Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
Dimulai


__ADS_3

Malam itu langkah kaki Jingga membawanya ketempat itu, tempat yang menjajakan kenikmatan dunia namun haram, pikirannya sudah benar benar buntu, ia tak bisa lagi berpikir jernih. Tadi siang dokter yang menangani Akbar berbicara padanya bahwa keadaan Akbar kembali menurun, proses cuci darah yang selama ini dilakukan ternyata tidak terlalu memberikan efek signifikan pada Akbar hingga jalan akhir yang harus di tempuh adalah transplantasi jantung yang memerlukan biaya yang sangat besar.


Pikiran Jingga benar benar kusut, ia tak tau lagi harus berbuat apa dan harus mencari uang kemana, untuk biaya cuci darah Akbar pun Jingga harus bekerja dari pagi hingga malam setiap hari tanpa hari libur, ia sama sekali tak memperdulikan bagaimana keadaan tubuhnya sendiri.


Saat itu ia menatap tempat itu, banyak sekali tamu yang datang dari usia muda hingga laki laki berumur yang mungkin cocok menjadi ayah Jingga datang ke tempat itu, ada pula perempuan yang mungkin seusia dengan Jingga menggunakan pakaian super minim hingga membuat beberapa bagian tubuh yang seharusnya di tutupi itu terlihat jelas oleh pandangan orang lain.


Gadis itu mengepalkan tangannya, seakan menguatkan dirinya sendiri atas apa yang sedang ia lihat, pemandangan yang sungguh miris yang mungkin sesaat lagi akan ia lakukan pula sebagai jalan akhir untuknya mencari biaya untuk pengobatan adik kesayangannya. Namun tak lama gadis itu pergi dengan berlari kecil, air matanya mengalir dipipi dan membasahinya.


.


Andra sudah sedikit puas atas apa yang ingin ia ketahui tentang Jingga, tentang apa yang terjadi di masa lalunya, tentang siapa kedua anak itu dan apa hubungannya dengan Jingga.


Saat ini Andra sudah berada di papiliun, sedang memperhatikan Jingga yang sedang memasak untuk makan mereka berdua, tak ada kata yang terucap antara mereka berdua.


"makanan sudah siap, makanlah..." ucap Jingga, semua makanan sudah tersedia di atas meja, tak ada yang terlewatkan. Nasi, lauk, sayur, buah, air, piring, gelas dan teman temannya sudah berderet rapi di atas meja makan.


"kau mau kemana...?" tanya Andra saat Jingga hendak melangkah pergi bukannya menemani dirinya makan.


"apa peduli mu, makanlah aku bisa jamin jika makanan itu tidak diberi racun..." ucap Jingga ketus.


Andra merasa kesal, ternyata sikapnya selama ini membuat sikap Jingga menjadi keras padanya padahal gadis itu adalah penyayang yang ulung.


"duduklah..." ucap Andra.


Jingga tak menggubris permintaan Andra, ia hanya menatap dengan tatapan tajam bak pisau yang baru di asah.


"ku bilang duduk..." nada bicara Andra meninggi karena Jingga tak menuruti perintahnya.


Akhirnya Jingga mengalah ia memilih duduk daripada kemarahan Andra semakin tak terkendali dan makanan yang telah ia siapkan hanya akan menjadi sampah.

__ADS_1


"ambilkan aku makanannya..." ucap Andra.


"ambil sendiri..."


"aku ini suami mu, sudah selayaknya kau melayaniku..." ucap Andra.


"suami suami, suami macam apa kau ini hah, kau mengurungku di tempat ini, ponsel ku pun kau ambil, aku lebih baik hidup bersama dengan adik adikku daripada harus di tempat ini, aku kesepian..." ungkap Jingga.


Memang selama Jingga tinggal di papiliun megah itu Andra selalu menguncinyq dari luar, semua akses komunikasi di cabut bahkan ponsel jadul Jingga pun tak luput ia ambil. Hidup di papiliun itu membuat Jingga merasa hidup bagai burung yang tak memiliki sayap, ia tak pernah bisa pergi kemana mana lagi.


"lalu apa mau mu..." tanya Andra, sebenarnya ia sangat tak menyukai ada adegan adu argumen di meja makan apalagi saat ini ia sedang akan makan.


"berikan ponselku dan izinkan aku keluar aku berjanji akan pulang sebelum kau pulang..." ucap Jingga.


"tidak, aku tidak akan memberikannya dan aku tidak akan mengizinkan mu pergi dari tempat ini..."


"Andra apa mau mu, kau mengurungku di tempat ini untuk apa, tak ada gunanya..."


"Andra, aku bosan seharian tinggal di sini, aku merindukan adik adikku..."


"kau lupa, aku sudah berjanji pada Akbar untuk mengunjungi mereka akhir minggu ini, kau tinggal menunggu beberapa hari lagi untuk bisa mengunjungi mereka..." itulah Andra, ia tak pernah mau kalah saat berargumen dengan siapapun dan kini Jingga harus menerima kekalahannya.


"dasar laki laki kepala batu..."


"sudah jangan banyak bicara aku lapar..."


Dengan rasa kesal di hatinya mau tak mau Jingga harus melayani Andra, ia membawakan laki laki itu nasi dan teman temannya kedalam piring dan menemani laki laki itu makan.


Saat Jingga sedang menyiapkan makanannya Andra malah curi curi pandang pada gadis itu, sebenarnya gadis itu terlihat cantik dengan wajah yang tirus, hidung mancung dan mata berwarna coklat terang meskipun di pipi kanan bawahnya terlihat luka lebam yang disebabkan oleh dirinya yang sering mencengkram rahang gadis itu sampai gadis itu meringis kesakitan.

__ADS_1


Ingatan Andra terbang, ia kembali teringat saat ia memperlakukan Jingga sampai gadis itu mendesah karena perbuatannya. Ia telah lancang menyentuh tubuh Jingga padahal gadis itu sudah sekuat tenaga menghindari dirinya namun karena tangan kanannya yang ia ikat membuat Jingga tak bisa berbuat banyak selain menerima semua perbuatan Andra.


Andra mulai menyadari jika Jingga memang harus ia sayangi meski Andra bingung harus mulai dari mana untuk melakukan itu semua.


"besok aku tidak akan memasak..." ucap Jingga.


"kenapa...?" tanya Andra.


"sudah tak ada lagi bahan masakan yang bisa aku masak..." ucap Jingga.


"selesai makan mari kita berbelanja..."


"apa..?"


"kau bilang sudah tak ada bahan makanan apa kau mau aku kelaparan, jika kau tak mau ya sudah tak apa aku saja yang pergi sendiri..." kesempatan bagi Andra untuk bisa memulainya dari awal, mulai menyayangi perempuan itu.


"tidak tidak aku ikut, tapi aku harus mandi dulu..."


"makan dulu bersama ku lepas itu silahkan mandi lalu kita pergi..."


"baiklah..."


Akhirnya mereka berdua makan bersama, menghabiskan semua makan yang telah terhidang. Jingga begitu senang saat akhirnya Andra mengajak ya untuk pergi keluar dari papiliun itu meski hanya sekedar berbelanja kebutuhan rumah dan bagi Andra ini mungkin hanya sebuah jalan kecil baginya namun jalan itu harus ia tempuh sebelum jalan besar akhirnya akan ia dapatkan. Membuat senang hati Jingga ternyata bukan hal yang sulit, pesakitan yang sering Jingga dapat membuat gadis itu bisa bahagia meski dengan hal yang sangat sederhana.


.


.


.

__ADS_1


■■■□□□■■■


__ADS_2