Yang Ku Damba

Yang Ku Damba
Doa yang mengancam


__ADS_3

Seharian Jingga tak keluar kamar, dan kini hari sudah menjelang sore.


"nona..." ucap mbak Mirna sambil mengetuk pintu kamar Jingga.


"iya mbak..." jawab Jingga dengan membuka pintu kamarnya.


"nona maaf saya izin pulang, semua pekerjaan sudah selesai saya kerja kan..." jelas mbak Mirna.


"mbak mau pulang, baiklah kalau begitu, terima kasih mbak..." ucap Jingga.


"saya undur diri nona..."


"iya mbak, terima kasih..."


Mbak Mirna berlalu, meninggalkan Jingga dirumah itu dengan perasaan was was, tadi Jingga lupa bertanya pada mbak Mirna tentang keberadaan Yudha.


Jingga beranjak menuju dapur, seharian didalam kamar membuatnya merasa lapar. Diatas meja telah terhidang makanan yang sepertinya tadi mbak Mirna masak. Jingga makan sendiri dengan lahapnya hingga melupakan rasa takut yang sedari tadi menghantuinya.


Saat Jingga sedang membersihkan piring kotornya di wastaple tiba tiba sebuah tangan menyentuh pundaknya.


"Andra...?" ucap Jingga. Betapa kagetnya ia saat membalikkan badan dan ternyata itu adalah Yudha.


"hai, Jingga..." jawab Yudha, sorot mata laki laki terlihat menakutkan. Mata yang biasanya manis dan meneduhkan kini berubah menjadi tatapan ingin menerkam.


Jingga buru buru menyudahi aktivitasnya, tak ingin lama lama terjebak dengan Yudha. Jingga hendak melangkah namun tangannya di cegah oleh Yudha.


"mau kemana...?" tanya Yudha dengan kasar meraih tangan Jingga yang saat itu meraih dirinya.


"lepaskan aku..." jawab Jingga sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Yudha.


Yudha tak menggubris, ia semakin erat mengenggem tangan Jingga membuat perempuan itu meringis kesakitan.


"Yudha lepaskan aku..." perintah Jingga.


"Jingga, kenapa kau menghindari aku, apa kau tidak merindukan aku...?" cecar pertanyaan dari Yudha untuk Jingga.


"kau gila Yudha, untuk apa aku merindukan mu..." jawab Jingga. Ia berhasil melepaskan diri dari cengkraman Yudha.


Jingga setengah berlari meninggalkan Yudha, berharap laki laki itu tak mengikuti aku.


"Jingga, aku merindukan mu..." ucap Yudha sambil mencegah Jingga lagi, kini bukan hanya tangan tapi Yudha meraih pundak Jingga dan membuat Jingga hampir jatuh di pelukan Yudha.


"Yudha, kau ini gila, aku ini kakak ipar mu, istri dari kakak mu, untuk apa aku merindukan mu..." jawab Jingga, untung saja Jingga tak kehilangan keseimbangan jadi ia masih bisa mengendalikan diri untuk tetap seimbang.


"aku tak peduli itu Jingga..." ucap Yudha lagi, laki laki itu begitu memaksa tak peduli dengan status Jingga yang saat ini adalah kakak iparnya.

__ADS_1


Jingga pergi tak memperdulikan lagi Yudha, laki laki itu masih terikat dengan masa lalunya, belum bisa menerima kenyataan yang ada saat ini.


"Jingga..." lagi lagi Yudha menghalangi.


"apa lagi Yudha. Bisakah kau tak mengganggu aku, aku tak ingin suamiku salah paham melihat kau berlaku seperti ini..." ucap Jingga, ia menjaga jarak dengan Yudha karena takut jika Andra pulang melihat dirinya dengan Yudha yang menjadikan salah paham.


"sudah ku bilang aku tak peduli itu Jingga, aku malah berharap kau dan kakakku itu berpisah..." ungkap Yudha.


Jingga membelalakan mata, ia tak habis pikir jika Yudha menginginkan perpisahan antara dirinya juga Andra padahal ia tak tau bagaimana selama ini Jingga bertahan ditengah sikap Andra yang begitu kasar padanya.


"Yudha, ku harap kau sadar dan mau menerima kenyataan. Dari dulu aku tak pernah memberi mu sedikit pun harapan jadi ku mohon jangan bersikap gila seperti ini...." panjang lebar Jingga berbicara, ia ingin adik iparnya itu sadar.


"jadi kau hanya memberikan aku harapan palsu...?" tanya Yudha.


"tidak Yudha, aku tak pernah memberikan harapan apapun padamu, aku menganggap mu teman saja tak lebih..." jelas Jingga.


Sejenak Yudha diam, tak percaya dengan apa yang Jingga ucapkan, semua perjuangan yang ia lakukan selama ini ternyata hanya di anggap teman biasa saja oleh Jingga tak lebih, tapi Yudha menganggap lebih.


"ku mohon Yudha, jangan salah paham apalagi sekarang aku sudah menjadi kakak ipar mu, tolong jangan berharap apapun..." ungkap Jingga, penuh harap Jingga berupaya supaya lelaki yang pernah menemaninya dulu itu tidak bersikap kekanakan seperti saat ini.


"kau keterlaluan Jingga.." ucap Yudha, tatapannya semakin menusuk seolah membunuh bagai mata pisau yang tajam.


"maafkan aku jika menurutmu aku memberikan kau harapan tapi sungguh aku tak pernah memberikan harapan apapun padamu Yudha..." ucap Jingga.


"kau laki laki baik Yudha, aku yakin kau akan mendapatkan perempuan yang baik pula itu doaku untuk mu, untuk itu lepaskan semua harapan mu padaku..." sambung Jingga lagi.


"kau jangan gila Yudha, kumohon..."


"kenapa, kau takut. Biarkan doa ku dan doa mu bertarung di langit, dan Tuhan yang menentukan siapa pemenangnya..." ucap Yudha, terdengar bagai doa yang mengancam.


Tak terasa Jingga meneteskan air mata, ia tak habis pikir ternyata ada pihak yang menginginkan ia dan Andra berpisah hanya karena harapan yang tak pernah terungkap, rasa yang tak pernah terucap. Dadanya sesak mengingat semua kebaikan Yudha dulu yang kini seolah berubah menjadi rubah yang menakutkan.


Yudha yang melihat Jingga menangis awalnya merasa tak tega, perempuan yang selama ini menjadi penyemangatnya dalam meraih impiannya untuk menjadi dokter, yang membuatnya bertahan di bawah kekangan ibunya untuk menuruti keinginannya tapi kenyataan pahit membuat Yudha enggan merasa iba, selalu mengalah dari Andra membuat dirinya kehilangan cinta yang ia perjuangkan, terlebih Jingga menikah dengan kakaknya sendiri.


"Jingga, aku tak meminta apa pun padamu, cintai aku dan hiduplah bersama ku, apa pun aku akan berikan padamu..." ucap Yudha sambil menarik tubuh Jingga hingga membuat jarak antara mereka cukup dekat namun Jingga menolak sambil menangis.


"aku sudah muak mengalah dengan kakakku, kau cinta yang aku perjuangkan tapi Andra yang harus mendapatkan. Tidak Jingga, aku tak akan mengalah lagi..." lagi Yudha berkata dengan sedikit berteriak membuat Jingga semakin menangis.


Tangisan Jingga semakin tak bisa di bendung, pipinya sudah di banjir oleh air mata yang mengalir dari matanya.


Sesaat kemudian Andra membuka pintu tanpa mengetuk membuat Yudha dan Jingga terkejut atas kedatangannya.


"apa yang sedang kalian lakukan...?" tanya Andra yang juga terkejut atas apa yang tengah ia lihat.


"Andra..." lirih Jingga berkata, pandangannya sendu seolah meminta pertolongan dari suaminya itu.

__ADS_1


"Yudha, menjauh dari Jingga..." murka Andra melihat keadaan Jingga yang seolah tengah di sakiti oleh Yudha, terlebih keadaan Jingga yang terlihat begitu mengkhawatirkan.


Andra menghampiri mereka berdua, segera meraih Jingga untuk menjauh dari Yudha yang bersikap sudah seperti orang kesurupan.


"kau baik baik saja...?" tanya Andra pada Jingga yang masih menangis saat Andra memeluknya, tubuhnya gemetar seperti ketakutan.


"aku takut..." jawab Jingga lirih, tangisnya belum bisa terhenti.


"tenanglah sudah ada aku..." ucap Andra sambil memeluk erat perempuannya itu, seolah ingin memberikan ketenangan pada istrinya itu.


Sedetik Yudha melihat pemandangan yang begitu memilukan, Jingga nampak begitu nyaman di pelukan Andra, terlebih tangis Jingga mereda saat dengan lembut membelai rambut panjang Jingga.


Kemudian Andra melepas pelukan itu, mengusap air mata yang membasahi pipi Jingga dengan penuh sayang. Kini tatapan Andra beralih pada Yudha yang masih mematung tak jauh dari dirinya.


"kau, apa yang kau lakukan pada wanita ku..." bentak Andra, ia menghampiri adiknya itu dengan emosi yang sudah memuncak.


Yudha diam, tak menjawab pertanyaan Andra, ia masih belum bisa menerima keadaan yang kini ia lihat dan rasakan, sebuah rasa sakit menyeruak didalam hatinya kala Jingga begitu menikmati pelukan Andra.


"Yudha jawab pertanyaan ku, apa yang kau lakukan pada Jingga..." setengah berteriak Andra bertanya saat itu.


"aku tak melakukan apapun pada Jingga..." jawab Yudha enteng.


Dan satu tamparan mendarat dengan cepat di pipi Yudha membuat tubuh lelaki berrambut plontos itu sontak terjatuh.


"bajingan kau, kau menyakiti istri kakakmu sendiri apa kau gila..." emosi sudah menyelimuti Andra, setelah Yudha terjatuh Andra kembali menarik keras baju milik Yudha dengan tangan yang sudah terkepal siap meninju bagian tubuh Yudha yang lainnya.


Yudha tak melawan seolah membiarkan Andra melakukan apapun yang ia inginkan supaya Jingga melihat bagaimana peringai Andra yang sebenarnya. Kasar dan emosional itu yang ingin Yudha tunjukkan pada Jingga.


"sudah Andra..." cegah Jingga sambil menahan tangan Andra yang sudah siap di pukulkan.


"dia sudah keterlaluan sekali Jingga..." ucap Andra, wajah bersih laki laki itu terlihat memerah saking besarnya emosinya saat itu.


"sudah Andra, biarkan saja dia pergi..." bujuk Jingga, ia tak ingin emosi Andra meledak dan membuat Yudha terluka, akan panjang urusannya bila begitu, akan panjang pula ceritanya.


"pergi kau dari tempat ini, aku tak ingin melihat mu lagi..." perintah Andra sambil membentak, ia tak habis pikir jika Yudha tega melakukan hal itu pada Jingga.


Yudha adalah adiknya, adik yang selalu ia banggakan pada semua orang, orang tua dan teman temannya tapi Yudha menganggapnya lain yang membuat mereka salah paham.


Ucapkan bila mencinta, sampaikan bila mendambakan, sesuatu tak akan terjadi begitu saja tanpa ada yang berkata. Saat doa bertarung diatas langit lalu Tuhan membiarkan doa itu bertarung maka apa yang harus dilakukan. Yakinlah kehendak Tuhan jauh lebih indah meski dilewati dengan sakit hati.


.


..


.

__ADS_1


♡♡♡♡♡♡♡♡


__ADS_2