bukan adik kandungnya, mencari tau informasi tentang dirinya bukan hal sulit terlebih ada Raga yang bisa melakukan apapun untuk bosnya yang arogan ini.
Tak lama kemudian pesanan Andra datang, di antar oleh kurir yang begitu ramah, dan anak anak begitu antusias mendapat hantaran makanan dari kurir itu maklum saja mereka belum pernah memesan makanan lewat online seperti yang di lakukan Andra saat ini.
Mereka membuka pesanan makanan itu, lalu menyantapnya bersama makanan itu sambil bercengkrama lagi.
"kak Andra akan menginap..?" tanya Karin sambil mulut penuh dengan makanan.
"maaf kak..."
"tidak Karin, kami tidak menginap..." jawab Andra.
"yah, kenapa...?" tanya Karin.
"Karin, kak Andra ada keperluan besok, lain kali yah kakak pasti menginap..." jelas Jingga, ia melihat sorot wajah kecewa dari Karin saat itu.
"iya deh..." meski sebenarnya patah hati namun Karin sudah terlatih untuk bisa paham keadaan dari kecil.
"sebagai gantinya jika nanti kita kembali mengunjungi kalian, Karin ingin apa...?" tanya Andra yang juga menangkap kesedihan di wajah Karin, meski gadis kecil itu sudah terdewasakan karena keadaan namun tetap saja ia adalah anak kecil yang masih perlu di perhatikan.
"benarkah aku boleh meminta...?" tanya Karin, gadis itu kembali gembira saat mendengar penawaran yang menggiurkan dari kedua kakaknya itu.
"silahkan tuan putri meminta apa yang tuan putri mau..." jawab Andra dengan nada bicara dimirip miripkan dengan pelayan cinderela pada cerita dongeng.
__ADS_1
"aku mau...." Karin nampak berpikir keras sebelum menyebutkan keinginannya.
"kau jangan meminta yang aneh aneh Karin..." ucap Akbar ikut nimrung, ia paham betul peringai adiknya yang pasti akan meminta sesuatu yang tak masuk akal.
"ih Akbar mengganggu saja, aku sedang berpikir..." merajuknya Karin pada abangnya itu.
"aku tau kau pasti meminta yang aneh aneh..." ucap Akbar lagi. Ia menggodai adiknya itu.
"tidak aku tidak meminta yang aneh aneh, aku hanya ingin bayi..." ucap Karin.
"bayi...?" tanya Jingga tak mengerti keinginan adiknya itu.
"iya bayi kak, anak kak Jingga..." polos Karin menjelaskan.
Jingga yang mendengar itu hanya bisa heran dan mengerutkan dahinya, "Karin permintaan macam apa itu, boro boro anak ngelakuin juga belum, mana mau Andra menyentuh kakak, dasar bocah..." gerutu Jingga dalam hati.
"Karin, mintanya yang gampang saja yah sayang...." ucap Jingga.
"Karin mau minta berapa, satu dua atau tiga..." tiba tiba Andra memotong pembicaraan Jingga, ucapannya semakin membuat Jingga bingung.
"benarkah, aku ingin dua tapi harus kembar dan perempuan biar lucu dan bisa aku dandani..." ucap Karin.
"baiklah jika nanti kak Andra datang lagi ke rumah Karin, kak Andra janji akan membawa pesanan Karin..." kata Andra meyakinkan.
Jingga tak habis pikir dengan apa yang Andra ucapkan pada Karin, bagaimana mungkin Andra menjanjikan hal yang mustahil pada adiknya itu, Karin adalah anak yang ingatannya panjang ia akan mengingat apa yang ia ucapkan pada seseorang terlebih itu adalah janji. Melihat Jingga yang kaget Andra malah tersenyum dengan penuh kegembiraan, seakan membuat anak adalah perkara mudah.
.
.
.
.
.
__ADS_1
■■■○○○■■■