Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
menangis


__ADS_3

"ceklek..." pintu kamar hotel itu berhasil terbuka, ada wangi yang familiar namun tak bisa Jingga sebutkan namanya menusuk hidung gadis itu, tapi Jingga tak memiliki kecurigaan maklum saja ini pertama kalinya ia datang ke kamar hotel jadi ia pikir ini adalah wangi pengharum ruangan khas hotel ini.


"cepat masuk..." ucap Andra saat telah membukakan pintu kamar itu.


"kau dulu.. " jawab Jingga, ia tak mau masuk duluan takut takut Andra akan bersikap yang aneh aneh padanya saat ia telah masuk duluan.


"cepat masuk Jingga..."


"tidak mau..."


"Jingga cepat masuk, kepalaku sudah sangat pusing..." ucap Andra, sakitnya itu ia jadikan senjata kepada Jingga agar gadis itu menuruti perintahnya, meski hanya memasuki kamar hotel.


Gadis itu memincingkan matanya pada Andra, tatapan sinis terlihat darinya karena sebenarnya ia takut untuk masuk kedalam duluan, meski jagoan ketahuilah gadis itu takut kegelapan, ia bisa berteriak hingga hilang suara bila ada di ruangan gelap.


Jingga menurut, gadis itu melangkahkan kakinya kedalam kamar duluan, di susul dengan Andra dan lalu pintu itu terkunci.


"Andra sepertinya kita salah kamar..." ucap Jingga saat ia melihat penampakan kamar yang ia masuki.


"kenapa, memang ada apa...?" tanya Andra heran dengan perkataan gadis itu.


"kamar ini sepertinya sudah di pesan, sudah ada dekorasi di sana sini, mari kita keluar saja sebelum yang punya ruangan datang..." ucap gadis itu polos.


Andra terkekeh melihat tingkah Jingga yang begitu polos, gadis yang ia nikahi itu rupanya begitu manis meski banyak tidak tahunya tapi bukankah Andra lebih menyukai wanita seperti ini, tidak banyak menuntut dan penurut namun bisa galak dan bila khawatir ia akan setengah mati menangis karena ketakutan.


"kau mau kemana...?" tanya Andra saat Jingga yang dengan santai meraih tangannya hendak mengajaknya keluar dari ruangan itu.


"cari kamar kita, kita salah kamar..." jawab Jingga.


"ini kamar kita Jingga..." ucap Andra.


"bukan Andra, ini seperti kamar pengantin baru lihatlah bnyak dekorasi seperti ini..." kata Jingga


"kita memang pengantin baru kan..." ucap Andra.


"apa maksudmu Andra, kau ini ada ada saja..." kata gadis itu nampak mengerutkan dahinya, perkataan Andra dianggapnya hanya kata kata godaan untuk dirinya saja.

__ADS_1


"memang benarkan, kita ini pengantin baru..." ucap Andra, ia mulai menggiring Jingga hingga tubuh gadis itu terhimpit antara dinding dan dirinya, membuat gadis itu jadi salah tingkah.


"Andra apa yang kau lakukan, kau membuat aku..."


"membuat apa hmmm..." Andra semakin menggoda Jingga, ia mendekatkan wajahnya hingga nyaris mencium pipi gadis itu namun ia malah mempermainkannya membuat gadis itu hanya bisa memejamkan matanya.


"kau membuat aku takut Andra..." ucap Jingga sambil menahan nafas saat berkali-kali hembusan nafas Andra membentur pipinya dan yang membuat jantungnya berdetak cepat sekali.


"kau tak usah takut Jingga, aku ini suami mu bukan siluman..." ucap Andra, ia semakin mempermainkan Jingga, dengan hidung mancungnya Andra menyentuh daun telinga Jingga yang membuat gadis itu semakin tak berdaya, nafasnya semakin naik turun dengan perlakuan yang Andra lakukan.


Tiba tiba otak Jingga kembali berputar pada kilas balik saat Andra mempermainkannya hingga ia melakukan pelepasan yang memalukan itu, ingatan yang tak ingin ia ingat kembali namun tiba tiba kembali hadir disaat saat seperti ini.


"Andra lepaskan aku..." ucap Jingga, ia berusaha menjauhkan dirinya dari Andra, tak mau semuanya terulang kembali.


"tidak Jingga, kau milikku..." ucap Andra, ia seolah tak mau melepaskan mangsanya tapi tanpa di sadari tindakannya membuat gadis yang ada di dekapannya semakin ketakutan.


"ku mohon Andra lepaskan aku, aku mohon Andra, aku takut..." ucap Jingga, ia memohon saat Andra malah semakin mempermainkannya.


Awalnya Andra tak menghiraukan Jingga namun saat tangisan Jingga terdengar nyaring di telinganya ia langsung menyudahi semuanya, alam sadarnya kembali dengan cepat kala itu.


Sambil menangis Jingga nampak ketakutan, trauma yang Andra berikan pada Jingga rupanya begitu membekas di hati gadis yang sepanjang hidupnya tak pernah merasakan indahnya di cintai, orang orang yang ada didekatnya hanya ingin memanfaatkan kebaikan hatinya saja lalu pergi tanpa jejak.


"kau membuat aku takut Andra, ku mohon Andra aku takut..." rengek Jingga saat itu, gadis itu sampai terduduk lalu memegangi lututnya menggambarkan betapa terguncangnya jiwanya saat itu.


"maaf Jingga maaf, aku tak bermaksud membuatmu takut, sungguh..." Andra jadi serba salah dengan sikap Jingga yang seperti ini, yang ia mau adalah adegan malam pertama yang tertunda, ******* Jingga yang menyebut nyebut namanya bukan tangisan dengan rasa sakit seperti ini.


"aku takut Andra..." lagi lagi Jingga menyebut kata takut yang membuat Andra merasa bersalah.


Andra tak berkata lagi, ia memeluk gadisnya itu yang tengah menangis sesegukan di hadapannya itu dan ingatan Andra pun terbang pada adegan saat ia dengan sadar mempermainkan Jingga hingga membuat rasa bersalah kini menyapa relung hati Andra.


Jingga masih menangis dan Andra masih setia mendengarkan tangisan gadis itu, ia membelai rambut panjang istrinya itu dan merelakan bahunya basah oleh air mata Jingga sebagai pembayaran atas kejahataanya waktu itu meski sebenarnya ini belum setimpal sama sekali.


Gadis itu mulai tenang, isaknya sudah tak terdengar, meski masih sesegukan mungkin sisa dari tangisan yang tadi begitu histeris ditambah lagi dengan tubuhnya yang mulai melemah dan rileks dalam dekapan Andra.


"Andra..." ucap Jingga, suara begitu bergetar dan serak. Wajah Jingga sembab dimana mana, matanya juga bengkak.

__ADS_1


"ya..." jawab Andra lembut, ia masih membelai belai Jingga dengan penuh kasih sayang.


"bukankah kau pusing...?" pertanyaan Jingga sebenarnya membuat Andra ingin tertawa, tapi menanggapi itu ada haru juga dari diri Andra karena meski Jingga telah ia sakiti ia masih saja khawatir pada Andra.


"pusing kepala ku sudah hilang..." jawab Andra.


"kenapa, kau belum istirahat..." ucap Jingga, ia melepas pelukan Andra dan menatap wajah laki laki itu.


"melihatmu ketakutan seperti tadi membuat aku jauh lebih khawatir dan membuat sakit kepalaku hilang..." jawab Andra, ia memata rambut Jingga yang menghalangi wajah gadis itu seolah memberikan dukungan pada Jingga agar ia kembali pada normalnya.


"maafkan aku, aku tidak bermaksud menghalangi kau untuk beristirahat..." Jingga menunduk, wajah bersalah tergambar jelas.


"tidak Jingga, kau tidak menghalangiku untuk beristirahat..." ucap Andra, ia tak mau gadis itu kembali bersedih.


"benarkah...?"


"iya.."


"sekarang istirahatlah..." perintah Andra pada Jingga saat dirasa gadis itu sudah mulai kembali lagi seperti sedia kala.


"nantilah, setelah menangis rasanya tubuhku panas, aku ingin mandi dulu..." ucap Jingga.


"ya sudah mandilah..." kata Andra sambil mengangkat tubuh Jingga yang sedari tadi terduduk di lantai.


"baiklah..." Jingga mulai melangkah menuju kamar mandi hotel itu, namun tiba tiba langkahnya berhenti dan kembali membalikan tubuhnya.


"Andra..."


"hmmm..." timpal Andra yang saat itu tengah membelakangi Jingga sedang menata bantal di sofa sebelum ia duduki.


"mau mandi bersama..."


.


.

__ADS_1


.


■■■■


__ADS_2