
Pagi harinya Jingga dibuat terkejut, didapatinya tubuh Andra yang menggigil dengan suhu badan yang sangat panas. Keringat membanjiri tubuh Andra dan Jingga benar benar panik.
"Andra, kau sakit...?" tanya Jingga, gadis itu benar benar panik. Kemudian ia berlalu ke luar kamar dan kembali dengan membawa wadah berisi air dan haduk kecil lalu mengompres kening Andra.
"dingin..." ucap Andra, bibirnya pucat.
"lebih baik kita pergi ke dokter saja..." ucap Jingga makin panik.
"tidak usah, panggil saja Raga kemari..."
Jingga mengangguk, sebenarnya mengurus orang sakit bukan perkara sulit untuk Jingga ia biasa merawat Akbar yang bahkan lebih merasakan sakit di banding Andra tapi entah kenapa kini kepanikan malah menggulung Jingga.
Jingga menuruti mau Andra, ia melakukan panggilan lewat ponsel milik Andra kepada Raga. Panik masih melanda Jingga, terlihat gadis itu tak bisa diam dan mengontrol dirinya sendiri.
"jangan panik, aku hanya demam biasa..." ucap Andra yang mungkin merasakan apa yang gadis itu rasakan.
"kau sakit Andra, aku takut..." kata Jingga, gadis itu mencelupkan lagi handuk yang ia gunakan mengompres Andra saat dirasa sudah kering karena panas dari tubuh Andra.
Tak kunjung lama bel rumah itu berbunyi, Jingga sedikit berlari menghampiri dan membukanya yang ternyata yang datang adalah Raga dan seseorang yang berpakaian dokter.
"Raga, Andra Andra ada di kamar, cepat tolong dia ku mohon..." ucap Jingga, gadis itu benar benar khawatir, meski hanya terlihat seperti demam biasa tapi ia sangat takut, terlebih yang menyebabkan Andra seperti ini adalah dirinya.
"baik nona..." ucap Raga. Mereka melangkah masuk kedalam kamar yang sebelumnya telah mendapat persetujuan dari yang punya rumah, lalu orang yang di bawa Raga mulai memeriksa tubuh Andra yang memang sangat panas, suhu badannya berada di atas rata rata.
Dengan teliti dokter itu memeriksa, tak mau salah mendiagnosa petinggi perusahaan yang sudah cukup terkenal itu.
"maaf, apa tuan Andra mengkonsumsi minuman berkafein...?" tanya dokter itu.
"ya, kemarin Andra mengkonsumsi kopi..." jawab Jingga, dirinya bergetar takut sesuatu yang tak mau terjadi justru terjadi pada Andra.
"sepertinya asam lambung tuan Andra naik yang menyebabkan tuan Andra demam dan seperti tuan Andra..." jelas dokter itu.
"tadi malam Andra mandi, nyaris pukul 2 pagi dan itu gara gara aku..." ucap Jingga. Ucapan Jingga sukses membuat dokter dan Raga saling memandang, yakinlah kedua laki laki itu kikuk mendengar kata 'karena aku' yang Jingga ucapkan.
"nona saran saya lebih baik jika menyelesaikan itu terlalu larut lebih baik bersihkan saja jangan langsung mandi, meski badan akan terasa lengket karena keringat tapi bila langsung mandi suhu badan kita akan kaget bila langsung disiram air..." jelas dokter itu memberi saran.
__ADS_1
Jingga mengerutkan dahi, kedua alisnya bertemu, perkataan dokter tadi sungguh membuatnya bingung, salah arah pemahaman antara dirinya dan dokter itu terjadi.
"baik nona saya sudah memberikan resep obat pada Raga agar di minum oleh tuan Andra, saran saya supaya tuan Andra lebih bisa menjaga makanan dan minuman yang beliau konsumsi sebisa mungkin kurangi dan hindari kafein. Hidupkan sehat supaya badan tetap bugar dan segar terlebih pengantin baru seperti nona..." jelas dokter itu.
Jingga hanya iya iya saja mendengarnya, alam bawah sadarnya sudah paham arah pembicaraan dokter itu.
Dokter itu undur diri bersama dengan Raga yang akan membeli obat dari resep dokter yang tadi di berikan, setelah kembali mengunci pintu Jingga kembali memeriksa kondisi Andra yang masih memejamkan matanya.
"jangan memandangi ku terus, aku tau aku tampan.. " ucap Andra saat itu ia sadar jika lama Jingga menatap wajahnya.
"tidak, aku tidak memandangimu..." kata Jingga mengelak, ia tak mau mengaku jika sedang menatap wajah suaminya itu.
"benarkah..."
"Andra kau menyebalkan sekali..." ucap Jingga, gadis itu refleks memukul Andra yang sedang terbaring.
"kau menyiksa ku, aku sedang sakit Jingga.." Andra meringis mendapat serangan dari Jingga padahal pukulan itu tak sakit sama sekali.
"maaf maaf, lagipula kenapa kau malah menggodaku, aku tidak memandangimu tadi..." ucap Jingga tak mau mengalah begitu saja. Apa jadinya jika ia mengaku memang sedang memandangi Andra.
Jingga tersenyum, rupanya orang sakit itu sudah bisa tertawa lagi, panik yang tadi menyerangnya kini mulai hilang bersama dengan kondisi Andra yang mulai membaik setelah di periksa dokter.
"aku lapar..." ucap Andra.
"kau lapar, baiklah aku akan membuatkan mu makanan, tunggu disini oke..." jawab Jingga, ia begitu antusias mendapati Andra yang kelaparan itu berarti ia harus menjalankan tugasnya sebagai istri untuk melayani Andra.
"tidak, aku ingin melihatmu memasak..." Andra menyibakkan selimut yang sedari tadi menutupi tubuhnya.
"tapi kau masih demam..." cegah Jingga.
"aku kuat Jingga, tenanglah aku tidak apa apa..." ucap Andra. Laki laki itu berusaha meyakinkan gadisnya itu bahwa ia baik baik saja, hanya demam biasa.
"dasar tuan keras kepala, baiklah kalau begitu mari ku bantu..." ucap Jingga, akhirnya ia mengalah membantu Andra untuk ikut keluar bersamanya.
Dengan susah payah Jingga membantu Andra, tubuh Andra yang tinggi besar membuat tubuh Jingga yang hanya sepundak Andra itu kesulitan, terlebih Andra sengaja membuat gadis itu menumpu badannya yang besar itu.
__ADS_1
"sampai, kau perlu olahraga tuan..." ucap Jingga saat akhirnya sampai dan mendudukan Andra di sofa panjang depan tivi itu.
Jingga masih mencari nafas, perjalanan dari kamar hingga ke sofa ini bak perjalanan jauh antara dua benua. Mendengar ocehan Jingga membuat otak usil Andra bermain, ia menarik tangan gadis itu hingga ia jatuh tepat di pelukan Andra.
"aku sudah rajin berolahraga di luar ruangan, tinggal menunggu persetujuan mu untuk bisa berolahraga di dalam ruangan bersama mu..." ucap Andra tepat di telinga Jingga yang membuat gadis itu merinding.
"kau..." Jingga hendak berontak tapi tangan Andra berhasil menahannya.
Kesempatan ini tak di sia siakan oleh Andra, ia mendekatkan diri supaya lebih bisa deket dengan Jingga, dekat dan lebih dekat hingga jarak mereka sudah beberapa mili lagi.
"tuan ini obat anda..." tiba tiba Raga masuk tanpa permisi membuat mereka yang tengah berdekatan kaget terutama Jingga.
Gadis itu langsung berlari kecil menuju dapur, meninggalkan Andra yang masih mematung.
"bisakah kau ketuk pintu sebelum masuk...?" tanya Andra, kecewa mangsanya kabur begitu saja.
"maaf tuan saya sudah lancang..." ucap Raga, ia menunjukan mimik muka bersalah karena telah menangkap basah tuannya yang tengah bermesraan dengan istrinya.
"pergilah sebelum aku marah..." usir Andra.
"baik tuan, ehh ini obat yang harus anda konsumsi di dalamnya sudah ada aturan minumnya..."
"aku tidak mau meminumnya, aku sudah sembuh, pergilah..."
Raga berlalu meninggalkan Andra yang kesal padanya, menutup pintu lalu pergi jauh dari papiliun itu, sedang Andra mendengus kesal karena telah melewatkan kesempatan emas seperti tadi yang jarang datang lagi. Dan Jingga tengah sibuk di dapur, rasanya lega baginya bisa lepas dari sergapan Andra.
.
.
.
.
■■■■♤♤♤♤■■■■
__ADS_1