Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
Jujur


__ADS_3

Saat itu mudah saja bagi Raga untuk memberikan informasi pada Andra tentang masa lalu Jingga, tapi Raga memikirkan bagaimana nanti jika Andra salah paham dan kembali bersikap kasar pada Jingga, akhirnya ia memutuskan untuk tidak memberikan informasi lewat media email lebih baik berbicara langsung agar tak ada kesalahan antara fakta dan pikiran Andra yang tak tau jika Yudha dan Jingga pernah kenal sebelumnya.


*


"apa ini sakit...?" tanya perempuan itu sambil memijit bagian lengan laki laki yang sedari dengan rela tubuhnya ditiduri olehnya.


"tentu, kau sangat berat..." jawab Andra sambil berpura-pura berekspresi seperti kesakitan.


Andra menunjuk beberapa titik untuk Jingga pijat padahal kenyataannya tak seperti itu. Tak ada bagian tubuhnya yang sakit.


"kau pura pura...?" saat itu Jingga mulai sadar jika suaminya itu hanya berpura-pura saja.


"tidak, aku tidak berpura-pura..." ucap Andra.


Tanpa pikir panjang Jingga langsung meninggalkan Andra yang masih duduk di sofa itu tanpa memperdulikan suaminya yang terus memanggil namanya.


Tak mau Jingga lepas begitu saja, Andra menyusul Jingga yang berjalan ke arah dapur.


"kau marah..." tanya Andra sambil menahan istrinya itu.


"tidak..." jawab Jingga, ia melepaskan genggaman tangan suaminya itu dan kembali meninggalkannya.


Andra tersenyum garing, ia mulai menyadari semanis apa istrinya ketika sedang merajuk dan seperti menggodanya untuk terus mendekatinya. Andra kembali mendekati wanitanya itu, kini Andra semakin tergoda oleh istrinya itu yang semakin bersikap jual mahal padanya.


Tiba tiba Jingga berbalik, membuat dirinya dan Andra berantakan.


"Andra..." ucap Jingga sambil memegang keningnya yang terbentur bagian tubuh Andra.


"kau kenapa berbalik tiba tiba..." balas Andra yang juga terkejut saat Jingga membalikan badannya tanpa aba aba.


"aku ingin berbicara padamu..." ucap Jingga lagi, saat ini keningnya sudah tak sakit lagi, ia lebih mementingkan pembicaraan yang akan ia mulai pada Andra.

__ADS_1


"apa yang hendak kau katakan, katakanlah..."


Andra duduk di kursi meja makan diikuti oleh Jingga yang menggeser kursi yang tak jauh dari Andra supaya semakin dekat posisi dirinya dan Andra.


Jingga menatap lekat bola mata yang nyaris hitam sempurna itu, horor memang tapi ia harus mampu menatap mata yang telah memperlihatkan sisi lembut yang luar biasa hingga membuat dirinya bisa nyaman berada di dekat orang yang pernah dengan sadar menyiksanya.


"katakan..." perintah Andra lagi, ia melihat gelagat agak aneh dari Jingga hingga membuat dirinya sedikit penasaran dan banyak tidak nyamannya.


Jingga menggigit bibir, ia pun sebenarnya sedikit tak nyaman karena harus menceritakan masa lalunya meski itu pada Andra tapi bagi Jingga masa lalu harusnya di tutup rapat rapat tak usah di ungkap lagi tapi kini situasinya lain.


"tapi berjanjilah dulu untuk tidak salah paham, sebenarnya aku tak nyaman bila harus menceritakan masa lalu ku tapi siatuasinya kini aku harus menceritakannya..." jelas Jingga.


Andra mengangguk tanpa bersuara, bagaimana mungkin mau marah apa yang akan di katakan oleh Jingga saja ia belum bisa menebaknya, masa lalu Jingga sudah ia tau dari Raga tapi soal ini pasti Raga melewatkannya.


"aku sudah mengenal Yudha sebelumnya..." ucap Jingga jujur, gadis itu berkata sambil menutup mata, selain tak mau melihat mata Andra juga ia seolah ingin menutupi keadaan dirinya yang sebenarnya gugup.


Andra diam, senyumnya pudar seiring perkataan yang Jingga ucapkan. Kata kata itu tak bertaring namun sedikit banyak mengoyak hati Andra yang saat itu sedang hangat pada Jingga.


"kau bahagia...?" tanya Andra.


Jingga diam dan menatap Andra lalu mengangguk pelan.


"untuk saat itu aku bahagia, karena aku tidak punya teman..."


Gadis itu menggenggam tangan Andra, seolah tak mau Andra salah paham dengan ucapannya, apalagi Andra sudah memutar bola matanya seolah mencari sesuatu untuk bisa dijadikan pusat penglihatannya.


"sekarang kau bahagia bisa bertemu dengannya lagi...?" tanya Andra. Laki laki berubah keras, tekanan bicaranya terasa sangat seram.


"sudah aku katakan, itu hanya masa lalu, tak ada alasan yang membuat aku harus bahagia bertemu dengan Yudha apalagi kini ia sudah menjadi adik ipar ku...." jelas Jingga.


Andra menarik nafas panjang lalu menghembuskan nafasnya kasar, seolah terasa sesak sampai pada Jingga.

__ADS_1


"esok kita pindah dari rumah ini, aku tak mau Yudha mengganggumu lagi..."


Andra beranjak, meninggalkan kursi yang ia duduki, hendak melangkah pula untuk meninggalkan Jingga yang masih menunduk setelah bercerita pada Andra tentang masa lalunya.


Benar perasaan Jingga jika masa lalu lebih baik di tutup rapat bukan harus di bahas, akan menjadi masalah yang tak akan ada ujungnya bila harus membahas masa lalu dan saat ini Andra nampak kesal dengan apa yang telah Jingga ucapkan, meski itu kejujuran tapi sedikit menyakitkan terutama bagi Andra.


"Andra, kau marah...?" tanya Jingga yang membuat Andra menghentikan langkah kakinya dan diam di tempat, bahu Andra nampak menarik nafas panjang seolah ingin memberi tau jika dirinya tengah memiliki beban yang lumayan berat.


Lalu Andra berbalik, kembali menghampiri Jingga dan menuntun perempuan itu bangkit dari duduknya, pandangan mereka bertemu, bagi Jingga itu sangat menakutkan tapi bagi Andra itu adalah cara untuk mengetahui apa Jingga berbohong atau tidak padanya tentang masa lalunya dengan Yudha.


"sekarang kau milikku, dan akan selamanya jadi milikku, sekali pun Yudha adalah adikku dan dia pernah hidup masa lalu mu aku tak peduli, kau milikku..." ucap Andra.


Lalu dengan sekali tangkap Jingga sudah berada di pelukan Andra, erat sekali laki laki itu memeluknya seolah tak ingin Jingga pergi dan tak juga memperdulikan Jingga yang bisa bernafas atau tidak yang jelas Andra tak mau melepaskan Jingga.


Memang, jika cinta sudah bermain jangankan untuk melepas untuk sekedar berangkat kerja saja rasanya tak rela. Sememabukan itu rasa cinta hingga membuat seseorang yang di hinggapinya lupa diri.


"tetaplah bersama ku..." ucap Andra tepat di telinga Jingga yang membuatnya merinding.


Jingga rasa sedikit lega melihat sikap Andra saat itu, ternyata Andra bisa menerima masa lalu Jingga yang pernah berhubungan dengan Yudha meski hanya teman.


Pelukan Andra membuat Jingga terhanyut, rupanya cinta bisa membuat hati yang awalnya begitu kuat dengan ego kini bisa mengalah karena tak ingin kehilangan. Dalam lidah Andra mungkin bisa menerima jika Yudha telah lebih dulu mengenal Jingga mungkin bahkan Tudha lebih mengenal Jingga dibanding dirinya tapi kini dirinyalah yang telah Tuhan takdirkan untuk menjadi suami Jingga, menjadi ayah bagi anak anak Jingga tapi di hati Andra ada sedikit iri dan tak enak hati pada Yudha, iri karena Yudha lebih bisa dekat pada Jingga lebih darinya dulu dan tak enak hati karena bila diingat dulu Yudha sering bercerita padanya saat pulang di liburan semester bahwa dirinya memiliki teman perempuan yang dia sukai dan pasti itu adalah Jingga.


Tapi tak akan ada yang mau mengalah dengan cinta, tak mungkin ada dua cinta yang tumbuh dalam satu hati, salah satu harus ada yang berkorban dan harus mati.


.


.


.


■■■●●●■■■

__ADS_1


__ADS_2