
Andra berusaha mencari Jingga, tadinya ia akan menceritakan siapa Freeya pada Jingga, Andra tak akan bisa jika harus kehilangan Jingga untuk saat ini. Tapi langkah kakinya terhenti saat melihat dua orang yang ia kenal sedang duduk berdua di bangku taman, dan yang paling menyakitkan adalah Jingga tengah bersandar di pundak Yudha.
"begini kulakukan kalian di belakang ku...?" ucap Andra yang sudah tak bisa menahan lagi emosinya melihat istrinya sendiri bersandar di bahu lelaki yang tak lain adalah adiknya.
Deg, Jingga hafal suara serak itu, suara Andra. Jingga langsung terbangun dan membalikan tubuhnya dan langsung menemukan sosok tubuh Andra yang sedang menatap dirinya juga Yudha dengan penuh rasa di matanya. Terlihat jelas jika Andra begitu marah, marah karena ia telah melihat dengan mata sendiri bagaimana sikap Jingga dan Yudha sebenarnya di belakang dirinya dan versi dirinya.
"Andra, biar ku jelaskan dulu..." ucap Yudha mencoba menenangkan Andra.
Laki laki itu mendekat dan langsung menyambar tangan Jingga untuk segera pergi dari tempat itu bersamanya.
"apa yang harus aku dengar dari mu..." tantang Andra pada Yudha.
"Jingga tak salah, aku yang datang ke tempat ini..." ucap Yudha.
"Jingga yang memintanya...?" tanya Andra dengan sinis.
"tidak Andra, aku tidak memintanya datang..." bela Jingga.
"lalu bagaimana cara bisa pas seperti ini, apa kalian punya ikatan batin, wow luar biasa sekali.." alis Andra naik sebelah, emosi sudah menggulungnya membuat dirinya tak bisa berpikir rasional, ia pun lupa bahwa Jingga tak memiliki alat komunikasi apapun setelah ponsel jadul milik Jingga telah ia ambil di awal pernikahan mereka.
"Andra, sudah hentikan, malu di lihat orang..." ucap Jingga berharap suaminya itu akan berhenti berbicara di tempat umum seperti ini dengan Yudha dan hanya membahas hal yang tidak penting.
"kenapa aku harus malu, yang seharusnya malu itu kalian, kau adikku berselingkuh dengan istri kakaknya sendiri, wah bukankah itu cocok untuk sebuah judul ftv..." ucap Andra yang sudah benar benar marah.
"jaga ucapanmu Andra, kau boleh menghina ku tapi jangan dengan Jingga, dia istri mu..." bela Yudha.
"lantas mengapa kau bersama dengan istriku dan aku melihat sendiri kau memeluknya..." ucap Andra, seseorang yang sudah termakan emosi memang tak akan bisa berpikir jernih, ia akan merasa dirinya benar meski belum mendengar apa yang sebenarnya terjadi.
"cukup Andra, aku tak memeluk istri mu, tadi dia menangis lalu..."
"lalu apa, lalu kau datang bak pahlawan dan menyediakan pundak mu untuk istri ku ini menangis, wah sungguh cerita yang menarik..."
Tenggorokan Jingga terasa tercekik mendengar semua ucapan yang suaminya itu katakan, tentang perselingkuhan yang sebenarnya tak pernah ada, yang ada adalah perselingkuhan yang Andra lakukan begitu versi Jingga.
"cukup Andra, lebih baik kita selesaikan saja permasalahan kita tak usah kau bawa bawa orang lain..." ucap Jingga, ia berupaya supaya suaminya itu tak meledak dan menyalahkan Yudha, semua ini murni karena tadi Jingga butuh tempat untuk sekedar menangis, meluapkan semua rasa yang ia rasakan.
__ADS_1
"kau membela selingkuhan mu itu Jingga, waw luar biasa..." balas Andra. Rasa sakit yang ia rasakan setelah melihat Jingga dan Yudha berduaan membuat diri Andra tak bisa lagi berpikir dengan benar.
"cukup Andra..." bentak Yudha.
"diam kau..." Andra lebih membentak.
"kau sudah berani menyentuh istriku ini Yudha, awalnya aku percaya kalian tak memiliki hubungan apapun tapi setelah aku melihat kejadian tadi aku jadi ragu..." intonasi bicara Andra tinggi, emosinya menggebu.
"lalu bagaimana dengan mu, kau lebih berani menyembunyikan wanita lain di belakang istri mu sendiri, kau jauh lebih menjijikan..." balas Yudha tak mau kalah, meski ia belum paham betul dengan permasalahan Jingga dan Andra tapi mendengar dari Jingga membuat Yudha yakin jika Andra memang berselingkuh.
"diam kau, kau tak tau apa apa..."
"aku memang tak tau apa apa, tapi kau telah membuat Jingga menangis, tadinya aku akan merelakan kau dan Jingga supaya bahagia tapi bila begini aku jadi ragu, aku akan kembali merebut Jingga dari mu..."
"beraninya kau..."
"sudahhhhhhh, ku mohon hentikan..." teriak Jingga, perempuan itu nampak sudah tak tahan dengan pertengkaran antara kakak dan adik hanya karena salah paham yang dibuat oleh dirinya.
"sudah, Andra lebih baik kita pulang, kita selesaikan semuanya..." pinta Jingga dengan wajah memelas supaya Andra menurutinya.
"dengar baik baik Yudha, kau memang adikku tapi Jingga adalah istriku, jika kau menginginkan Jingga maka langkahi dulu mayatku..." ucap Andra, ia melangkah pergi bersama dengan Jingga.
Jingga kesulitan menyeimbangkan langkah kakinya karena Andra hampir menyeretnya, meski kesalahan tapi Jingga berusaha untuk tetap bisa berjalan. Dengan pergelangan tangan kanan yang di cengkram kuat dan langkah kaki yang begitu kasar Jingga yakin jika Andra benar benar marah padanya.
Benar saja sampai mereka di tempat Andra memberhentikan mobilnya dengan kasar ia nyaris membanting Jingga di badan mobil membuat perempuan yang habis menangis itu terkejut.
Andra menatap Jingga lekat, bola mata yang sebenarnya sudah begitu terbiasa Jingga melihatnya namun kini terlihat menakutkan, bola mata penuh kemarahan, sama seperti saat awal mereka menikah.
*
Sampai mereka di dalam unit apartemen, setelah tadi di perjalanan Andra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Jingga yang duduk bersebelahan dengan Andra kini hanya bisa pasrah, pasrah bila Andra melakukan hal yang gila, ingin mati bersama.
"aku..." Jingga membuat kata pembuka, ia ingin segera mengakhiri semua kesalahpahaman yang terjadi diantara dirinya dan Andra.
"katakan.. "
__ADS_1
"apa..."
"katakan sejak kapan kau berhubungan lagi dengan Yudha..." tuduh Andra.
"tidak Andra, aku tidak berhubungan dengan Yudha..." bela Jingga.
"lalu apa yang ku lihat tadi, kau bersandar di bahunya, bahkan aku lihat kau terlihat nyaman, aku punya mata dan aku tidak buta Jingga..." bola mata Andra membesar, ada sorot kebencian saat semua kalimat itu berhasil keluar dari mulut Andra.
"tidak Andra tidak begitu, aku-"
"aku apa, dengan terus kau memberi pembelaan atas kesalahan mu kau terlihat sangat menyedihkan Jingga, aku benci itu..."
Semua ucapan Andra cukup membuat hati Jingga bak ditikam belati yang baru saja di asah, begitu tajam hingga membuat hatinya terluka, sakit dan perih sudah pasti Jingga rasakan. Namun saat itu Jingga berusaha membesarkan hati, ia tak mau menangis lagi meski dengan susah payah ia melawannya bahkan membiarkan dadanya merasakan sesak yang begitu berat.
"cukup kau menuduhku seperti ini Andra, saat kau bilang aku terlihat menyedihkan lalu bagaimana dengan mu, apa kau pikir kau lebih baik dariku..? kau lebih menyakitkan Andra, kau sembunyikan wanita lain di belakang ku..." ungkap Jingga.
Entah kekuatan darimana perempuan itu berani berkata demikian pada Andra, rasa sesak karena terus dituduh membuat Jingga bangkit untuk membuktikan jika dirinya tak melakukan apa yang dituduhkan.
"jaga ucapan mu Jingga, apa kau punya bukti aku berselingkuh seperti aku yang melihat kau berduaan dengan Yudha..."
"kau pikir aku bodoh..? meski aku belum melihatnya tapi apa yang terjadi saat ini sudah jelas Andra, kau diam tak mau menjelaskan tentang semua ini, seakan kau begitu senang melihat aku dibalut rasa sesak di dadaku ini Andra..."
"tadinya aku mencari mu untuk menjelaskan ini semua tapi malah aku melihat tayangan drama yang begitu menyentuh hati..."
"cukup Andra, silahkan kau tuduh aku sesuka mu, aku tak peduli tapi satu hal yang harus kau ingat aku tak melakukan apa yang kau tuduhkan..."
Jingga lalu berlalu meninggalkan Andra yang terlihat masih kesal padanya itu, air muka Andra malah semakin terlihat merah padam seakan ingin mengeluarkan emosi yang ada dihatinya.
Kesalahpahaman memang bisa membuat orang saling menuduh tak peduli benar atau salah yang jelas pendapat versi masing masing pasti paling benar.
.
.
.
__ADS_1
♧♧♧♧