
Di ruang tengah sedang terjadi situasi yang sangat canggung, antara Andra, Akbar dan Karin mereka saling tatap satu sama lain dengan pandangan yang menelisik.
"kak Andra..." ucap Karin memecah keheningan yang tercipta.
"ya..."
"kakak suami kak Jingga...?" tanya Karin.
"ya, aku suaminya..."
"kenapa kakak tak tunggu aku besar lalu kakak jadi suamiku..." anak itu benar benar polos, ucapannya membuat Andra tersenyum lebar.
"kak Andra tak akan mau punya istri cengeng seperti Karin..." ucap Akbar mengejek Adiknya itu.
"aku tidak cengeng, aku hanya menangis saat kak Jingga tak kunjung pulang karena mu..." ucap Karin tak mau kalah.
"kenapa karena Akbar...?" tanya Andra.
"kak Jingga sering pulang malam karena mencari uang untuk pengobatan Akbar..." ucap Karin.
"memang Akbar sakit apa...?" tanya Andra yang semakin penasaran.
"kak Andra tidak tau, Akbar itu sakit parah, dada kirinya sering sakit dan kak Jingga sering sekali membawa Akbar ke rumah sakit entah untuk apa aku tak tau.." jelas Karin, ucapan anak perempuan itu semakin memperbesar rasa penasaran Andra tentang siapa anak anak ini dan apa hubungannya dengan Jingga.
"kau so tau sekali kau, aku hanya cuci darah saja..." bela Akbar ia tak mau adiknya itu menyudutkannya.
"tapi karena itu kak Jingga sering pulang malam..." ucap Karin lagi.
"tapi aku tak memintanya..."
"kak Jingga sayang padamu jadi ia mau melakukan apapun untukmu, meski kau bukan adik kandungnya dasar bodoh..." ucap Karin.
Ucapan Karin sukses membuat Andra terkejut, tanda tanya semakin besar di benaknya, ia semakin penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Jingga dan nyonya Cantika datang dapur, di keduanya membawa nampan yang berisi potongan buah juga minuman.
"potongan buah segar datang..." ucap nyonya Cantika yang di sambut tepuk tangan dari Andra, Akbar dan Karin.
"wah apel..." ucap Akbar saat potongan buah itu akhirnya mendarat sempurna di mulutnya lalu ia kunyah.
"aku juga mau..." ucap Karin.
"ambil sayang, masih banyak..." ucap Jingga.
"tapi aku mau kak Andra yang menyuapiku..." kata Karin.
"kau ini, kecentilan sekali..." ucap Akbar dengan mulut penuh buah.
"biarkan saja apa masalahmu, sudah ku bilang bila besar nanti aku mau punya suami seperti kak Andra..." ucap Karin, entah apa yang telah menarik perhatian anak perempuan itu hingga di matanya Andra terlihat begitu sempurna dari berbagai arah padahal ia tak tau sikap sebenarnya dari laki laki itu.
__ADS_1
'tidak Karin, jangan kau ingin punya suami seperti Andra, dia jahat dia menyakitiku juga hatiku, aku tak mau kau merasakan apa yang aku rasakan, kau harus bahagia Karin, biar aku saja yang menanggung semua ini tak usah kau' ucap Jingga dalam hati, ia tak mungkin mengatakan langsung pada Karin
"sudah sudah, jangan bertengkar seperti itu, Karin ambil sendiri buahnya jangan membuat repot orang lain..." ucap Jingga melerai adik adiknya yang tengah beradu argumen itu.
"kak Jingga selalu begitu, lebih memilih untuk membela Akbar daripada Aku.." Karin cemberut.
"sini anak cantik, biar kakak yang suapi kau mau buah apa...?" tanya Andra.
"semuanya..." Karin begitu antusias ketika keinginannya di penuhi oleh Andra, semakin besar saja rasa kagum anak itu pada Andra.
Jingga hanya menggeleng gelengkan kepalanya, ia sadar ternyata Karin memang butuh kasih sayang lebih karena selama ini perhatian Jingga lebih terfokus pada Akbar.
Karin begitu senang hari itu, terlihat dari gelak tawa darinya meski sesekali Akbar selalu menggodanya bahkan mengatainya centil tapi Karin tak menggubrisnya ia malah terlihat begitu manja pada Andra.
"kak Andra tau, sebentar lagi kak Jinga ulang tahun..." ucap Karin.
"benarkah..." tanya Andra.
"ya, ku rasa tinggal satu minggu lagi..." jawab Karin.
Andra mengangguk tanda mengerti, seolah senyum tertarik di wajahnya.
Semua bercengkrama, menghabiskan waktu bersama hingga malam tiba, Karin sudah tidur di pangkuan Andra, gadis kecil itu sangat terlihat nyaman ada di sana, sedang Akbar tertidur di kursi panjang dengan kepala di bantali oleh paha Jingga.
"sudah larut, ibu pulang dulu..." ucap nyonya Cantika.
"lebih baik menginap saja bu, sudah larut malam dan anak anak pun sudah tidur..." ucap Andra, saat ini entah itu hanya akting atau bukan Andra begitu nyaman dengan situasi ini, situasi berkumpul bersama dengan keluarga, padahal ia tak pernah mau ikut bila ada acara kumpul keluarga, ia lebih memilih pergi ke luar kota bersama Raga dengan alasan kunjungan anak cabang.
Mendengar ucapan ibunya Andra sedikit kesal, bukan itu jawaban yang ingin ia dengar, ibunya malah menyudutkan dirinya seolah ia tak mampu berbuat apapun tanpa Raga.
"sudah ibu mau pulang, Andra tolong bawa Karin ke dalam mobil, sepertinya gadis kecil ini jatuh hati padamu..." ucap Nyonya Cantika sambil berdiri.
Andra mengangguk kecil, ia rasa apa yang dikatakan ibunya ada benarnya, Karin terlihat nyaman bersama dengan dirinya padahal ini kali pertama mereka bertemu, Karin seolah menemukan sesosok ayah yang selama ini tak pernah ia jumpai.
"Akbar sayang bangun, kita pulang..." ucap Jingga membangunkan Akbar yang nampak sudah pulang itu dan membuat anak itu mau tak mau harus membuka matanya.
"pulang, baiklah..." ucap Akbar malas. Anak itu beberapa kali menguap, rasa kantuknya memang sudah tak bisa ia tahan lagi.
Mereka semua berjalan menuju mobil, Andra sudah menyimpan tubuh kecil Karin senyaman mungkin tanpa mengganggu tidur gadis itu dan Akbar duduk tepat di samping Karin yang sudah tertidur.
"apa kak Jingga ikut kami pulang..." tanya Akbar di sela rasa kantuknya.
"tidak sayang, kak Jingga belum bisa ikut pulang bersama kalian, nanti jika sudah ada waktu kak Jingga akan mengunjungi kalian..." ucap Jingga, suara begitu lembut, tangannya mengelus lembut kepala Akbar, aura keibuan begitu terpancar dari dirinya.
"yah, kecewa deh..."ucap Akbar.
"jangan kecewa Akbar, akhir pekan ini kak Jingga dan kak Andra janji akan mengunjungi kalian, oke..??" ucap Andra seolah tak mau anak laki laki itu kecewa.
"benarkah, janji...?? jari kelingking Akbar di acungkan di depan Andra.
__ADS_1
"iya, kak Andra janji..." Andra menyambut kelingking Akbar dan terciptalah perjanjian tak tertulis antara Akbar dan Andra.
Jingga yang mendengar itu mengerutkan dahinya, ia tak habis pikir bagaimana bisa Andra berjanji hal demikian pada Akbar, bagaimana jika Andra ingkar, Jingga tak bisa membayangkan bagaimana kecewanya Akbar padanya karena tak jadi mengunjunginya.
"ya sudah, aku pulang dulu, byyyy..." Akbar sangat senang, bibirnya sumringah.
"baiklah, kalau begitu ibu pamit..."
"iya bu, hati hati..." ucap Jingga, ia menyalami ibu mertuanya itu lalu memeluknya.
"iya sayang, jaga dirimu sayang, Andra sedikit menyebalkan..." ucap nyonya Cantika.
"baiklah ibu, aku akan berhati hati..."dengan senyum manis Jingga menjawab nyonya Cantika padahal dalam hati ia ingin mengatakan semua yang telah Andra lakukan padanya, dari kejadian malam pertama, kejadian memalukan saat itu dan tadi pagi saat Andra dengan sadar mengancam dirinya.
Nyonya Cantika sudah duduk di dalam mobil, namun tiba tiba
"tunggu sebentar pak Muh..." ucap nyonya Cantika.
"baik nyonya..." jawab pak Muh.
"ada apa ibu...?" tanya Jingga.
"Andra, cium istri mu..." ucap nyonya Cantika.
"apa yang ibu katakan, tidak mau..." ungkap Andra.
"ibu bisa paham jika kau tak mau mencium Jingga saat pernikahan tapi saat ini kenapa kalian tak mau..."
"ibu, aku rasa tak perlu, kami malu..." Jingga mencari alasan.
"malu, lucu sekali. Pak Muh bisakah pejamkan mata bapak agar Jingga tak malu untuk di cium oleh Andra..." perintah nyonya Cantika.
"ibu ada ada saja, bagaimana dengan Akbar, dia masih terlalu kecil untuk menyaksikan ini semua bu..." alasan kuat dari Andra, menjadikan Akbar sebagai senjata.
"anak itu sudah tidur lagi, alasan apa lagi yang akan kau berikan..." ucap nyonya Cantika.
Situasi mendadak menjadi kikuk bagi Andra juga Jingga, mereka saling tatap sambil nyengir kuda, bagaimana mungkin Andra melakukan itu sekalipun ia belum pernah mencium Jingga.
"ayo cepat..." perintah nyonya Cantika.
Mau tak mau akhirnya pasangan itu menyerah, Andra dengan berat mendekati Jingga, melakukan hal yang diperintahkan oleh ibunya itu. Pikiran Andra terbang pada janjinya terhadap Jingga yang tak akan pernah menyentuh gadjs itu tapi kini ia harus mencium gadis itu di hadapan ibunya.
Padahal satu hal yang tak Andra mungkin belum sadari bahwa ia memang telah menyalahi janji pada Jingga, Andra sudah menyentuh jauh tubuh Jingga, meninggalkan bekas disana bahkan luka itu nyaris tembus ke dalam relung hati.
Satu kecupan lembut mulus mendarat di pipi kanan Jingga, rasanya hangat namun begitu menyakitkan bagi Jingga, ia tak habis pikir dengan semua yang menimpa dirinya, rasanya ingin ia menepis Andra bahkan menampar wajah laki laki itu.
"wah luar biasa, terima kasih telah menuruti perintah ibu, kalau begitu ibu pulang dulu..." ucap nyonya Cantika.
Mobil itu akhirnya melaju meninggalkan halaman papilun itu, juga meninggalkan Andra juga Jingga yang melambaikan tangan.
__ADS_1
.
●□■○