
Akhirnya Andra dan Jingga pun izin pulang karena malam sudah hampir larut, dan bi Nah orang yang nyonya Cantika pekerjaan untuk menemani Akbar dan Karin juga sudah datang.
Setelah bercerita sedikit dengan bi Nah, Jingga dan Andra pun undur diri. Karin memeluk erat Andra seolah tak rela Andra meninggalkannya, sedang Akbar yang biasanya terlihat tegar kini menangis di pelukan Jingga, pun dengan Jingga yang tak mau melepaskan pelukan adik kesayangannya yang baru saja sembuh dari sakit yang ia derita sedari kecil itu, namun mereka harus tetap pulang Andra harus membereskan pekerjaannya bersama dengan Raga besok.
Meski dengan tangisan, Akbar dan Karin mengiklaskan kepulangan kedua kakaknya itu, dan Jingga pun harus mengerti akan keadaan ia tak mungkin untuk tinggal bersama dengan kedua adiknya karena kewajibannya kepada Andra juga sebagai pembayaran atas apa yang telah nyonya Cantika berikan padanya.
"kau menangis...?" tanya Andra, laki laki itu melihat Jingga mengusap ujung matanya berkali-kali sambil menyembunyikan wajahnya dekat pintu mobil itu.
"tidak..." ucap Jingga bohong padahal jelas jelas ia tengah mengusap pipinya yang basah.
"kau bohong...?"
"tidak Andra sungguh..."
"baiklah baiklah, walaupun ku tau kau berbohong..."
"Andra..."
Andra pun mengemukakan mobilnya, membelah jalanan yang sudah hampir tengah malam, namun tiba tiba Andra menghentikan mobilnya di bahu jalan.
"kenapa, ada apa...?" tanya Jingga yang panik sekaligus bingung dengan suaminya.
"aku sedikit pusing..." jawab Andra, wajahnya terlihat pucat.
"kau pusing, tunggu dulu aku carilah obat, ehh dimana kotak p3k...?" panik benar Jingga saat itu apalagi suasana jalanan yang sudah hampir sepi.
"aku tak menyimpan obat di mobil..." ucap Andra, keadaannya sedikit mengkhawatirkan.
"ahh kau ini, lalu bagaimana ini. Ah telpon Raga saja, dia pasti datang menolong..." ucap Jingga lagi, perempuan bila sudah panik apapun akan dilakukan termasuk Jingga, saat ini tangannya tak henti memegang megang tangan dan kening Andra takut dan khawatir terjadi apa apa pada laki laki itu.
"tempat ini jauh Jingga, tak mungkin Raga datang dengan cepat, dia juga manusia bukan pahlawan super..." ucap Andra, laki laki memejamkan matanya membiarkan Jingga dengan rasa paniknya.
"lalu aku harus bagaimana Andra..." panik membuat Jingga menangis, pipinya kembali basah dengan air mata setelah tadi kering.
"kau menangis..." tanya Andra dengan santainya.
"pertanyaan bodoh, jelas aku menangis, aku takut terjadi sesuatu pada mu Andra..." jawab Jingga, tangisnya semakin keras, semakin jelas pula jika ia tengah begitu panik bukan main.
__ADS_1
"tak usah menangis, aku tak apa apa, mari kita lanjutkan perjalanan pulang..." ucap Andra dengan entengnya, seperti tak terjadi sesuatu.
"kau ini bodoh atau apa hah, aku masih ingin hidup masih ingin bahagia punya anak cinta suami dan lainnya, aku tak mau mati konyol karena kau menyetir larut malam dan keadaan sakit..." Jingga malah curhat, ia mengeluarkan semua keinginannya di depan Andra tanpa sadar.
"kau ingin punya anak...?" tanya Andra lagi, pertanyaan yang sebenarnya konyol untuk ditanyakan oleh orang yang sedang sakit diperjalanan seperti Andra.
"Andra sudahlah jangan bahas itu dulu, yang penting sekarang kita harus cari tempat istirahat untukmu bisa tidur..." ucap Jingga masih dalam panik, ia benar benar khawatir apalagi yang ia rasakan suhu tubuh Andra sedikit panas.
"ya sudah jika begitu, di depan ada penginapan, mungkin nyaman dan bisa untuk kita bermalam..." ucap Andra meyakinkan Jingga.
"apa dekat...?" tanya Jingga.
"dekat. mungkin lima kilo dari sini..." ucap Andra.
"itu bukan dekat tapi jauh Andra..."
"yasudah lebih baik kita pulang saja..."
"ahh tidak, baiklah kita bermalam di tempat itu saja daripada pulang lebih jauh..." geruth Jingga, gadis itu berubah menjadi seperti ibu ibu yang begitu overprotektif pada anaknya.
"baiklah..."
"kau ini bagaimana, kau kan sedang sakit jadi aku akan membawa mobil ini..." ucap Jingga dengan so gagahnya meski mimik mukanya masih panik.
"hey nona aku ini hanya pening bukan pingsan, cepat naik..." kata Andra setengah berteriak, ia benar benar tak habis pikir dengan sikap Jingga, gadis itu benar benar khawatir atas keadaannya meski ia tak tau apa yang sebenarnya terjadi, benar atau tidak gadis itu tak bisa membedakannya.
"Andra kau..."
"nona Jingga cepat naik atau jika tidak aku akan meninggalkan mu sendiri disini..." ancam Andra, padahal ia tak akan sampai hati meninggalkan Jingga di jalanan sendirian seperti ancamannya saat itu.
"kau ini tuan keras kepala, aku ini bisa menyetir walau tak begitu pandai..." gerutu Jingga sambil kembali menaiki mobil dan menggunakan sabuk pengaman.
"nona Jingga, aku ini masih muda masih ingin bahagia memiliki banyak anak mencintai istri dan lainnya jadi aku tak mau mati konyol karena kau membawa mobil ini apalagi kau tidak begitu pandai menyetir..." ucap Andra yang kedengaran mengkopi ucapan Jingga.
"hei tuan sepertinya kau sudah sembuh, kau sudah bisa mengulangi perkataanku..." ucap Jingga sambil mengerutkan dahinya melihat Andra yang terlihat segar.
"ya sudah kita pulang..."
__ADS_1
"ahh tidak tidak, kau kan sudah bilang untuk istirahat di penginapan yang kau bilang tadi, kenapa terus ingin pulang, cepat jalankan mobilnya tapi lambat saja asal selamat..." ucap gadis itu kembali bersikap seperti ibu ibu.
"baiklah nona..." kata Andra.
Mobil kembali melaju, dengan kecepatan sedang dan seperti rencana sebelumnya menuju penginapan yang Andra maksud dengan jarak kurang lebih lima kilo meter, agak jauh memang namun daripada harus pulang jarak akan semakin jauh dan ini sudah larut malam di tambah lagi dengan Andra yang mengeluh sakit kepala, akan panjang ceritanya bila memaksakan perjalanan malam ini juga meski sebenarnya Jingga rada menyesal kenapa tadi tak menginap saja dirumah Akbar dan Karin tapi bila dipikir lagi penyakit memang datang tanpa bisa di duga.
Perjalanan ini cukup memakan waktu karena berkali-kali Jingga mengingatkan Andra bila menaikkan kecepatan laju mobil itu, hingga tibalah mereka di tempat penginapan yang dimaksud oleh Andra.
"katanya sederhana, sederhana kok begini..." gerutu Jingga saat melihat penampakan penginapan yang dimaksud Andra begitu indah.
"tapi lumayan untuk istirahat..." ucap Andra menimpali gadisnya itu.
"bukan lumayan lagi tapi disini aku bisa tidur nyenyak sampai besok..." tambah Jingga.
Benar saja penginapan itu cukup jauh dari kata sederhana bahkan bisa dikatakan mewah tadi sewaktu berangkat mereka tidak melewati jalanan ini pantas saja jika Jingga tak tau tentang penginapan itu.
"baiklah mari kita masuk, kepalaku kembali sakit..." ucap Andra melangkah maju meninggalkan Jingga yang masih terdiam di tempat.
Ini pertama kalinya ia menginap di hotel seperti ini sebelumnya mana mampu, dulu hidup Jingga sepenuhnya hanya untuk kesembuhan Akbar dan juga untuk Karin apapun ia lakukan meski ia harus mengorbankan semuanya demi mereka.
"hey nona ayo..." kata Andra yang sudah hampir sepuluh langkah jauh dari Jingga.
"ahh baiklah..." Jingga mengejar Andra, ia sadar tak boleh jauh dari Andra jika tidak ia akan tersesat dan tak tau jalan pulang.
Sampai di meja resepsionis mereka disambut oleh seorang wanita cantik yang menggunakan seragam khas.
"ini..." Andra memberikan kartu pengenalan pada wanita itu, setelah beberapa saat dikembalikan.
Setelah menyelesaikan semuanya Andra meninggalkan meja itu lalu berjalan dan mencari nomer kamar, dan setelah di temukan Andra pintu kamar itu dan....
.
.
.
.
__ADS_1
.
○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○