
Menjelang malam Andra pulang, sekarang ia tak perlu repot repot harus pergi pulang ke luar kota karena sekarang Jingga sudah tinggal di unit apartemen pribadi miliknya, memang agak jauh dari kantor tempatnya bekerja namun tak sejauh ke papiliun saat itu.
Jalanan masih terlihat padat dengan aktivitas manusia yang entah mau kemana dan akan kemana, mereka terlihat sibuk dengan apa yang menjadi tujuan mereka masing masing termasuk Andra, yang ada di benaknya kini hanyalah Jingga, wanita yang sudah dengan sabar menghadapi sikap arogan dan ego besarnya hingga kini Andra lama lama jadi budak cinta pada Jingga, meski tak ia sadari.
Memakan waktu lumayan lama Andra di perjalanan, rasanya ia ingin membuat jalan pribadinya sendiri supaya cepat sampai dan cepat cepat melihat Jingga.
Pikiran kotor Andra datang saat tiba tiba ia membayangkan Jingga menyambutnya dengan menggunakan baju haram berwarna hitam yang kontras dengan warna tubuhnya yang kuning langsat, membentuk lekuk tubuh Jingga yang begitu dan selama ini tak pernah ada yang melihat itu semua kecuali Andra, ya Andra menjadi laki laki beruntung yang mendapatkan semuanya dari Jingga. Dibayangkannya Jingga tengah menggoda Andra yang baru saja datang, mengusap ngusap dada Andra dan menempelkan dada Jingga di tempat itu, terdengar ******* ******* nakal dari Jingga yang di ucap tepat di telinga Andra yang saat itu juga tak bisa mengendalikan diri. Pikiran Andra semakin terbang, membayangkannya saja sudah mampu membuat Andra merinding apa lagi benar benar itu terjadi.
Lampu merah sudah berubah hijau, semua kendaraan mulai bergerak termasuk mobil milik Andra, pikiran kotor yang menemaninya tadi langsung saja sirna seraya suara klakson kendaraan lain seolah meneriakinya untuk segera melaju dari tempat itu.
Andra kembali membelah jalanan aspal dan langit rupanya mulai menurunkan butir butir bening untuk menemani suasana hati Andra yang ia kompori sendiri, terasa panas suhu tubuh Andra saat ini.
Sampai di tempat tujuan, Andra langsung berlari kecil untuk menuju tempat yang harus ia datangi, ya ia butuh Jingga untuk mendinginkan dirinya, sentuhan dari tangan Jingga.
"Jingga Jingga Jingga..." ucapnya seperti membaca mantra, pikirannya sudah tak bisa ia kendalikan.
Secepat kilat Andra berjalan, dan begitu membuka pintu apartemen, bau masakan menyapa Andra, tak pernah tercium bau semacam ini di unit miliknya itu, hanya wangi khas bujang yang biasanya tercium. Andra melangkah sambil melempar jas yang ia gunakan, serta melonggarkan dasi yang digunakannya juga membuka dua kancing baju kemejanya serta menggulung tangan kemeja panjang itu hingga ke sikut.
Luar biasa, Tuhan mendengar keinginan Andra, meski tak disambut dengan sentuhan seperti yang ia bayangkan tadi tapi melihat Jingga yang tengah menggunakan celana Hot pans berwarna hitam serta kaos polos ketat berwarna peach cukup membuat Andra menelan salivanya sendiri. Segera ia menghampiri Jingga yang masih belum sadar dengan kedatangannya dan Andra langsung memeluk Jingga dari belakang dan membenamkan wajahnya di bahu milik perempuan yang rambut panjangnya sedang diikat keatas hingga membuat leher jenjangnya terlihat sempurna.
"Andra, kau membuat aku terkejut..." ucap Jingga, ia sudah yakin dan tau pasti jika yang saat ini memeluknya adalah Andra, bukan laki laki lain sebenarnya bau maskulin Andra sudah bisa Jingga cium sebelum laki laki itu memeluknya seperti ini, hidung Jingga sudah kenal dengan bau tubuh laki laki dingin itu.
Andra tak menjawab, ia meneruskan aktivitasnya yang terus saja bersikap seperti anak bayi yang merindukan ibunya dan merengek minta disusui.
"sudah, aku sedang memasak, nanti masakan ku gosong bagaimana..." Jingga menggerakkan bahunya agar Andra berhenti beraktivitas disana, meski hanya membenamkan wajah tapi bagi Jingga yang seolah sensitive terhadap sentuhan itu sangat membuatnya kegelian.
Lagi lagi Andra tak menjawab, ia tak memperdulikan Jingga sedang apa dan tengah membuat apa yang jelas dengan satu kali gerakan Andra mematikan kompor dan menarik lengan Jingga dan membawanya ke kursi sofa besar yang sengaja di simpan di dekat jendela kaca yang besar pula agar bisa menikmati pemandangan di tengah kota yang gersang.
"Andra, apa yang kau lakukan..." ucap Jingga seolah takut dengan sikap Andra yang sedari tadi tak bersuara sama sekali, pikirannya melayang takut, takut jika Andra marah karena tak menyambutnya pulang dengan baik, atau ia marah karena Jingga menyuruhnya berhenti menenggelamkan wajahnya di bahunya, atau Andra marah karena Jingga menggunakan baju yang tidak sopan saat ia pulang kerja.
"Andra..." lagi lagi hanya ucapan Jingga yang terdengar, dengan posisi yang sudah di dibawah kekuasaan Andra.
Yang Jingga lihat begitu menakutkan, kedipan mata Andra begitu sayu namun tajam, bola matanya yang nyaris hitam sempurna itu seolah mengikat penglihatannya agar terus Jingga tatap tanpa memandang apa pun lagi.
"Andra, kau membuat aku takut..." ucap Jingga lagi.
Dan Andra hanya tersenyum bak iblis sebelum akhirnya mencium bibir kecil nan indah milik istrinya itu.
__ADS_1
Kecupan kecupan terasa begitu misterius, terlebih Andra yang sama sekali bungkam dan hanya melakukan apa yang ia mau terhadap Jingga, percayalah kali ini Andra sedikit tak bisa mengontrol dirinya sendiri akibat istrinya yang tak melakukan apapun mampu membuatnya terhanyut dalam.
"apa kau masih takut...?" tanya Andra yang akhirnya buka suara setelah ******* bibir kecil itu hingga membuat perempuan yang kini berada dalam pelukannya tengah kesulitan mencari udara untuk bernafas.
"ada apa...?" Jingga bertanya balik, tak biasanya Andra bersikap seperti ini.
Bukan tak mau Jingga melakukan semua ini hanya saja dengan melihat wajah juga perilaku Andra yang membuat Jingga khawatir, ia takut sesuatu terjadi pada suaminya itu, terlebih Jingga tau tentang Andra yang akan memberikan cuti pada Raga, mungkin karena pekerjaan kantor atau hal lain.
"aku hanya merindukan mu..." jawab Andra yang membuat Jingga diam dengan kedua alis nyaris bertemu.
Jingga bak mendapat hadiah gosokan satu juta dolar, Andra mengatakan hal yang sama sekali tak pernah ia harapkan, ucapan rindu bukan kah setiap hari mereka bertemu, hanya ditinggal pergi bekerja saja mereka berjarak.
Tanpa sempat berkata lagi Andra telah melakukan hal yang ia mau terhadap Jingga, apa pun itu ia lakukan tak peduli dengan apapun karena dunia hanya milik mereka. Kecupan, sentuhan, gerakan yang sensual membuat suara suara manis yang mulai terdengar memenuhi ruangan itu, semua mereka lakukan dengan manis tanpa paksaan.
Hingga akhirnya, kemeja yang tadi Andra kenakan sudah berpindah di tubuh Jingga menutupi bagian atas tubuhnya yang tadi entah di apakan oleh Andra, sedangkan Andra sudah bertelanjang dada dan kini ia tengah menatap Jingga yang sedang menutup matanya mungkin karena lelah.
"kau tidur...?" tanya Andra sambil memainkan anak rambut Jingga yang berantakan.
"mmm tidak..." Jingga menggeliat meski matanya masih terpejam.
Jingga membuka mata dan pandangannya langsung bertemu dengan mata Andra yang ternyata bisa terlihat teduh juga.
"Andra.. "
"hmmm..."
"ada apa..."
"sudah ku bilang aku merindukan mu..."
Jingga lagi lagi diam, ucapan Andra begitu terdengar tulus. Laki laki itu merubah posisinya hingga kini merangkul Jingga.
"Andra..."
"ada apa nona, nampaknya kau tak senang aku memeluk mu seperti ini..."
"bukan begitu..."
__ADS_1
"lalu..."
"aku hanya bertanya ada apa..."
"aku jawab merindukan mu..."
Jingga menunduk, bibirnya di gigit kecil seolah mencari keberanian untuk berbicara.
"Andra..."
Lama lama Andra merasa bosan dengan sikap Jingga, ia hendak bangun dari tidurnya namun entah bagaimana satu kali gerakan Jingga membuat dirinya kembali terbaring dan kini Jingga yang berada di atas badannya.
"jawab aku ada apa..."
"tidak ada apa apa Jingga..."
Hendak bangun lagi namun Jingga menahan lagi.
"kau tau tadi ada seorang kurir yang datang, memberikan sebuah paket bunga yang indah dan disana tertulis nama mu..."
"paket bunga...? aku tak tau Jingga..." Andra kaget.
"kau tak usah berbohong Andra, jelas jelas itu nama mu dan pengirimnya nama seorang wanita..."
"wanita...?"
"ya wanita, Freeya..."
.
.
.
.
■■■■●●●●■■■■
__ADS_1